[DV-Series] Top of The World

dv-top-of-the-worldr.jpg.jpeg

She is passion embodied, 

a flower of melodrama in eternal bloom.”

Seoul, December 20th,  2016.

Nope.” Jawab Suri singkat dan berdiri dari kursi kerjanya, ia merapikan beberapa berkas yang harus dikirim ke kliennya esok.

“Hanya 4 jam, sungguh tidak akan lebih.”

Suri tetap menggeleng dan memanggil Tae-Yang ke ruangannya memalui interoffice.

Hae-Ra, wanita berambut cokelat gelap ikal yang digerai hingga menutupi punggung wanita itu, masih terus memohon pada Suri. “Aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Kumohon?” pintanya sekali lagi.

“Ada Dong-Hwa, bukan?” Suri bergidik ngeri. “Hee-Sun, Eun-Ah, dan Arisu lebih bisa merawat bayi ketimbang aku, kenapa memilih aku sih?” kesal Suri pada akhirnya.

“Nam-Hae bukan bayi lagi, Suri, dia sudah 4 tahun. Sudah bisa ke kamar mandi sendiri, sudah bisa bicara lancar.”

Tadi, beberapa saat lalu, Suri hampir pingsan mendengar Hae-Ra yang memintanya menjaga anak pertama Hae-Ra dengan Dong-Hae, Lee Nam-Hae. Memang umurnya sudah 4 tahun dan sudah tidak bisa dikatakan sebagai manusia kecil yang berliur dan bicara bahasa makhluk laut dalam, tapi tetap saja, melihat anak berukuran kecil yang belum pernah mereka dapati di rumah akan membuatnya kelimpungan.

Empat jam pula! Tidak akan terjadi hingga kiamat! Merawat anak sendiri saja tidak becus, mau merawat anak orang?

“Dong-Hwa Oppa harus menemani Omunim ke gereja, aku tidak tega memintanya. Hee-Sun dan yang lain sudah punya renacana.”

Suri menoleh galak. “Memang kau pikir aku tidak punya rencana? Aku punya suami,” Suri mengangkat tangan kanannya, menunjukkan cincin kawinnya dengan Kyu-Hyun yang sudah terpasang selama hampir 5 tahun. “Ingat?”

“Iya, tapi Kyu-Hyun Oppa bilang kalian tidak punya acara dan dia bersedia membantu asalkan kau mengijinkannya.” Mata bulat Hae-Ra semakin memelas.

What the… God!” Suri merasakan tengkuknya menegang.

“Ini satu-satunya jadwal Dong-Hae Oppa liburan.”

Tae-Yang mengetuk pintu ruangan Suri sebelum masuk dengan amplop yang Suri pinta tadi. “Bos?” sapanya dan mengangguk pada Hae-Ra.

Bagi karyawannya, sekali pandang saja sudah bisa mengetahui bahwa bos mereka tidak sedang baik-baik saja. Wajahnya memerah dengan mata dingin yang nampak ingin sekali mengumpat, sementara wanita di hadapan bosnya terus mencebik manja dengan mata berlinang-linang.

“Ayolah, Suri, kumohon?”

Dan ketika mata kelabu Suri menatap Tae-Yang, Tae-Yang tahu ada sesuatu hal yang buruk akan terjadi padanya. “Kau!” ia menunjuk Tae-Yang bersemangat. “Aku perintahkan kau untuk menjaga putranya wanita ini!” ia menunjuk Hae-Ra. “Gajinya dia yang bayar, minta apa saja, suaminya kaya.”

“Maaf?” Hae-Ra menoleh pada Suri dengan mata memicing. “Lebih kaya suamimu ketimbang suamiku, tahu!”

“Memang, kalau Dong-Hae lebih kaya, aku tentu akan merebutnya darimu.” Jawab Suri singkat dan merebut amplop yang dibawa Tae-Yang. “Masalah terselesaikan, kau bisa ke sini dan bawa anakmu itu dan serahkan pada Tae-Yang, dia jago urusan dengan anak kecil.”

Tapi Tae-Yang menyengir datar ketika Suri mengatakan hal barusan. “Maaf, Bos, aku tidak bisa. Aku sudah booking tiket pesawat kembali ke Jeju, Ibuku memintaku kembali.”

No way!” Suri menatap Tae-Yang dengan mata terbelalak. “Kau belum ijin, tidak bisa! Aku tidak memberimu cuti!”

“Tapi besok hingga 5 Januari itu libur nasional, Bos.”

“Keparat!”

***

Malam itu ketika Kyu-Hyun kembali ke rumah, ia mendapati istrinya sedang duduk di depan tivi dengan tangan bersedekap dan wajah datar luar biasa. Dari ekspresinya saja Kyu-Hyun bisa menebak bahwa hari ini merupakan hari yang membuat wanita paling sedikit mengomel itu jengkel bukan main.

“Sedang jengkel?” tanya Kyu-Hyun dan ikut duduk di sisi kanan Suri, mencium kening wanita itu dan bersandar, menyaksikan salah satu seri Westworld yang tayang di tivi kabel HBO.

“Ya.”

“Karena?”

Suri menoleh, menatap Kyu-Hyun dengan wajah datarnya. “Kau.” Perlahan sekali tangan Suri naik ke leher Kyu-Hyun dan mencekik pelan pria itu sambil mengguncangkan tubuh Kyu-Hyun sebal. “Gara-gara kau menyetujui untuk membantu Si Pasangan Dimabuk Asmara Selamanya itu kita jadi harus bergelut dengan makhluk baru bisa bicara bahasa manusia selama 4 jam!”

“Aku tidak….” Kyu-Hyun terbatuk, menepuk tangan Suri. “Apa yang kau bicarakan sebenarnya?”

“Kau mengijinkan Hae-Ra untuk menitipkan bayi mereka ke sini selama 4 jam sementara orangtuanya sibuk makan malam dan menyewa kamar hotel untuk seks monyet, dan kita!” Suri semakin kuat mengguncangkan tubuh Kyu-Hyun. “Kita harus merawat bayi laki-laki itu selama 4 jam! 4 jam kau tahu?! 4 jam mimpi buruk kita!”

Suri langsung melepas cengkeramannya di leher Kyu-Hyun dan berguling di sofa menutupi wajahnya yang ketakutan. Ia tidak bisa menolak permintaan Hae-Ra lantaran tidak tega membiarkan bayi laki-laki itu diasuh bersama bayi lain yang kemungkinan akan membuka rahasia bahwa beberapa anggota Super Junior telah menikah, bahkan memiliki anak. Itu tidak hanya akan berbahaya pada Dong-Hae yang sedang melakukan tugas wajib militernya, melainkan juga popularitas Super Junior yang akhir-akhir ini semakin merosot seiring anggotanya yang melakukan wajib militer.

“Apa? Aku mengijinkannya? Kapan?” masih sambil mengusap lehernya yang sakit, Kyu-Hyun balik bertanya. Rasanya tidak pernah ia mengijinkan Hae-Ra untuk menitipkan Nam-Hae ke rumah mereka.

“Kau pura-pura amnesia? Tidak berguna untukku!”

“Tidak, sungguh aku tidak ingat kapan—oh,” Kyu-Hyun tertegun mengingat kapan terakhir kali ia bicara dengan Hae-Ra dan topik apa. “Jadi dia minta tolong itu?” wajah Kyu-Hyun nampak lebih syok dari Suri sekarang.

“Kau pikir apa memang?!” sahut Suri galak.

“Tidak, maksudku…,” ia bersandar di sofa lemas. “Aku pikir dia meminta tolong untuk dipotret seperti biasa.”

“Jadi dia tidak bilang padamu untuk melakukan apa?”

Kyu-Hyun menggeleng lemas, menyesali kemudahannya untuk mengatakan ‘ya’ pada istri-istri Super Junior yang sedang ditinggal wajib militer. “Kalau aku tahu, aku tidak akan menyetujuinya, sungguh.”

“Benar-benar!” Suri ikut duduk berdampingan dengan Kyu-Hyun, kembali bersedekap sambil memandang lurus ke tivi. “Wanita Ular.” Gumamnya pelan, menyumpahi Hae-Ra diam-diam.

“Kapan memang mereka mau menitipkan Nam-Hae?”

“Mereka akan makan malam dari pukul 6 sore hingga 10 tanggal 24 Desember.”

“Tapi itu Christmas Eve, ‘kan?” ia berpikir sebentar. “Sebenarnya aku mau mengajakmu makan malam di luar.”

“Terlambat. Aku akan minta upah besar pada mereka. Akan kukuras uangnya Dong-Hae hingga kering.”

Kyu-Hyun hanya tertawa dan merangkul pundak Suri agar mendekat. Ia baru kembali dari Cina dari tanggal 18 kemarin selama 2 hari. Rasanya tidur sendirian setelah tahun ini hampir tidak pernah meninggalkan Suri tidur sendirian terasa sangat sepi.

Tahun ini mereka sama-sama melonggarkan jadwal masing-masing. Setiap kali Kyu-Hyun harus promosi ke Jepang atau ke luar negeri dan mengharuskan pria itu bermalam, Suri akan dengan senang hati mengosongkan jadwalnya dan ikut terbang bersama Kyu-Hyun.

“Semalam kasurku rasanya sepi sekali.” Aku Suri sambil menempatkan kepalanya di pundak Kyu-Hyun. “Aku masih pakai kaus kesukaanmu.” Suri menarik kaus putih dengan potongan v neck yang dikenakannya.

Sementara Kyu-Hyun menjauhkan sedikit tubuh Suri untuk membuka jaket yang ia kenakan hingga kaus lengan panjang berwarna kuning milik Suri terlihat. “Aku juga pakai kausmu, aromanya persis seperti kau, bedanya hanya sedikit kecil di tubuhku.” Ia menunjukan bagian lengan yang cingkrang dan tertawa.

Bagi Kyu-Hyun, melepas semua lelahnya semudah melihat Suri tertawa pada hal-hal kecil yang diam-diam mereka lakukan. Dua tahun terakhir ini senyum Suri begitu kuat memengaruhi mentalnya, dan ia yakin, Suri mengetahui hal tersebut hingga akhir-akhir ini lebih banyak tersenyum dan memandangi mawar mereka dalam diam selama bermenit-menit.

“Bawa oleh-oleh untukku, Pencuri Kaus?”

“Tentu,” Kyu-Hyun membuka tasnya, mengeluarkan semua bawaan yang diberikan anggota lain dalam perjalanan pulang. Saat konser solo Kyu-Hyun kemarin, Jae-Hyun bertemu dengan Suri dan dengan santai Kyu-Hyun memperkenalkannya sebagai istrinya. Tentu saja Jae-Hyun yang tidak pernah mendengar kabar pernikahan Kyu-Hyun tidak percaya hingga melihat cincin yang Kyu-Hyun sembunyikan di kotak kacamatanya.

“Ini dari Jae-Hyun,” ia mengeluarkan bungkusan berwarna merah yang ditata begitu rapi lengkap dengan kartu ucapan di atasnya. “Ini dari Ho-Dong~Hyung,” sebuah benda berbentuk tabung dikeluarkan dari tasnya. “Dan ini dari PD.” Bingkisan berwarna hijau terakhir di keluarkan.

“Darimu?”

Kyu-Hyun mengibaskan tangannya, “buka saja yang itu dulu.”

Dari Jae-Hyun, pria yang sudah menikah, tentu tahu bahwa hadiah baju tidur adalah hal yang paling wajar untuk diberikan kepada pasangan menikah. Untuk Suri dres berwarna merah, sementara Kyu-Hyun sepasang piyama yang juga berwarna merah. Sudah pasti bahannya dari sutra. Halus sekali.

“Ini akan jadi pakaian tidur favoritku.”

“Aku juga,” Kyu-Hyun menyengir lebar. “Pakaian tidur itu pasti jadi pakaian tidur favoritku.”

Mengabaikan ledekan mesum Kyu-Hyun, Suri membuka kado kedua, dari Kang Ho-Dong berisi satu kaleng teh hitam kualitas tinggi. Dan bingkisan terakhir dari PD adalah sebuah dompet pria berwarna hitam.

“Kau tidak beli sama sekali?” heran Suri meletakkan semua bingkisan yang diberikan pada Kyu-Hyun. Ia tidak peduli pada bingkisan orang lain, yang ia pedulikan adalah apa yang suaminya bawa untuknya. “Benar-benar.”

Sesaat Kyu-Hyun hanya diam sebelum menyengir lebar. “Aku hanya menunggumu sebal.” Akunya dan tertawa begitu Suri meresponnya hanya dengan sebelah alis yang terangkat. “Ini.” Ia menyerahkan bingkisan yang lumayan cukup besar dan sedikit berat.

Suri pernah dengar kalau arak Cina itu sangat kuat, ia belum pernah mencobanya yang benar-benar asli Cina, dan sepertinya suaminya itu cukup pengertian untuk membelikannya satu atau bahkan dua botol. Ia bisa bersenang-senang di musim dingin kalau begitu.

Wajahnya sudah sumeringah ketika merobek pembungkus berwarna emas tersebut dan melemparnya tega ke lantai. Bukan dua botol arak cina yang terkenal, Suri justru mendapati empat kotak berwarna hitam dengan merek yang ditulis dengan tinta emas, sialnya merek di kotak tersebut bukanlah jenis merek yang sering terdapat di arak cina, melainkan aksesoris wanita.

Suri melirik Kyu-Hyun curiga sebelum membuka kotak teratas. Lagi-lagi ia terdiam untuk beberapa saat melihat sebuah tali berwarna biru navy dengan ujung membentuk kumpulan benang.

“Apa ini?” tanya Suri setelah beberapa saat. “Pecut?”

Kyu-Hyun yang tadi ingin berbangga wajahnya tiba-tiba berubah polos. “Maaf?”

“Pecut, Christian Grey?” jelas Suri masih tidak mengerti dengan yang Kyu-Hyun berikan untuknya. Memang pernah seorang suami pergi ke Cina dan pulang membawa pecut? Memang Cina itu pelopor BDSM modern?

“Bukan…, ya, ampun, Cho Suri! Itu bukan pecut!” Kyu-Hyun masih tidak mengerti kenapa Suri mengatakan itu adalah sebuah pecut.

“Kau ditipu penjual cindera mata, ya?” desak Suri pada akhirnya. “Iya, ‘kan? Mengaku saja! Kau bicara dengan bahasa Mandarinmu yang terbatas itu jadi dikelabui, bodoh betul!”

“Apa? Kau bahkan tidak bisa bahasa Mandarin atau Kanton, jangan menuduh sembarangan, ya!” Kyu-Hyun mengeluarkan benda tersebut dan melingkarkannya di pinggul Suri persis seperti yang ia lihat di patung penjualnya. “Ini adalah ikat pinggang model tali untuk wanita, bagaimana bisa kau pikir ini pecut? Imajinasimu itu perlu dikontrol.”

Suri mendelik begitu dengan cekatan tangan Kyu-Hyun memakaikan sabut model tali tersebut di pinggulnya. “Oh, kupikir….” Suri mengakui ia kalah kali ini.

“Christian Grey itu siapa juga? Aku tidak kenal—tunggu, apa dia CEO yang BDSM itu, ya?” Kyu-Hyun tidak begitu ingat, ia menonton film tersebut bersama Suri sambil setengah mengantuk, tidak menyimak siapa pemeran utamanya.

“Iya yang itu, bentuknya mirip, jadi aku tidak kepikiran sampai kau membelikanku ikat pinggang, biasanya kau membelikanku sesuatu yang mahal, ‘kan?”

Samar Suri menangkap senyum Kyu-Hyun begitu selesai memakaikan ikat pinggang tersebut di pinggulnya. Pria itu mengangguk sekali, meyakinkan diri bahwa pilihannya tepat.

“Kau yang mengajarkanku untuk membeli sesuatu yang bermakna ketimbang yang mahal.” Ia menatap Suri dengan senyum terkulum. “Yah, meski sebenarnya sesuatu yang bermakna biasanya harganya selangit juga.”

Suri tertawa sambil membuka kotak kedua. Ikat pinggang dengan model yang lebih elegan masih dengan model tali tapi kali ini ditambah sedikit rantai berwarna emas mendekati bandul frill di kedua ujungnya.

“Masih seperti pecut.” Komentar Suri dan meletakkan kotak tersebut ke atas meja,

Kotak ketiga berwarna emas gelap. Ketika Suri membukanya, ia langsung tahu apa yang pria itu pikirkan selagi memilih ikat pinggang yang ini. Sebuah ikat pinggang dari rantai berwarna emas empat susun dengan sisa satu bandul di belakangnya.

Ia menatap Kyu-Hyun dengan mata menyipit. “Kau pasti memikirkan aku memakai ikat pinggang ini dengan pakaian tipis, ‘kan?”

“Dengan baju tidur yang Jae-Hyun berikan pun aku tidak bermasalah.” Kyu-Hyun menyengir lebar.

Kotak keempat berisi ikat pinggang rantai dengan warna yang lebih gelap dan hanya terdiri dari dua susun di bagian depan dan satu rantai yang menjuntai di sisi kiri. Desain klasik yang sering ia lihat di film hitam putih yang ia perbaiki.

Siapa sangka pria modern seperti Kyu-Hyun mengerti desain klasik yang bagus dan sesuai dengan selera Suri tanpa bertanya?

“Omong-omong, kenapa kau memberikanku ikat pinggang?”

“Menurut filosofi Cina, memberikan ikat pinggang pada pasangan artinya ingin mengikat pasangan kita selamanya, dan emas adalah unsur keberuntungan.” Ia menggaruk lehernya canggung.

Biasanya, Suri akan mencibirnya jika ia mulai menyebut-nyebut filosofi, tapi malam ini, entah karena ingin menghargai usaha Kyu-Hyun atau memang Suri menyukainya, Suri tersenyum sambil mengatakan, “Aku suka filosofinya.”

“Yah, kalau yang model tali itu punya fungsi lain, yaitu mengikatmu di ranjang saat kau sakit agar tidak keras kepala dan bekerja.”

Suri memandangnya galak dan berdecak sebelum melihat lagi ikat pinggang yang Kyu-Hyun berikan padanya.

Wajah dinginnya melunak dengan tatapan sendu. Sialannya, tatapan seperti itulah yang membuat hormon prianya melompat heboh, sebagian dirinya merasa ingin menjadi pria paling tangguh dan melindungi Suri, tapi sebagian dirinya ingin menguasai tubuh wanita itu hingga patah menjadi dua.

“Aku suka yang ini.” Suri menunjuk ikat pinggang keempat yang Kyu-Hyun belikan, ikat pinggang andalan Kyu-Hyun. Ia tahu begitu melihatnya di display langsung membayangkan Suri mengenakan ikat pinggang tersebut dipadukan dengan salah satu dres merahnya.

“Aku juga suka yang itu,” jawab Kyu-Hyun sambil memangkas jarak antara ia dan Suri. “Apalagi kalau kau hanya memakai sabuk tersebut tanpa apa-apa, aku pasti bisa gila.”

Suri, dengan mata kelabunya yang datar menatap Kyu-Hyun tepat ke iris gelap pria itu dan bibirnya yang merah muda tersebut tersenyum licik. “Mau coba, Cho?”

“Kenapa tidak, Master.”

1482788604865.jpg
Urutan sesuai penjabaran.

***

 

Sore tanggal 24 Desember menjadi mimpi buruk Suri berikutnya, ia duduk tertegun di sofa ruang tamu rumahnya masih dengan rambut acak-acakan bekas tidur siang yang terlewat hingga pukul enam sore, sementara Kyu-Hyun duduk di sampingnya dengan penampilan yang sama lusuhnya, terbengong menatap makhluk itu dengan otak kosong.

Apa yang mereka perbuat sebenarnya? Kenapa bisa ada makhluk-makhluk seperti ini di rumahnya?

“Jadi, aku akan titip Nam-Hae sebentar, ya?” ucap Hae-Ra pada Suri dan Kyu-Hyun yang setengah sadar. Ia beralih pada putranya yang berusia empat tahun, membuka syal, topi rajut, juga padded jacket yang dikenakan Nam-Hae. “Sayang, Omma dan Appa akan pergi sebentar saja, Nam-Hae tinggal dengan Suri Imo dan Kyu-Hyun Samchon ya sampai kami kembali?”

Nam-Hae, anak dengan rambut hitam, mata besar dan wajah polos itu mengangguk paham. Ia sudah diberi penjelasan panjang lebar mengenai ke mana orangtuanya pergi semalam. “Iya, aku akan tinggal di sini sampai Appa dan Omma selesai pergi.”

“Tentu saja, Anak Baik!” Hae-Ra tersenyum lebar dan mengusap puncak kepala Nam-Hae, “jangan nakal, ya. Kalau kau lelah, tidur saja, nanti Appa akan gendong kau pulang, mengerti?”

Nam-Hae mengangguk semangat. Ia suka sekali digendong ayahnya.

“Kalau begitu, Suri, Kyu-Hyun,” Dong-Hae berdiri, menepuk pundak kedua manusia yang masih mengumpulkan nyawanya. “Aku titip Nam-Hae, ya, jaga dia baik-baik! Jangan kau lempar anakku dari lantai dua!”

Suri masih dengan wajah setengah mengantuk menatap Dong-Hae. “Tidak tentu saja, aku akan melemparnya dari lantai 3, kalau lantai 2 paling-paling hanya akan gegar otak dan—“ Hae-Ra menyenggol kaki Suri keras hingga wanita itu mengaduh.

“Nam-Hae sudah mengerti perkataanmu, kau tahu!” ancamnya dengan rahang terkatup.

“Bagus kalau begitu, dia jadi tidak mac—“ tendangan kedua kalinya berhasil membuat Suri meringis lagi. “Ular.” Bisik Suri pelan menatap Hae-Ra yang langsung merinding.

“Aku percayakan Nam-Hae padamu, Kyu~ah.”

Kyu-Hyun menatap Dong-Hae setengah benci. “Aku berharap kau tambah pendek, Lee Dong-Hae, tapi itu tidak mungkin terjadi mengingat tubuhmu memang sudah minimum, jadi pergilah cepat.” Kyu-Hyun mengusir Dong-Hae dengan gerakan tangannya.

Sepeninggal kedua orangtuanya, Nam-Hae masih duduk dengan tenang di tempat yang sama, memakan biskuit gandum yang Hae-Ra berikan sebelum pergi. Mereka saling menatap tanpa bicara. Mata gelapnya yang besar menatap polos kedua orang yang paling jarang menyapanya, namun karena ayahnya mengatakan bahwa dua orang di hadapannya sekarang adalah orang baik, ia mau saja dibujuk untuk tinggal selama orangtuanya pergi.

Kyu-Hyun dan Suri kompak duduk bersandar, bersedekap, dan kaki yang menyilang di atas sofa, menatap Nam-Hae dengan tatapan curiga, seolah-olah anak berumur empat tahun yang bahkan tingginya tidak melebihi pinggul mereka tersebut bisa sewaktu-waktu membakar rumah mereka dengan alasan invasi alien.

“Siapa nama anak itu?” bisik Suri pada Kyu-Hyun.

“Nam-Hae, namaku Lee Nam-Hae.” Jawabnya dengan suara anak-anak yang terlalu tinggi hingga membuat Suri meringis mendengarnya.

Kata orang, fase umur 4-8 tahun adalah fase di mana anak-anak berubah dari menggemaskan apa pun yang mereka lakukan menjadi menyebalkan apa pun yang mereka buat.

“Berapa usiamu?”

“Empat tahun.” Ia menunjukan jarinya yang di angkat berjumlah lima.

“Itu lima, bukan empat.” Protes Suri menunjuk tangan Nam-Hae.

Anak itu melihat tangannya, menelengkan kepala dan mengurangi jari kelingking. “Ini benar?”

“Ya, sudah benar.” Kyu-Hyun mengangguk sebelum mendekatkan bibirnya pada telinga Suri. “Dia tidak sebodoh Dong-Hae~hyung rupanya.”

“Aku setuju.” Suri ikut bergumam.

Awalnya Kyu-Hyun hanya ingin berbisik, tapi aroma tubuh Suri yang khas ketika bangun tidur membuatnya ingin menempelkan sedikit hidungnya pada leher Suri, menciumnya sekilas.

Appa dan Omma juga sering melakukan hal yang seperti itu.” Nam-Hae tertawa-tawa sambil menunjuk Suri yang terlonjak kaget karena kedapatan memejamkan matanya menikmati hembusan napas Kyu-Hyun di lehernya.

Kyu-Hyun canggung berdehem dan bangkit dari duduknya. “Aku mau mandi dulu.” Sanggahnya mengurangi kecanggungan.

“Dan kau meninggalkanku dengan anak in—“

“Nam-Hae, namaku Lee Nam-Hae.” Serobot Nam-Hae cepat.

“Iya, maksudku dengan Nam-Hae berdua saja?” Suri menarik kaus Kyu-Hyun. “Kau jahat sekali, Cho! Bagaimana dengan janji susah senang bersama yang kau ucapkan? Kau tega padaku?”

Kyu-Hyun memutar bola matanya kesal. “Sejak kapan kau jadi drama seperti ini sih?”

“Sejak anak—Nam-Hae di sini.” Wajah Suri memelas.

“Aku mandi hanya sebentar, Cho Suri, sepuluh menit.” Kyu-Hyun berusaha melepaskan pegangan Suri di kausnya. “Aku janji sepuluh menit, kalau lebih, kau boleh menggedor kamar mandi.” Janji Kyu-Hyun.

“Benar, ya?” mata Suri terlihat memelas meski dengan wajah yang berusaha ia tutupi ketakutannya.

Belum pernah ia melihat wajah Suri yang ketakutan selain saat ia mengajaknya naik roller coster atau bianglala raksasa atau tempat-tempat tinggi. Suri ketakutan menghadapi Nam-Hae yang masih berusia empat tahun sementara dirinya belum pernah mengasuh anak kecil sedikit pun di dalam hidupnya.

Mata Suri masih memandang punggung Kyu-Hyun ketika pria itu naik ke lantai tiga tempat kamar mereka berada dan begitu Kyu-Hyun menutup kamar mereka, Suri berteriak, “Aku mulai hitung, ya!”

“Nanti dulu, aku belum buka baju!” balas Kyu-Hyun sambil teriak dan buru-buru masuk ke kamar mandi.

Imo,” panggil Nam-Hae, membuat Suri menatap anak itu dengan mata bulat. Menerka-nerka apa yang akan anak itu ketakan. “Kenapa berteriak-teriak? Kata Appa tidak boleh berteriak.”

Suri menyipitkan matanya, coba mengingat tempat tinggal Dong-Hae yang berupa apartemen dekat dengan apartemen orangtua Dong-Hae. “Rumahmu itu apartemen, jadi tidak perlu berteriak juga kedengaran.”

Sesaat Nam-Hae menelengkan kepalanya sebelum mengangguk. “Iya sih, rumah Imo besar sekali!”

Suri balas mengangguk.

Mereka kembali terdiam hingga dua menit berikutnya.

Imo, aku lapar.”

Matilah dia. Apa yang biasanya anak umur 4 tahun makan? Jangan-jangan kalau ia membuatkan sesuatu yang bertekstur kasar anak ini malah tersedak dan mati?

“Kau mau makan apa?” tanya Suri balik.

“Hm,” Nam-Hae meletakkan jari telunjuknya di dagu seraya berpikir. “Oh!” anak itu berseru dan mengeluarkan secarik kertas dari saku jaketnya dan menyerahkannya pada Suri. “Kata Omma, Omma sudah menulis apa yang boleh dan tidak boleh kumakan pada Imo, soalnya Imo tidak berpengalaman, begitu kata Omma.

Suri melihat daftar tersebut dan tiba-tiba, bukannya kembali ke tempat duduknya semula, Nam-Hae ikut duduk di samping Suri, mengintip apa yang ibunya tuliskan untuk Suri dengan kepala terteleng penasaran.

Dengan seksama Suri membaca pesan yang Hae-Ra buat. Tidak ada manis-manisan seperti cokelat, permen, susu, dan teman-temannya setelah pukul 7 sore, jangan berikan minuman bersoda, jangan berikan makanan yang teksturnya terlalu kasar atau terlalu kenyal, jangan berikan mie karena Nam-Hae belum bisa memotongnya, dan jangan berikan sesuatu yang mengandung wine.

Ia melirik Nam-Hae yang ikut membaca kertas tersebut. “Kau sudah bisa baca?” tanyanya curiga.

Anak itu menggeleng polos. “Tidak, tulisan Omma jelek sekali.”

Suri berusaha menahan tawanya hingga yang terdengar adalah suara tertawa licik. Belum pernah saja anak itu dicekik Lee Hae-Ra hidup-hidup kalau ibunya sampai dengar tulisannya dihina jelek.

“Aku ragu yang menulis ini adalah Lee Dong-Hae.” Suri bergumam dan meremas kertas itu untuk kemudian dilemparkan ke keranjang sampah. “Ini rahasia kau dan aku saja, oke? Jangan katakan pada ibu dan ayahmu, mengerti, Lee Nam-Hae?”

Anak itu terlihat ragu sebentar sebelum mengangguk cepat.

“Oke.” Suri menyeringai dan berdiri dari duduknya. “Ikut aku.”

Mereka ke dapur. Hari itu Bibi Kim dan keluarganya pulang ke apartemen anak mereka di pusat kota untuk merayakan Natal bersama, sementara Suri dan Kyu-Hyun terjebak di rumah bersama anak umur 4 tahun yang mau saja diajak berkomplot oleh Suri.

Ia tahu ramyun termasuk jenis makanan yang terlarang untuk anak seusia Nam-Hae, tapi selama ibunya tidak mengetahui, itu tidak ada salahnya, ‘kan? Ia tersenyum licik sambil membuatkan ramyun untuk Nam-Hae.

Ketika Kyu-Hyun selesai mandi, ia mendapati ruang tivi sudah kosong, tidak mungkin istrinya membuang Nam-Hae ke Haneul Park sepertinya, ia bahkan sampai repot-repot mengecek mobil mereka, masih untuh di garasi.

Samar Kyu-Hyun mencium aroma ramyun dari dapur. Suri kelaparan? Mungkin, siang tadi mereka tertidur setelah menonton Game of Throne ketiga kalinya. Saat Kyu-Hyun melihat dari lorong, ia kaget bukan main mendapati Suri berdiri memasakkan ramyun dengan Nam-Hae yang bergelayut di pundaknya, anak itu berdiri di atas sebuah kursi tinggi dengan lengan Suri yang memegangi erat pinggul Nam-Hae.

Ia tersenyum melihat pemandangan tersebut, Nam-Hae sibuk menanyakan banyak hal tentang apa yang Suri lakukan, sementara Suri, meski dengan suara ketus, menjawab semua pertanyaan Nam-Hae.

“Aku jadi lapar.” Ucap Nam-Hae akhirnya ketika Suri mematikan kompor.

“Kalau begitu, duduklah, biar kudinginkan mie bagianmu.” Suri menggendong Nam-Hae dan kaki satunya mendorong kursi itu kembali ke meja pantry, meletakkan Nam-Hae di salah satu kursi meja makan sebelum menangkap Kyu-Hyun yang berdiri mengenakan kaus kelabu, celana olahraga hitam, rambut cokelatnya yang berantakan, dan tersenyum menyandarkan tubuhnya ke dinding lorong dapur. “Apa kau senyum-senyum?” hardik Suri sebal. Pasti sebentar lagi pria itu akan mengatakan hal yang tidak-tidak.

Kyu-Hyun tidak menjawab, dia berjalan mendekat masih dengan senyum yang sama dan menarikkan kursi untuk Suri. “Duduklah, aku yang urus sisanya.”

Menurut, Suri duduk di kursinya dan melihat Kyu-Hyun membawa alas panci, meletakkannya di atas meja makan disusul panci ramyun di atasnya, tiga mangkuk berukuran sedang, dua pasang sumpit, satu sendok dengan bentuk garpu di ujung sendok tersebut, sepiring kecil kimchi, dan gunting.

“Ini kali pertama kau makan ramyun, Nam-Hae?” tanya Kyu-Hyun sembari memotong mie menjadi potongan yang lebih pendek ke mangkuk untuk Nam-Hae.

Bocah itu mengangguk semangat.

Suri tahu bahwa Kyu-Hyun akan menjadi ayah yang hebat kelak, tapi ia tidak tahu bahwa pria itu jauh lebih siap dibandingkan dirinya yang wanita. Kyu-Hyun tanpa ragu melayani Nam-Hae, membantu anak itu memakai serbetnya hingga mengajarinya memakan mie menggunakan sendok khusus yang dulu Kyu-Hyun bawa ke India sebagai jaga-jaga kalau disediakan sendok saat makan di sana.

Harus diakui, senyum pria itu berbeda ketika memandang Nam-Hae, ada sesuatu yang lebih menyakitkan di balik senyum tulusnya pada bocah berumur empat tahun itu. Apalagi ketika memerhatikan Nam-Hae yang kepedasan dengan ramyun namun tidak berhenti memakan, bahkan meminta tambah tanpa malu-malu pada Kyu-Hyun.

Suri tahu penyebabnya dan ia ingin sekali tidak membahas hal tersebut. Itu akan menyakiti mereka berdua dan menghancurkan jembatan yang susah payah ia dan Kyu-Hyun buat. Ia tidak ingin mengatakannya, tapi ia ingin sekali memeluk Kyu-Hyun ketika mata mereka bertemu.

Ia melirik Nam-Hae, memastikan anak itu tidak melihat mereka bermersaraan sebelum menaikkan tangannya dan meletakan di pipi Kyu-Hyun. Ibu jarinya mengusap pipi pria itu yang tidak basah. Mata gelap Kyu-Hyun memang sedikit berair, tapi senyum pria itu tidak memudar sedikit pun. Pria yang sangat tegar untukknya.

“Ia belum bisa makan sendiri kalaupun hidup, Cho.”

Kyu-Hyun memejamkan matanya, menangkap tangan Suri di pipinya dan mengangguk. “Ya, dia mungkin tidak akan makan ramyun jika berada di sini.”

“Aku tidak akan membiarkannya.” Aku Suri tertawa sesaat. “Kau membayangkan dia yang ada di sini?”

Kyu-Hyun ragu sesaat sebelum jujur dan mengangguk. “Aku tidak bisa memungkirinya, aku tidak berhenti berpikir soal dia ketika melihatmu memasakkan ramyun untuk Nam-Hae dan merangkul pinggulnya, aku pernah membayangkanmu melakukan hal yang sama pada Soo-Hyun, rambutnya hitam, lebat seperti milikmu,” ia menyentuh ujung rambut Suri. “Matanya sendu seperti mataku, wajahnya menyebalkan sepertiku, dan dia terus merengek ingin melihat apa yang kau buat untuk makan malam.

“Kemudian menggantungkan hadiah untuknya di perapian, atau sekedar menumpuk hal-hal tidak penting di bawah pohon natal, atau membacakan cerita untuknya. Aku bisa dengan mudah membayangkan hal tersebut, Cho Suri.”

“Apa itu menyakitkan, Cho?”

“Ya, berharap adalah sesuatu yang amat kejam. Dan kenyataan adalah hal yang menyakitkan.”

Suri mengangguk, dadanya terasa sesak. Ia masih merasakan sakit di tubuhnya ketika bayinya yang mati dikeluarkan. Ia masih bisa merasakan gemetar ketika mengetahui fakta bahwa kemungkinan dirinya hamil kembali bisa mencapai 3 sampai 5 tahun lagi. Ia takut Kyu-Hyun suatu saat akan mengungkit hal ini sebagai kelemahannya.

“Mungkin tahun depan.” Ucap Kyu-Hyun dan balas merengkuh wajah Suri. Tanpa sadar pipi wanita itu basah. “Tahun depan.” Lirihnya sekali lagi sebelum mencium Suri kuat-kuat, tidak peduli apakah Nam-Hae melihatnya atau tidak.

“Ya, tahun depan, mungkin.” Setuju Suri saat Kyu-Hyun melepas ciumannya dan tertawa canggung. “Ah, melankoli sekali kita ini.”

Nam-Hae tahu-tahu saja menyodorkan lagi mangkuknya yang kosong. “Aku mau tambah, Imo.”

Suri mengangguk, memaksakan dirinya untuk tersenyum. “Ini sih satu bungkus kau yang habiskan sendiri.” Protes Suri saat menyadari bahwa mangkuknya dan mangkuk Kyu-Hyun masih kosong dan mie di panci sudah habis.

“Habis enak sekali!” Nam-Hae menyengir lebar dengan suara tertawaan nakal. “Aku janji tidak akan lapor Omma nanti.”

Makan malam rahasia mereka selesai dan kejadian itu terulang lagi, duduk saling menatap tanpa tahu apa yang akan mereka lakukan. Satu-satunya ruang bermain di sini hanya dipenuhi dengan game Kyu-Hyun, mulai dari konsol PS4 yang melegenda di kalangan Super Junior hingga konsol terbaru yang menggunakan sistem wireless.

Suri melirik jam dan masih tersisa dua jam lagi sebelum Hae-Ra dan Dong-Hae selesai acara makan malam mereka. Dan dua jam terasa menyiksa.

“Tidak mengantuk?” tanya Suri.

Anak itu menggeleng. “Aku tidur siang.”

Suri mengangguk kemudian diam kembali.

Kyu-Hyun mana betah berdiam diri, ia beranjak sambil merenggangkan badannya menuju lantai dua. “Aku mau main game, mau ikut tidak?” tawarnya.

“Aku atau Nam-Hae yang kau tawari?”

Diujung tangga ia menoleh. “Kalian berdua tentu saja.” Dan kembali lanjut berjalan.

Nam-Hae dan Suri saling menatap bergantian sebelum mengangguk. “Ayo! Appa tidak main game di rumah.” Ucapnya sambil menyusul Suri dan tahu-tahu saja menggandeng tangan Suri sebelum menaiki tangga.

Ia melirik genggaman tangan anak itu di tangannya dan tertegun. Tangan Nam-Hae begitu kecil, mengingatkan Suri bahwa anak itu lebih rapuh dan lebih ceroboh darinya, seharusnya ia tidak perlu ketakutan setengah mati saat diminta tolong oleh Hae-Ra saat itu, toh Nam-Hae sudah pandai bicara.

“Perhatikan langkahmu.”

Nam-Hae menuruti, menginjakkan kakinya penuh ke satu pijakan sebelum kembali meniti tangga. “Aku tidak punya tangga sepanjang ini di rumah, Imo, kalau aku minta pada Appa, dibelikan tidak, ya?”

“Kalau ayahmu sekaya Kyu-Hyun Samchon, mungkin akan dibelikan.”

Nam-Hae mengangguk meski tidak mengerti apa artinya kaya itu. Begitu pintu dibuka, wajah kalem Nam-Hae langsung takjub melihat koleksi mainan Kyu-Hyun, baginya itu surga, tapi jangan harap Kyu-Hyun akan membiarkan anak itu menyentuh konsolnya sembarangan.

“Aku boleh ikut main?” Nam-Hae berlutut di samping Kyu-Hyun yang masih memasang kontroler ke konsol terbarunya. “Samchon, aku boleh ikut main tidak?” kali ini suara Nam-Hae terdengar merengek.

Suri sudah berpikir akan memberikan anak itu es krim sebagai bujukan kalau-kalau Nam-Hae merengeknya makin parah apalagi menangis.

“Boleh tentu saja,” Kyu-Hyun menyengir, membenarkan letak duduknya dan bersandar pada badan sofa, mereka duduk di karpet bersisian sementara tivi menunjukan loading berputar-putar beberapa saat. “Duduk di sampingku sini.” Tawar Kyu-Hyun menepuk bagian kirinya yang biasanya dihuni Suri,

“Yes!” Nam-Hae benar-benar gembira ketika Kyu-Hyun memberikannya salah satu kontroler.

Merasa situasi aman, Suri pergi ke ruang bacanya, mengambil satu bacaan untuk dibawa untuk menemani dua manusia yang mungkin akan saling menyalahkan kalau kalah main game.

Ketika Suri kembali ke ruang bermain, permainan sepak bola Fifa 2016 sudah dimulai. Kyu-Hyun asyik mengerutkan alisnya, untuk apa sih bermain melawan anak umur 4 tahun seserius itu? Memang perlu sekali, ya?

Suri baru berniat akan menegur ketika ia mengalihkan padangannya pada Nam-Hae yang juga sama-sama serius menatap layar tivi hingga tidak disadari bahwa kontroler yang Nam-Hae pegang tidak tersambung pada konsol utama.

“Ya Tuhan,” gumam Suri sambil duduk di sisi kiri Nam-Hae, “licik betul kau, Cho Kyu-Hyun~ssi.”

Tanpa menoleh, Kyu-Hyun menyengir mendengar pendapat Suri. “Yang penting dia tidak merengek, ‘kan?”

Lama sekali mereka duduk saling diam, Suri tenggelam dengan bacaan di tangannya, Kyu-Hyun asyik dengan tim sepak bolanya, dan Nam-Hae, perlahan sekali kepala anak itu rebah ke paha Suri dan melingkarkan tubuhnya seperti bayi sambil menghisap ibu jarinya.

Suri menutup bukunya untuk melihat apakah Nam-Hae bosan atau memang mengantuk dan ia mendapati mata anak itu terpejam. “Dia ketiduran,” Suri menarik lengan baju Kyu-Hyun.

“Mau kuambilkan selimut?” Kyu-Hyun mengentikan permainannya dan bangkit dari duduk.

Baru ia melintasi lorong lantai dua ketika suara bel di gerbang depan berbunyi, menandakan sebuah mobil menunggu di depan gerbang rumah mereka. Ia melihat lewat layar hanya untuk mendapati Lee Dong-Hae melambai-lambaikan tangannya minta dibukakan.

“Ini baru jam 9, ‘kan?” tanya Kyu-Hyun menyambut di pintu depan. “Ada yang tidak lancar dengan makan malamnya?”

Dong-Hae menggeleng. “Hae-Ra khawatir dengan Nam-Hae.”

“Oh,” Kyu-Hyun menunjuk lantai dua. “Dia di ruang main bersama Suri, baru tertidur.”

“Eh?” Hae-Ra yang tadinya berniat melepas mantelnya terlebih dahulu langsung berhenti. “Nam-Hae tertidur?”

Kyu-Hyun mengangguk. “Di pangkuan Suri.”

Buru-buru Hae-Ra dan Dong-Hae menyusul ke lantai dua hanya untuk melihat dengan mata kepala mereka sendiri seorang Lee Suri yang kaku terhadap anak kecil membiarkan Nam-Hae tertidur di pangkuannya.

Suri yang sebelum ini mau mengusap kepala Nam-Hae, merasakan bagaimana lembutnya rambut anak umur 4 tahun? Mungkin Soo-Hyunnya mempunyai rambut yang selembut Nam-Hae kelak ketika berumur 4 tahun.

“Ah, maaf merepotkanmu.” Seru Hae-Ra buru-buru mengangkat tubuh Nam-Hae dari pangkuan Suri.

Suri yang kaget buru-buru menarik tangannya yang tadi terjulur ke kepala Nam-Hae dan mengangguk kaku. “Ya, bawa dia pulang, kakiku bisa kram kalau dia tidur di sini sampai jam 10.”

“Menyebalkan.” Hae-Ra berdiri dengan Nam-Hae di pelukannya. “Kami pulang, ya, takut kalian punya acara malam ini. Terima kasih, nanti aku kirim hadiahnya ke tempatmu.”

Suri mengangguk. “Kalau bukan emas batang murni, aku akan mengirimnya balik ke rumahmu.”

Sementara di ujung lorong Dong-Hae menepuk pundak Kyu-Hyun, ia melihat tangan Suri yang terjulur dan tiba-tiba ditarik begitu Hae-Ra muncul dan merebut Nam-Hae dari pelukannya.

“Aku tahu rasanya, Hae-Ra membutuhkan waktu paling tidak sepuluh tahun untuk diperbolehkan hamil, dan kami baru menjalani setengahnya, bersabarlah.”

Kyu-Hyun hanya menjawabnya dengan anggukkan. “Terima kasih karena sudah meminjamkan Nam-Hae pada kami walau hanya tiga jam.”

“Tidak masalah, nanti kalau aku dan Hae-Ra punya acara makan malam lagi, aku akan minta bantuanmu untuk me—“

“Tidak terima kasih, tadi itu aku hanya basa-basi, pergilah, aku mau menghabiskan waktu berdua dengan istriku.” Potong Kyu-Hyun cepat dan kembali ke ruang bermain, berpapasan dengan Hae-Ra yang menggendong Nam-Hae di dalam pelukannya.

Ia mengin mencoba hal itu, menggendong anaknya yang tertidur di sembarang tempat ke ranjang mereka, atau membodohi anaknya ketika ribut ingin main game. Tapi sepenuhnya ia sadar, bagaimanapun Nam-Hae malam ini sedikit mengusir memuaskan fantasi mereka akan bayangan Soo-Hyun, Nam-Hae bukanlah anak untuk mereka, selalu ada perbedaan.

Sambil lalu Kyu-Hyun memandang wajah pulas Nam-Hae, cara tangan anak itu mencengkeram mantel bulu yang Hae-Ra kenakan. Anak itu percaya pada Hae-Ra meski tidak lahir dari rahim Hae-Ra sendiri. Bagaimana jika Suri divonis tidak dapat hamil lagi kelak? Bisakah ia menemukan anak yang seperti Nam-Hae? Anak yang lahir dari hati mereka?

“Hei, ayo Appa gendong.” Bisik Dong-Hae sebelum melambai dan mengambil alih Nam-Hae dari pelukan Hae-Ra. Mereka menuruni tangga perlahan, memerhatikan baik-baik undakan yang diterangi lampu biru tersebut sebelum keluar dari rumah Kyu-Hyun.

Di ruang bermain, Suri duduk membaca bukunya, kacamatanya dinaikkan kembali selagi Kyu-Hyun duduk di samping wanita itu. Ia tidak ingin membahas apa yang ingin Suri lakukan tadi pada kepala Nam-Hae.

Kyu-Hyun hanya duduk di sana, memandang lurus ke konsol yang salah satu kontrolernya tidak dicolokkan sebelum perlahan sekali tangan hangan Suri mengisi di antara jari-jarinya.

“Mau pergi makan malam tidak?” tanya Kyu-Hyun sambil melirik jam.

Suri melirik sekilas jam dinding sebelum kembali ke bukunya. “Restoran sudah penuh semua jam segini, makan malam di rumah saja.” Ia bersiap bangkit namun tangan Kyu-Hyun menahannya.

Ia ingin menghibur istrinya meski tahu kalau di rumah, duduk bersisian dengan kegiatan masing-masing pun sudah mampu menghibur istrinya, tapi apa salahnya keluar saat malam natal, berkumpul dengan orang-orang yang tumpah di jalan? Rasanya mereka berhak mendapatkan kencan juga, seperti pasangan normal lainnya.

“Tidak dengan restoran kesuakaanku.” Tungkas Kyu-Hyun sambil mengambil buku yang Suri baca, kemudian dengan sedikit paksaan, ia membuat Suri bangkit dari duduknya, menyeret wanita itu.

“Mom House pasti?” tebak Suri.

Kyu-Hyun tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil melemparkan sepasang sweater turtle neck hitam dari lemari serta celana jin hitam. “Couple look sesekali tidak ada salahnya, ‘kan?”

Suri mendecih setengah tertawa sambil melepas kausnya, menggantinya dengan turtle neck yang Kyu-Hyun pilihkan. Lupa bahwa dirinya belum mandi dan akan berkencan dengan seorang idol ternama Korea Selatan, berharap saja tidak ada yang mengenali mereka.

Seperti biasa, Suri tidak repot-repot memulas banyak make up ke wajahnya, ia hanya mengenakan BB Krim andalannya dan lipstick merah bata.

Seoul pada musim dingin adalah waktu terbaik untuk melihat sisi lain kota yang katanya romantis karena drama tivi tersebut, pohon-pohon yang mengugurkan daunnya hanya untuk bertahan hidup di musim dingin tidak nampak sebagai sesuatu yang melankoli, daun-daunnya digantikan puluhan lampu led putih dan kekuningan, beberapa memamerkan spektrum warna yang lebih beragam, tidak lupa hiasan figur Santa Clause, bintang, serta malaikat di sematkan di setiap pohon.

Seoul siap menyambut natal. Tapi Suri… ia melirik Kyu-Hyun yang bersiul mengikuti irama lagu ketika menyetir, ada sesuatu yang membuatnya selalu merasa sakit setiap kali musim dingin tiba. Desember tahun itu… ia kehilangan miliknya yang berharaga hanya karena hal sepele yang sebenarnya tidak perlu diributkan.

“Aku masih punya program 2016 yang belum kuselesaikan.” Ucap Kyu-Hyun sambil melirik istrinya yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Hm?” mata kelabunya nampak sedikit kosong sebelum mengerjap dan menyadari bahwa mereka sudah dekat dengan tujuan. “Program dietmu?”

“Bukan,” Kyu-Hyun memarkir mobilnya di slot kosong meski agak sedikit jauh dari restoran yang ia tuju. Tangannya mengangkat kaki Suri, melingkarkan ibu jari dan telunjuknya pada tulang kering Suri bagian tengah. “Membuatmu naik 5 kilo gram.”

Sudah banyak yang protes pada Kyu-Hyun kalau istrinya itu terlihat terlalu kurus, kakinya bahkan terlihat sangat kecil ketika tidak mengenakan celana jin, bahkan ibunya sering kali meringis melihat Suri berjalan, takut-takut wanita itu mematahkan kakinya sewaktu meniti tangga rumah atau membawa beban berat.

“Ibu kita protes soal kau yang terlalu kurus, membuat matamu itu terlihat terlalu besar.” Komentar Kyu-Hyun.

“Tapi aku tidak diet, kau lihat sendiri aku sering ngemil tengah malam denganmu? Setiap kau makan, aku juga makan, apa yang kumakan, sama dengan apa yang kau makan, ini bukan masalah aku diet atau tidak.”

Kyu-Hyun melepaskan sabuk pengaman Suri dan mengangguk. “Aku paham, tapi… apakah kau merasa tertekan menikah denganku?”

Suri menggeleng. “Tidak sepertinya.”

“Kalau begitu, kau cacingan.” Ledek Kyu-Hyun sambil keluar dari mobilnya.

Tak lupa masker, kacamata baca, dan topi baseball melengkapi penampilan mereka malam ini. Kyu-Hyun langsung mengulurkan tangannya untuk digenggam, terlalu banyak orang di jalan ini, tidak akan ada yang memerhatikan satu per satu siapa yang lewat, jadi, berusalah untuk berbaur dengan keramaian.

“Ini kali pertama kita keluar di malam natal, ya?” tanya Kyu-Hyun sambil menggandeng tangan Suri kuat-kuat, menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jari Suri yang jauh lebih kecil dari miliknya.

Tangan itu, bagi Kyu-Hyun, seperti puzel yang sudah dibuat sepasang. Mungkin bentuknya bisa menyerupai satu sama lain, tapi belum tentu itu adalah bagian yang benar. Sama seperti bergandengan tangan, ia melihat Suri mengenggam balik tangannya, meninggikan kerah mantel yang ia kenakan agar menghalau dingin, kalau mereka diciptakan untuk berpasangan, pasti cara bergandengan tangan itu, meski sederhana dan umum, akan selalu terasa benar.

“Iya, biasanya kau sibuk. Tahun-tahun sebelum ini sangat berbahaya untuk keluar berdua.” Jawab Suri sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Kyu-Hyun. “Ini dekat Ehwa University, bukan?”

“Hm?” Kyu-Hyun sedikit menurunkan wajahnya, tidak mendengar pertanyaan terakhir Suri.

“Ehwa, ini dekat Ehwa?”

“Oh, iya, di sana,” ia menunjuk ke arah belakang, “kalau mau ke Ehwa di sana.

“Tunggu,” Suri tahu ke mana Kyu-Hyun membawanya malam ini dan mengaduh, benar-benar Cho Kyu-Hyun itu, sejak kapan sih penyakit tidak romantisnya semakin akut? “Kau tidak membawaku untuk makan malam di restoran tteokbokki itu, ‘kan?”

Kyu-Hyun terus menarik Suri untuk berjalan ke sudut jalan tempat restoran yang tenar di kalangan fans internasional terutama ELF tersebut berada. Restoran kecil berwarna biru yang menjadi langganan Kyu-Hyun setiap kali ia selesai reharsal ataupun pulang konser.

Pria itu tertawa berderai. “Kenapa tidak? Yang penting kita mendapat privasi dan makanan enak, ‘kan?”

“Tapi tidak meski tteokbokki juga, Cho, kalau itu aku bisa membuatnya juga di rumah?”

“Apa serunya kalau makan di rumah? Sama saja seperti malam-malam kita sebelumnya, ini kan suasana liburan, holiday, Cho Suri, holiday!” Kyu-Hyun masih tertawa saat membuka pintu restoran tersebut.

Seorang pelayan pertengahan 50-an menyambut mereka di depan pintu dengan senyuman lebar. “Selamat datang, untuk berapa orang?” tanyanya ramah.

Malam ini, hampir seluruh meja terisi, hanya tersisa dua meja yang keduanya terletak di tengah restoran. Rasanya lebih baik kembali ke rumah daripada membahayakan seperti ini.

Tapi bukan Kyu-Hyun namanya kalau pria itu menyerah begitu saja. Ia menurunkan sedikit masker penutup wajahnya. “Bibi, ini aku, Kyu-Hyun.”

“Ah!” Bibi tersebut berseru keras dan menepuk tangan Kyu-Hyun. “Kau rupanya!”

“Jangan keras-keras,” pinta Kyu-Hyun sambil membuat gerakkan telunjuk di depan bibir yang tertutup masker kembali.

“Iya, maaf, aku senang sekali kau kembali ke sini, aku ingin terima kasih padamu, Kyu-Hyun~ah, berkatmu, restoranku jadi ramai sekali, banyak sekali turis asing yang datang ke sini.” Ucapnya panjang lebar setengah berbisik. “Omong-omong, kau ingin makan di sini?” tanyanya kembali bersemangat sambil mengambil buku menu.

“Iya, tapi…” Kyu-Hyun mendekatkan wajahnya, “bisakah tempat yang lebih tertutup, aku membawa kekasihku ke sini.” Ia menunjukkan genggaman tangannya dan Suri.

Omo! Aku tidak sadar!” ia tertawa dan mengangguk semangat. “Tentu saja, ini rahasia kita saja, ‘kan?”

“Benar sekali, Bibi!”

“Ayo, ke sini, ke sini,” ia membimbing Kyu-Hyun ke sebuah tempat di balik konter, di bagian belakang tempat dua buah meja dengan masing-masing empat kursi yang mengelilinya berada. “Ini tempat biasanya karyawan menunggu kalau sedang istirahat, tapi karena malam ini kami sibuk melayani, jadi kalian boleh pakai ini.” Saat Kyu-Hyun akan bicara, Bibi itu buru-buru melanjutkan, “Tenang saja, karyawan di sini semuanya anakku, tidak akan ada yang membocorkannya, duduklah.”

Suri melepas mantelnya, menaruhnya di salah satu kursi yang tidak mereka pakai, bertumpuk dengan jaket Kyu-Hyun sebelum melepas masker dan topi mereka, namun tidak dengan kacamata, mereka tidak memakai lensa kontak.

“Pilihlah makanan yang kau suka.” Bibi itu menyodorkan menunya ke hadapan Kyu-Hyun semangat dan memerhatikan wajah Suri lamat-lamat. “Kau cantik selai, seperti boneka, pantas saja Kyu-Hyun menyukaimu.”

Biasanya, orang akan melihatnya dengan tatapan sinis, merendahkan, dan menganggap wajahnya mengerikan. Begitu mendapat pujian dari Bibi ini, Suri tidak tahu harus membalas seperti apa, ia tergagap ingin mengatakan terima kasih.

“Terima kasih,” ucapnya pada akhirnya sambil menunduk dalam-dalam. “Bibi, apa menu spesial malam ini?”

“Kau ingin yang spesial? Tentu saja, iya kan?” ia bertepuk tangan semangat.

Kyu-Hyun membolak-balik buku menunya, menambah dua porsi gyoza goreng kesukaan Suri dan kimbab.

“Akan kubuatkan khusus untuk kalian, tunggu di sini ya.” Ia buru-buru keluar dari ruangan tersebut sambil menyengir gembira.

“Kau yakin dia tidak akan membocorkan rahasia ini?”

Kyu-Hyun menggeleng. “Tidak tahu sih, tapi setidaknya aku mengenalkanmu sebagai kekasihku, jadi kalaupun ia menyebarkan ke publik, statusmu tetap aman.” Kyu-Hyun meraih tangan Suri, meremasnya pelan. “Tenanglah, pikirkan itu nanti, sekarang….”

Kyu-Hyun berhenti bicara begitu Bibi tadi kembali sambil membawa dua buah gelas berisi lilin aroma, meletakkannya di meja dan menyalakan untuk keduanya. “Apa itu kalau di drama? Makan malam romantis seperti di hotel-hotel mewah itu.” ucapnya ketika menyalakan lilin kedua.

Candle light dinner?” jawab Suri.

“Iya! Itu! Tapi bedanya, menunya adalah tteokbokki, romantis a la Korea.” Ia tertawa sebelum membantu putranya menyusun tteokbokki berisi makanan laut, sosis, fish cake, dan telur rebus yang dipotong di atasnya. “Ini adalah menu spesial malam ini.”

“Terima kasih.”

“Kalau kau perlu sesuatu lagi, panggil aku saja, aku di luar tempat tadi.”

“Ah, baik. Terima kasih sekali lagi, Bibi.”

Wanita paruh baya itu mengibaskan tangannya santai. “Anggap saja aku balas budi padamu, Kyu-Hyun~ssi.”

Kali pertama dalam sejarah ia melewatkan malam natal dengan acara candle light dinner yang menu utamanya adalah tteokbokki. Ia tidak tahu harus tertawa atau miris karena menikahi pria yang hapal dengan penjual tteokbokki enak di seluruh Seoul.

“Baru kali ini aku makan tteokbokki sebagai menu utama dari candle light dinner.” Ucap Suri setelah mengambil fot menunya malam ini.

“Aku juga.” Aku Kyu-Hyun. “Aku ingin membicarakan masalah sensitif sebenarnya, tapi kalau aku menanyakannya di rumah, kita akan sangat emosional dan kemungkinan besar aku berpotensi mematahkanmu lagi, jadi kulakukan di luar.” Lanjut Kyu-Hyun agak sedikit menyesal.

Suri meletakkan ponselnya perlahan sebelum melipat tangannya dan mengangguk. “Aku tahu. Kau tidak mungkin mengajakku keluar di malam ramai seperti ini hanya untuk makan tteokbokki.”

Kyu-Hyun mendekatkan letak duduknya dengan Suri, menggandeng lengan wanita itu. “Aku lihat kau tadi ingin mengelus kepala Nam-Hae, tapi tidak jadi,” ia melihat wajah Suri yang masih sama. “Apa kau ingin membayangkan bagaimana kepala Soo-Hyun jika ia masih hidup?”

Wanita itu tersenyum samar dan dengan berat hati, mengangguk, menyetujui teori Kyu-Hyun barusan. “Aku tahu itu salah, tapi aku hanya ingin merasakannya, mungkin tidak semengerikan yang kita bayangkan selama ini.”

“Aku juga membayangkannya ketika melihat Nam-Hae tertidur di pangkuanmu. Aku ingin menggendongnya, memindahkan ke ranjang dan menyelimutinya. Sesuatu yang tidak sempat kulakukan untuk Soo-Hyun kita.”

Kali ini Suri melihat mata gelap Kyu-Hyun yang lebih sendu dari biasanya. “Apa itu terasa sakit ketika melihat Nam-Hae di pelukan Dong-Hae dan kita hanya bisa membayangkan apa yang bisa kita lakukan pada Soo-Hyun?”

“Ya.” Kyu-Hyun meletakkan tangan Suri di dadanya. “Sakit yang tidak kumengerti rasanya. Tapi di sisi lain,” Kyu-Hyun menaikkan tangan Suri, menempelkannya pada bibir Kyu-Hyun. “Ada luka yang pulih. Setidaknya kita tahu, kau dan aku, bisa menjaga anak kecil meski hanya 3 jam. Sangggup menanggapi kebawelannya dan mempertahankan mulut kita untuk tidak berkata kasar.”

Suri tertawa pelan dan mengangguk. “Fyodor bilang, “The soul is healed by being with childern”,” ia menatap Kyu-Hyun lamat-lamat. “Mungkin kita mulai harus mengatur program untuk mendapatkannya satu?”

Biasanya Kyu-Hyun akan mengangguk semangat jika sudah membahas anak, tapi kali ini, pria itu memberikan jawaban di luar ekspektasi Suri. “Tidak dalam waktu dekat ini.”

“Kenapa?”

“Aku tidak akan menuntut terlalu banyak soal anak, kita butuh waktu, kau dan aku…” ia melihat cincin di jari manis Suri. “Tunggu hingga semuanya tenang dan terencana, aku berjanji padamu tidak akan ada keadaan yang menekanmu lagi selama masa-masa kehamilan, tunggu aku membereskan semuanya, sebentar lagi.”

Suri mengangguk. Beberapa hari lalu, semua manajer Super Junior dibuat kewalahan dengan persyaratan rahasia Kyu-Hyun dengan SM, ia percaya pada Kyu-Hyun akan membereskan semua untuk mereka.

“Kupercayakan padamu.” Ia mengeratkan genggamannya pada Kyu-Hyun. “Tapi, jika kau menemukan kesulitan di tengah jalan, jangan ragu untuk meminta bantuanku.”

Kyu-Hyun mengangguk, mencium bibir Suri kilat. “Tentu.”

We will burn, we will burn out, we will be healed and come back again.” Ucap Suri sebelum meraih ponselnya. “Aku mau unggah fotonya ke akunku.”

Sambil melirik layar ponsel Suri, Kyu-Hyun mencicipi tteokbokki kesukaannya dan meracau asal. Ia melihat hasil jepretan Suri yang memuat ponsel biru khas miliknya dan masker khas Kyu-Hyun.

“Jangan lupa potong gambar ponsel dan maskerku, aku tidak ingin komentar negatif di akun Instagrammu, nanti kau ngambek, tutup akun, dan tidak bisa dipantau lagi kalau kau sedang berbunga-bunga.” Ledek Kyu-Hyun yang kemudian mendapat sikutan di pinggulnya.

screenshot_2016-12-24-21-56-59_1.jpg

“Bagaimana kalau kita undang keluarga kita makan malam di rumah? Aku yang masak?” usul Suri setelah mengunggah fotonya.

“Kau yakin sanggup? Bibi Kim tidak akan kembali hingga 2 Januari, ingat?”

Suri mengangguk santai sambil memakan gyoza kesukaannya. “Tentu ingat.”

“Yah, kalau kau sanggup sih tidak masalah, aku bisa beritahu nanti malam.”

“Oke kalau begitu!”

***

 

Saking sibuknya Suri, Kyu-Hyun bahkan tidak ditegur semenjak pukul 3 sore. Wanita itu sudah sibuk berkutat di dapur dengan buku resepnya, percobaannya, hingga pengecekkan stok makanan kalau-kalau ada salah satu dari keluarganya yang tidak merasa sesuai selera dengan lidahnya.

Wanita itu memang paling berkarisma kalau di dapur. Ia tidak pernah mempermasalahkan Suri yang tidak memasak di awal pernikahan, toh ia menikahi Suri dadakan, harus terima konsekuensi Suri tidak bisa memasak dan melayani suaminya dengan benar.

Tapi siapa sangka wanita yang bagi Kyu-Hyun adalah lautan tersebut, dingin dan tenang, bisa berkutat dengan alat-alat masak. Ia sudah pasrah saja dahulu dengan kemampuan memasak Suri yang payah.

“Nanti kau jemput Omunim?” tanya Suri yang baru saja mengeluarkan kalkun dari pemanggang.

“Iya, aku mau berangkat sekarang.” Ucapnya dari lorong dan mendekat. “Mereka minta dijemput di Mom House.”

Suri menoleh, merangkul pinggul Kyu-Hyun dan mengecup pipi pria itu. “Oke, hati-hati kalau begitu, jalanan ramai soalnya.” Ia melepas celemeknya. “Aku juga mau ke salon, merapikan rambutku. Pukul 7 sudah harus sampai di rumah, ya!”

“Iya, istriku.” Kyu-Hyun memukul pelan bokong Suri dan tertawa begitu mendapat mata sinis dari Suri sebagai balasannya. “Aku berangkat.”

Sudah Kyu-Hyun bilang dari tadi pagi untuk tidak membawakan apa pun, itu hanya akan membuat repot ibunya. Tapi namanya juga ibu yang akan menengok anak mereka, sudah pasti harus menyiapkan banyak hal sebagai imbalan sudah menjamu orangtuanya itu.

“Banyak sekali.” Jawab Kyu-Hyun dan membawa sebagian kantong dari tangan ibunya. “Sudah kubilang jangan bawa apa-apa.”

“Mana mungkin? Dari tadi siang Omma menyiapkan banyak makanan untuk dibawa, katanya bekal untuk Suri, Omma jadi terobsesi dengan rencanamu menaikkan berat badan Suri itu, kyunnie.”

Kyu-Hyun menyengir. “Percuma, aku sudah coba membuatnya naik 2 kilo gram, dan turun 5 kilo gram dalam satu bulan.”

Mereka berjalan menuju mobil Kyu-Hyun dan mobil Yun-Ho yang terparkir di ujung jalan menuju Mom House. Ah-Ra dan Yun-Ho berjalan di balakang, Kyu-Hyun beralan bersisian dengan ibunya, dan ayahnya berdiri tak jauh dari mereka.

“Bagaimana kabar Suri?”

“Baik, tadi dia menyempatkan diri ke salon untuk merawat rambutnya.” Kyu-Hyun menyengir.

“Kemajuan untuknya, ya?” komentar Young-Hwan. “Dia sudah mau keluar bukan hanya ke kantor, ya?”

“Iya, katanya tidak ingin kelihatan dekil di depan yang lain.”

“Aku dengar dari ibunya Dong-Hae, Nam-Hae dititipkan di tempat kalian kemarin malam, benarkah?”

Kali ini Kyu-Hyun menyengir semakin lebar dan tidak kuasa untuk tidak merangkul ibunya saking bahagianya. “Iya, kemarin Nam-Hae dititipkan di rumah. Suri merangkul Nam-Hae sementara ia membuatkan makan malam untuk anak itu kemarin, bahkan membiarkannya tidur di pangkuan Suri, hebat, ‘kan?”

img_20161226_014229.jpg

Semua tahu bahwa yang selama ini ketakutan mempunyai seorang anak adalah Lee Suri, sementara ketakutan Kyu-Hyun di depan kamera terhadap anak kecil hanya untuk memenuhi imej seorang magnae yang SM terapkan padanya.

“Oh, benar-benar kemajuan besar!” puji Ah-Ra semangat.

Kyu-Hyun menoleh pada kakaknya. “Makanya, Noona cepatlah mempunyai anak agar anakku tidak jadi cucu paling tua!”

Perlu waktu satu jam penuh untuk menembus kemacetan di Sang-Am-dong. Ketika mereka sampai di pekarangan, mobil orangtua Suri serta mobil milik Sa-Eun sudah terparkir rapi berjajar dengan Audi putih Suri.

Belum juga keluar dari mobil, Sa-Eun dan Sung-Min buru-buru keluar menyambut Kyu-Hyun dan keluarganya.

“Selamat sore,” sapa Sa-Eun ceria. “Terima kasih sudah mengundang kami makan malam, Kyu-Hyun~ssi.”

Chuseok tahun ini, Sung-Min mengundang ia dan Suri untuk makan malam di apartemen mereka. Awalnya Kyu-Hyun tentu ingin menolak, tapi karena bujukan Suri yang membawa-bawa nama Super Junior di dalamnya, Kyu-Hyun luluh juga dan memenuhi undagan Sung-Min di rumahnya.

screenshot_2016-12-27-04-46-05_1.jpg

Meski samar, masih ada rasa kecanggungan di antara mereka. Kyu-Hyun tidak bisa tahu-tahu saja melupakan hal tersebut, tapi demi Suri dan demi dirinya, ia harus mengubur perasaan marahnya dua tahun lalu, itu sudah lewat dan ia sudah melampiaskannya sejak lama, rasanya tak adil mendiamkan mereka lebih lama lagi.

“Tidak masalah, Suri yang memintanya untuk makan malam di rumah.” Jawab Kyu-Hyun dan berpaling pada Sung-Min, memberikan pelukan ringan yang dahulu tidak secanggung ini. “Hyung, apa kabar?”

“Baik sekali, terima kasih sepatunya.” Pria itu membahas hadiah ulang tahun pernikahan Sung-Min dan Sa-Eun yang Suri usulkan, sepasang sepatu lukis, Suri sendiri yang melukisnya, bergambar kelinci biru dan putih.

“Jangan lupa dipakai dan dirawat baik-baik.” Kyu-Hyun berjalan lebih dahulu, membiarkan mereka berbincang.

Di ruang tengah Chun-Hwa, pria paruh baya yang terlihat menua ketika putrinya menolak siapa pun untuk menemuinya dua tahun lalu itu terlihat lebih segar. Ia tengah sibuk menyaksikan siaran tivi kabel berbahasa Inggris.

Aboenim,” sapa Kyu-Hyun tanpa meletakkan bingkisannya.

Pria itu menoleh dan tersenyum lebar melihat Kyu-Hyun, menantu yang paling bisa ia andalkan dalam situasi apa pun. “Kyu-Hyun~ah,” ia memeluk Kyu-Hyun erat, menepuk-nepuk punggung pria itu. “Bagaimana kabarmu? Baik?”

“Sangat baik.”

“Terima kasih sudah menjaga putriku begitu baik.” Chun-Hwa seperti Suri, tidak pandai mengungkapkan sesuatu, ia terus menepuk punggung Kyu-Hyun. “Dia sangat cantik, jauh lebih cantik dari sebelum menikah, terima kasih.”

Kyu-Hyun tertawa canggung. “Aku ke dapur dulu, Aboenim, mau menaruh ini.”

“Ya, ya, sialakan, Suri di dapur dengan Sung-Jin dan ibunya.”

Ketika Kyu-Hyun melangkahkan kakinya ke ruang makan tempat perjamuan sebelum menuju dapur, Kyu-Hyun tahu mengapa Chun-Hwa memuji putrinya lebih cantik dari tahun-tahun sebelum menikah.

Suri mengenakan long sweater putih gading dipadukan dengan celana jin biru. Rambut cokelat gelapnya dibiarkan terurai natural, wajahnya dipulas sederhana dengan warna bibir merah muda lembut. Ia bisa melihat perbedaan Suri dari tahun kemarin yang pipinya terlihat begitu tirus, hari ini pipi Suri sedikit berisi, tidak ada bekas kesedihan di wajahnya.

“Hai,” Kyu-Hyun meletakkan barang bawaannya di lantai.

Wanita itu, setelah meletakkan chocolate cake ke tengah meja, menoleh dan tersenyum ke arah Kyu-Hyun. Sorot mata yang hanya Suri gunakan untuk melihat Kyu-Hyun. Hatinya lemas, ia disiksa terang-terangan dengan tatapan Suri yang seperti itu.

screenshot_2016-12-25-20-57-48_1.jpg

Ia selalu dibuat berpikir, bagaimana kalau suatu hari ia mengecewakan Suri yang menatapnya penuh dengan kepercayaan bahwa kebahagian sesederhana melihat senyuman pasangannya?

“Hai, sudah kembali?” Suri balik bertanya. “Di mana yang lain?”

“Di depan, sedang mengobrol.” Kyu-Hyun berjalan pelan, mengulurkan tangannya untuk disambut tangan Suri.

“Ada apa? Kau tidak enak badan?” Suri merangkul pinggul Kyu-Hyun, meniadakan jarak antara mereka.

“Bagaimana jika suatu saat aku mengecewakanmu lagi?” tanya Kyu-Hyun dengan suara seraknya.

Sadar bahwa pembicaraan Suri dan Kyu-Hyun sedikit pribadi, Kyung-Sook mengajak Sung-Jin untuk meninggalkan mereka berdua.

“Kau tidak pernah mengecewakanku.”

“Bagaimana jika aku mengecewakanmu?”

Senyum Suri menghilang sebelum kembali timbul perlahan. “Ah, itu urusan biasa. Bukan menikah namanya kalau tidak ada naik turunnya, bukan?” Suri merangkul pinggul Suri dengan kedua tangannya, merapikan rambut Kyu-Hyun dan mencium rahang pria itu. “Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“Kau terlihat lebih cantik dari natal sebelumnya, aku takut mematahkanmu lagi.”

Ia mengangguk. “Aku bukan patah, aku hancur. Tapi kau ada di sana, bersedia membantu menata ulang meski tanganmu sendiri berdarah, kau tidak mengeluhkannya padaku. Jika suatu hari aku atau kau kembali ke titik itu, kita hanya perlu memperbaikinya lagi. Dan jika, suatu hari sudah tidak bisa diperbaiki, mungkin kita perlu tempat baru yang tidak terlalu curam?”

Kyu-Hyun tergelak dan menggeleng. “Aku belum minum apa-apa sudah mabuk.” Ia merangkum wajah Suri dan menciumnya kasar. “Aku mencintaimu saat kali pertama melihatmu dan kali kedua, ketiga, hingga berjuta-juta kali dalam hidupku, terima kasih sudah mempercayakan kebahagianmu padaku, Cho Suri.”

Ah-Ra masih tertawa ketika masuk ke dapur dan mendapati Kyu-Hyun juga Suri sedang berciuman. Ia mau mundur lagi, tapi Yun-Ho, Sung-Min, juga Sa-Eun berada di belakang tubuhnya justru menabraknya hingga mereka menimbulkan suara berisik.

“Ups,” ucap Ah-Ra begitu Suri dan Kyu-Hyun buru-buru melepaskan ciumannya. “Maaf mengganggu waktu pribadi kalian.”

Suri hanya tertawa pelan sebelum mengangkat belanjaan yang Kyu-Hyun bawa tadi. “Ini dari Omuni? Aku sudah bilang tidak usah bawa apa-apa.” Dan seterusnya rumah mereka diisi dengan keributan seputaran hal tidak penting.

Mulai dari hal memalukan yang mereka lakukan saat masih kecil hingga hal konyol baru-baru ini.

Makan malam diakhiri dengan Suri dan Kyu-Hyun yang berduet menyanyikan lagu kesuakaan Suri, Top of The World dari band lawas Carpenters.

Such a feelin’s comin’ over me
There is wonder in most every thing I see
Not a cloud in the sky, got the sun in my eyes
And I won’t be surprised if it’s a dream

Everything I want the world to be
Is now comin’ true especially for me
And the reason is clear, it’s because you are here
You’re the nearest thing to Heaven that I’ve seen

I’m on the top of the world lookin’ down on creation
And the only explanation I can find
Is the love that I’ve found ever since you’ve been around
Your love’s put me at the top of the world

Somethin’ in the wind has learned my name
And it’s tellin’ me that things are not the same
In the leaves on the trees and the touch of the breeze
There’s a pleasin’ sense of happiness for me

There is only one wish on my mind
When this day is through I hope that I will find
That tomorrow will be just the same for you and me
All I need will be mine if you are here

I’m on the top of the world lookin’ down on creation
And the only explanation I can find
Is the love that I’ve found ever since you’ve been around
Your love’s put me at the top of the world

I’m on the top of the world lookin’ down on creation
And the only explanation I can find
Is the love that I’ve found ever since you’ve been around
Your love’s put me at the top of the world

Malam itu, siapa pun yang melihat keduanya bernyanyi setuju bahwa lagu tersebut bukan hanya sekedar satu dari sekian banyak lagu kesukaan mereka, namun penanda bahwa mereka yang baru siap meninggalkan melodrama di belakang dan siap menghadapi konsekunsi yang Kyu-Hyun dan Suri ambil di tahun 2017 nanti.

Mereka hanya berharap bahwa badai yang datang setelahnya tidak berlangsung lama.

Oh, dan jangan lupakan bahwa fakta suara serak Suri mampu bernyanyi dengan baik meski masih meraba nada yang dinyanyikan barusan.

“Only heart knows how to find what is precious.”

--Fyodor Dostoyevsky.
Advertisements

66 thoughts on “[DV-Series] Top of The World

  1. Senengnya liat situasi keluarga mereka udah tenang terutama sama Sungminsaeun udah mulai akrab dan nerima.. Semoga 2017 semakin baik buat keluarga Kyuri. Semoga Bom ceper lahir😊 dan melupakan sakit waktu ditinggal soohyun.. Tenang Bom bakal lebih pintar dri Namhae wkwkw #ditabokDonghaera

  2. Typo kak okky ..
    “Suri merangkul pinggul Suri dengan kedua tangannya, merapikan rambut Kyu-Hyun dan mencium rahang pria itu. “Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?””
    (Suri meranggul pinggul Suri) =D

  3. Aw… kenapa sweet banget sih kak? Sampek nangis ini bacanya walau kadang ketawa. Nah, yg bener yg mana ini?
    Kak, boleh request? Sequel katabasis atau cv sih,hehe

      1. Andwaeee… gak jadi minta kalo gitu kak.. asal kak okky sering hadir disini, seneng lah daku ini.. jangan semedi lagi ya kak… ditunggu karyanya kak, keep writing,okay

  4. Ini bikin baper banget ka.
    Beneran kaya ada didunia nyata(? Ditambah ada foto fotonya jadi makin nyata aja, rela ko kalo kyuhyun beneran udah nikah *insyaallah haha 😂
    Mereka jadi makin manis aja! Suka suka 💜💜

  5. Walaupun kedepannya tidak akan mudah tapi Kyuhyun dan Suri harus menguatkan satu sama lain. Kedepannya pasti penuh kejutan. Huh, baca ini sedih, ngakak, terharu campur aduk. Mereka makin dewasa ya walaupun rada melodrama.

  6. Mataku berkaca-kaca, inget soo-hyun 😭
    Seneng mereka bisa ceria lagi, menata hidup lagi, saling menguatkan…

    Usul kak, kapan2 nam-hae dititipin lagi ke kyuhyun suri yang lama, biar belajar ngasuh anak kecil hahaha
    Ada sedikit typo tadi kak pas bagian “suri merangkul pinggal suri” mungkin kelewatan pas ngedit…

  7. kalo tahun ini program naikin berat badan suri, berarti tahun depan program buat anak donk. Yah, padahal kan Kyu wamil tahun depan….
    Banyak scene romancenya kak..
    Suka..suka….suka….

  8. dapet Ilham dari IG yaa, yg tukeran baju?? XD

    itu cristian grey ikut eksis kak?? wkwk, pecut segala., pake dasi aja

    akhirnya setelah nunggu lama DV ada longshoot nya juga, request an aku kemaren ya, tengkyuuu. aku lupa ada sungmin sama saeun juga -_-
    romantis banget, tapi sedih liat mereka kepingin punya anak tapi belom bisa, taun depan yaa janji 😁😁

  9. Moga2 apa yg direncanakan kyuhyun sama suri berjalan lancar dan suri seperti ny masih dengan kepergiannya soo hyun

  10. Bikin sedihh,, bikin baperr
    Aku tau perasaan kalian yg menginginkan anak.
    Semoga 4-5 tahun lagi lahir lah bom yg akan lebih pintar n cerdik di bandingkan nam hee.
    Makin sweet ajh dehh mereka,, semoga tetep langgeng dahh 😀😀😀

  11. G tw mo ngomong apaan, ada seneng, senyam-senyum, sedih pokok’a campur aduk lah…
    Moga KyuRi bsa cepet-cepet lahirin bomie biar g sedih lagi😄😄😄
    Untunglah hbngn kyuhyun suri ma pasangan sungmin saeun dah membaik😊😊😊 moga d taun 2017 nanti bomie dah lahir😊😊😊 tpi bukan’a kyu wamil y d taun itu??? Bner g sih????
    Pokok’a seneng bgt lah bca ini, jdi sedikit mengurangi kerinduan ma nih kopel, ceileh bahasa’a😂😂😂😂
    Suka ma quote yg d akhir itu😁

  12. Berharap ini nyata deh. Kasian liat member yg masih sendiri. Berharap 2017 ada yg ngurus mereka scr pribadi. Masa Saeun doang cwe paling cantik di SJ. Eh Chul oppa juga. Kali ajavSiwon gitu kenalin sama Elf, istrinya.

  13. kapan pasangan ini di beri kepercayaan lg buqt cpt punya baby kasihan dah lama nugunya.
    thor cpt bkn suri hamil kasihan

  14. wah ini cerita bener2 like real life bgt ini aaaaakkkkkk tp aku kepo? aku yg belom baca atau gimana emg kenapa suri sama kyuhyun ini sebelumnya? apa yg bikin suri keguguran? wah tanda harus backtrack semua ff disini nih hahahaha kak seneng bgtttt bacanyaaaa huhu semoga bahagia terus lah yaaaaaaa

  15. Astagaaaa…….semacam menyirami bunga yg hampir mati…..berasa sejuk dihati pas baca sequel DV ini 😍😍😍😍😍😍😍😍😍 semoga tahun 2017 menjadi berkah utk keluarga cho…..dan uri bomie segera lahir….juga menjadi berkah utk authornya 😄😄😄 aamiin…….. Pas suri bilang mau ngundang smua keluarganya Aq berharap sungminsaeun gak diundang tp ternyata ada meskipun agak canggung…..hebat si suri😁 dan yakin ikutan berkaca2 waktu mereka mengingat soo-hyun…….berasa ikut merindukan sesuatu yg blm ada. ( dimaklumin aja…Aq juga menginginkan seorg anak diusia 8thn prnikahanQ ini) 😭😭😭😭😭😭

    Meskipun emg ada typo tp gpplah….Aq yakin smua pembaca mengerti apa yg dimaksud author….jd itu mnurutQ hal yg wajar dan manusiawi😂😂😂 terimakasih utk sequelnya terimakasih juga utk cerpen2nya selama ini terimakasih juga utk novel2nya…..dan terimakasih juga utk mau membalas setiap chat abal2Q 😂😂😘😘😘😘 sekian komentar tak penting dariQ dan selamat tahun baru……..(makin tua aja😂😂)

  16. Tadinya dan tadinya… Aku fikir kalau nam hae bkalan bkin onar, taunya bocah satu ini sukses bkin kyuri keinget soal sohyunnya mereka.. Hikss
    Ikutan nyesek nyesekk gimna gitu. Aku sih berharap mereka cepetan dapat penggantinya soohyun, meskipun ttep gak bisa menggantikan calon anak pertama mereka, tapi seenggaknya bisa meredakan kesakitan mereka.. Huhu

    Yang paling bkin kepincut adalah, kekuatan Cinta mereka berdua. Harusnya emang gitu pasangan suami istri. Saling menguatkan. Apalagi moment wktu kyuhyun bilang kalau dia takut mengecewakan suri lagi. Dan jawaban suri yg super duper bkin terenyuh.. Haya perlu balik ke titik awal dan memperbaiki lagi. Ya asal mereka ttep bergandengan tangan, pasti bisa deh.. Wkwk
    Paling suka ini “aku bukan patah,aku hancur. Tapi kau ada disana, bersedia membantu menata ulang padahal tanganmu sendiri berdarah”…dan lagi lagi sukses dibkin jatuh Cinta sama kyuri..

    Makasih udah dikasih ff penutup tahun sekeran ini kak.. 😃😃 selingan buat nunggu CBE sampai rumah.. Wkwk
    Fighting!!!

  17. huhu dibuat mewek sama ini couple huhu terlepas dari kelakuan suri yg ga bisa ga ngomel2 haha. sedih yaa kalo di inget2 soohyunnya udah ga ada T.T , semoga cepet terselesaikan urusannya kyuhyun biar cepet buat program hamil dan segera bomie muncul haha
    setuju banget sma bapanya suri semakin kesini makin cantik banget suriii duh mbaaaa minum jamu apa kamu *lah? gemesss pengen bawa pulang haha

  18. Gak tau mau komen apa, yg jelas aku seneng keluarga mereka sudah lebih baik, udah bisa lebih akrab satu sama lain

  19. Awal bacanya sempat bingung ini kenapa Suri seperti tidak suka dengan anak kecil, tapi ketika semakin dalam dan mengingat-ingat kisah mereka, baru sadar dan ingat bahwa ada kisah lain sebelum kisah ini. Bahkan bukan hanya mereka yg melalui masa sulit, ada Donghae juga di sini, ia dan istrinya pun juga mengalami hal yg sulit. Oh, ada Sungmin dan Saeun sebagai cameo di sini. Makin komplit deh…
    Semoga apa yg mereka rencanakan bisa berjalan lancar, bisa terwujud deh. Tiap baca cerita kak Oki selalu hanyut beneran dah.

  20. keren banget ceritanya^^ ngakak abis”an. so sweet ya mereka. aku baru baca ff disini dan belum tau cerita” yg sebelumnya. izin baca ya eonni 🙂

  21. Dan aku jadi termehek-mehek apalagi pas bagian namhae dititipin ke kyuri..
    Ini baca dr tengah malem baru kelar sekarang 😓😓😓
    Kado akhir tahun yg menyenangkan, gomawo eon.. *bow*

  22. Ahhhh baper banget sihhhh, akhirnya mereka bisa lebih baik setelah dapat cobaan yg membuat hub mereka selalu teringat dg bayangan masa lalu. Mudah2an d tahun depan suri bisa hamil lagi.

  23. SURI KITA SAMA2 KAKU N AGAK NGERI KLW DIRINGGAL ATAU DISURUH ASUH BAYI
    SOALNYA GAK BIASA NGASUH BAYI AKUNYA
    GAK AD ADIK KECIL YG HARUS DIASUH

    KITA JG SAMA2 GAK PANDAI UNGKAPIN PERASAAN N GAK SUKA BASA BASI
    TP KITA SAMA2 GA PERNAH NYAKITIN ORG LAIN

    PAS YA MOMENTNYA AMA FOTO VISUALNYA
    CM SBENRNY NGERI AJA TIBA2 TERNYATA CERITA DIBALIK FOTO ITU SAMA SEPERTI CERITA KAMU
    BELUM SIAP AJ GYU IDH NIKAH SBNERNYA

    KEDAI TTEOPOKI YG KATANYA TERKENAL DIKALANGAN ELF ITU …………………………………………………………………………………EMG APA SEBABNYA BISA TERKENAL DI KALANGAN ELF CHINGU ???????????APA NAMA KEDAINYA ??????????????????????.TLG KASIH TAHU DONG CHINGU…..AKU BARU TAHU INI SOALNYAAAAAAAA??????????…….DULU YG AKU TAHU CM KATABYA ADA KEDAI RAMYUN YG ADA TANDA TANGAN N KATA2 MMBER SUJU BUAT ELF AJA …..GITU

    GAK TAHU DAMA GAK ITU

    JD NAMHAE BUKAN ANAK KANDUNG DONGAHE YA
    CUTE BNGET ANAK ITU

  24. seneng banget dehhh liat keluarga mereka kumpul seperti itu..

    sweet banget dehh, suri sama kyu jangan sedih lagi.

  25. Manis bgt kehidupn mrk walau senpet nglmin kesedihn tp mrk ttp kompk menghdpi semua cobaan
    Semoga rencna2 th dpn bisa tercpai terutma membuat baby

  26. huwwwwaaaaa nangis baca ini.
    luka yg mereka terima blm sepenuhnya sembuh. mungkin masih menganga lebar tp mereka mencoba untuk sembuh bersama. kenapa malam natal jd melow kaya gini sing mereka berdua.huhu

  27. Suka suka suka… 😄
    Snang sedih smua nya jd stu… Ska skli sama crita ini bnr2 mnarik… Ttp bhgia kyuhyun dn suri… Dn Smangat trus buat author nya… 😊

  28. Luka yang belum pulih sebenarnya tapi mereka berdua berusaha untuk bangkit dari keterpurukan. Ternyata dibalik ketakutan mereka mampu menjaga anak kecil yang dititipkan. Berharap suri segera hamil lagi. Ditunggu lanjutanya keep writing and fighting.

  29. yihiiii keren kak, kreatif banget bikin ffnya. seneng banget bacanyaaa, envy akut nih sama suri 😔😂, sedih juga kalo keinget mereka belum punya anak 😭😭😭, next project bikin baby buat mereka ya kak

  30. kak okky bikin baper aja,mereka romantis gak ketulungan bikin iri aja.
    kak okky bikin mereka punya anak dong hehehe kasian mereka pas ada nam hee dirumah mereka ikut sedih,apalagi ada Sungmin disitu sama fotonya bikin sedih karena aku kangen sama Sungmin dan liat Sungmin senyum aku jadi ikut bahagia,gak sabar nunggu Sungmin pulang semoga cepet bikin dedek hehehe biar ELF punya ponakan

  31. Omaigat.. omaigat.. omaigat..
    Jd mellow bca ini ff yg pas ada namhae d rmh kyu n suri.
    Sama2 pgn pny anak ktika melihat umur yg skrg.
    Mrka tambah so sweet.
    Jd kebawa di kehidupan nyata pgn kyu sma suri jadian btulan.

  32. Aduuuhh couple ini slaalluuu bikin iri. Entah llg mesra,berdebat , semuaanyyaaa…n slalu bkin yg bca senyam senyum gaje Hihhihii 😀 :-*
    I LIKE IT ! 😉

    hm q nunggu2n siApa tau diakhir ada moment pas lg mkn2 nam hae keceplosan ngomong klo pernah dikasih makn ramyeon.. 😀 hahahaa pasti luucu deehh wkwkwkk
    tp itu hanya ada dlm imjnsi ku.. Heheheee 😉 😀

  33. mampir ke blog karna mau cari info pengiriman po novel kemaren, ternyata yang kutemukan adalah postingan ff dv series…
    alhamdulillah, disyukuri aja…
    mari baca…
    mwuwehehheee

  34. selalu dapet feelnya sempet sedih pas kyuri bahas soal anak apalagi kyu so sweet bgt dan pengertian tingkat tinggi ,jarang² liat suri masak dan itu kemajuan bgt ,
    seneng baca ni ff berasa bayangin beneran kyu udh nikah

  35. Supper sekali😂😂
    Kapan bisa kayak gitu? He he
    Romantis abis seperti biasa dari Kyu dan Suri😄😄
    Btw, suka sama font style nya.. bikin betah mandang😍😍

  36. /tiba2 terdampar di wp kak okky/

    aku musti baca ulang VD dr awal nih kak.. Ga ngeh aku. -_-
    tp itu si nam hae boleh buat aku aj?? Imut bgt dia. /jiwa tante2 mulai menguar/

  37. Aku belum pernah ng0ment pake email inikah?? Hahaha. Ini email baru. . Salam kenal kak. . Aku pendatang baru. . >_<

  38. Akhirnya muncul juga ini kopel 😊
    Semoga baby cho nya cepet hadir, kasian lihat mereka sedih 😭
    Tetap semangat ya kak Okky ditunggu karya2 selanjutnya (novel terutama hehe)

  39. yeaayy akhirnya terbit… semga thn depan suri bisa hamil dgn tenang tanpa ada masalah apapun… dan kabar baik hubungan dgn sungmin udah muali membaik walaupun rada gondok juga sama mereka

  40. so sweet as usual😊
    Kalo tahun depan mau program bikin baby, kan Kyu wamil terus gimana. tahun depannya lagi kah?
    Semoga keluarga ini bisa samawa ya 😀
    Btw, itu ngomongin Christian Grey . apakah kak Okky jg lagi nungguin Fifty shades of darker? 😀
    Wait for next story 😊😊

  41. untungnya kyuhyun n suri berhasil menjaga anak berusia 4 tahun tanpa halangan n kendala,semoga kyuhyun n suri cepat dikaruniai anak,mereka pasti rindu anak kecil

  42. Aaaaaaa kenapa sweet banget sihh mereka. Yaawalaupun ada nyesek nya dikit pas lagi pembahasan tentang soohyun justru itu yang bikin mereka romantis, apalagi pas kata kata lagi mau makan di resto.
    Aku kira namhae bakalan bikin onar ehh malah ngegemesin, mungkin si ikan mokpo ngajarinnya bener wkwk
    Cepet dapet pengganti nya soohyun dah mereka secepat nya, biar keluarga terasa lengkap dan bisa mengurangi kesakitan mereka 😊

  43. Lama banget ga baca ff di sini 😢😢😢😢 kangen sama suriiiii 😢😢😢 Aku keinget blog di sini karena ada tmn yg bahas ‘ada novel kyuhyun baru nih, aku mau beliiiii’ pas aku liat ternyata Casual Vengeance, dan nama penulisnya… dan sinopsisnya 😭 jadi flashback ke jaman2 SMA dulu yg sibuk2 nya aku pasti sibuk baca ff 😢

    Setelah aku lihat wp nya. Aku kaget bgt ternyata memang udah lama bgt yaaaa. Postingan udah numpuk dan aku bingung mau baca dari mana haha 😅

    Btw kak. Selamat untuk novel kamu yg udah naik cetak 🙂 ikut seneng dengernyaaaa….

    Mumpung lg liburan aku mau nyelamin suri sm kyuhyu lagi heheheh

  44. Selalu, ya, kalau baca FF-nya Kak Okky itu nano2 banget rasanya. Aku ngakak di bagian Kyu yang curang pas main sama Nam-Hae, terus terharu di bagian2 KyuRi berikutnya, di mana mereka keinget Soo-Hyun yg udh nggak ada 😦
    Semoga di tahun berikutnya mereka baik2 selalu ya! ❤

  45. auh Death Vanilla

    selalu lah bikin klepek2
    hah jujur lah kak
    aku lupa cerita tahun lalu itu apa
    kyuhyun mematahkan ?
    Soo-Hyun yg gak jadi lahir

    astagaaa itu aku lupa
    somplak kan hahaha

    tapi tak apalah
    ff iini selalu bikin naik turun emosi pembaca
    manisnya

    sialan lah
    aku pen nangis bagian mereka ngerawat Nam-Hae
    bagian2 Kyu yg nyediain makanan buat Nam-Hae
    Suri masak buat Nam-Hae
    pas Nam-Hae ketiduran dipangkuan Suri
    saat Suri mau ngelus kepalanya tapi gak jadi
    sedih kaliiii
    anak mereka gak jadi lahir kedunia karena
    nah karena nya aku lupa
    haruskan aku baca ulang hehehe

    yeay
    semangat terus ya kak ^^~~

  46. kyaaaa DV akhirnya dilanjut jg.. ini ff yg banyak manis” nya. suuukkaaa… ayolah bikin suri hamil.. wakakakaka

  47. ya ampun ikut sedih bc cerita’y wkt kyu sm suri ingt sm calon anak mereka..snang jg akhr’y suri sdh mulai semangat lg, sungmin sm sa eun jg udh kmpul2 lg sm mereka..smga suri sm kyu cpt d kasig anak lg yaa..

  48. Ini benar2 romantis dan menakjubkan 🙂 jadi suri pernah keguguran 😦 pantesan saja suri takut sama anak kecil 😥 tapi emang ada hubungannya ya? 😀 molla molla kkk

  49. Nyesek bacanya kehilangan memang hal yang paling menyakitkan. Tapi untunglah kyu dan suri bisa bangkit lagi. Berharap bisa mendapatkan pengganti Soohyun kedepannya. Senangnya akhirnya mereka berdua bisa saling menguatkan dan bertambah harmonis hubungan nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s