#1 Metanoia – Heart A Mess

metanoia-new-ok

"You have lost too much love,
 to fear, doubt and distrust
 Its not enough...,
 You just threw away the key
 to your heart."

Napas Kyu-Hyun masih memburu, sekali lagi pria yang membalikkan badannya pada Suri itu mencengkeram rambutnya kuat-kuat sebelum meninju udara. Amarahnya memuncak dan tidak bisa terbendung lagi, perdebatan kesekian mereka yang mencapai puncaknya.

Ini tidak akan terjadi jika dulu Suri mendengarkan nasihat orangtuanya.

Wanita dengan rambut cokelat lurus melewati pundak tersebut mengepalkan tangan menahan amarah. Benar kata pepatah, orang jatuh cinta itu buta dan tuli, diberi nasihat seperti apa pun tidak akan berguna, hanya buang-buang waktu, dan kini, ketika dirinya sudah jatuh terlalu dalam, ia baru merasakan sakitnya kaki yang terkilir karena salah melangkah dan justru terperosok ke lubang yang salah.

“Kita tidak bisa seperti ini terus, Cho.” Ucap Suri sambil menyangga tubuhnya di tepi meja makan.

Kyu-Hyun tidak menjawab, ia sibuk menurunkan amarah sambil mengusap wajahnya frustrasi. Ia tidak tahu harus bagaimana memperlakukan Suri, wanita, di matanya, terlalu rapuh dan keras kepala, diluruskan akan patah, dibiarkan akan terus bengkok, persis tulang rusuk.

Seperti ini akhirnya mereka, dua manusia yang jatuh cinta begitu menggebu dan brakhir dengan mengenaskan, layaknya korek api yang menyala terlalu terang akan lebih cepat juga menjadi arangnya.

Mereka menyerah dengan ego masing-masing yang terlalu tinggi. Cukup.

Suri meraih kunci di saku jaketnya, meletakkannya perlahan di atas meja sebelum mengambil napas dalam-dalam. Dalam hati Suri meyakinkan bahwa ini bukanlah keputusan yang ia buat semata-mata karena emosi sesaat apalagi spontan, ia sudah memikirkannya baik-baik dengan perhitungan cermat tentang kerugian psikis yang ia dan Kyu-Hyun akan derita setelah ini.

“Kita berpisah saja,” ucapnya sambil duduk dengan kaki gemetar. “Akan jauh lebih baik untukmu… dan untukku.”

Kyu-Hyun menatap Suri dari balik bahunya sesaat, tampak amarah yang kembali memuncak di wajah Kyu-Hyun sebelum pria itu memejamkan matanya, kerut ketidaksukaan di bibir Kyu-Hyun perlahan mengendur seiring anggukan kepalanya.

Suri yakin jauh di dalam diri pria itu, masih ada harapan untuk hubungan mereka yang terlanjur runyam, hanya saja… jika seperti ini terus mereka saja melangkah bersama menuju jurang.

“Jika itu yang terbaik menurutmu.” Sahut Kyu-Hyun dan ikut mengeluarkan kunci rumah dari saku celananya ke atas meja. “Tapi aku yang pergi, apartemen ini kubeli atas namamu. Untukmu.” Lanjut Kyu-Hyun menatap Suri dengan sisa-sisa cinta menggebu mereka.

Kyu-Hyun kembali ke kamar mereka, mengemas beberapa baju kantor dan baju rumahnya ke dalam koper besar. Tak sampai 30 menit Kyu-Hyun bersiap, pria itu kembali muncul di hadapan Suri, memeluk calon mantan istrinya erat-erat dan mencium bibirnya untuk yang terakhir kali, hanya menyentuhnya perlahan.

“Jika menikah denganmu adalah sebuah kesalahan,” bisik Kyu-Hyun, “di kehidupan lainnya pun, aku tidak keberatan membuat kesalahan seperti ini.”

Suri menunduk, melihat jemari Kyu-Hyun yang mengenggam tangannya longgar, dahulu pria itu selalu menggenggam tangannya erat-erat seolah takut kehilangan Suri di tengah keramaian, dengan gerakan lambat Kyu-Hyun melepaskannya perlahan untuk waktu yang lama atau bahkan selama-lamanya.

Pria itu tidak menoleh lagi ketika berjalan di lorong gelap rumah mereka.

Punggung tegap berbalut mantel cokelat gelap yang selalu Suri ingat. Punggung yang bisa ia ceritakan betapa sedihnya setiap kali ia teringat di malam-malamnya yang sepi nanti.

“Selamat tinggal, Cho.” Ucap Suri begitu Kyu-Hyun membuka pintu apartemen dan baru keluar setengah badan.

“Selamat tinggal, Lee Suri.” Balasnya sebelum menutup pintu apartemen dan tidak terdengar lagi suaranya.

Suri terduduk di lantai, kakinya lemas bukan main dan dadanya sesak. Lee Suri, begitu panggil Kyu-Hyun barusan, 6 bulan belakangan Kyu-Hyun memanggilnya dengan sebutan Cho Suri dan sekarang panggilan itu kembali berubah.

Ajaib sekali cinta itu, bisa membuat dua orang tidak saling mengenal jatuh cinta pada pandangan pertama, tergila-gila di hari berikutnya, kemudian suatu saat seperti api yang melahap habis kayu, cinta itu pergi, menyisakan arang, membuat dua orang yang pernah sedekat nadi manjadi sepasang orang asing kembali.

Carilah pria yang mencintaimu tanpa alasan, rupanya wejangan macam itu tidak benar-benar bisa menjadi patokan seseorang untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius. Setiap orang yang memegang teguh nasihat tersebut lupa bahwa suatu hari kemungkinan pasangannya pergi tanpa alasan juga bisa terjadi.

Tidak ada yang mengingatkan Suri soal itu, tidak ada yang membahas konsekuensi menyakitkan tersebut di literasi manapun, mereka berbohong, menyembunyikan fakta bahwa cinta tidak seindah penggambaran di fiksi, bahwa kata-kata mutiara yang diumbar di dalamnya tidak lebih dari omong kosong jika kita bertemu dengan orang yang salah.

Ia memeluk lututnya kuat-kuat mengingat kenangan apa saja yang ia dan Kyu-Hyun lalui dahulu. Dapur yang selalu menjadi tempat favorit Suri melihat Kyu-Hyun membuatkannya sarapan, merendam tubuh lelah mereka di bath tub dengan segelas wine, hingga acara bercukur Kyu-Hyun yang akan selalu Suri ambil alih pelaksanaannya.

Malam ini, cukup malam ini ia akan menangisi semua kenangan mereka selama 6 bulan menikah, ia akan menangis hingga matanya bengkak dan dadanya terasa sesak, hingga seluruh kegundahan mengganjal di hatinya luluh bersama air mata. Hanya malam ini.

***

4 years later

 

Meraih apa yang belum sempat dikerjakan sebelum momentum besar yang mengubah hidup seseorang adalah, kata orang, cara pelampiasan energi negatif yang paling baik. Memang betul adanya, meski sebagian orang lebih memilih menangis bertahun-tahun bahkan hingga melupakan cara hidup sebelum ada kejadian tersebut.

Lee Suri adalah salah satu contoh yang sukses, istilah kekiniannya, move on dari momentum yang menjadi titik baliknya dua tahun lalu. Ia yang tidak pernah memiliki ambisi sebesar ibu jari tiba-tiba saja ingin mengenggam seluruh dunia di dalam kepalannya, yah… tidak seluruh dunia juga sih, paling-paling hanya satu rumah sakit Seoul University saja yang jadi gengamannya, tapi itu sudah termasuk ambisi paling besar yang pernah Suri targetkan di umurnya yang ke dua puluh lima.

Dan hari ini, setelah empat tahun ia menghapus air mata terakhirnya di malam penandatanganan surat perceraiannya, Suri masih mencoba meraih mimpi tersebut. Dua puluh sembilan tahun dan menjadi ahli syaraf yang diperhitungkan di Korea. Meski bukan satu-satunya, paling tidak ada saja setiap bulan pasien yang datang dari Barat ke Korea untuk menemuinya, berkonsultasi masalah kelumpuhan hingga penyambungan syaraf.

Jangan tanya seberapa hebat dirinya, bahkan kedua orangtuanya pun kaget begitu dikabari dirinya akan dilantik menjadi ketua bagian neurologis 7 bulan lalu di umur ke dua puluh sembilan. Ha ha.

Ia mengibaskan lagi rambut cokelatnya sambil menutup lembar perkembangan seorang pasien dari Rusia yang mengalami kelumpuhan di kaki, secara medis, pria itu tidak benar-benar lumpuh, syarafnya hanya perlu dirangsang dan mindset pria tersebut wajib sekali diubah dari ‘aku tidak yakin kakiku masih kuat menopang tubuhku’ menjadi ‘kalau tidak dicoba sekarang, semuanya bisa terlambat’, dan mengubah pola pikir seseorang yang kelewat trauma adalah hal tersulit dalam pekerjaannya. Semua itu tergantung kepercayaan pasien dan keinginan pasien untuk sembuh.

Sama seperti orang yang mengalami patah hati begitu parah hingga hatinya berubah menjadi kepingan kecil, seseorang yang mengalami trauma apalagi mendengar diagnosis dokter yang terkesan menakut-nakuti dapat membuat sisa kepercayaan diri luntur begitu mudahnya.

“Dokter Lee,” Hee-Sun menyembulkan kepalanya dari balik pintu. “Ada telepon untuk Anda.”

“Siapa?”

“Ayah Anda.”

Suri menggeram sebal. Ayahnya itu, kalau belum diangkat teleponnya satu kali ke ponsel Suri, pasti menghubungi jalur resmi melalui Hee-Sun. Kalau bukan karena operasi dan sedang bersama pasien, ayahnya akan terus mendesak Hee-Sun untuk menyambungkannya pada Suri hingga asisten merangkap sahabatnya tersebut sakit kepala dan jengkel sendiri.

“Sambungkan kalau begitu.” Suri melirik jam tangan peraknya, berkilau, hasil jeripayahnya selama ini. “Ya?” jawab Suri setelah Hee-Sun menyambungkannya ke jalur Suri.

Tanpa menunggu dua detik, suara ibunya langsung terdengar nyaring di seberang telepon. “Aigo… aku punya anak seperit tidak punya anak!” keluhnya yang Suri tebak diikuti gerakan mengusap dada dan wajah drama.

“Aku harus menyelamatkan dunia, Omma.”

“Itu pekerjaan Batman, kau hanya perlu jadi anakku.” Tungkas Kyung-Sook cepat. “Kapan kau mau mengunjungi kami di Jerman? Sebentar lagi Chuseok, tidak ingin ke rumah dan merayakan bersama?”

Suri melihat kalendernya yang penuh dengan jadwal dilingkari merah dan tanda seru besar-besar dari Hee-Sun, tidak memungkinkan untuknya pergi ke luar negeri meski ia rindu sekali bulgogi buatan ibunya setiap kali Chuseok tiba. Di Seoul tidak ada yang seenak buatan ibunya.

“Bagaimana kalau Omma dan Appa yang ke Korea?” tawar Suri. “Aku rasa Halmoeni juga rindu kalian.”

Terdengar bisik-bisik di belakang. Sepertinya Chun-Hwa sedang membisikkan sesuatu. “Tidak bisa, Appa bilang dia ada tamu dari Korea saat malam Chuseok, kami mengadakan Open House untuk warga Korea di Jerman malam Chuseok.”

Tentu saja, Menteri Luar Negeri Korea untuk Jerman memang selalu padat juga acaranya, ‘kan? Suri sudah benar-benar hapal dengan kegiatan ayahnya semenjak ia masih kecil. Berpindah dari satu negara ke negara lain, banyak tamu, banyak pesta, hingga rapat sampai pukul 3 dini hari, itu sudah biasa. Tinggal sendirian di rumah dengan 10 penjaga asing bermata seram bukan lagi jadi masalah untuk Lee Suri kecil.

“Hm… ya sudah, mau bagaimana lagi… kita sibuk semua.” Jawab Suri sambil memutar pulpennya di atas meja.

Ada rasa kekecewaan ketika mendapati fakta bahwa orangtuanya merayakan Chuseok bersama orang lain namun tidak dengannya. Ia terpaksa melewati malam Chuseok mungkin sendirian di apartemen atau kalau lebih beruntung di rumah sakit dengan beberapa staf UGD yang kebetulan sial mendapat tugas jaga.

“Kau bersama siapa merayakannya?” tanya ibunya lagi.

“Bersama Hee-Sun mungkin, entahlah, aku banyak pekerjaan.” Terdengar suara gemerisik sebentar sebelum suara yang sangat Suri rindukan tersebut terdengar di seberang telepon. Ayahnya.

Pria pendiam dan sangat jarang mengungkapkan isi hatinya kecuali saat Suri ulang tahun dan ketika Suri mengunci diri di kamar empat tahun lalu, hampir lima. Percayalah, ayahnya memang selalu ribut mengenai kenapa Suri tidak memberi kabar atau telat memberi kabar dalam satu hari pada ayahnya tersebut, tapi begitu telepon tersambung pada Suri, pria itu akan memberikannya pada Kyung-Sook dan memilih untuk menguping bahkan menjadi sutradara di balik telepon cerewet dan panjang ibunya.

“Halo, Aegi~ya?”

Suri tersenyum. “Eo, Appa?” sudah setua ini masih saja dipanggil aegi, benar-benar ayahnya itu.

“Jangan bekerja terlalu keras, tubuhmu itu butuh istirahat, jangan sampai nanti justru kau yang ada di ruang operasi.” Ucapnya dengan nada ragu-ragu, takut-takut salah mengutarakan isi hatinya.

“Iya, aku tahu, Appa.” Ia melirik foto di mejanya, fotonya merangkul kedua orangtuanya. Menjadi anak satu-satunya dari pasangan yang sibuk bukan sesuatu yang menyenangkan, ia merasa dunianya selalu sepi hingga…. Suri memejamkan matanya, berusaha tidak memutar balik kenangan yang sudah membuatnya, kata orang, menjadi pribadi yang berbeda. “Appa juga ya, sudah tua, nanti cepat mati.” Tambah Suri sambil bercanda.

Chun-Hwa terdengar tertawa pelan. “Aku tidak akan mati hingga menimang cucu darimu.” Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat hingga Chun-Hwa memutuskan untuk sedikit mencairkan suasana. “Tunggu hingga tahun baru ya, aku dan ibumu mungkin bisa ke sana dan menjengukmu barang sebentar.”

“Iya, tahun baru itu tidak sampai empat bulan lagi, ‘kan?”

“Baiklah, sampai saat itu… jaga dirimu baik-baik, pakai baju hangatmu, di luar mulai dingin.”

Suri tertawa sebentar. Ia selalu merasa diperlakukan sebagai anak kecil oleh ayahnya, disuruh pakai baju hangat takut masuk angin, disuruh memeriksa sabuk pengamannya sebanyak dua kali setiap naik mobil, diingatkan untuk memeriksa kunci pintu hampir setiap malam, tidak ada orangtua yang seperti mereka di dunia ini.

“Iya, Appa, aku mengerti, terima kasih sudah diingatkan kembali.”

Den begitulah, setua apa pun seorang anak, ketika berpisah dengan orangtuanya dan tidak memiliki siapa pun di rumah yang menunggunya pulang, sudah pasti akan merindukan orangtuanya sampai rasanya ingin mengungkapkan bahwa kemarin ia terserang flu, ingin diusapkan punggungnya atau dibuatkan teh kamomil hangat sebagai pendamping biskuit kesukaannya.

Tapi apa daya… ia melihat jadwalnya lagi sebelum meringis, ia sudah memilih jalan yang melelahkan dengan sedikit penghargaan, jadi di sinilah ia, duduk di ruang kerja setelah 3 jam lewat jam kerja normalnya pukul 8 malam tadi.

“Aku pulang, ya.” Hee-Sun memunculkan lagi wajahnya dari balik pintu, kali ini seragamnya sudah berganti sweater longgar dengan celana kerja dan tas besar tersampir di lengan kanan.

“Oh, iya, terima kasih mau menemaniku hingga malam.” Ia tersenyum kaku, tidak biasanya ia mengucapkan terima kasih pada Hee-Sun, tapi kebiasaan itu mulai, paling tidak ia berusaha, diubahnya.

“Iya, kau kaku sekali akhir-akhir ini,” komentarnya tapi Hee-Sun tidak berusaha menanggapi lebih, namanya juga Lee Suri, kalau kepribadiannya tidak berubah-ubah mungkin namanya sudah diganti menjadi Kim Min-Ah agar lebih normal sedikit. “Tidak usah dijawab, percuma, aku pasti tidak mengerti penjelasanmu yang rumit itu.” Tolaknya cepat ketika Suri membuka mulutnya.

“Aku hanya mau bilang besok datang lebih pagi karena aku ingin telat.” Potong Suri membuat Hee-Sun mendecih sebal.

“Tadinya aku mau bilang kau diundang ibuku untuk merayakan Chuseok bersama di rumah, jaga-jaga kalau orangtuamu tidak kembali ke Korea, tapi tidak jadilah, kau menyebalkan!”

Suri tergelak begitu Hee-Sun membanting pintu ruangannya.

Pukul satu malam Suri baru keluar dari rumah sakit, melingkari beberapa kerusakan syaraf yang mungkin bisa dicoba alternatif operasi nanti sebelum membawa semua itu ke dalam pelukannya dan berjalan menuju pelataran parkir.

Dokter, terutama spesialis sepertinya, selalu mendapat area parkir yang strategis dan vvip, dijamin tidak akan ada mobil yang membuatnya susah untuk keluar ataupun parkir ketika ada urusan pasien mendadak.

Di laporan cuaca mengatakan bahwa malam ini Seoul akan sedikit mendung dengan cuaca berangin, besok pagi akan sedikit gerimis, atau kalau kurang beruntung, bagi sebagian orang yang mempunyai jadwal pagi, Seoul akan diguyur hujan deras, itu tandanya jatah tidur paginya harus diperpanjang dan karena ia pulang larut menyelesaikan pekerjaan yang bisa dikerjakan esok pagi, maka Suri bebas tidur hingga pukul 10 malam, lagi pula ada Dokter Han Hye-Ran yang bersamanya di bagian spesialis syaraf, jadi… santai saja.

Tidak perlu malam berangin pun, lobi rumah sakit pukul 1 dini hari memang selalu sepi, hanya ada dua orang resepsionis yang berjaga di balik meja dan satu satpam menunggu di pintu depan dengan siaga, juga beberapa orang keluarga dari pasien UGD duduk setengah mengantuk di ruang tunggu UGD.

Hidup bekejar-kejaran dengan obsesi sebenarnya tidak buruk, pikir Suri sambil melihat langit malam. Tapi ia rindu duduk di depan televisi dengan cokelat panas dan serial Doctor Who untuk menghabiskan malamnya di pertengahan musim gugur yang selalu sendu.

“Belum sepenuhnya move on ternyata.” Gumamnya sebelum menarik pintu mobilnya dan terdiam beberapa saat. Ia lupa mengunci mobilnya, lagi?

Can’t you just lock yourselfif I forgot to lock you, Luna?” kesal Suri sambil berdecak-decak setelah memastikan bahwa kursi belakangnya kosong, tidak ada orang yang bersembunyi di sana.

Ia langsung meluncur keluar dari pelataran rumah sakit, menyetel sebuah lagu di mobilnya dari Tame Impala berjudul The Less I Know The Better. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk pelan mengikuti irama sambil sesekali bersiul.

Mobilnya berhenti di sebuah gerai makanan cepat saji, memesan dua burger ekstra keju, kentang goreng empat porsi, dan pie apel sebanyak 4 buah, persedian besok pagi kalau-kalau benar-benar hujan.

Tinggal di rumah yang penuh dengan kenangan manis adalah hal yang paling menyulitkan bagi Suri. Seperti tidur di ranjang paku milik pesulap, kalau sudah biasa mungkin tidak akan masalah, tapi ia hanya seorang amatiran cinta, belum-belum mencoba, baru meletakkan satu kaki ke atasnya saja sudah menjerit kesakitan.

Jadilah Suri menyewa sebuah kamar di tower berbeda dari apartemen lamanya yang tidak berniat ia jual atau sewakan, secara rutin Suri akan menyuruh seseorang ke sana setiap akhir bulan, membersihkan ruang yang tertutup kain putih tersebut sebelum menguncinya lagi hingga bulan depan.

Malam itu ia memasuki gedung apartemen seperti biasa. Tanpa senyuman, tanpa siulan, yang dipikirkannya sekarang hanya aroma burger menggoda yang sedaritadi ia baui di perjalanan. Apa ia lupa makan siang lagi hari ini? Entahlah, ia bahkan tidak ingat apakah ia sarapan sebelum ke rumah sakit? Yang pasti ia berjanji akan melahap dua burger dan kalau sanggup akan menghabiskan juga empat porsi kentang gorengnya.

Persetan dengan berat ideal atau kelakuannya yang tak ubahnya seekor babi, toh tidak akan ada pria yang melirik wanita dengan waktu senggang yang lebih sedikit dari seorang pelayan restoran di jam makan siang.

***

 

Kyu-Hyun berdiri di apartemen gedung kembar, memasukkan kedua tangannya ke saku celana, dan dengan sabar menunggu mendekati pukul 2 dini hari hanya untuk melihat lampu kamar tersebut menyala, menampilkan seorang wanita berumur 27 tahun yang kelelahan bukan main dan langsung merebahkan tubuhnya tanpa repot-repot menutup tirai jendela ruang tengah.

Wanita itu pasti berpikir, siapa juga yang ingin mengintipnya pukul 2 dini hari dengan visual yang berpotensi menambahkan kerusakan mata tersebut? Mungkin kalau pintu apartemen tidak otomatis terkunci begitu menutupnya, wanita itu akan membiarkannya tak terkunci, toh tidak ada barang berharga di rumah tersebut kecuali televisi plasma yang dinyalakan untuk hal-hal pelengkap jika kesepian di pagi hari.

Ia maju selangkah, menempelkan tangannya pada jendela, berusaha mengingat bagaimana membelai rambut wanita itu di tangannya, begitu lembut dengan sentuhan aroma stroberi, tubuhnya semakin kurus dari yang terakhir ia perhatikan, mungkin berkurang setengah kilo gram dari minggu lalu dan hampir 10 kilo gram dari dua tahun lalu.

Sudah ia peringatkan untuk menjaga diri baik-baik, malah Suri terlihat seperti pecandu narkoba ketika mereka bertemu di pengadilan hari itu. Hari terakhir kali ia dan Suri bertatap muka langsung. Rambut cokelatnya diikat asal, wajahnya pucat dengan kantung mata besar, dan tubuh kurus yang semakin membuat Kyu-Hyun tidak tega meninggalkannya.

Tapi untuk saat itu… empat tahun lalu… keputusan untuk meninggalkan Lee Suri adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan.

Apartemen ini, ia melihat sekelilingnya yang gelap dan tertutup plastik, tidak dihuni Suri semenjak pengadilan memutuskan perceraian mereka. Padahal ia menyiapkannya, mulai dari keamanan hingga kenyamanan, semua dipikirkan hanya untuk Lee Suri.

“Tunggu aku sebentar lagi.” Gumamnya sambil membelai bayangan Suri di ujung sana yang sedang melepas sepatunya lelah.

Ada banyak yang harus Kyu-Hyun lakukan, ada banyak hal yang mesti ia perbaiki dalam 4 tahun terakhir ini, dan Suri bukanlah salah satu dari rencananya, paling tidak pada awalnya seperti itu. Ia tidak pernah mau melibatkan seorang wanita dalam hidupnya hingga posisinya lebih menjamin keselamatan keluarganya, tapi Lee Suri melangkah begitu anggun dengan caranya yang biasa, membuat pertahanannya yang mematok kriteria tinggi dari seorang wanita harus bertekuk lutut di hadapan wanita dengan wajah paling sulit tersenyum tersebut.

Ia jatuh cinta pada wanita paling biasa yang bisa ia temui di jalan paling mewah di Milan, jatuh cinta pada matanya yang dingin dan mengundang, jatuh cinta pada gerakan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, dan jatuh cinta pada cara wanita itu memandang dunia yang begitu mengerikan seperti taman bermain anak-anak yang penuh pertengkaran memperebutkan mainan di kotak pasir.

Kyu-Hyun memberikkan kecupan pada kaca tersebut sebelum berbalik dan meninggalkan ruang tengah apartemen mereka. “Aku akan ke sana menjemputmu, tunggu aku.”

“Sir,” seseorang menyapanya begitu Kyu-Hyun membuka pintu apartemen yang dulu ia dan Suri tinggali. “Ini laporan yang Anda minta.”

Kyu-Hyun membuka amplop tersebut kemudian tersenyum dan mengembalikan amplop tersebut. “Kita ke sana esok pagi.” Perintah Kyu-Hyun yang dijawab dengan anggukan sebelum mendahului Kyu-Hyun masuk ke lift yang berbeda.

Semakin mendekati akhir, hanya perlu penuntasan kasus di sana dan sini, ia berjanji pada dirinya sendiri setelah semua ini beres ia akan kembali pada Lee Suri, meminang wanita itu kembali untuk menjadi istrinya dan pindah ke sebuah rumah yang jauh dari pusat kota.

 

***

Ramalan cuaca tidak berbohong adalah sesuatu yang amat menggembirakan. Suri bangun pukul 6.20 pagi dan mendapati titik-titik hujan sudah menghiasi jendela kamarnya yang dibiarkan terbuka. Masih dengan rambut yang berantakan, kaus putih kebesara, serta celana tidur yang tinggi sebelah, Suri bertolak pinggang melihat kota Seoul yang basah pagi ini.

“Hari yang sempurna.” Gumam Suri sambil melangkah keluar kamar, menyalakan Prelude No. 15 Op. 28 dari Chopin. Kaki-kaki telanjangnya berjalan sambil berjinjit, berpura-pura menjadi balerina gagal yang bahkan membengkokkan kakinya sedikit langsung mengaduh.

Dokter tidak selamanya menjaga kesehatan sendiri, ia sadar betul jika dirinya melakukan pemeriksaan tahunan, ia diharuskan sekali menjalani program penaikan berat badan, olahraga, hingga hal paling menyebalkan, berlibur selama satu bulan untuk memulihkan kondisinya.

Ia mengeluarkan sisa hamburger semalam, dua porsi kentang goreng, dan pie apel kemudian menaruhnya di dalam microwave untuk dihangatkan. Kriteria menjadi pasangannya harusnya bisa memasak diurutan pertama, ia tidak mempermasalahkan soal penghasilan pasangannya, uangnya sudah cukup untuk hidup leha-leha selama 20 tahun mendatang, lengkap dengan asuransi kesehatan, apalagi wajah, ia memiliki aset yang cukup menawan untuk diturunkan pada anaknya kelak.

Suri cukup sadar diri kelemahannya dalam menyiapkan makanan bergizi, jadi sejak masih kuliah pun, Suri akan menyeleksi pria yang dekat dengannya dengan kriteria konyol tersebut meski yang lolos hanya satu dan itu merupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya karena terburu mengambil keputusan hanya berdasarkan cinta pertama yang menggebu.

Ia membawa menu sarapannya ke depan jendela, membuka tirainya, dan duduk di sana. Tontonannya pagi ini adalah air hujan yang berlomba menuruni kaca jendela apartemen miliknya, dari seberang sini ia bisa melihat kamar apartemennya dengan Cho Kyu-Hyun begitu jelas, tertutupi tirai kelabu dan merupakan unit yang tidak pernah terlihat menyala lampunya.

Dahulu pun merupakan pagi basah ketika ia dan Cho Kyu-Hyun bertemu. Hujan tidak berhenti sejak malam sebelumnya dan ia ingat betul karena hari itu adalah hadiah liburan setelah 6 bulan penuh hidup sebagai bagian dari tim Emergency. Liburan bagi staf UGD adalah sebuah hal yang langka, maka ia tidak menyia-nyiakan liburan satu minggu miliknya dan memilih menghabiskan waktu tersebut di kota mode, Milan.

Pagi itu ia berdiri di sebuah persimpangan, menunggu lampu penyeberangan berubah hijau, bahkan ia masih mengingat pagi itu ia mengenakan sweater cokelat bata dipadukan dengan celana jin biru berpotongan H, bukan gaya yang menarik perhatian, terutama di kota mode seperti Milan, tapi ia menyukainya.

Matanya secara tidak sengaja menangkap pria itu, pria dengan mantel cokelat gelap, vedora senada, rambut hitam sedikit panjang yang tersembunyi di balik kerah mantel gelapnya, serta yang paling menarik adalah mata pria itu, begitu gelap dan… misterius tidak beremosi, bukan tidak berjiwa, hanya saja tidak beremosi.

Ia seperti tipikal pria Eropa kebanyakan yang menolak mengenakan payung meski gerimis pagi itu lumayan membuat mantel cokelatnya basah, mungkin pria berwajah Asia dengan garis rahang galus tersebut sudah terlalu lama tinggal di Eropa hingga kebiasaannya menyerupai pria-pria di sini?

Entahlah, tapi yang pasti Suri seperti dipaksa untuk melihat mata pria tersebut selama beberapa saat, pria itu tetap memandang lurus melewati kerumunan orang-orang di seberang dan lamunan Suri disadarkan oleh bunyi peringatan lampu hijau untuk pejalan kaki sudah menyala.

Karena pagi itu cukup ramai, Suri sedikit terdorong agak ke tengah hingga ia berpapasan dengan pria bermantel cokelat di seberang tadi. Suri bersumpah bahwa ia baru kali pertama mencium aroma serupa itu, aroma kuat, dingin, namun melankoli, persis seperti musim gugur tahun itu.

Belum selesai ia mengkhayal aroma pria itu, tanganan kanannya tertarik ke belakang. seperti tersangkut pada sesuatu. Suri menoleh ke arah tangan kanannya yang menggantung dan mendapati bahwa gelang pemberian orangtuanya tersangkut di mantel pria tadi.

Pria itu terdiam melihat gelang Suri yang tersangkut, membuat wajahnya yang menunduk terhalang puncak vedora. Kedua tangannya masih tetap dimasukkan ke dalam saku mantel tanpa berniat membuka kaitan yang tersangkut di salah satu pengait lengan mantelnya.

“Ah, sorry.” ucap Suri dan mendekat. Saat ia hendak melepaskan kaitan gelangnya pada mantel pria itu, tubuhnya di tarik hingga ke tepian. “Wow, wow, wow!” seru Suri begitu tubuhnya terhuyung ke belakang karena tarikan di pinggulnya sebelum mencapai tepian tempat tadi Suri menunggu lampu berubah hijau.

“Lampunya berubah merah, kita bisa tertabrak kalau tetap di sana.” Jawab pria itu memberi penjelasan dengan bahasa Korea yang lancar dan sebaris senyum hangat, persis seperti aromanya.

“Oh, oke.” Suri mengangguk dan berusaha melepaskan gelangnya yang tersangkut di pengait yang terdapat di lengan mantel pria itu. “Kau tahu aku orang Korea?”

“Hm,” tapi pria itu tidak berniat sedikit pun untuk mengeluarkan tangannya dari saku mantel apalagi membantu Suri melepaskan kaitan di gelangnya.

Suri berusaha secepat mungkin melepaskan jeratan pengait tersebut, tapi matanya buram, silindrisnya semakin menjadi-jadi beberapa bulan belakangan dan ia masih dengan keras kepalanya menolak memakai kacamata, jadilah ia tidak bisa membedakan mana yang bayangan dan mana yang garis nyata.

Pria itu seperti mendengus sebal, tidak sabaran mungkin. Tapi siapa suruh tidak membantu!

“Kau punya sapu tangan atau tisu basah?” tanya pria itu.

Suri ingin bertanya untuk apa, tapi ia terlalu sebal dengan pria yang tidak mau berusaha meski ini kesalahannya karena gelangnya tersangkut di pengait. “Ya.”

“Kalau begitu, singkirkan tanganmu.” Suri mendongak begitu mendengar perkataan pria tersebut dan baru menyadari bahwa wajah pria itu terlalu pucat untuk ukuran Asia. “Sekarang, Nona.”

Suri kembali berdiri tegak dan menyingkirikan tangannya dari pengait tersebut. Yang dipikirkannya kali pertama adalah pria tersebut penderita OCD, penyakit kejiawaan yang memiliki kecemasan akan bersentuhan dengan orang lain atau pada hal-hal ganjil yang menurut orang lain merupakan hal biasa, bukan tangan yang dilumuri darah dari dalam lengan mantelnya.

Lantas saja naluri sebagai dokter UGD-nya langsung siaga begitu melihat lengan pria itu yang mengeluarkan darah segar, bahkan menetes mengotori mantel cokelat yang terbuat dari bahan kulit tersebut.

“Tanganmu!” seru Suri.

Lagi-lagi pria itu tersenyum. “Itu kenapa aku tidak mau mengeluarkan tanganku, kau pasti histeris, Dokter.” Dengan tangan licinnya, pria itu berhasil memutuskan pengait di gelangnya. “Sudah terlepas, kau bisa hapus darahnya dengan sapu tanganmu, sampai jumpa lagi, Dokter.”

Tapi Suri dengan egonya sebagai dokter tidak mengijinkan pria itu untuk pergi begitu saja. Ia meraih lengan pria itu yang tadi tidak mengeluarkan darah. “Kita obati lukamu dahulu.” Tegas Suri sambil terus menyeretnya ke toko obat terdekat untuk membeli peralatan yang ia butuhkan. “Siapa namamu?”

“Kyu-Hyun.” Pria itu tergelak, seolah luka di lengannya bukanlah hal serius yang perlu ia pusingkan. “Sudahlah, ini tidak apa-apa, aku bisa mengobatinya sendiri.”

Suri bergeming, ia terus mengenggam ujung mantel Kyu-Hyun, menahan pria itu untuk pergi selagi ia membeli peralatan untuk membersihkan luka. “Luka robek atau tergores biasa?” tanya Suri tanpa menoleh.

“Robek, kurasa. Aku tidak memeriksanya.” Lagi-lagi Suri meliriknya dengan galak, membuat Kyu-Hyun tidak tahan untuk menahan tawanya. “Ya, Tuhan, aku baru tahu ada orang Korea yang bersedia membantu orang asing di jalan, kau tidak seperti orang Korea, Dokter.”

Ia mengambil belanjaan miliknya, membayar dengan uang tunai dan menarik Kyu-Hyun keluar dari apotek. “Aku ini dokter, bukan orang Korea sembarangan.” Ia tahu tipikal orang Korea yang dingin, jadi bukan sesuatu yang amat mengejutkan jika sesama orang Korea menolak pertolongannya. “Di mana hotelmu?”

Suri menggelengkan kepalanya, memfokuskan kembali pandangan pada titik-titik air di jendelanya yang semakin deras. Burgernya masih menggantung tak tersentuh. Musim gugur selalu berhasil membuatnya sendu, apalagi ketika hujan turun, memori itu seperti keran yang dibuka, terlalu deras hingga rasanya kepalanya tidak bisa menampung semua kenangan tersebut.

Persetan dengan istilah ‘move on’, mungkin kalau ia dan Kyu-Hyun saat itu hanya berkencan, ia tidak akan sesakit ini. Tapi… apakah status mereka yang membuat Suri sebegini menderitanya untuk sekedar meninggalkan masa lalu atau karena Kyu-Hyunlah orangnya? Seseorang yang dengan mudah menertawakan segala kesulitan yang mereka alami?

Ia menghabiskan makanannya cepat-cepat dan pergi mandi untuk bersiap-siap ke rumah sakit. Kalau di rumah berlama-lama dan menatap jendela kamar itu, ia bisa gila.

***

 

“Sesuai ketentuan, di umur ke-30 setiap agen diperbolehkan untuk memilih untuk tetap menjadi orang lapangan atau duduk sebagai si kepala strategi,” ucap Kyu-Hyun pagi itu dengan tegas. “Dan aku memilih untuk menjadi Ketua Tim.”

Seo Dong-Guk menggeleng. Ia tidak menyetujui ide Kyu-Hyun, bahkan ia sudah mewanti-wanti pendapat ini sejak 2 tahun lalu. “Kau orang lapangan terbaik yang kumiliki, Marcus.”

“Terima kasih atas pujiannya, Kapten Seo.” Kyu-Hyun menundukkan kepalanya sesaat. “Tapi pujianmu tidak akan mengubah keputusanku.”

Dong-Guk mengangguk pelan. Ia tahu ciri-ciri dari agen lapangan kepercayaannya yang berniat mengambil alih kursi strategi, pasti wanita. Ia memaklumi semua sebelum Kyu-Hyun, tapi untuk seorang Marcus Cho atau Cho Kyu-Hyun ini, melepaskan pria secekatan dan setangguh dirinya adalah sebuah kesalahan besar, ia akan kehilangan kekuatan di lapangan.

“Apa ini karena wanita itu?” tanya Dong-Guk. “Putri dari Mentri Luar Negeri Lee Chun-Hwa, Lee Suri?”

“Ya.”

“Kau seorang agen rahasia, tidak memerlukan wanita tetap hanya untuk melampiaskan kebutuhan seksualmu, Marcus.” Pria itu melempar foto Suri selama di Korea, namun bukan Lee Suri fokus utamanya, melainkan pria yang sama dengan dandanan berbeda yang selalu membuntuti Lee Suri. “Aku sudah katakan, jika ingin hubungan timbal balik, pelihara saja anjing, mereka juga mengerti perasaan tuannya.” Sambung Dong-Guk.

Rahang Kyu-Hyun mengeras begitu melihat foto tersebut. Ini yang selalu menjadi mimpi buruknya ketika ia mulai tertarik pada Suri yang polos hampir lima tahun lalu. Ia takut jika suatu hari ia akan kehilangan Suri untuk selama-lamanya karena pekerjaan yang selalu ia impikan semenjak anak-anak ini.

“Seperti apa pun kau menghindari lapangan, dia akan tetap diincar, mereka sudah mengetahui wajahmu, sudah terlambat untuk berbaur di masyarakat, Marcus.”

Dengan geram, Kyu-Hyun berbalik meninggalkan ruangan Kapten Seo. Ia berderap cepat menyusuri lorong. Ini tidak bisa dibiarkan, ia tidak ingin kejadian 4 tahun lalu terulang kembali, kejadian yang membuatnya harus mundur untuk memiliki Suri saat itu.

Kyu-Hyun ingat betul saat itu ia masih membaca informasi yang dikirimkan Jinki ke saluran miliknya, semua sudah terencana dengan baik, hanya perlu menunggu beberapa perijinan untuk menyelesaikan misi tersebut, tapi siang itu, nomornya dihubungi oleh nomor kantor Suri.

Ia ingat siapa nama asisten Suri, Kim Hee-Sun. Mungkin mau menyampaikan pesan Suri bahwa ia akan pulang agak larut dan meminta Kyu-Hyun menjemputnya di rumah sakit karena Suri tidak membawa mobil pagi ini, ia sendiri yang mengantar Suri ke rumah sakit tadi.

“Ya?”

“Ah, Cho Kyu-Hyun~ssi,” Hee-Sun terdengar panik dengan napas pendek-pendek. “Lee Suri… ah, dia, mengalami kecelakaan.” Ucapnya tergagap.

Kyu-Hyun langsung menyambar kunci mobilnya. “Di mana dia sekarang?”

“Di sini, sedang dalam penangan Dokter Yeo. Dia…” Hee-Sun terdengar seperti orang yang mencoba memperhalus pemilihan katanya, “dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, aku sarankan Anda segera datang dan menghubungi orangtuanya, Kyu-Hyun~ssi.”

Dalam perjalanan dengan kecepatan maksimal yang diijinkan di jalanan Seoul, Kyu-Hyun menghubungi orangtua Suri yang berada di Irlandia saat itu, meminta mereka kembali ke Korea secepatnya karena Suri mengalami kecelakaan fatal.

Kyu-Hyun disambut dengan seornag staf UGD yang sering mampir ke rumah mereka saat Suri libur, Min-Yul. Wajahnya memerah akibat menangis, baju kerjanya dipenuhi darah, tangan gemetar, dan ia perlu beberapa saat untuk menenangkan diri sebelum bicara pada Kyu-Hyun.

“Dia…” Min-Yul memegangi cangkir kertasnya erat-erat di depan ruang operasi. “Aku dan Suri sedang membeli makan di seberang, dia ingin makan burger katanya. Tapi,” ia menyeka lagi air mata yang meluncur bebas. “Dia mendapat telepon, katanya… katanya kau datang ke rumah sakit dan membawakan makan siang, jadi dia kembali buru-buru dan memintaku untuk menunggu pesanan burger kami.” Ia kembali terisak.

“Lanjutkan.”

“Kemudian mobil itu datang dari kelokan dengan kecepatan tinggi dan menabrak tubuh Suri. Aku melihatnya…” tangannya kembali bergetar hebat hingga Min-Yul meletakkan gelasnya dan mengenggam tangannya sendiri untuk mengurangi getaran. “Tubuhnya melayang, terlempar, dan membentur aspal, aku masih bisa mendengar suara benturan tubuhnya dengan aspal atau suara mobil tersebut saat menghantam tubuh Suri.” Min-Yul menutup wajahnya dengan kedua tangan, kejadian itu terus terulang di kepalanya.

“Aku lihat banyak darah, banyak sekali. Orang-orang berkerumun dan aku tidak sanggup untuk mengatakan apa pun, aku jatuh di hadapan tubuh Suri sebelum Hee-Sun menyambarku. Aku sudah berusaha membangunkan Suri, tapi ia tidak menyahut.” Lanjut Min-Yul sebisanya.

Kyu-Hyun menepuk pundak Min-Yul dua kali sebelum meninggalkan ruang tunggu operasi. Seseorang jelas memancing Suri untuk keluar ke jalan dan menabraknya. Suri tidak memiliki cukup pengalaman untuk mengoperasi seorang pasien sakit berat sendirian, dan wanita itu benar-benar tidak pernah menyentuh alkohol dalam hari kerjanya lebih dari satu gelas wine, mustahil Suri menghilangkan nyawa seorang pasien, itu berarti dirinyalah penyebab Suri terlempar ke aspal hari ini.

Ia menghubungi Jinki. “Kirimkan aku CCTV jalan sekitar Seoul University Hospital, segera!” Pintanya dan langsung menutup sambungan.

Ditekannya lagi nomor lain. “Shim Chang-Min, katakan di mana Kim Min-Ho berada.” Desak Kyu-Hyun.

Aku tidak bisa, ia di bawah perlindungan saksi, Kyu-Hyun~ah.” Chang-Min santai menjawabnya.

“Dengarkan aku,” Kyu-Hyun berkata dengan nada mengancam. “Jika aku sampai mendapati Kim Min-Ho di Seoul dan terbukti ia menyebabkan ini pada istriku, aku akan mengulitinya saat itu juga.” Tanpa basa-basi Kyu-Hyun menutup sambungan teleponnya dan hampir saja membanting perangkat tersebut.

Ia masih bisa mengulang rekaman itu di kepalanya, saat-saat Suri membuka matanya dengan alat yang terpasang di tubuhnya berbunyi pelan di sudut ruangan. Senyum lemah dengan wajah pucat Suri, mata kelabunya tidak terlihat sehidup biasanya, tapi dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa, wanita itu masih menyapa Kyu-Hyun sehangat biasanya, “hai, kau di sini?” ingat Kyu-Hyun lagi.

Jika sesuatu terjadi lagi pada Suri untuk kali kedua karena kelalaiannya yang mengira ia cukup pandai menyembunyikan diri, ia benar-benar tidak akan memaafkan dirinya.

***

 

Hee-Sun melirik Suri sebal dari lokernya begitu melihat Suri menyusuri ruang ganti sambil memutar-mutar kunci mobilnya. Katanya mau datang siang, tapi pukul 9 sudah ada di rumah sakit, itu sama saja mengerjainya, ‘kan? Padahal bagian syaraf baru menerima konsultasi pasien dengan janji setelah makan siang pada hari Jumat, Hee-Sun hanya harus berjaga-jaga kalau-kalau ada keadaan pasien darurat yang perlu ditangani.

“Kau mengerjaiku, ‘kan?” tuduhnya sambil menunjuk Suri dengan penggaris di dalam lokernya. “Kau sengaja, ‘kan?”

Wanita itu menghentikan siulannya sebelum menyengir dengan mata datar tak tersentuh humor. “Kau digaji penuh, masa datang setengah hari saja, tidak adil dengan staf UGD, ‘kan?” ledek Suri dan hampir mendapat cakaran dari Hee-Sun kalau bukan Min-Yul yang menahan wanita itu.

“Sialan kau! Keparat! Aku mau minta pindah departemen pokoknya!” Suri santai saja mengambil sepatu putih yang rumah sakit sediakan dan meninggalkan Hee-Sun mengoceh tidak jelas bersama Min-Yul yang berusaha menenangkan.

Pagi itu ia menghabiskan waktunya dengan membaca kasus tingkat atas yang dibagikan dalam milis dokter-dokter syaraf di Asia. Kebanyakan orang Eropa akan ke Asia jika sudah menyangkut penyakit yang lumayan parah, mereka tidak diterima di Amerika lantaran kasusnya terlalu berat dan tidak menguntungkan, bahkan dianggap mencoreng rekor dokter tersebut jika operasi gagal dilakukan, makanya, sebagian penderita lebih senang datang ke Asia, terutama Cina, Jepang, dan Korea sebagai harapan terakhir mereka.

Mereka berbagi solusi, membagi kasus, hingga dirasa tidak sanggup menangi satu pasien akan dialihkan kepada yang lebih ahli dan sanggup. Kebanyakan dari kasus syaraf adalah akibat kecelakaan, dan dalam kasus ini, psikolog amat dibutuhkan untuk terapi kepercayaan diri jika dokter sendiri tidak sanggup menanganinya. Banyak pasien yang gagal di operasi pertama lantaran dirinya tidak percaya akan kemampuan tubuh menyembuhkan diri sendiri.

Hingga ketukan di pintu kerjanya terdengar dua kali membagi fokus Suri. Ia melirik jam, sudah hampir pukul 1, artinya ia harus sesegera mungkin bersiap memakai jubahnya. “Masuk,” ucapnya sambil berdiri.

“Kita akan buka konsultasi praktik sebentar lagi, kau sudah siap?” wajah Hee-Sun terlihat profesional dan sedikit kembali sumeringah, mungkin suami 2 bulannya, Lee Tae-Min, baru saja mengajaknya makan siang? Siapa tahu?

“Ya, kita bisa mulai sekarang.” Suri mengenakan jubahnya dan saat itu ia menangkap kotak makanan di mejanya. Sepertinya pagi tadi tidak ada di sana. “Punya siapa itu?” tunjuk Suri pada kotak makan berlabel makanan khas jepang cepat saji.

“Aku yang menaruhnya tadi jam makan siang, kau tidak ingat?” Hee-Sun mendekat, mengecek label nama yang ditulis menggunakan spidol hitam di bagian samping. “Lihat, namamu, Lee Suri! Kau jangan-jangan belum memakannya?” ia membuka kotak makan tersebut dan benar saja, sushi, tempura, dan acarnya masih rapi belum tersentuh.

Suri menyengir kaku. “Jangankan makan siang, kau masuk dan menaruhnya di sana saja, aku tidak ingat.” Jawab Suri dan merebut kotak makannya untuk disembunyikan di meja bagian belakang. “Nanti akan kumakan.”

Terserah Suri saja, ia sudah lelah mengatakan bahwa Suri terlalu fokus pada satu hal hingga mengabaikan sekelilingnya dan itu amat sangat menyebalkan hingga rasanya ia sering berada di dunia lain dan tidak memiliki teman mengobrol, padahal jarak mereka hanya terpisah pintu.

Pasien pertama hari ini adalah seorang pensiunan muda militer, mengalami kecelakaan di umur ke-40 tahun karena tergelincir dari lereng saat melakukan tugas lapangan, yang tidak dijelaskan dalam keterangan, hingga menyebabkan masalah di tulang belakang dan mengalami kesulitan untuk berjalan selama 3 bulan sebelum terapi dengan seorang dokter senior di Cina.

Keluahannya saat ini adalah sering mengalami nyeri pada tulang belakangnya hingga, menurut penuturannya, seperti tulang yang terselip ketika ia mencoba berdiri dari duduk atau tidurnya di pagi hari.

“Halo, selamat siang.” Sapa Suri sambil berdiri dan menyalami pria pertengahan 50 tersebut. “Silakan duduk, Tuan Ban.”

“Ah, maafkan aku menganggu Anda, Dokter Lee, aku dapat rekomendasi dari kenalanku yang kenal ayahmu.” Ucapnya riang meski sedikit meringis begitu mencoba untuk duduk meski Suri membantunya.

“Ya, saya dengar dari Direktur Hoon bahwa temannya sedikit mengalami kesusahan pada tulang belakang, sayangnya Dokter Yuen sudah tiada.” Suri tersenyum ramah, sebuah senyum yang jarang ditemui oleh orang lain selama 4 tahun belakangan. “Bisa kulihat punggung Anda sekarang, Tuan Ban?”

“Ya, ya, tentu saja.”

Dibantu Hee-Sun, Suri memeriksa Tuan Ban, memeriksa bagian luarnya, memastikan bahwa bengkoknya tidak kentara sebelum mengangguk. Tidak jauh berbeda dari hasil x-ray, mungkin karena faktor usia makanya tulang punggung pria itu mulai terasa nyeri, hal yang wajar dialami oleh pria normal sekalipun.

“Hanya ada dua opsi, Anda harus meminum obat penghilang rasa sakit yang akan membahayakan ginjal Anda atau mau repot-repot memulai terapi sebanyak dua kali dalam satu minggu selama kira-kira enam bulan, dan itu membutuhkan komitmen dari Anda sendiri, bagaimana?”

Siapa pun setuju bahwa Suri adalah dokter yang ramah dan tidak keberatan untuk memilihkan penjelasan paling umum pada pasiennya, jangan lupakan senyum yang selalu terulas di bibir merah wanita itu. Ia benar-benar berbeda dengan Suri di saat tidak ada pasien dan itu bukanlah topik baru di kalangan anak baru di kantin atau ruang ganti, tempat-tempat yang paling jarang Lee Suri kunjungi.

Tuan Ban menimbang lagi, mengangguk-anggukan kepala kemudian berkata, “Baiklah, untuk seminggu ini aku akan mencoba untuk meminum obat darimu, Dokter, jika tidak sembuh juga, aku akan datang untuk terapi.”

Meski Suri tidak menyetujui pengobatan dengan bahan kimia, ia tetap menghargai keputusan pasiennya. Terapi memang membutuhkan waktu yang cukup lama juga komitmen tinggi, tapi hasilnya akan lebih permanen ketimbang obat penghilang rasa nyeri yang hanya akan berefek selama beberapa jam dan tidak menyembuhkan, hanya mengurangi rasa sakit.

“Baiklah, aku sarankan jika selama 3 hari nyeri di punggung Anda tidak juga membaik dan harus terus mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit, Anda harus datang pada saya dan memulai terapi pembenaran syaraf tulang punggung Anda.”

Pria itu mengangguk sekali lagi dan tersenyum cerah begitu Suri mengambil kertas resep obat yang ditulisnya cepat-cepat.

“Kudengar Anda sudah menikah, Dokter Lee?” mulai pria itu untuk mengisi kekosongan saat Suri menuliskan resep obatnya. “Jangan salah sangka, aku tidak menguntit Anda, Dokter. Direktur Hoon berkata bahwa kau sudah menikah.” Ralatnya buru-buru begitu Suri menaikkan sebelah alisnya.

“Ya.” Ia masih tersenyum.

“Putriku juga, ia mungkin lebih muda beberapa tahun darimu, tapi sudah menikah dengan kekasihnya yang ia temui di Spanyol empat tahun lalu.” Ia bersandar sambil merenggangkan tubuhnya dengan susah payah. “Tapi sayangnya pria brengsek itu tiba-tiba saja menghilang dan meninggalkan putriku tanpa kabar, sialan dia!”

Suri masih tersenyum. “Malang betul putri Anda.”

“Iya,” ia mengangguk-angguk sebal. “Siapa ya namanya? Cho… Kyu-Hyun kalau tidak salah, entahlah, aku lupa. Aku tidak pernah setuju putriku menikah dengannya, tapi mereka tetap bersikeras, dan sekarang ditinggallah putriku itu sendirian di Spanyol, menjijikan sekali pria seperti itu! Tidak memiliki martabat sebagai pria!”

Ketika nama Kyu-Hyun tersebut, Suri menghentikan gerakan menulisnya. Ia tahu Kyu-Hyun berada di Spanyol setelah mereka berpisah, Kyu-Hyun yang mengatakan sendiri bahwa ia memiliki pekerjaan di Spanyol, menyuruh Suri hidup baik-baik, tapi ia tidak menyangka bahwa pria itu sudah memiliki penggantinya. Dengan ketenangan dan kendali luar biasa, Suri kembali memaksakan senyumnya setenang mungkin sambil menuliskan kalimat terakhir di kertas resep dan menyodorkkannya pada Tuan Ban.

“Silakan tebus resep Anda, Tuan Ban. Sampai jumpa minggu depan.” Jawab Suri dan menyalami pria itu.

Hee-Sun melirik Suri sesaat sebelum membantu Tuan Ban bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang praktik Suri. Ia yakin sekali melihat rona merah jengkel di wajah Suri dan air mata di pelupuk mata kelabu wanita itu sebelum menutup pintu ruang praktik untuk mengantar Tuan Ban.

Begitu pintu tertutup, Suri langsung menendang meja kerjanya kuat-kuat, tidak memedulikan sakit di jari-jari kakinya, ia terus-terusan menendang hingga semua amarahnya mereda, bahkan rambut cokelat gelapnya yang sudah diikat rapi hingga berantakan dengan anak rambut yang menjuntai di sisi kanan dan kiri.

Ia tidak ingin mendengar nama itu disebut apalagi perkembangan seberapa jauh pria itu melupakan dirinya, sementara ia meski sudah mati-matian berusaha masih di tempat yang sama, sibuk menangisi kisah cintanya yang gagal layaknya anak remaja yang mengancam untuk bunuh diri ketika kekasihnya memutuskan untuk pergi.

Schwuchtel!” umpatnya sebelum menarik napas pelan untuk menetralkan emosinya, masih ada dua pasien lagi untuk hari ini dan ia tidak bisa bertemu mereka saat sedang emosi.

Ketika Hee-Sun kembali ke ruangan, Suri sudah merapikan rambutnya, mengikatnya satu dan menenggak satu botol air mineral cepat-cepat.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya ragu. Ia masih bisa melihat rona merah yang jarang muncul di pipi wanita itu.

Semenjak ia mengenal Suri, yang entah sejak kapan itu, ia tidak pernah melihat Suri seemosional sekarang, apalagi terhitung semenjak perceraiannya dengan Kyu-Hyun, ia bisa menghitung seberapa banyak Suri mengumbar perasaan atau mengeluarkan ekspresinya.

Suri mengibaskan tangannya santai. “Tentu saja, jika kau sudah selesai mendata, panggilakan pasien berikutnya.”

Sesaat ia memandang Suri kasiahan, patah hati terbesar yang dialami wanita itu berdampak ke kepribadiannya yang menutup diri bahkan dengan Hee-Sun sendiri. Suri selalu menolak berkumpul dengan teman-temannya, memutuskan komunikasi begitu saja, dan selalu membatalkan janji sepihak.

“Aku sudah mengenalmu lama, Suri~ya,” ucap Hee-Sun, “jika kau ingin menceritakan sesuatu, aku akan mendengarkannya.”

Suri menoleh saat merapikan mejanya dan tersenyum pahit. “Lee Suri yang kau kenal dahulu sudah tidak ada, Kim Hee-Sun, jangan terlalu berharap banyak padaku.” Jawabnya sebelum duduk di balik meja. “Sekarang, pasien kedua.”

Ya, perceraiannya dengan Kyu-Hyun adalah titik balik terekstrem yang pernah ia lalui, ia butuh keberanian untuk mengatakan bahwa ia berpisah dengan Kyu-Hyun bukan lantaran ia sudah tidak menarik lagi ataupun ia menyebalkan, tapi karena cinta itu telah padam, cinta yang berkobar bagai lentera terang di awal pertemuan telah padam secepat terbakarnya.

Butuh waktu satu tahun penuh untuk menarik dirinya keluar dari sudut gelap hatinya dan butuh waktu tiga tahun penuh untuk kembali membangun bentengnya yang jauh lebih kokoh ketimbang anak ingusan empat tahun lalu yang terisak hingga lupa makan karena perpisahannya dengan Cho Kyu-Hyun.

“Jangan memaksakan dirimu.” Pesan Hee-Sun sebelum keluar ruangan.

“Sayapku harus terus mengepak untuk menjagaku tetap di udara.” Gumamnya yang tidak didengar Hee-Sun.

 

***

 

Ia tahu Suri adalah pasangan yang paling tepat untuknya begitu melihat wanita itu dengan suka rela menjahit lengannya karena luka yang terlalu lebar. Suri bahkan memaksa Kyu-Hyun untuk ke rumah sakit untuk memeriksakan lukanya tersebut ketika 2 hari setelahnya mereka tanpa sengaja bertemu di kafe dekat hotel Suri.

Saat itu ia jatuh cinta dengan perhatian Suri yang tanpa banyak bertanya akan merawat lukanya apa pun itu, entah luka gores atau memar, yang Suri dengan sangat yakin diakibatkan oleh kontak dengan benda tumpul, namun wanita itu hanya bertanya satu kali, ketika Kyu-Hyun menjawabnya dengan senyuman, Suri akan mengangguk, mengerti bahwa area itu terlarang untuk dimasukinya.

Bahkan Kyu-Hyun dengan sengaja menguntit Suri yang hari itu kembali ke Korea dengan pesawat komersil ditemani penjaga yang ayahnya kirimkan. Kyu-Hyun sengaja memilih kursi tepat di samping Suri dan penerbangan berbelas jam itu terasa menyenangkan dan begitu pendek.

Ia tahu kebiasaan Suri yang menyisihkan makanan kesukaannya di akhir, atau kebiasaan ketika wanita itu tertawa mendengar leluconnya, Lee Suri yang hangat dengan senyuman tulus. 22 tahun yang sangat menawan… dan Kyu-Hyun merusaknya.

Wanita dengan senyum paling tulus tersebut berubah menjadi wanita dingin, setiap kali ia kembali ke Seoul, Kyu-Hyun akan selalu mengamati wanita itu dari seberang jalan, memerhatikan kebiasaannya duduk sendirian di kafe dengan bercangkir-cangkir kopi juga beberapa buku catatan.

Suri menjauhi semua temannya, ia tidak pernah terlihat pergi dengan mereka. Senyum hangatnya menghilang dan ia benar-benar membangun tembok besar untuk melindungi dirinya.

Hatinya terlalu rapuh untuk jatuh ke lubang yang sama kedua kalinya, bahkan mungkin perkataan, “kau tidak seperti Lee Suri yang kukenal” dapat menyakitinya. Surinya yang rapuh menjaga jarak dan angkuh.

Kyu-Hyun merusak wanita paling tulus yang pernah dikenalnya begitu mudah, mematahkan hatinya yang polos hingga berkeping-keping hanya karena keegoisannya. Jika saja dahulu ia bisa meyakinkan diri untuk bisa menjaga Suri lebih ketat lagi dan bukan meninggalkannya, mungkin Suri tidak akan jatuh sejauh ini.

Kakinya pasti terlalu sakit untuk mendaki lubang gelap tersebut, dan ia, saat itu meskipun tahu, membiarkan Suri terperosok dalam dengan alasan bahwa itu adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk kekasih hatinya.

Ia berdiri di hadapan mobil wanita itu, memutar cincinnya sesaat sebelum mendapati sebuah gerakan di kursi belakang mobil Suri.

Pria itu!

Kyu-Hyun buru-buru membuka pintu mobil bagian belakang, langsung saja ia disambut dengan sebuah hunusan pisau ke arah perutnya dan berhasil menembus dagingnya. Sesaat terasa perih ketika dagingnya dirobek oleh pisau tajam tersebut sebelum bau anyir darah tertangkap indera penciumannya.

Mata Kyu-Hyun berubah gelap, tiba-tiba suhu seperti turun 10 drajat ketika Kyu-Hyun menatap balik mata pria itu. Sigap Kyu-Hyun menangkap lengan yang masih terjulur menghunuskan pisau ke perutnya sebelum memelintir dan berhasil mematahkan lengan kanan pria tersebut.

Wajah pria yang sama seperti yang di foto Suri pagi ini. Ia menguntit Suri dan jika tadi Kyu-Hyun tidak ke sini, mungkin darah yang mengaliri pisau ini adalah darah Suri.

Ia menekan tubuh pria itu ke kap belakang mobil Suri, menghiraukan teriakan kesakitan dari pria tersebut hingga mengundang beberapa orang mendekat, termasuk Jinki yang mengawasi dari balik mobil.

“Hubungi Kapten Seo!” perintah Kyu-Hyun, menahan nyeri yang semakin menjadi-jadi dari perutnya.

“Letnan, kau terluka.” Komentar Jinki sambil menghubungi nomor Kapten Seo. “Seseorang panggil dok—“

“Tidak perlu, aku akan menemui dokterku setelah ini.” Lirih Kyu-Hyun dan mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu. “Siapa yang menyuruhmu?”

“Hidupmu tidak akan tenang, Cho Kyu-Hyun, kau sudah memisahkanku dengan anak dan istriku, ini adalah pembalasannya.” Ucapnya setengah bersemangat. “Kau membiarkannya mati di rumah perlindungan, aku akan membalasnya.”

“Ah,” Kyu-Hyun mengangguk, melawan rasa ingin berkedip karena sakit yang semakin menjadi. “Ternyata Kang Ryu-Shin, eh?” Kyu-Hyun menekan lagi kepala pria itu ke kap mobil. “Dia memperhitungkan semua ini? Termasuk kedatanganku?”

“Selalu ada rencana B, C, dan D jika rencana A gagal, Letnan Cho Yang Terhormat!” ia tertawa berderai.

“Aku ingin menitipkan pesan pada Kang Ryu-Shin, tapi nanti saja, saat kau dan dia reuni di ruang pemeriksaan, sampai bertemu lagi.” Kyu-Hyun memukul tengkuk pria itu hingga pingsan sebelum berjalan terhuyung menyingkirkan orang-orang yang mengerubunginya, termasuk Jinki.

“Tidak,” tahan Kyu-Hyun ketika Jinki akan mengikutinya. “Kau urus keparat itu, aku akan menemui dokterku sendiri.”

Ia masuk ke rumah sakit sambil berusaha menutup luka di perutnya. Jalannya mulai sedikit gemetar dan pandangannya sedikit buram, ia kehilangan darah cukup banyak, pasti lukanya cukup dalam, berharap saja tidak merobek ginjal dan organ pentingnya.

Ia menyentuh meja resepsionis dengan tangan berdarahnya yang langsung disambut dengan teriakan histeris dari penjaga meja informasi tersebut.

“Dokter Lee Suri! Aku butuh Dokter Lee Suri!” perintahnya yang masih ditanggapi dengan wajah syok. Tidak bisa diharapkan!

Kyu-Hyun langsung buru-buru berjalan menuju lorong tempat ruang praktik Suri sore ini. “Lee Suri!” teriaknya keras. Seharusnya Suri mendengarnya, ia sudah berada di lorong.

Beberapa petugas medis dari UGD langsung menghampirinya dan membantunya berdiri. “Anda perlu diobati, Tuan.” Ucap salah satu dari mereka dan mencoba untuk membawa Kyu-Hyun menjauhi koridor ruang praktik Suri.

“Aku butuh Dokter Lee Suri, sekarang! Lee Suri!”

Suri yang baru saja membuka kotak makan siangnya yang sudah dingin langsung terlonjak begitu mendengar suara Kyu-Hyun berteriak disertari suara ribuk-ribut di luar ruangan. Ia berlari, menyingkirkan tubuh Hee-Sun dan perawat lain yang mengerubungi koridor.

Dilihatnya dengan mata kepala sendiri Cho Kyu-Hyun berdiri dengan kedua kakinya, memegangi perut yang mengeluarkan darah segar, wajah pucatnya masih saja nampak keras kepala, dan bibirnya berhenti berteriak begitu mata mereka bersirobok.

Dengan jalannya yang mulai gontai, Kyu-Hyun meraih pundak Suri dengan tangan kirinya yang tidak digunakan untuk menutupi luka di perut. “Aku butuh bantuanmu sekarang, bisa?”

Seketika Suri melupakan apa yang baru saja ia sumpahi untuk Kyu-Hyun siang tadi. Ia mengerjap dan langsung melingkarkan tangan Kyu-Hyun pada pundaknya. “Tahan sebentar,” ia berbalik pada staf medis yang sudah berkumpul. “Siapkan ruang operasi sekarang!”

Sambil menuntun Kyu-Hyun menuju ruang operasi, Suri mengumpat habis-habisan. “Kau kehilangan banyak darah, Cho.” Ucapnya khawatir. “Ada apa sekarang?”

Well, appearantly I was stabbed.” Jawab Kyu-Hyun setengah bercanda.

“Oleh?”

“Oleh orang jahat yang bersembunyi di kursi penumpangmu.”

Suri ingin berhenti dan memastikan apa pendengarannya bermasalah, tapi itu tidak berguna, sudah pasti Kyu-Hyun mengatakan hal yang sebenarnya meski tidak masuk akal. Pria dengan aura berbahaya dan selalu pulang dengan luka memar di sekujur tubuh, masuk UGD dengan luka berdarah-darah bukanlah hal baru untuk Kyu-Hyun, dan bahkan itu mungkin bisa diprediksi Suri jika mereka masih menikah.

“Itu salahmu menguntit mobil mantan istrimu, Cho.” Suri membantu Kyu-Hyun naik ke meja operasi, melepaskan jas serta mantel hitam yang Kyu-Hyun kenakan sebelum menggunting kemeja mahal pria itu.

“Kalau aku tidak menguntitmu sore ini, kau yang akan berada di meja operasi, Lee Suri Sayang.”

Lee Suri melotot dari balik masker dan jubah operasinya yang dipakaikan oleh asisten ruang operasi. “Kalau kau berani memanggilku seperti itu lagi, aku terpaksa mengoperasimu tanpa anestesi, Pasien Cho.”

“Selama yang melakukannya itu kau, aku tak masalah.”

Seluruh perawat sore itu langsung mendelik aneh ke arah Suri, kebanyakan dari meraka baru bergabung menjadi perawat sekitar 3 tahun lalu dan tidak mengetahui sejarah dirinya dengan pria bernama Cho Kyu-Hyun yang terbaring di meja operasi, kehilangan banyak darah, luka tusuk di perut, tapi masih bisa tersenyum bahkan merayu seorang Lee Suri yang dikenal sebagai Dokter Setan.

Mereka sudah melakukan anestesi, ia melihat ke staf yang membantunya sore itu. “Kalau ada dari kalian yang merasa terganggu dengan ocehannya setelah ini, katakan padaku, biar kutinju wajahnya agar pingsan sekalian.”

Mendapat ancaman dari balik kacamata berframe ketinggalan jaman yang Suri kenakan tersebut berhasil membuat Kyu-Hyun tersenyum di tengah efek obat bius yang ditimbulkan.

Suri mengecek semuanya, luka itu cukup dalam, namun tidak ada bagian vital yang terkena tusukan. Kyu-Hyun akan selamat meski harus menjalani bed rest mungkin selama satu minggu di rumah sakit.

Dahulu sekali, ketika ia dan Kyu-Hyun baru saja bercerai, Suri selalu berpikir bagaimana jika suatu hari Kyu-Hyun mampir ke meja operasi dan harus sekali dirinya yang menangani? Apakah ia akan kembali mengingat cintanya pada Kyu-Hyun atau justru keinginan untuk sengaja menghabisi nyawa pria itu di atas meja operasi lebih kuat?

Entahlah, keduanya cukup dominan saling menyahut di kepalanya.

“Kau masih marah padaku, Dokter?” tanya Kyu-Hyun saat Suri hampir selesai menjahit luka terluar di perut Kyu-Hyun.

“Untuk?”

“Untuk yang telah terjadi pada kita dahulu?” ia bisa melihat di balik masker operasi wajah Suri sedikit jengkel setiap kali mendapati Kyu-Hyun menatapnya lekat-lekat. Ah, lucu betul mantan istrinya itu.

“Tidak, aku sudah lupa.”

“Aku bertemu ayahmu saat aku melancong ke Jerman.”

“Hm.” Jawab Suri seadanya. Ia hanya perlu menyelesaikan dua jahitan terakhir sebelum meninggalkan pria ini, tugasnya menjahit luka Kyu-Hyun sudah selesai, ia sudah menepati janjinya untuk membantu Kyu-Hyun.

“Tapi sepertinya dia tidak melihatku, ia dijaga penuh dengan 7 pengawal profesional.”

“Baik untuknya.”

“Ya, kau pun harus memiliki penjaga, Lee Suri, paling tidak satu orang.”

Dengan cekatan, ia menyelesaikan jahitan di perut Kyu-Hyun, memutuskan benangnya dan melempar alat tersebut ke nampan sebelum menurunkan masker operasinya. “Aku sudah menepati janjiku untuk menolongmu, sekarang,” ia melihat ke staf yang menemaninya sore itu, “tolong urus sisanya.”

Ia buru-buru keluar, tak mengindahkan suara Kyu-Hyun yang memintanya untuk menunggu. Tujuannya langsung ke area dokter, melempar baju operasi, masker serta sarung tangannya ke bak peralatan kotor.

Darahnya sudah naik hingga ke kepala sampai-sampai ia pusing dibuat menahan amarahnya sendiri. Ia berbalik dua kali, mencoba menetralkan emosinya tanpa harus melampiaskan pada sesuatu, kenyataannya ia tidak bisa, ia butuh sesuatu untuk dicekik, seharusnya tadi ia mencekik Kyu-Hyun saja di meja operasi.

Ia berbalik sekali lagi sebelum menendang bak berwarna biru langit tersebut kuat-kuat. “Hurensohn!” teriaknya sambil terus menendang bak tersebut berkali-kali, berusaha meluapkan kekesalan akan dirinya pada bak malang tersebut.

Bunyi ‘duk, duk, duk’ terdengar nyaring di sepanjang koridor ruang sterilisasi, beberapa staf kebersihan sampai repot-repot menoleh dan memerhatikan wajah Suri baik-baik. Mungkin bukti kalau-kalau bak kotor tersebut rusak menjadi bubur ada yang bisa disalahkan meski pasti tidak ada yang berani menegurnya secara langsung.

Keringat mulai membasahi pelipis Suri, membuat pipinya memerah, dan rahangnya semakin mengatup, rambutnya yang senantiasa tertata rapi ikat satu mulai lolos satu per satu dari ikatannya, menutupi sebagian pelipis Suri. Tubuh Suri bergetar menahan emosi yang meluap sebelum perlahan sekali ia mengembuskan napasnya melalui mulut, menarik lagi dalam-dalam, dan mengulangi hal tersebut selama satu menit penuh.

Tangannya dibersihkan dari aroma yang mungkin masuk melalui sarung tangan tadi, mencuci sela-sela jemarinya sebelum mengeringkan semua, ia beralih pada ikat rambutnya, melepas ikatan, menyisir kembali hingga ikatannya kembali sempurna sebelum memasang wajah dingin biasanya.

Ia tidak akan membiarkan siapa pun melihatnya mengeluarkan emosi, ia tidak akan menyia-nyiakan perjuangan 4 tahunnya untuk mengubur semua ingatan tentang pria itu kalah hanya dalam waktu dua jam, Lee Suri yang sekarang tidak akan kalah dengan seorang Cho Kyu-Hyun yang hanya bermodal cengiran dan rayuan murahan tersebut.

Mereka, perawat dan dokter yang berdiri di lorong, menatapnya dengan pandangan berbeda. Mata-mata yang memandangnya mati-matian berusaha untuk tidak membicarakan apa yang terjadi di ruang operasi tadi, atau pasien berdarah-darah yang datang dan mencari Suri.

Ia mengabaikannya, tidak ada cara lain selain mengabaikannya dan tetap berusaha menegakkan dagunya. Jika ia terlihat lemah, tidak akan ada yang menghargainya lagi.

Ketika Suri masuk ke ruangannya, Hee-Sun yang sudah menunggu Suri sedari tadi langsung bangkit, melihat dokter yang paling tenang terlihat seperti habis memaki pasien yang ngotot tidak ingin dirawat padahal luka robek di kakinya terbuka ke mana-mana.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya cepat.

“Tentu, kenapa harus tidak baik-baik saja?”

Hee-Sun membuka mulutnya sesaat, ragu ingin mendebat Suri. “Lupakan, pasien terakhir sudah kuantar pulang.”

“Kau dipersilakan pulang.” Ia mengibaskan tangannya, “tidak ada gunanya tetap di sini saat jam praktik sudah berakhir.”

“Kau tidak ingin bercerita sesuatu padaku?” Hee-Sun kembali duduk, menghadap sahabat terlamanya berusaha mati-matian menutupi kemarahan tersebut. “Seperti mungkin, kau ingin meninju Cho Kyu-Hyun, mencekiknya, atau membunuhnya?”

Iris kelabunya menatap balik Hee-Sun, jenis tatapan yang semua orang tahu bahwa itu adalah peringatan siapa pun lawan bicaranya, mereka tidak diijinkan bertanya lebih jauh mengenai apa pun.

“Suatu hari akan ada yang melakukannya untukku.” Jawab Suri sambil mengambil beberapa buku bacaannya. “Aku perlu waktu sendiri, kalau kau tidak keberatan.”

Hee-Sun mengangguk, “akan kubuatkan kopi dahulu sebelum aku pulang.”

“Terima kasih.”

Rumahnya memang cukup tenang untuk menghabiskan sisa sorenya melupakan Kyu-Hyun, tapi menatap ke luar jendela sama menyiksanya dengan menonton film lama tentang jatuh cinta saat sedang patah hati parah.

Memilih untuk menyendiri, Suri duduk di kantornya dengan sebuah buku yang tidak ia mengerti sedikit pun isinya, bukan lantaran ia tidak tahu bahasanya, tapi kepala dan matanya hari itu tidak fokus pada satu pekerjaan.

Cara melupakan yang cepat adalah dengan mengingat segala memori buruk selama bersama Kyu-Hyun, dan itu merupakan pekerjaan yang amat mudah untuk Suri. Ia bisa kapan saja memikirkan hal tersebut. Perasaan diabaikan yang membuatnya ingin meninju Kyu-Hyun setiap kali ia bicara dan ditinggal begitu saja.

Tepat dua minggu setelah kepulangannya ke rumah, Kyu-Hyun berubah dari suami yang menyenangkan menjadi pria keparat yang menjalani hubungan tidak lebih untuk seks. Setiap kali Suri berusaha bangkit dari ranjangnya, Kyu-Hyun akan buru-buru menuntunnya, awalnya ia kira itu adalah bentuk perhatian Kyu-Hyun, namun kelamaan Suri menyadari bahwa perlakuan Kyu-Hyun tidak lebih dari seorang suami yang kasihan melihat istrinya.

Pria itu selalu mempunyai area pribadi yang tidak seorang pun dibiarkan masuk, termasuk Suri. Di awal pernikahan, itu bukanlah sebuah masalah besar, tapi kelamaan, Kyu-Hyun lebih menyukai duduk di depan komputernya dan bicara berbisik pada seseorang di ujung telepon, atau pernah Suri memergoki seorang pria berpakaian rapi datang ke rumahnya hanya untuk mengambil sesuatu sebelum pergi lagi.

Meski, harus diakui, ia masih sangat mencintai Kyu-Hyun, ia tidak akan bisa kembali dengan pria itu lagi jika harus menjalani hari-harinya yang buta akan pekerjaan Kyu-Hyun.

Rasanya tiga jam cukup untuk menghadapi pandangan menghakimi itu lagi, ia jauh lebih tenang dan lebih siap untuk melemparkan pulpennya ke mata siapa saja yang bertanya tentang Cho Kyu-Hyun padanya.

Begitu melihat lorong, Suri langsung mengaduh.

Cho Kyu-Hyun berjalan melintasi lorong lantai dua tempat praktiknya dengan gaya yang luar biasa angkuh. Pandangan gelap, rambut hitam yang sudah kembali tertata rapi, setelan kerjanya sudah berganti dengan kemeja hitam dan mantel hitam, yang paling menyebalkan adalah wajahnya yang pucat memberi efek warna merah yang begitu nyata di bibir Kyu-Hyun.

Apa dia baru dari bank darah dan meminum beberapa kantung persediaan darah?

Suri buru-buru mempercepat langkahnya, pokoknya ia tidak akan membiarkan meditasi 3 jamnya berakhir dengan sia-sia lagi.

“Hei, Dokter Lee!” panggil Kyu-Hyun yang juga mempercepat langkahnya. “Bagaimana caranya berterima kasih padamu karena sudah membantuku tadi?”

Tanpa menoleh, Suri menaikkan jari tangahnya ke udara. “Just forget it!

Suri berjalan cepat di lorong berusaha memperlebar jarak antara dirinya dan Kyu-Hyun. Pria itu apa sih sebenarnya? Bukan manusia, ya? Tiga jam lalu Cho Kyu-Hyun berada di meja operasi tertusuk di bagian perut dan kekurangan darah. Sekarang, Suri menoleh cepat, Kyu-Hyun masih mengejarnya dengan senyum separuh di bibir, pria itu sudah turun dari ranjang rumah sakit dan tidak ragu mengejarnya di lorong sepanjang lobi menuju area parkir.

“Ayolah,” tawar Kyu-Hyun tiba-tiba yang membuat Suri terlonjak kaget. “Kopi di Seorae itu kudengar open business lagi, kau suka sekali dengan kopi di sana, bukan?” senyumnya terukir lebar, membuat wajah pucatnya bukan jadi masalah besar. “Mungkin kita bisa memperbaiki hubungan kita yang lalu?”

Janjinya tadi di ruang kerja sih untuk mengabaikan gangguan lainnya hingga esok pagi, tapi kesabarannya ada batasnya, mungkin sesekali kelepasan mencekik Kyu-Hyun tidak ada salahnya.

After all this years, why?” Suri berbalik hampir saja meninju perut Kyu-Hyun tempat luka yang masih berbau alkohol tersebut. Tangannya sampai gemetar menahan amarah yang sudah memuncak. “Kenapa tidak sejak awal?”

“Aku tahu aku salah,” Kyu-Hyun mengiba, ia mengenggam tangan Suri yang terkepal, berusaha meluruskannya. “Aku membuatmu seperti ini, aku baru menyadari bahwa—“

“Tidak,” Suri menyentak tangannya. “No one made me like this, I made me! Now,” Suri memajukan tubuhnya hingga wajahnya dan wajah Kyu-Hyun hanya berjarak beberapa senti. “Back off!

Jelas penegasan Suri barusan adalah salah satu dari naskah text book seorang wanita dengan sejarah pernah jatuh terlalu dalam, wanita mandiri yang terpaksa mandiri karena mengetahui dunia yang ia anggap selama ini tidak secerah kelihatannya.

Kyu-Hyun melepaskan Suri sore itu, melihat sosok yang berjalan lebar-lebar dengan irama yang tegas. Punggungnya mengatakan bahwa sosok yang membuatnya berubah begitu drastis adalah Cho Kyu-Hyun.

Begitu Suri tidak terlihat lagi di ujung lorong, Jinki yang sedari tadi menunggu, langsung keluar dan berdiri di balik tubuh Kyu-Hyun.

“Kang Ryu-Shin berada di pusat dan menjalani pemeriksaan, hanya saja…” Jinki menunggu Kyu-Hyun hingga memandanganya. “Dia tidak akan bicara tanpa pengacaranya.”

“Itu tidak masalah.”

“Jika pengacaranya tidak sedang koma, tentu tidka masalah.”

“Dia merencanakannya.”

***

 

Sesekali Suri menoleh ke belakang, memastikan Kyu-Hyun tidak mengekor apalagi sampai tahu di mana ia tinggal sekarang, bisa-bisa diteror setiap hari. Sehabis ini mungkin ia akan mengantisipasinya dengan tinggal di hotel selama beberapa saat, untuk menghindari Kyu-Hyun, kalau-kalau pria itu keras kepala.

Tidak akan ia biarkan perjuangan empat tahunnya terhenti begitu saja.

Namun, ternyata yang mengkhianatinya sore ini bukan hanya takdirnya dengan Kyu-Hyun, tubuhnya kaku ketika mencapai area parkir, ia menatap kosong dengan umpatan-umpatan yang sudah berkeliaran di kepalanya.

Seingatnya, ia membawa mobil ke kantor, tidak menggunakan taksi, tapi sekarang mobilnya yang raib dari parkiran tempat terakhir ia meninggalkan mobilnya siang tadi. Ia yang mulai diragukan ingatannya atau memang ada yang mencurinya? Rasanya tidak mungkin seorang pencuri mobil meninggalkan garis polisi di tempat pencuriannya, kan?

“Maaf, Nona,” seorang petugas kepolisian berseragam mendatangi Suri sambil membungkuk. “Apa Anda pemilik mobil di sini?”

“Ya, di mana mobilku?”

“Ah,” pria itu mengeluarkan secarik kertas dari saku jaketnya. “Mobil Anda sedang di bawa ke kantor polisi sebagai barang bukti, dan ini adalah tanda terima untuk Anda.” Ia menyerahkan kertas tersebut, ditandatangani oleh seseorang bernama Shim Chang-Min.

“Apa nanti dikembalikan?”

“Ya, tentu saja. Anda akan dihubungi jika mobil sudah selesai diperiksa. Dan oh,” kali ini petugas tersebut mengeluarkan buku agenda dari sakunya. “Anda belum dimintai keterangan oleh Detektif Shim karena ada pasien, bisakah aku mengetahui jadwal senggang Anda untuk keperluan wawancara saksi?”

Suri berpikir sesaat, jadi yang Kyu-Hyun katakan tadi itu benar? Bahwa Kyu-Hyun diserang seseorang di jok belakang mobilnya? Untuk apa seseorang menyerangnya? Kalau bisa buka pintu mobil, lebih baik langsung bawa kabur saja mobilnya, tidak perlu menunggu yang punya datang dan justru menimbulkan keributan. Kalau begitu, pasti ada motif lain?

“Nona?”

“Oh, iya, maaf….” Suri sendiri tidak hapal jadwalnya, ia harus melihat ponsel dan mencari mana jadwal kosong di antara jadwalnya yang rapat itu.

“Besok, jam makan siang, kau bisa berbincang selama 20 menit.” Suri menoleh ke arah sumber suara barusan, tentu saja asistennya tercinta yang hapal semua jadwal si dokter payah ini di luar kepala, Kim Hee-Sun.

“Ya, seperti yang dia katakan, tapi aku punya 40 menit jam istirahat, kalian bisa—“

“Tidak bisa, 20 menit untuk makan. Memang kau tidak ingat seharian ini kau belum makan?!” potong Hee-Sun lagi.

Sejak kapan sih Kim Hee-Sun itu jadi cerewet soal jam makan? Biasanya juga dia akan cuek-cuek saja Suri makan siang atau tidak. Matanya menangkap seorang pria berambut hitam dengan wajah merona setengah tersenyum melihat Hee-Sun yang cerewet, Lee Tae-Min.

Yah, mungkin semenjak setelah menikah. Pikir Suri.

“Akan kusampaikan pada Detektif Shim, terima kasih atas kerja sama Anda.” Petugas tersebut menunduk dan meninggalkan Suri bersama Hee-Sun dan Tae-Min.

“Mobilmu dibawa mereka, ya?” tanya Hee-Sun lagi, memerhatikan apa yang Suri lihat sejak kepergian petugas tadi.

Jejak noda darah di pelataran parkir masih terlihat meski sudah tutupi dengan pasir, bahkan baunya masih tercium jelas. Cukup banyak cecerannya di sekitar tempat mobil Suri terpakrir. Sepertinya Kyu-Hyun tidak langsung lari ke rumah sakit begitu tertusuk, pria itu berdiri di sini untuk beberapa saat.

“Mau kuberi tumpangan tidak? Kebetulan Tae-Min dan aku mau mengunjungi teman yang arah rumahnya sejalan dengan rumahmu.”

Mengingat ia tidak berniat berdesakan dengan penumpang yang juga pulang kerja di bis atau transportasi umum lainnya, Suri mengiyakan tawaran Hee-Sun tanpa pikir panjang. Apalagi yang lebih nikmat ketimbang duduk di kursi belakang dan menunggu sampai di depan apartemennya? Mungkin, jika beruntung ia bisa tidur selama 15 menit.

Tentu saja ia menyesali keputusannya tanpa analisa tersebut sekarang, seolah hari ini takdir sedang menertawakannya habis-habisan. Hebat betul.

Kim Hee-Sun dan Lee Tae-Min yang baru menikah masih dalam hitungan bulan tentu saja masih dalam masa ‘hangat-hangatnya’ itu menganggap Suri hanyalah tumpukan parsel mereka di kursi belakang. Mereka sibuk berpegangan tangan, bercanda, hingga berbisik mesum, tidak tahukah mereka seberapa menderitanya menjadi Lee Suri yang kesepian hampir lima tahun dan disuguhi pemandangan seperti itu? kejam sekali mereka itu.

Suri mengekan dadanya sakit ketika Hee-Sun dengan leluasa mendaratkan ciuman di pipi Tae-Min yang sedang menyetir dan tertawa-tawa berdua saja.

“Ah, aku menderita.” Gumamnya yang menyadarkan Tae-Min untuk tidak, mungkin, meraba paha istrinya.

“Ah, maaf, aku lupa ada kau di sana, Suri~ssi.

Suri mengangguk. “Tidak masalah, lupakan aku saja, asal jangan lupakan di mana aku harus turun.” Ucap Suri ketika mereka berada 500 meter lagi dari gedung apartemen Suri.

“Tentu saja, di depan sana, ‘kan?”

Tapi, meski mengaku ingat di mana Suri harus turun, Tae-Min melaju sejauh 100 meter melewati apartemen Suri hingga menyebabkan Suri harus jalan kaki sejauh 100 meter, ia menolak disiksa lagi dengan pemandangan dua orang dimabuk cinta seperti mereka.

Mungkin ini karma karena dulu pun, ia dan kyu… tidak, hentikan, cukup di sana, jangan bergerak ke belakang lebih jauh lagi, Lee Suri.

Sialnya ia tidak memperhitungkan bahwa akan ada kejadian penyitaan mobil oleh kepolisian hari ini, jadi pakaiannya yang berupa kemeja kerja tipis merupakan sebuah kesalahan besar yang ia perbuat. Ia mengigil kedinginan akibat udara musim gugur yang mencapai belasan drajat celcius.

Meski harus Suri akui ia hanya sesekali keluar dan memerhatikan lingkungan sekitarnya, ia melihat hal yang berbeda sore ini. Menjelang matahari terbenam, biasanya yang lewat di sini hanya orang-orang penghuni apartemen yang baru kembali dari bekerja, tidak ada orang yang duduk-duduk di sepanjang pedestrian, apalagi bersandar pada pohon sambil memainkan ponsel.

Tapi sore ini, Suri menghitung setidaknya ada 7 orang yang berkeliaran di sepanjang pedestrian apartemen, dari ketujuh orang tersebut, tidak di antara mereka yang terlihat seperti penghuni apartemen. Tidak terlihat mewah, berkelas, atau seperti seorang pengusaha.

Sedikit aneh.

Kagetnya Suri hari ini tidak hanya sampai di situ rupanya, begitu Suri membuka pintu kamar apartemennya, ia kaget bukan main mendapati empat pria berjas hitam berdiri di ruang tengah apartemennya dengan seorang pria yang tengah berbicara dekat dengan jendela.

Ia kenal betul dengan seseorang yang tengah menerima telepon tersebut, bahkan hampir seumur hidupnya dihabiskan dengan menghindari pria itu. Sekarang ia malah harus berhadapan dengan pria menyebalkan itu, pasti mereka sudah mendengar kejadian sore ini yang melibatkan mobil dan mantan suami Lee Suri, ah, sial nasibnya kalau begitu.

Pria itu menutup ponselnya, menyisir rambut hitamnya ke belakang, dan… berbalik dengan senyum terlatih. Suri kenal betul dengan gerakan tersebut. Senyumnya merekah lebar sembari ia membuka tangannya untuk memeluk Lee Suri.

“Halo, Lee Suri, apa kabarmu—“ pria tersebut disambut dengan tinju di perut yang terlalu keras oleh Lee Suri, tapi bukan Gong Yoo namanya kalau menyerah dalam sekali pukul oleh Lee Suri. Pria itu menyembunyikan ngilu di perutnya dengan sangat baik. “Hari ini? Kudengar mobilmu dibawa ke kantor polisi? Naik apa kau ke sini? Taksi? Atau…” Gong Yoo menutup mulutnya syok. “Jangan-jangan kau naik bis umum, ya? Ya Tuhan, kau baik-baik saja? Tidak muntah menghadapi banyak keringat menyentuh kemeja kerjamu?”

Sudah bukan isu baru tentang kebencian Suri dengan kendaraan umum karena dahulu ia sempat meneliti keringat orang-orang dan itu tidak terlihat indah di mikroskop. Semenjak itu Suri menolak naik kendaraan umum di jam-jam macet.

“Aku hampir muntah melihat orang-orangmu di sini.” Sahut Suri sambil melempar tas kerjanya ke sofa disusul tubuhnya yang rebah di sana.

Gong Yoo, atau ayahnya lebih sering mendikte Suri untuk memanggil Gong Yoo dengan sebutan “Ketua Yoo”, adalah kepala keamanan tim ayahnya yang senantiasa mengikuti ke mana pun ayahnya pergi semenjak menjabat menjadi Menteri Luar Negeri. Dan secara khusus, ayahnya selalu menugaskan Gong Yoo mengawasi Suri semenjak Suri berumur 5 tahun.

Amatir Gong Yoo yang masih berusia 18 tahun selalu dibuat kewalahan karena kehilangan jejak Suri di rumah dinas, namun, seiring bertambahnya pengalaman Gong Yoo, semakin sering juga Suri tertangkap di persembunyiannya, pernah satu kali saat Suri mengendap-ngendap untuk bergadang nonton serial Grey’s Anatomy lewat jam malam Suri yang saat itu batas aktifitas malamnya adalah jam 10. Suri pikir ia berhasil mengelabui Gong Yoo yang duduk di depan kamarnya, tapi ternyata Gong Yoo justru sudah menunggu Suri di ruang tivi dengan popcorn dan menyengir, mengatakan, “Kalah cepat, ya?” dengan santainya.

Semenjak saat itu Suri mendeklarasikan bahwa Gong Yoo adalah musuh abadinya dalam hal petak umpet.

“Kau kelihatan pucat, Suri~ya, apa kau belum makan? Atau kau kekurangan jam tidur malam?” tanya Gong Yoo basa-basi sambil mengeluarkan ponselnya.

“Tutup kembali ponselmu, jangan berani-beraninya kau melaporkan ini pada ayahku!” Suri menunjuk wajah Gong Yoo dengan mata terpejam dan beralih menunjuk sofa di hadapannya. “Duduk dan katakan apa mau kalian?”

Tentu saja ia menang, Suri pasti akan melakukan apa pun asal keadaannya yang kacau tidak dilaporkan pada ayahnya. Gong Yoo tersenyum sambil membuka kancing jasnya kemudian duduk menyilangkan kakinya yang panjang.

“Ini mengenai keselamatanmu.”

“Aku baik-baik saja, lihat? Sekarang kau boleh pergi.”

“Tidak secepat itu,” Gong Yoo bersandar pada sofa, melipat tangannya di atas perut dan menatap Suri lekat-lekat, ini bukan masalah ancaman omong kosong yang sering Lee Suri terima, ini sangat serius. “Kalau tidak ada mantan suamimu yang menguntitmu sore ini, mungkin lehermu sudah…,” Gong Yoo memperagakan gerakan ibu jarinya yang menarik garis lurus di leher dengan efek bunyi ‘kek’ untuk mendramatisir.

Jawabannya sudah pasti bisa ditebak, Suri mengabaikan ancaman serius tersebut. Yah, namanya juga Lee Suri, sudah bukan barang baru kalau Lee Suri mengaibaikan peringatan keras dari ketua keamanan yang ahli dalam menilai situasi buruk.

Lebih serius, Gong Yoo menumpukan kedua sikunya di atas lutut dan wajahnya lebih maju. “Ini bukan sekedar gertakan sambal seperti sebelumnya, kau harus mendengarkanku kali ini.” Tegasnya sekali lagi.

“Iya, tapi untuk apa?” Suri bangkit, meninggalkan Gong Yoo di ruang tengah untuk mengambil sebotol air mineral dingin. “Kau tahu betul bahwa yang orang penting itu ayahku, menculikku pun percuma, mereka hanya akan memperkeruh masalah. Pertama, akan ada banyak birokrasi, hukuman berat, hingga sempitnya gerak kelompok mereka jika sampai aku disandera atau mungkin aku mati tertembak di jalan. Kedua, tidak ada untungnya, aku tidak tahu apa-apa soal pekerjaan ayahku, jika hanya uang, aku punya cukup uang untuk diperas, mereka hanya perlu mencuri mobilku dan menjualnya ke pasar gelap. Ketiga, jika motifnya adalah balas dendam, ayahku tidak pernah melakukan hal apa pun yang merugikan satu kelompok atau personal. Aku yakin pasti kejadian sore ini hanya kesialan si pencuri saja yang kebetulan tertangkap tangan oleh si Cho Kyu-Hyun itu dan terpaksa harus melakukan perlawanan.”

Suri mengibaskan tangannya santai.

“Kita tidak bisa pastikan hingga penyelidikan kepolisian menentukan statusnya, Suri~ya. Aku dan ayahmu tidak akan ambil resiko hingga sesuatu terjadi padamu.”

“Aku baik-baik saja, mengerti? Aku tinggal 5 tahun sendirian dan hingga hari ini aku masih hidup.”

Gong Yoo mengeluarkan sebatang rokok dari saku jasnya, menyulutnya dan membiarkan rokok tersebut terbakar perlahan. “Mungkin untukmu ini bukanlah apa-apa, tapi bagi orangtuamu dan aku, orang yang dekat denganmu, menganggapmu berarti, ini adalah hal mengerikan, mimpi buruk yang harus kami hadapi ketika kau dengan hebatnya mengabaikan segala keselamatanmu sendiri.”

Harus diakui ia selalu lupa mengunci pintu mobil, lupa menaruh ponsel, bahkan sering sembarangan menyeberang tanpa tengok kanan kiri di penyeberangan bebas tanpa zebra cross. Satu-satunya yang ia perhatikan adalah kerahasiaan pasiennya selama ini.

“Pernah kau pikirkan ayahmu yang duduk termenung sepanjang malam menunggu kabar darimu yang sibuk dengan pasien-pasienmu di siang hari dan kelelahan setengah mati di malam hari? Pernah kau pikirkan ibumu yang khawatir takut-takut kau tertabrak mobil dijalan dan ditinggalkan begitu saja tanpa ada yang menolong?”

Tidak pernah tentu saja.

Suri ingin mendebat, mengatakan bahwa ia tidak seceroboh itu, namun semuanya benar, ia tidak bisa mengelak soal betapa hebatnya ia akan keselamatan diri sendiri.

“Oke, aku ijinkan kau mengawasiku, tapi…” ia menunjukan lima jarinya di udara, “ada peraturannya.”

Gong Yoo yang merasa menang tersenyum lebar sebelum mengembuskan asap rokoknya ke udara.

“Pertama, kalian tidak diijinakan mendekatiku dalam jarak 10 meter, harus jaga jarak sejauh 10 meter! Kedua, tidak ada yang ikut sampai ke ruang kerjaku! Ketiga, tidak diijinkan tinggal di sini, kalian bisa menyewa salah satu kamar di gedung ini, tapi tidak satu unit denganku, aku benci dikelilingi pria. Keempat, tidak ada jalan bersama-sama, kalian maksudku, tidak ingin dikira boyband, kan? Dan terakhir,” Suri menunjuk rokok yang dipegang Gong Yoo, “tidak ada yang boleh merokok di sekitarku.”

Untuk terakhir kali, Gong Yoo menghisap rokoknya dalam-dalam sebelum mengembuskannya perlahan dan mematikan rokok tersebut di bak cuci piring Suri sambil menyengir. “Tentu saja, Tuan Putri. Untuk mengantisipasi penolakanmu, kami sudah menyewa kamar tepat di sebelah kanan kamarmu, kau tidak usah takut soal privasimu yang kau agung-agungkan itu.”

Hari ini, meski ia jarang bertemu Suri selama lima tahun terakhir, Gong Yoo masih bisa melihat perbedaan wajahnya dari malam-malam sebelum ini. Suri terlihat sedikit kesal dengan garis-garis di sekitar bibirnya. Pasti hari yang berat karena harus bertemu monster tersebut dalam bentuk yang nyata.

“Kau baik-baik saja?” tanya Gong Yoo khawatir. Ia meremas pundak Suri.

“Kenapa harus tidak baik-baik saja?”

“Kyu-Hyun, kalian bertemu hari ini, bukan?”

“Iya, sudahlah, tidak usah dibahas, aku lelah.”

Gong Yoo mengangguk sebelum mendaratkan ciuman di pelipis Suri. Ia tidak menganggap Suri sebagai wanita dewasa, di matanya, Lee Suri tidak lebih dari anak berumur 15 tahun yang sedang demo mati-matian karena mainan kesukaannya tidak dibelikan. Ia tetap adik kecil di matanya.

“Kalau begitu, tidurlah,” pintanya, “akan ada satu orang yang menjagamu di pintu depan dan aku sendiri yang mengantarmu esok pagi ke laboratorium.”

Sisa malamnya dihabiskan Suri dengan berendam air hangat ditemani aroma terapi sereh dan rose wine kesukaannya.

Kalau dipikir lagi, ia lebih baik menghadapi operasi selama 10 jam maraton ketimbang bertemu dengan Kyu-Hyun yang berpotensi melemahkan jantungnya lagi. Ia sudah kehabisan persediaan air mata yang ia habiskan di tahun-tahun perceraiannya. Seharusnya kalau sudah begitu, ia tidak mempunyai apa pun lagi untuk ditangisi, harusnya.

Tapi kenyataannya ia selalu punya drama untuk ditangisi jika menyangkut hubungan singkatnya dengan Kyu-Hyun. Kesalahan paling besar yang pernah ia lakukan. Hingga sekarang pun ia masih terpincang akibat kehilangan sebelah kakinya tanpa aba-aba, ia tidak menyangka bahwa gertakannya akan perpisahan dulu ditanggapi serius oleh Kyu-Hyun, pria yang mengaku masih mencintainya itu.

Cho Kyu-Hyun baginya seperti kerikil di sepatu, jika beruntung ia akan aman-aman saja selama berjalan, tapi tidak semulus itu, terkadang ia harus menginjak hingga mengernyitkan mata menerima sensasi menusuk dari benda kecil yang terselip di sepatunya. Berharap saja ia bisa mengetahui cara bagaimana melepas simpul sepatu tersebut agar bisa mengeluarkannya, lebih bagus lagi kalau ia punya sepatu baru.

Ketika ia terbaring di ranjang dengan kaus kebesaran dan celana bututnya, Suri berpikir tentang masa itu, masa di mana tidur adalah hal paling menyenangkan dalam satu hari, tempat paling hangat yang ia bisa singgahi. Semuanya terasa indah dan akan baik-baik saja, tidak ada yang menyangka bahwa pernikahan paling jauh dari perdebatan tidak berguna itu justru hanya bertahan selama enam bulan.

Dadanya selalu sesak jika mengingat wajah Kyu-Hyun yang tersenyum, tapi ia tidak bisa menghentikan dirinya membayangkan wajah tersenyum pria itu.

***

 

Ryu-Shin tersenyum menatap Kyu-Hyun, kedua jari-jarinya bertaut di atas lutut, dan pandangannya terfokus pada Kyu-Hyun dari balik jeruji.

“Selamat malam, Letnan Cho,” sapanya dan memutuskan untuk berdiri. “Aku senang kau mengunjungiku, kudengar kau tertusuk sore ini, bagaimana keadaanmu?”

Kyu-Hyun mengangguk pada Jinki, mempersilakan pria itu meninggalkan Kyu-Hyun dan Ryu-Shin berdua saja. Ia melangkah satu kali mendekati jeruji besi, sejajar dengan Ryu-Shin.

“Hanya goresan kecil, bukan masalah bagiku.” Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Bagaimana denganmu, apa yang kau inginkan dariku?”

Tidak akan Ryu-Shin tertipu untuk kali kedua pada jerat omong manis Kyu-Hyun lagi. Ia menggoyangkan tangannya santai sambil berjalan mondar-mandir di selnya. “Tidak akan mengatakan apa pun hingga pengacaraku bangkit dari komanya.”

“Kau punya 3 pengacara.”

“Tapi aku mau fomasi lengkap.”

Kyu-Hyun mengangguk-angguk. “Tidak masalah, kau bisa menunggu hingga 100 tahun di sini jika kau mau.”

Ryu-Shin menyengir lebar dan berhenti sambil menoleh pada Kyu-Hyun ia mengatakan, “Tidak kalau kekasihmu tercinta itu lebih dahulu mati di tanganku.” Senyuman Ryu-Shin semakin lebar melihat rahang Kyu-Hyun mengeras. “Bagaimana kalau aku membakar Lee Suri? Seperti kau membiarkan mereka membakar istri dan anakku?”

“Kau menyedihkan sekali, Ryu-Shin, kau menyia-nyiakan kebebasanmu hanya untuk melukaiku? Kau butuh banyak pengalaman untuk melakukannya.”

Ryu-Shin melotot menatap Kyu-Hyun dan sejurus kemudian ia tertawa terbahak. “Benarkah? Bukannya kau mati-matian mengerjar kelompok Kim Min-Ho ketika tahu siapa yang bertanggung jawab di balik kejadian tabrak lari istrimu? Itu hanya hal kecil yang bisa kulakukan tanpa sepengetahuanmu, Letanan Cho, aku bisa buat istrimu mengalami patah seluruh tulangnya dan mengirimkan mata dan bibir kesukaanmu itu untuk dijadikan kenang-kenangan ke alamatmu, tenang saja, aku pasti menyisakan bagian kesukaanmu dari tubuh kekasihmu itu, sebutkan saja apa.”

Tangannya terkepal kuat di dalam saku celana, tubuhnya sampai gemetar menahan amarah yang sudah memuncak di kepalanya.

“Ayo tembak aku!” konfrontasi Ryu-Shin semakin menjadi. “Ayo tembak! Kau hanya perlu mengatakan bahwa aku mengancammu, memaksamu untuk menembakku, CCTV bisa kau belokkan, kau kan ahlinya dalam hal semacam itu, membuat yang tidak berdosa nampak tidak dipermasalahkan jika mati di tengah jalan, benar, ‘kan?”

Kyu-Hyun menarik napasnya perlahan, membiarkan emosinya lewat begitu saja. Ia perlu kepala dingin untuk menangani kasus ini. “Kau tidak akan bisa membangkitkan istri dan anakmu dengan membunuh Lee Suri, kau hanya akan memperkeruh suasana atau bahkan membongkar semua jaringan yang kau bangun diam-diam itu, Ryu-Shin.”

“Tidak masalah,” Ryu-Shin kembali tenang dan berbarig di selnya. “Asalkan melihatmu menderita setengah mati pun, sudah membuatku sangat puas.”

Begitu keluar dari tahanan sementara Ryu-Shin, Kyu-Hyun langsung meminta status anggotanya yang bisa ditugaskan untuk menjaga Lee Suri dari jarak jauh sementara dirinya membereskan urusan dengan Ryu-Shin.

Kang Ryu-Shin, saksi tunggal dari kelompok sindikat perdagangan anak juga perdagangan manusia yang beroperasi di Busan sebagai pusatnya. Mengirim anak-anak dari Korea ke seluruh dunia secara ilegal, beberapa anak didapatkan dari rumah sakit dan lainnya didapatkan dari panti sekitar. Sementara yang bayi akan dijual sebagai anak angkat dengan title anak yatim piatu malang, di Barat sedang gencar-gencarnya mengadopsi anak dengan latar belakang keluarga miskin atau anak dari tempat konflik, sementara yang dewasa akan dijadikan pekerja seks komersial yang menguntungkan di kelab malam.

Saat itu Kyu-Hyun ingat Ryu-Shin datang mengigil dengan wajah babak belur habis dihajar semalaman oleh kelompok yang menamakan diri mereka sebagai Busan Psycho. Sambil menangis Ryu-Shin mengatakan bahwa ia mengetahui semua anggota Busan Psycho dan bersedia mengatakan jadwal mereka selama satu bulan asalkan dirinya dan keluarganya mendapat jaminan perlindungan dari negara.

Kyu-Hyun mengajukan berkas tersebut pada Kapten Yeo dan kesepakan tersebut ditandatangani oleh ketua Badan Perlindungan Saksi. Mereka bersedia mengubah wajah pria itu dan memberikan identitas baru pada Ryu-Shin agar hidup bermasyarakat dengan normal, hanya saja, ia tidak diperbolehkan menemui keluarganya yang juga diasingkan saat itu demi keselamatan bersama.

Satu dan lain hal, mereka menemukan keluarga Ryu-Shin dan menghanguskan istri juga satu putri Ryu-Shin bersama rumah persembunyian yang disediakan negara. Ryu-Shin menuduh Kyu-Hyun yang lalai dalam menjaga keselamatan keluarganya hingga tidak menyelamatkan keluarga pria malang tersebut.

Namun, Kyu-Hyun punya alasan tersendiri saat itu dan alasan tersebut adalah alasan yang tidak bisa ia ungkapkan pada Ryu-Shin atau Kapten Seo saat ini.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Kapten Seo yang datang dengan kaki terpincang. “Kau akan memberikan Suri perlindungan penuh?”

“Ya.” Jawab Kyu-Hyun tegas. “Kalau perlu aku sendiri yang akan mengawasinya.”

“Ditolak. Kau sudah menyerahkan kasus ini pada Shim Chang-Min, percayakan padanya.”

Kyu-Hyun menggeleng. “Chang-Min memproses seluruh laporan tanpa harus melibatkan namaku di dalamnya karena seperti yang kau tahu, aku tidak ada di dalam data kependudukan. Pekerjaannya sebatas memeriksa dan mengadili, Lee Suri tetap bebas di jalanan yang kemungkinan menjadi lahan bebas si pengeksekusi selanjutnya, aku tidak bisa biarkan hal itu terjadi.”

“Kau terlalu memaksakan kehendakmu, itu tidak baik, bisa-bisa Lee Suri curiga akan keberadaan siapa kita sebenarnya.”

“Apa yang akan kau lakukan jika putrimu berada di posisi Lee Suri? Terancam mati hanya karena kekasihnya adalah seorang mata-mata internasional yang diincar oleh otak-otak kriminal, apa kau akan tetap membiarkannya hanya untuk menyelamatkan organisasi yang bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaanmu nanti jika melihat putrimu terbaring kaku bersimbah darah di jalanan ibu kota?”

I’ve got point.” Akunya sambil lalu.

“Sir,” Mark, pria berkebangsaan Kanada itu masuk dengan tubuh tegap dan mata siaga ke kantor pusat mereka.

“Mark, maaf menganggu waktu liburanmu.” Buka Kyu-Hyun dengan basa-basi.

“Tidak masalah, Sir, aku pun tidak tahu harus melakukan apa di waktu senggangku, terlalu sering bekerja, kurasa.”

Kyu-Hyun tersenyum samar sebelum mengangguk. “Bisa kau tolong carikan siapa saja anggota Busan Psycho yang masih hidup di tahanan dan status mereka sekarang? Aku perlu data terbaru mereka secepatnya.”

Mark menjawab tegas, “Siap!”

“Untuk saat ini, aku hanya memerlukan itu, panggil anggota lain jika kau membutuhkan bantuan.”

“Siap, laksanakan, Letnan.” Mark berbalik dan keluar ruangan.

“Aku yang akan memimpin operasi kali ini,” ucap Kyu-Hyun tegas pada Kapten Seo sambil melihat lutut yang sedari tadi pria itu urut. “Kulihat penyakitmu kambuh, kusarankan kau kembali ke rumahmu dan tidur di bawah selimut hangat daripada duduk di sini dan berusaha memberitahu mana yang harus kuambil dan kutahan.”

Kapten Seo tersenyum geli, “Sombong betul kau, Bocah.” Ia bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Kyu-Hyun dua kali. “Baik-baik.”

***

Sabtu pagi adalah jadwal laboratoriumnya, beberapa mahasiswa tingkat akhir yang melakukan praktik diwajibkan datang di akhir pekan hanya untuk bertemu dengan dokter syaraf ketiga terbaik di Korea tersebut.

Sudah harus datang ke laboratorium pagi-pagi, disambut wajah menyebalkan pengisi materi, mulut yang kejam, hingga tatapan tidak suka ke setiap mahasiswa praktik, tapi mereka tetap saja datang dan meminta jadwal dikosongkan untuk belajar singkat pada Lee Suri. Mahasiswa itu fenomena aneh tahap perkembangan psikologis lainnya.

Gong Yoo bertepuk tangan hebat begitu mendengar penjelasan Suri tentang mahasiswa yang datang hari ini. “A love to hate, huh?” ejeknya. “Kau memang pantas dijuluki manusia yang dicintai untuk dibenci, Suri~ya, sudah tahu dibenci, masih saja ditemui.”

“Yah, namanya juga manusia.” Suri melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil hitam Gong Yoo. “Ingat! Jangan menunggu! Jemput saja pukul 3 sore, mengerti tidak?” dan yang terpenting lagi pagi ini adalah Kyu-Hyun tidak akan mengetahui keberadaannya di sini, ini adalah jadwal baru yang ia ambil setelah bercerai dengan Kyu-Hyun, tidak mungkin pria itu tahu apa yang dilakukannya.

Dengan gerakan hormat, Gong Yoo memberi tanda bahwa ia mengerti perintah si tukang omel itu.

Baru juga Suri melangkah memasuki lobi laboratorium, tangan Kyu-Hyun yang entah datang darimana langsung mencengkeram pergelangan tangan Suri, menarik wanita itu untuk minggir sebentar.

“Hai, bagaimana kabarmu?” tanya Kyu-Hyun antusias. “Kita perlu berbincang.”

“Sekarang sedang berbincang, dan aku rasa sudah cukup berbincangnya, selamat pagi.” Suri berusaha melepaskan cengkeraman Kyu-Hyun dari lengannya.

“Tidak, tidak, aku butuh kau bersamaku selama 24 jam per hari. Aku perlu memastikan kau baik-baik saja.”

“Kau sudah memastikannya sekarang, pergilah.” Suri berusaha memelintir cengkeraman Kyu-Hyun di tangannya. Seharusnya, yang ia lihat di tutorial YouTube tentang perlindungan diri, trik ini bisa melepaskan lawan bicara dengan mudah, tapi kenyataannya tidak semudah itu, kekuatan yang model YouTube kerahkan dan Kyu-Hyun kerahkan berbeda.

What I mean is, we need to go to somewhere there is only me and you.

“Ditolak!”

“Kenapa?”

Kali ini Suri terkesiap, sebesar itukah ketidakpekaan Kyu-Hyun akan perpecahan yang terjadi di rumah tangga mereka hingga dengan mudah memintanya kembali bersama seperti memungut permen yang jatuh dari meja belajarnya?

“Aku tidak tahu pekerjaanmu, apa yang kau lakukan setiap hari hingga pulang dengan luka lebam di mana-mana, atau paling parah kemarin, luka tusuk, bagaimana perasaanmu menjadi buta pada pasangannya sendiri padahal kau bisa melihatnya setiap hari? We walk in circles the blind leading the blind, Cho, don’t you know that?

God!” Kyu-Hyun mengeram frutrasi. “You’re in danger, Woman.

First of all, I’m not in danger. I’m the danger! Second, I am not a woman, I’m a Storm with skin and a bit meat, Fuckass, now, back off!” desisnya tepat di depan wajah Kyu-Hyun.

“Kau butuh perlindungan dari seorang profesional.” Sahut Kyu-Hyun dan hampir membawa kabur Suri pagi itu dari laboratorium sebelum seseorang melepas cengkeraman tangan Kyu-Hyun di pergelangan tangan Suri.

Kyu-Hyun mengenali pria itu, mereka bertemu beberapa kali, memastikan keselamatan Lee Suri selama mereka masih berstatus sepasang suami istri. Bahkan beberapa kali pria itu memaksa untuk menginap di apartemen yang sama dengan mereka. Wajahnya mengeras dan ia melihat Kyu-Hyun penuh kebencian, bisa dimaklumi.

“Ya, dan dia sudah memilikinya satu—maaf, lima maksudku.” Gong Yoo melepaskan tangan Kyu-Hyun dengan sedikit dorongan. “Jadi, terima kasih sudah mengkhawatirkan Lee Suri, aku turut prihatin dengan luka tusuk yang kau alami kemarin sore, Kyu-Hyun~ssi.”

Ya, dia bisa memercayakan Suri pada Gong Yoo sementara ia membereskan kekacauan yang Ryu-Shin buat. Kyu-Hyun mengangguk.

“Tentu, jaga dia baik-baik, nanti akan kujemput dia dari perlindunganmu.”

Gong Yoo mencebikkan bibir bawahnya tidak setuju. “Ah, semoga tidak sampai ada persyaratan langkahi dulu mayatku, ya.” Ledeknya. “Selamat pagi, Cho Kyu-Hyun~ssi.

Kyu-Hyun mengangguk kecil. “Selamat pagi.” Dan pergi meninggalkan laboratorium dengan perasaan tenang. Gong Yoo akan menjaga Suri sebaik mejaga mahkota Ratu Elizabeth, ia tidak perlu khawatir.

“Sama-sama,” sahut Gong Yoo tanpa menunggu Suri mengatakan terima kasih karena tidak akan pernah kata tersebut meluncur dari bibir Suri meski wanita itu dalam keadaan amnesia pun.

Setelah mengibaskan rambutnya sombong, Suri berjalan menyusuri lorong menuju ruang praktiknya meninggalkan Gong Yoo sendirian di lobi utama tanpa diketahui bahwa yang Gong Yoo tahu lebih jauh dari sekedar nyawa Suri berada di ujung tanduk akibat hubungannya dengan orang misterius semacam Kyu-Hyun.

Dahulu Gong Yoo percaya bahwa Kyu-Hyun adalah ketua gangster atau keturunan yakuza yang sedang menjalani kehidupan normalnya, tidak bisa dipungkiri aura mencekat yang Kyu-Hyun timbulkan di beberapa kesempatan saat mereka bertemu memang terlalu kuat untuk seseorang yang mengaku bekerja sebagai programer sistem.

Ia yakin ada sesuatu yang salah dengan Kyu-Hyun, cara pria itu memaksa Suri berada di jarak pandangnya mengindikasikan bahwa yang akan ia hadapi sekarang bukanlah orang sembarangan dan sama sekali tidak berkaitan dengan status ayahnya yang seorang mentri luar negeri.

Dan sepertinya Kyu-Hyun berniat mengajak Suri kembali setelah masalah, yang entah apa ini, selesai. Perlahan sekali Gong Yoo melemaskan pergelangan tangannya, ia berjanji pada diri sendiri, kalau belum ia mengungkap apa pekerjaan Kyu-Hyun yang sebenarnya, sampai mati pun tidak akan ia ijinkan Lee Suri pergi dengan Cho Kyu-Hyun dan melihat wanita itu terpuruk untuk kali kedua.

***

 

Malam itu Pohang dilanda badai musim panas tahunan yang menyertakan rintik hujan serta angit kencang yang mampu menerbangkan tenda-tenda pedangang kaki lima, ramalan cuaca mengatakan bahwa penduduk disarankan untuk tinggal di dalam rumah malam ini untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

Begitu pun Kyu-Hyun yang memutuskan untuk tinggal di rumah kecil satu lantai tempatnya selama ia di Pohang untuk membereskan semua berkas Busan Psycho hingga tenggat waktu pertengahan musim panas ini.

Ia ingat sekali waktu menunjukan pukul 11 malam karena Kyu-Hyun sudah bersiap akan melakukan laporan melalui sambungan video call dengan Kapten Seo yang berada di Seoul ketika ketukan di pintu utama terdengar lirih dan ragu-ragu.

Siaga, Kyu-Hyun meraih senjatanya, ia mengintip tamu tak diundangnya malam itu yang ternyata Min Yoo-Kyung dan putrinya, Kang Ah-Young, yang berdiri di depan pintu dengan tatapan waspada ke sekitar. Baju mereka berdua basah, bahkan wajah Ah-Young pucat juga tubuhnya gemetar akibat kedinginan, mungkin mereka ke sini dengan kendaraan umum.

Setelah memastikan tidak ada yang menguntit Yoo-Kyung, Kyu-Hyun mempersilakan wanita itu masuk ke dalam rumahnya bersama Ah-Young. Ia memberikan handuk pada keduanya, bahkan meminjamkan salah satu sweater rajut miliknya untuk dikenakan Ah-Young.

“Kudengar transportasi umum pun dibatasi jam operasionalnya, dengan apa kau ke sini, Nyonya Min?” tanyanya seraya menyodorkan teh hangat pada keduanya yang duduk dekat perapian.

“Jalan kaki.” Jawab Yoo-Kyung sambil melihat Kyu-Hyun dengan matanya yang memerah. “Kami tidak bisa tinggal di tempat itu lebih lama lagi, Letnan Cho, aku tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa suatu hari suamiku akan kembali dan mengambil paksa Ah-Young dariku.”

Kyu-Hyun terkesiap mendengar pengakuan wanita itu. Jarak rumah tempat Yoo-Kyung dan putrinya bersembunyi memakan waktu 45 menit berkendara dengan mobil, dan dia juga putrinya datang dengan berjalan kaki ke sini? Di malam badai.

“Pukul berapa Anda berangkat?”

“Tiga sore, aku tidak bisa membiarkan ia memengaruhi kalian bahwa Ryu-Shin adalah pria baik-baik yang mencintai keluarganya.” Yoo-Kyung menggeleng cepat. “Dia menyembunyikan sesuatu pada tubuh Ah-Young, dia melakukannya tanpa sepengetahuanku!” Kyu-Hyun bisa melihat jelas kemarahan di mata wanita itu, kemarahan seorang ibu yang anaknya dirusak secara mental.

“Kau harus tenang,” ucap Kyu-Hyun dan menyodorkan roti lapis miliknya. “Makan dahulu dan aku akan membicarkan masalah ini dengan Kapten Seo.”

Tapi malam itu ia berbohong, tidak ada perbincangan dengan Kapten Seo setelahnya, ia menyimpan semuanya rapat-rapat, terlalu banyak orang yang tahu akan membahayakan keberadaan mereka dan kemungkinan untuk bangkitnya Busan Psycho akan lebih besar.

Seharusnya memang sedari awal Kapten Seo tidak seceroboh itu dan menyetujui tawaran Ryu-Shin untuk perlindungan saksi juga identitas baru hanya untuk sebuah Busan Psycho, meski keberadaan mereka termasuk sulit dilacak, tapi dalam waktu 6 sampai 8 bulan lagi Kyu-Hyun pasti bisa mendapatkan semua informasi yang diperlukan.

Dan ketika masalah ini terjadi pun, Kyu-Hyun sendiri yang harus membereskannya, apalagi jika menyeret Lee Suri ke dalamnya, satu goresan saja yang Ryu-Shin buat di tubuh mantan istrinya itu, Kyu-Hyun bisa memastikan Ryu-Shin tidak akan masuk sel dalam keadaan utuh.

“Sir,” Mark siang itu sudah menyelesaikan semua perintah yang Kyu-Hyun berikan kemarin malam. “Semua yang Anda butuhkan sudah ada di sini.” Diserahkannya USB berisi data untuk Kyu-Hyun.

Dari 278 orang anggota Busan Psycho yang tertangkap, hanya 20 orang yang masih hidup dan menjalani hukuman seumur hidup, kebanyakan dari mereka sudah dieksekusi mati 1 tahun setelah tertangkap. Dan dari kedua puluh orang tersebut, tidak ada yang luput dari pengawasan CCTV, mereka ditempatkan di sel isolasi yang hanya diperbolehkan keluar sebanyak satu kali dalam satu minggu, sisanya mereka menghabiskan hari-hari mereka di balik tembok betun berfentilasi kecil.

“Semuanya aman, tidak ada satu tahanan yang lepas atau ketahuan berkomunikasi dengan dunia luar. Aku sudah memeriksa saluran komunikasi mereka, tidak ada sinyal yang masuk ataupun keluar dari tempat ganjil atau nomor ganjil.”

Berarti bukan orang dalam yang berkeliaran sekarang, kemungkinan orang-orang baru yang Ryu-Shin temui dalam masa pengasingannya selama 7 tahun belakangan. Ya, kasus Ryu-Shin memang sudah berumur 8 tahun, kasus yang ia tangani ketika ia masih hijau-hijaunya menjabat Letnan di International Crime Defender.

Belum ada Lee Suri saat itu, mengambil keputusan yang mungkin akan membahayakan nyawanya pun bukan masalah besar saat itu. Bahkan bisa dibilang Kyu-Hyun tidak memedulikan nyawanya selama yang ia bela mampu mengubah kemungkinan membaiknya dunia meski hanya 1%.

Cho Kyu-Hyun, pria kelahiran 2 Februari 1988 tersebut lahir dari keluarga yang memang bergerak di bidang hukum. Ayahnya adalah salah satu pendiri ICD bersama 8 orang teman lainnya, ibunya bekerja untuk PBB, sementara kakak perempuannya menjabat sebagai ketua Badan Perlindungan Saksi periode 2016-2020, mereka sepakat untuk tidak berhubungan melalui jalur umum apalagi memperlihatkan bahwa mereka mempunyai hubungan khusus, akan sangat membahayakan satu sama lain.

Ia tidak perlu mengkhawatirkan anggota keluarganya, ia tidak memiliki catatan apa pun dikependudukan, atau lebih bisa dibilang ia adalah orang mati yang sibuk berkeliaran menyelamatkan nyawa orang lain hanya untuk dilupakan. Kyu-Hyun tidak mempermasalahkan itu, ia selalu menganggap pekerjaan kemanusiaan lebih memuaskan batinnya ketimbang harus menjadi politisi seperti yang ayah Lee Suri lakukan.

“Panggil Lebon, Waterhouse, dan Munch ke sini, briefing 30 menit lagi.” Ucapnya dan berdiri meninggalkan ruang kerja.

***

 

Seorang pria berperawakan tinggi mengenakan pakaian formal memasuki kantin tempat siang ini Suri menunggu untuk diwawancarai olehnya mengenai insiden penusukan di area parkir Seoul University Hospital kemarin sore. Pria itu tersenyum begitu mendapati Suri yang duduk setengah marah di tengah ruangan kantin yang cukup ramai pada jam makan siang.

“Dokter Lee Suri?” tanyanya begitu duduk di hadapan Suri sambil memberi hormat kecil. “Aku Detektif Ha yang janji bertemu dengan Anda hari ini.”

Suri mengangkat alis kirinya menatap pria bermarga Ha tersebut. “Seingatku ketua penyidiknya Detektif Shim, bukan Detektif Ha?”

“Ya, hanya saja Detektif Shim harus ke pengadilan sore ini untuk menghadiri sidang salah satu kasusnya bulan lalu, jadi dia menyuruhku untuk menemui Anda dan dibekali ini,” pria itu menunjukan sederet pertanyaan di ponselnya masih dengan tersenyum. “Dia pria yang amat rapi, Dokter.”

Sesaat mata Detektif Ha memandang kantin yang ramai dan suara mereka yang sedikit tenggelam di antara puluhan mahasiswa praktik siang itu.

“Apa Anda tidak nyaman dengan keadaan ramai, Detektif Ha?”

“Maaf, hanya saja, suaramu sedikit terlalu rendah dan menyulitkanku untuk mendengar ucapanmu, Dokter Lee.”

Suri mengangguk dan berdiri dari kursinya, meninggalkan makan siangnya yang tak tersentuh, hanya kopi hitam yang habis dari menu makan siangnya.

“Kita ke laboratorium belakang saja, sedikit lebih sepi di sana.”

Mereka melewati lorong lainnya yang jauh lebih sepi, terus ke belakang hingga menyeberangi taman yang didominasi dengan nuansa oranye dan bau-bau daun sekarat menguar, menandakan musim gugur tahun ini akan sangat kejam dinginnya.

“Omong-omong sudah berapa lama Anda menjadi dokter?”

“Hampir 7 tahun, ke sini,” ia membuka pintu sebuah laboratorium bertuliskan ‘ortopedi’ di depannya. “Ruangan ini lebih sering dipakai untuk tulang-tulang yang diawet—“

Tepukan di bahu Suri berhasil membuat wanita itu limbung, tiba-tiba saja ia sangat mengantuk hingga menyebabkan kepalanya pening luar biasa. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan ditangkap oleh Detektif Ha.

“Tidurlah, lebih lelap lagi, lebih lelap lagi, dan ikuti kata-kataku, Dokter Lee Suri,” ucapnya pelan pada telinga Suri yang tubuhnya semakin lunglai tak bertenaga. “Kau akan bangun dan berjalan mengikutiku dihitungan ke dua puluh, jangan pedulikan orang-orang yang bertanya padamu, abaikan mereka dan terus saja mengikutiku, mengerti?”

Suri mengangguk lemah.

“Sekarang, bukan matamu dan ikuti aku.”

Detektif Ha berjalan lebih dahulu melewati lorong belakang, menuju parkiran di belakang gedung tempat sebuah mobil sedan bersopir menunggunya di sana. Ia membukakan pintu belakang untuk Suri, menuntun wanita setengah sadar itu untuk masuk dan duduk tenang di kursi belakang sebelum mengangguk dan pergi meninggalkan Laboratorium Seoul University.

“Aku sudah mendapatkannya,” lapor Detektif Ha. “Ya, aku sedang menuju ke sana saat ini, kami aman.”

Mendengar suara yang berbeda, Suri sadar dari pengaruh hipnotis pria yang mengaku dirinya sebagai Detektif Ha, Suri terkaget bukan main begitu mendapati dirinya berada di mobil yang tidak ia kenali masih dengan sandal hotel dan jubah laboratorium yang dikenakannya. Ini sudah pasti bukan keinginnya untuk ikut ke dalam mobil ini.

Ia masih tetap berakting, memperhatikan jalan baik-baik tanpa harus menarik perhatian kedua pria di hadapannya. Pria tersebut tidak bicara sepanjang perjalanan kecuali di telepon tadi yang berhasil memecahkan konsentrasi Suri. Benar kata orang, orang yang mempunyai konsentrasi tinggi memang lebih mudah terkena hipnosis.

Begitu mobil melambat di perempatan jalan, Suri me

lirik pintu depan, melihat apakah dikunci atau dibiarkan terbuka dan beruntungnya, sepertinya hanya dikunci normal, mungkin mereka tidak berangapan Suri akan sadar dari hipnosisnya di tengah jalan.

Dalam hatinya ia menghitung, berjanji di hitungan ketiga akan keluar dari mobil dan berlari sekencang yang ia bisa.

1….

2….

3!

Suri membuka pintu mobil tersebut dan langsung berlari sekuat tenaga, yang diajarkan oleh Gong Yoo adalah berlari ke arah kerumunan, jangan pernah berlari ke tempat sepi, akan menyulitkan orang-orang mengetahui kejadian tersebut dan memperlambat laporan sampai ke tim cepat tanggap.

Suri mengikuti saran Gong Yoo, namun tetap saja, salah satu dari mereka dapat menangkap jubah laboratorium Suri yang berkibar terbawa angin di kelokan. Tubuhnya terpelanting ke belakang.

Tidak menyerah, Suri menyikut wajah dua pria itu sekuat tenaga hingga menyebabkan salah satunya mengeluarkan darah. Keparatnya ia tidak memiliki kuku panjang dan tajam seperti perempuan lain punya, ia tidak bisa mencakar wajah pria tersebut untuk mengalihkan perhatiannya agar ia bisa meloloskan diri.

Baru Suri akan mengepalkan tinjunya, pria yang mengaku sebagai Detektif Ha tersebut langsung mencengkeram rambut Suri kuat-kuat hingga wanita itu melengking tinggi.

Lagi, Suri menggunakan lututnya untuk menendang buah zakar Detektif Ha, namun kekuatannya kalah telak, sebuah bogem mentah mendarat di rahangnya hingga menyebabkan pandangannya gelap mendadak. Ia bisa merasakan anyir darah di mulutnya. Robek.

Dengan mudahnya mereka membopong tubuh Suri yang masih syok karena pukulan tersebut kembali ke mobil, mendorongnya masuk ke kursi belakang sebelum memacu kendaraannya meninggalkan Myeong-dong.

Dari puluhan orang yang berkumpul di jalan, tak satu pun yang

berinisiatif menolong Suri, mereka hanya sibuk menonton, melihat kejadian wanita dikerubuti dua pria berbadan kekar dengan ngeri tanpa mencoba memisahkannya.

Bermodal kamera ponsel, mereka mengecam kejadian di tempat umum tersebut tanpa melakukan hal yang nyata. Suri bersumpah jika ia keluar dalam keadaan hidup-hidup, ia akan memberi tamparan keras pada warga Seoul. Kerja kerasnya selama 7 tahun menjadi dokter, berjibaku dengan nyawa pasien yang sekarat dikhianati begitu mudahnya dengan insiden pemukulan di publik tanpa ada yang berusaha membantu.

Selain rahangnya yang sakit, siang ini pun hatinya sakit.

"Your heart's a mess
 You won't admit to it
 It makes no sense
 But I'm desperate to connect...."

—#1 END—

Tadinya mau saya buat oneshoot aja, tapi kepanjanga, jadi dibuat dua seri aja, ya.

Advertisements

116 thoughts on “#1 Metanoia – Heart A Mess

  1. Ah, jadi Kyu sekarang berlagak jadi pelindungnya Suri nih? Kupikir ini cerita tentang apa, ternyata genre-nya action, hehe. Ngebayangin drama DOTS. Suri-nya dokter, Kyu-nya Letnan. Atau jangan2 Kak Okky terinspirasi dari drama itu? *sok tau*
    Jadi, part selanjutnya langsung menuju ending kak? Kupikir ini bakal jadi long chapter, tp ternyata cuma two shoot aja😂
    Oke deh, ditunggu kelanjutan ceritanya kak. Pengen tau siapa yg nemuin Suri setelah insiden itu😂

  2. Ahh jadi mulai awal suri gak tau pekerjaan kyuhyun yg sebenarnya ..
    Semoga kyuhyun yg bakalan nyelamatin suri , jd mereka bisa cepet balikan ^^

  3. Oh my God, ini luar biasa eonni. Ff mu keren, sungguh. Astaga itu lee suri diculik ? Kyuhyun kemana ? Kenapa tidak cepat tanggap ? Part selanjutnya kapan dipost ? Nggak sabar banget lihat post selanjutnya. Tega banget eonni, memotong part yang menegangkan. Lanjut hari ini ya please hiks hiks 😢.

  4. sialan lee suri keras kepala banget dah. nah kann jadinya gini.
    kyuhyun banyak berkorban. trus suka bnget moment awal mrka ktemu itu. sweet. gk sbar nunggu part 2/end nya. d tunggu yah

  5. Akhirnya ada yg baru… dengan versi suri yg masih sama,keras kepala. haha…
    Tenyata kyuhyun di anggap seperti orang mati ya, tp kenapa bisa ngurus surat perceraian kalo data kependudukannya gk ada? #berpikirkeras
    Terima kasih kak okky yg mau hadir dengan cerita baru. Keep writing! Terus menunggu karya2 mu kak

  6. Keren…genrenya action..suka..suka..ka okky..uhhh..kyuhyunnya jd orang misterius dng pekerjaan yg keren,tapi gra2 pekerjaannya jadi salah paham sm lee suri,semoga stlh ini letnan cho bs jujur sj tentang pekerjaannya sm suri,terus mereka menikah lagi..hehehe..😁😁slalu sk sma penggunaan kata2 mu,ka okky..ngomong2 ka okky umur brp ya?😁😁😁kok bahasanya bs keren gini..

  7. dan ternyata benar tebakan ku apa profesi kyuhyun..kemaren meluk yg manis manis..sekarang kantukq benar2 hilang hhhhh…bingung mo comen apa ya sudahlah..kamu yg terbaik..chingu..aaahh enaknya pggil apa yah hhh secara cuma tuaan aq 8bln aj😁😁😁 biarlah merasa dekat chingu..boleh 😊

  8. Ya ampuuuuuuuunnn,,, seruuu bangeeet cerita
    aku jadi ngerasain sakitnya hari suri
    huuuuaaaaaa,,,, kadang emang ada hal yg gak harus d ketahui utk kebaikan

    D tunggu next chap

  9. hahhhh jadi kyuhyum agen yah eh letnan maksutnya…. ah parah dah tp suri gatau sama sekali ttg pekerjaannya itu dong yah makanya gada pengertian dan tolenrasi di dalam hubungan mereka heuhhhh katanya gongyoo bakal jaganin mana ttp aja kecele huhhh kesian suri jadinya dan kyuhyun bakal jd lebih gila lagi itu tau suri diculik begitu pasti hahhh ditunggu lanjutannyaaaaa

  10. Tanggal pertama ditahun baru…huh luarbiasa. Gilaa,,,,gak nyangka bakalan gila banget ceritanya.
    Syukurnya kyuhyun agen inteligent pemerintahan bukan agen suruhan kaya LBDSM” rada ngeri masalahnya klo bukan dr pemerintahan. Hahhaha trauma berat dari LBDSM. Hhaha.
    Dan nih ceritaa knp harus cuttttt…hhaha tp syukurnya bkalan cuma two shoot bukan chapter jd nunggunya gak bkalan lumutan hhaha. #maaf ngepek. Kkeke
    Dan ku harap ga ada sad ending ya. Hhaha #ancem nih ak, klo sad ending atau gantung nanti ak bwa pulang kyuhyun sma cho bom ren. Hhahaa
    Baik lah. Semoga cepat next story nya dan story lainnya jg. And Happy New Year…..

  11. Tanggal pertama ditahun baru…huh luarbiasa. Gilaa,,,,gak nyangka bakalan gila banget ceritanya.
    Syukurnya kyuhyun agen inteligent pemerintahan bukan agen suruhan kaya LBDSM” rada ngeri masalahnya klo bukan dr pemerintahan. Hahhaha trauma berat dari LBDSM. Hhaha.
    Dan nih ceritaa knp harus cuttttt…hhaha tp syukurnya bkalan cuma two shoot bukan chapter jd nunggunya gak bkalan lumutan hhaha. #maaf ngepek. Kkeke
    Dan ku harap ga ada sad ending ya. Hhaha #ancem nih ak, klo sad ending atau gantung nanti ak bwa pulang kyuhyun sma cho bom ren. Hhahaa
    Baik lah. Semoga cepat next story nya dan story lainnya jg. And Happy New Year…..

  12. kyuhyun versi baru lagi.
    pengn ketawa pas suri kna hipnotis.lain kli kyuhyun perlu ngehipnotus suri biar mau balik kkk
    ditunggu part selanjutnya kak

  13. puas bacanya…keren…Ternyata Kyuhyun agen rahasia, dan Suri tidak mengetahuinya…kog aku berpikiran kalo Kyuhyun Suri gag cerai ya., mereka masih sepasang suami istri gtow…ditunggu part selanjutnya…semoga cepat..hehe

  14. Sumpah ini kerennnnn banget, berasa liat film baca ff disini ><
    Bener2 menarik, lain drpd yg lain mnurut ku,, sumpah specchless ini

  15. Ya ampunn,, suri dalam keadaan bahaya nhe kalo begini.
    Kirain suri sadar pas lagi di koridor rumah sakit ternyata pas udah di mobil.
    Aduhh pasti ntuhh suruhan’a ryu shin,,
    Aduhh kyuhyunn,, kamu harus cepet2 tau kalo suri sedang dalam bahaya.

  16. cowok klo g sangup jagain wanita.a mnding mundur holaaa cho kiyun kau keren…

    belom paham sama peran.a kyuhyun nglinduin negara apa kelompok tertentu kkk

    semngat next part ^&^

  17. Keinget kapten yoo si jin,cuma keinget doang kak,tapi jelas jalan cerita berbeda dan punya karakter tersendiri. Jadi ini bakalan twoshoot kah? Ditunggu kelanjurannya.

  18. Panjangnya sprti sungai han tp suja bgd..
    Jd kyuhyun setuju cerai utk melindungi suri krn kyuhyun seorang agen rahasia.
    Semoga mereka bisa bersama lagi..

  19. yesss another stories with action.
    ini cerita dengan agen versi legal
    bukan agen ilegal pembunuh bayaran 😁

    hmm mulai nebak2 kyuhyun seorang agen waktu dia bilang keselamatan keluarga, bisa nebak suri kerja jadi apa. setahuku kalo dokter biasanya tangannya bau alkohol dan ujung jari ada bekas jahitannya. kyuhyun liat darimananya yak? nahan luka robek lagi. itu termasuk luka medis yg lumayan parah loh

    jadi yg nyamar jadi detektif ha? atau memang sengaja menggantikan detektif shim itu siapa? ga mungkin suruhannya kyuhyun. orang suri kena bogem mentah sampe syok gitu.

    well seenggaknya sebab-akibat di sini sudah dijelaskan. kenapa mereka bercerai dan bagaimana mereka bertemu hehe

  20. ahhh metanoia. apa itu merujuk ke kyuhyun???

    ketika oneshoot jadi twoshoot. hmmm kira2 kak okky bakal ngepost lagi kapan ya????
    jangan tahun baru depan ya kak. hehe

  21. Kyu yg penuh misteri????…..
    Membuat kesalahpahaman antara mereka……. semangat kyu cepat selesaikan smua PR mu dn jelaskan sejelas jelasnya ama suri …..

  22. Akhirnyaa konflik mantan suami istri :”v gue jadi bayangi kyuhyun rambutnya kek di mamacita itu jidat terpampang nyata masyaallah.. Nikmat mana yang kau dustakan. 😂😂 suri hanya manusia biasa.. Yang patah hati dan mempan di hipnotis wkwkw :v kutunggu post selanjutnya kakakkk

  23. Seru banget ffnya, aku udah yakin waktu detektif lain yg nemuin suri pasti itu orang jahat.. kan suri dijagain masak g ada satu pun penjaga yg lihat… penasaran sama masa lalunya kyuhyun suri, apalagi pas mereka baru ketemu kyuhyun langsung tau suri dokter..
    ditunggu lanjutannya 🙂
    semangat 😀

  24. Oh my godddd ff baru
    Aduh kisah Cinta yg rumit hmmm
    Jadi masalahnya suri nggak tau pekerjaan kyuhyun dan terjadi kesalahpahaman tp kyuhyun nggak ngasih tau kayak gitu buat ngelindungin suri
    Masih bingung yg kelompok kim min ho sama ryu sin terus detektif ha itu masih saling berhubungan kah??

  25. Panjang banget ya ternyata, tapi engga kerasa (?) soalnya ceritanya keren abis ka ^^. Awal-awal aku bingung apa yang nyebabin mereka cerai padahal kentara banget kalau mereka itu masih saling suka. Pas baca lanjutannya, ternyata eh ternyata gegara kyuhyun. Terus aku masih agak ganjel yang ada pasien yang katanya anaknya nikah sama kyuhyun terus ditinggalin sama kyuhyun. Nah disitu, aku punya feeling kalau pasien itu boong, dia cuma pengen bikin suri makin benci sama kyuhyun hahaha. Dan aku berharap banget Gong Yoo cepet-cepet tau kerjaan kyuhyun biar dia merelakan suri kepelukan kyuhyun lagi wkwkwkw

  26. Awal awal agak bingung sihh tapi akhir akhir mulai ngerti aku
    Keren banget aku suka sama bahasa yang digunakan itu bikin ff ini tambah kerenn
    Semangat ya buat author

  27. Hwuuuiuaaaaaaaahhh WOW WOW WOW WOOOOWWWW :-O I’M SHOCK :-O 😀
    Wuaaahhh keren banget eonnii…
    Akhirnyaaa ff bru ini dipublish jugaaa..
    Gila kerrn bgt sumppaahh..
    Kyuhyun seorang spy iya kn?? 😀
    lee suri seorng dokterr.. Kereeeeenn…
    Hhmm.. Trrnyata itu yg dismbnyikan kyuhyun yh.
    Tp apkh ah young sma ibunya msh hidup atau bnrrn mtti krn kebakrn..??
    Q tdi baca nya kurg memhmi.. Heheeee 😀
    tapi tapi suri gimanaa????
    Kyuhyun pasti yg nolong iyakn??
    Pasti berkat vdeo yg disebrkn olh org2..

    Wuuuaaahhj gk sabar gmna lnjutnyaaa.. Pleeaassee somgA suri baik2 aja. Sya mh slalu ngeri klo byangin suri terluka tuh. *penglamn baca novel TGS 😛 😀 ) HIHIHII

  28. Hwuuuiuaaaaaaaahhh WOW WOW WOW WOOOOWWWW :-O I’M SHOCK :-O 😀
    Wuaaahhh keren banget eonnii…
    Akhirnyaaa ff bru ini dipublish jugaaa..
    Gila kerrn bgt sumppaahh..
    Kyuhyun seorang spy iya kn?? 😀
    lee suri seorng dokterr.. Kereeeeenn…
    Hhmm.. Trrnyata itu yg dismbnyikan kyuhyun yh.
    Tp apkh ah young sma ibunya msh hidup atau bnrrn mtti krn kebakrn..??
    Q tdi baca nya kurg memhmi.. Heheeee 😀
    tapi tapi suri gimanaa????
    Kyuhyun pasti yg nolong iyakn?? Pasti berkat vdeo yg disebrkn olh org2..
    Wuuuaaahhj gk sabar gmna lnjutnyaaa.. Pleeaassee somgA suri baik2 aja. Sya mh slalu ngeri klo byangin suri terluka tuh. *penglamn baca novel TGS 😛 😀 ) HIHIHII

  29. Dan lagi2 kena tipu, dikirain mereka cerai gara2 orang ketiga, dan mungkin aku yg terlalu berharap dalam cerita kyuhyunsuri akan ada orang ketiga, huft,wkwkwk
    Kak, cerita ttg letnan gini jadi ingat sama ff mu yang cerita ny ttg agen rahasia itu looh, tapi udh lupa namany, wkwk,
    Aku gak berharap loh kak kalo identitas kyuhyun bakal terungkap, punya suami misterius keren kali yah kak, wkwkwkwk,

  30. makin penasaran kelanjutannya. awal mula hubungan mereka retak, bisa dibilang karena suri tidak tau pekerjaan kyuhyun? dan setiap pulang kerumah selalu lebam. kalau dilihat dari ceritanya kyuhyun terpaksa meninggalkan suri, secara ga langsung mungkin untuk melindungi suri. ini kyuhyunnya kemana? suri diculik masa ga ada yang tau..

  31. Eonni maaf jika selama ini aku jadi siders,maaf ya eonni. Ceritanya bagus eonni,gara2 dots aku kabayang-bayang kyuhyun itu polisi,CIA,atau FBI tapi pangkat nya kapten gitu eonni dan suri nya dokter atau kyuhyun nya ceo dan suri nya polisi,CIA,atau FBI gitu, disini karakter suri beda banget yang biasanya suri cuek dengan perasaan sendiri jadi melankolis begini apalagi dinisi suri juga ceroboh biasanya kan teliti banget, ya namanya juga suri beda dari yang laen diibaratkan kayak nemu jarum ditumpukan kain(?)

  32. cukup, saya nyesel baca inih !! udh di niatin nggk akan baca sblum ada kelanjutannya trus diganti sama baca DV ajjh. tapi,, saya terlanjur kangen beratss sama tulisanmu ini, jadi gini nihh efeknya GALAU keras . plisss bgt, yg kedua dan terakhir jangan lama apalagi terlalu lama kaya Spring in the Summer *itu terserah author kalee* yg nunggu nyah setahun, berlbulan blan juga jangan yhh.. hehe. sumpah, yg satu ini belum ada manis manis nyah. ini ff yg something bgt lhh di semua ff mu. okehh cukup, kaya nya saya harus baca pemanis kaya Pansy sama temennya lagi deh.

  33. aku kira suri udah tau kerjaan kyuhyun ternyata belom,tapi si gong yoo kemana sih malah kecolongan ketahuan kyuhyun bakal.dijadiin apa lo nanti,ya udah kak yang penting ditunggu kelanjutan nya kak moga2 aja bisa cepet hehehehe

  34. Keren bnget malah,tu org yg nyulik kejam amat ya,cewek aja dibogem sama mereka
    Ternyata jaringan penjahatnya luas.
    Penasaran banget da ama ni fanfic,pokok e kerenla
    Semangat buat mba okky,dtggu lanjutnya .
    Maaf baru bisa koment*kmren gax tau caranya
    N Makasih sudah menyajikan hiburan ff ini 😘😘😘

  35. Suri kyu cerai krn suri ga tw apa kerjaan kyu..
    Ini percintaan agen rahasia sma dokter yah.. sukaaa..
    Aku kira ini bnyk part. Soalx ga ckp klo cma two shoot aja utk crita mrka.
    😘😍

  36. ah cerita nya seru banget. kasian kyu yg berkorban hati dan fisik. dia harus ngejagain suri walaupun dia akhirnya dibenci. semoga happy ending dan kyu pensiun dini ajadeh. gak tega bacanya. tapi masih mikir nih soal kyu yg udah nikah lagi zzz

  37. Letnan itu tentara atau bukan ya ????

    Kirain td one shoot
    Kirain jg ini fantacy dr judulnya
    Ternyat married life action

    Suka bnget yg gini
    Udh mantan masih tanggung jwb
    Gyu jg mau ngajak nikah lagi ya…bkn ngajak rujuk

    Gentle bnget sih

    Bnyak bnget bodyguard nya suri
    Tp masih aja dia diculik

    Tp gpp biat gyu tambah cemas
    Luka pula surinya
    Tmbha panas gyunyaaaa

    Detektif shim jg knp bs telat datangnya ????

  38. Waah! Such a perfect gift for a new year ! 🎉 Happy new year kak okky wkwkwk.. Seru seru.. Gong yoo sama kyu kemana ya? Aiss.. Jadi karna trlalu bnyk rahasia, mrk harus sama’ tersakiti yaa hiks.. Btw kog kyu katanya prnh nikah sih (?) jengkel +++

  39. Wow
    seriusan laaaaah
    cerita kak Okky ni memang the best kalau masalah misterius2 hahaha

    jadi Kyuhyun itu mata2 ?
    wow
    keren Cho
    tapi bahaya selalu bersamamu
    njiiiiiir demi Lee Suri dia rela pisah
    bukan tak mencintai tapi melindungi
    setelah ini mereka akan kembali seperti tekad Kyuhyun

    huh
    alamak
    gimana kalau suri tau ye siapa Kyuhyun
    dia bahkan bukan org biasa ckckck

    njiiiir kalau kyuhyun tau suri diculik gini mampus lah

    lagian kenapa si chwangs lama datang ckckck

    aduuuuh ditunggu kelanjutannya kak ^^

  40. Kejutan awal taun ada kyuri yeyeye….
    Mau di bawa ke mana tu suri mas? Kyu noh mantan istri lo di bawa orang cepet lu cari takut di apa apain ntar

  41. Satu lagi tulisan kakak sukses bkin jatuh cinta. Dan lagi ini action.. Huee uda deh making klepek klepek, ikutan gregetan Dan tegang bacanya. Gak tanggung tanggung konfliknya juga badai banget.

    Diawal baca tuh udah kepikiran kenapa kyuri harus bercerai. Dan udah pengen cpet cpet tau permasalahannya apa. Pkoknya masih gak rela hubungan mereka berdua harua Kandas… Setelah diawal disuguhi drama perpisahan kyuri. Mulai tengah” udah berasa ketegangannya.

    Dan keaimpulan yg aku dapet. Kyuhyun menikah dengan suri hnya bertahan selama 6bln took. Akibatnya karena kyuhyun yg terlalu penuh rahasia. Sikap dia yg juga berubah kesuri.
    Yg bkin senyum itu fakta kalau ternyta diawal suri minta Pisah itu awalnya cuma sbg gertakan,. Ehh gak taunya kyuhyun setuju gitu aja. Kyuhyun setuju karena dia pkir suri bkalan aman kalau pisah dari kyu, dan tentunya kyuhyun mau menyelesaikan kasus tertabraknya suri itu, yg ternyata kasus itu bner bner rumit.

    Jadi… Orang tua suri juga blom tau pekerjaan kyuhyun yg sbenernya? Huhhh
    Masalah satu boom terselesaikan ini malah ditambah suri pake acara diculik segala. Apa ini juga ulahnya ryushin… Hadehh didalem penjara aka dia boss berulah gimana diluar penjara coba??? Udah pasti itu antek”nya ryu shin..
    Dan soal ibu dan anak yv dibela belain jalan kaki ditengah badai itu apa istri sama anaknya ryu shin??
    Jadi mereka sbnerny blo meninggal krna terbakar itu…. Hohoho

    Next part ditunggu kak, fighting!!!

  42. Pertama baca ini karena tertarik begitu lihat 15rb kata lebih wow panjang banget tp ternyata bersambung…
    Belum paham betul kenapa Kyu meninggalkan Suri adalah keputusan terbaik tuk orang yg sangat saling mencintai dan 6 bulan pernikahan sepertinya Kyu blm berusaha sangat. So perlu pembuktian keras klo dia mau balikan lg ma Suri di balik fakta bahwa Suri juga memang ga bisa benci ma Kyu 😘

  43. Cerita ini bnr2 menegangkan. Wahhhh suri salah faham ma kyu n kyu tdk mw memberitahu suri krn merupakan rahasia negara. Kyu u hrs jujur ma suri agar suri juga mudah n siaga dlm menjalani kehidupannya. Sekarang selamatkan suri dr musuh2 mu yg ingin balas dendam thd kyu.

  44. Ya ampunn,,lee suri dlm keadaan bahaya nich..
    Mrka tau jg kelemahan kyuhyun,,
    Ssmoga pengawal suri atau si gong yoo bisa mengetahui jika suri di culik…
    Ya ampunn kyuhyun,,kamu dmn,,kacian surinya.

  45. Gilaaaaaa keren ini, seneng banget waktu ada cerita baru hehe
    Bikin penasaran nih
    Next part ditunggu ya thor
    Semangat buat authornya 😄💪🏻💪🏻

  46. seperti biasa ka okky selalu nyuguhin cerita cerita yg keren dan selalu bisa bikin pembaca terbawa ke alur cerita, di awal cerita dibikin bingung kenapa kyuri pisah lalu semakin masuk ke cerita dibikn tegang dengan kisah mereka, di bikin penasaran kenapa musuh musuh kyuhyun sampek segitu dendamnya masalah apa yg coba di selesain kyu, dengan gaya bahasa yg ringan seperti biasa ff ini keren untuk ff di awal tahun 😁😁😁
    tetep semangat ka okky ditunggu next chapter dan ff ff lainnya 😊

    ps: aku lupa idku karna udah lama gak baca ff terutama ff di blog ini padahal readers lama 😌 jadi pake id ig aja hehe

  47. seperti biasa ka okky selalu nyuguhin cerita cerita yg keren dan selalu bisa bikin pembaca terbawa ke alur cerita, di awal cerita dibikin bingung kenapa kyuri pisah lalu semakin masuk ke cerita dibikn tegang dengan kisah mereka, di bikin penasaran kenapa musuh musuh kyuhyun sampek segitu dendamnya masalah apa yg coba di selesain kyu, dengan gaya bahasa yg ringan seperti biasa ff ini keren untuk ff di awal tahun 😁😁😁
    tetep semangat ka okky ditunggu next chapter dan ff ff lainnya 😊 masih setia nunggu karya karya ka okky yg lain

    ps: aku lupa idku karna udah lama gak baca ff terutama ff di blog ini padahal readers lama 😌 jadi pake id ig aja hehe

  48. Greget, satu kata yang bisa ngungkapin rasanya waktu baca ff ini. Ditunggu banget cerita berikutnya.
    Maafkan daku, baru bisa comment lagi sekarang. Habis kehilangan ingatan tentang password😭
    Keep writing, tetep setia mantengin blog ini sejak 2012!

  49. Aku pikir suri ma kyuhyun cukabteroibat cinta mengebu dan terburu buru…kaya drakor apa tu yg dua2nya calon dokter pas mereka udah pisah dan nglanjutin pendidikannya di ketemuin lagi di tpat kerja.

    Ternyat kyuhyun agen rahasia toh.

    Mog maslahnya cepet kelar dan hub mereka bisa jalan lagi dengan normL.

    Aku kok curiga saa pemimpin seo ya,??

  50. cerita apalagi iniiii…
    sempet gak rela baca bagian awalnya karna udah disuguhkan perpisahan kyuhyun-suri..
    tapi makin dibaca lagi, makin dibaca lagi, makin gemeessss sama ceritanya..
    tahun baru, cerita baru…

  51. Deg degan bacanya pas bagian suri branten sm org yg pura2 jd detektif. Iihh gregetan knp gada yg nolongin sihhh
    Kereeen btw hehe

  52. berarti pekerjaan kyuhyun masih misteri bagi lee suri,kok bisa gong yo tidak mengawasi lee suri sampe sampe lee suri dihipnotis oleh detektif Ha,semoga suri gak kenapa napa

  53. yahhh mau dibawa kmna tu suri? semoga kyuhyun segera tau dan menyelamatkannya. dan semoga kyuhyun bisa beeterus terang pd suri ya mungkin sedikit jg gak pa2 biar suri gak trlalu gamang dgn profesu kyuhyun. setidaknya suri tau alasan kyuhyun yg selalu plg dlm keadaan babak belur.

  54. Pertamanya bingung, kenapa mereka harus bercerai……eh ternyata karena kyu lebih ingin melindungi suri dari bahaya……..yg masih buat Aq penasaran, itu beneran CHO KYUHYUN yg mantan suaminya suri yg menikahi wanita spanyol??? Beneran?? Atw hanya pengalihan perhatian kyuhyun terhadap para musuhnya….atau apa??? Part 2 semoga bisa menjelaskan 😂😂😂

    Buat authornya tetep yaaaaa ai lop yuuuuuuuu dan selamat tahun baru…..semoga cepet nikah yaaaaaaaaa dan semakin banyak “anak2” baru yg keluar dari hasil imajinasimu hahahhaaaa😄😄😄😄😄😄😄 sekian terimakasih 😘😘😘

  55. dari kemaren nunda2 buat baca karna pas awal2 baca ko nyesek banget si ini bocah dua cerai? alhasil di stop dulu smpe siap buat baca *lebay dan akhirnyaaa kelar jugaa
    oh jadi selama nikah suri ga tau pekerjaannya kyuhyun? tapi knpa harus pisah si demi melindungi suri cho? kasian betul si suri mati2an move on dari kyuhyun eh setelah 4thn nongol dihadapan suri dengan luka tusuk haha sabar sur
    cuma berharap mereka bisa balikan lagi tapi ga mau terlalu berharap bnget takut ga kesampean hehe
    itu yg nyulik suri pasti suruhannya ryu shin deh gemes banget si pengen cabik2 jadi samaballado

  56. Oho jdi gitu toh crita’a mereka pisah, kirain ada orang ketiga walopun itu tdk mgkn karna y terlalu umum😂😂😂
    Cie yg jdi agen rahasia yg skang mo ngelindungin ‘mantan istri’ 😄😄😄
    Jdi kronologis’a kek gitu pas kyu bru operasi dah ngejar” suri kkk
    Hooh sialan betul y mereka dah tau ada ‘penyerangan’ ama wanita pula mlh g ada yg mo nolong ckckck
    Kyuhyun cpet selametin suri klo u telat tau sendiri pan akibat’a apa😊😊😊
    Cuma twoshoot y ini??? Gpp lah yg penting bsa bca kisah KyuRi😄😄😄
    Nunggu yg vampir” itu y oki😂😂😂

  57. suri terlalu menyepele situasi dan kondisi yg ada padahal dy jelas² bisa jadi target org jahat krn dy anak org penting terlepas dr dy org yg dicintai kyu seorg agen khusus yg berurusan dgn org² jahat ,dan sekarang dy diculik trs pengawalnya gak ada yg tw sedikitpun haduhhhh jangan sampai suri kenapa²,kyuhyun moga bisa nolong.

  58. Tenyata kyuhyun terpaksa melepaskan surii karena pekerjaannya bisa mengancam nyawa surii.
    Berharap surii bisa diselamatkan oleh kyuhyun atau pengawalnya.

  59. its amaziiing eonni hihi aku deg degan sendiri coba, apalg pas bagian suri di culiiik wooow bikin bertalu aja 😀 kyukyu selamatkan suri!!!

  60. Kebayang Kyuhyun yang wajahnya bersinar-sinar dengan senyum licik separuhnya itu waktu dia ngejar2 Suri 🙂 Rayuannya itu loh! Suri emang pantes bersikap gitu hahaha.

  61. Yah, cuma dua seri ya? Kirain bakalan jadi long story kayak LBDSM wkwkwk *gampar aku aja*
    Emang dicerita itu kalo ada orang yang dipukulin apa diseret orang sambil minta tolong tu malah cuma diliatin, kalo bawa hp ya cuma direkam. Secara nggak langsung ini mengingatkan kita kalo ada kejadian kayak gitu segera telepon pihak berwajib, lebih ada manfaat wkwkwk 😂
    Btw sekarang aku penasaran lanjutan ceritanya. Aku nggak mau komen keseluruhan dulu, soalnya ceritanya belum selesai. Gapapa kan ya kak? 😊
    Keep writing kak, next nya ditunggu, tapi jangan buru-buru biar hasilnya maksimal 🙂
    Semangat kak!

  62. Jadi tenggelam lg sm film DOTS,pasti terinspirasi dr sana ya kak?Tp pekerjaan kyuhyun lebih ekstrim. Trma ksh untuk hadiah ff tahun barunya kak,sungguh menyenangkan!

  63. Standing applause for you, kak okky. Suka banget sama jalan ceritanya yang super gak mainstream. Sentuhan aksi dan romance yang gak bikin enek sukses banget buat saya terpesona*lebay. Freaking cool kak 🙂 #twothumbsup. I will wait for the next part kak 🙂 keep writting

  64. This is cool!

    Dr baris pertama smp terakhir kualitas narasi & dialog nya consistently good 😊 Rapih dan detil bgt tp gk bosenin. Penasaran, deg2an plus geregetan …

    Sabar menanti lanjutannya 😉

  65. Wow wow wow ada gong yoo ahjussi
    Rumit ya klo jdi detektif ato semacamnya kesian sma suri nya 😥 dan keparat nya si kyuhyun yg mati2an suri lupakan dateng gitu aja kaya ga terjadi apa2 haha gimana suri ga marah

  66. aku penasaran sama maksud dr metanoia????
    Baca bagian atas aku mikirnya kyuhyun itu tipe brengsek karna tau mereka emang lg berantem dan tau suri marah akut tp dia ga berusaha buat nenangin suri atau sekedar ngerayu suri tp setelah baca sampai tengah aku faham kenapa kyuhyun milih pisah sama suri, niatnya kyuhyun mau jauhin suri dr org jahat yg tau statusnya kyuhyun sebagai apa tp 4 thn itu kaya percuma stlh datengnya dr. Ha itu, duhh dia siapa sebenernya???
    *aku seneng ini cuman twoshot karna jujur udah penasaran banget sama endingnya, semangat buat part 2 nya kak Okky 😀

  67. Udah ga aneh kalo ff buatan kamu isinya keren
    ah pokonya suka karakter Suri di sini
    kaya berasa gitu jadi wanitanya
    dan punya mantan suami Letnan
    yah kalo Cho Kyuhyun sendiri sih udah paten di imajinasi emang keren
    mau jadi Letnan atau mata2 atau apa ajalah yg ada actionnya
    iya intinya cerita kamu keren
    mau oneshot chapter series apa aja ga masalah
    yg penting ga digantungin
    udah itu aja. hehe

  68. Pengen garuk tembok sampe berdarah-darah rasanya, pengen marah tapi ntah marah karna apa, hahaha #gila
    Kumohon dengan sangat kakak, eonnie author-nim segeralah publish part selanjutnya, rasa jengkel saya dan penasaran ama kelanjutannya sampe bikin dada saya panas, #emanggilaorangini,
    #maapkanreaderyanggilaini

    Keep Writing kak!!!

  69. awalnya aq ngg ngerti knp lngsung cerai tp akhirny aq mngerti demi melindungi suri..ff mu memang daebak kereeen bngeeett..smoga semuany selamat biar kyu m suri blikan lgi dn hidup bhagia..amiin

  70. Suka kalo Suri karakternya gini. Sedih aja hidupnya suram untung keluarganya gak. Ini part 1 aja panjang bgt ditunggu next part

  71. Kyu kerjanya keren bgt!!! jadi mata-mata bertaraf internasional!!! hehehe

    Suri di culik??!!! dan dr banyaknya orang yg menyaksiakan, mereka g ada yg hati nuraninya tergugah !!! bener-bener deh malah direkam doang!!!

    next part ditunggu ka!!! selalu semangat!!!

  72. Gak nafas…
    Boong… cuma nahan nafas aja…
    AAAAAARRRRRGGGGHHH……
    GILA SUMPAH….
    Punya feell yg buruk sm tu bapak2. Sapa dh namanya…pokoknya yg ngaku anaknya kawin sama kyu. Rasanya emang sengaja mancing.
    Kayanya tu si bapak termasuk antek yg di cari kyu.
    AAAAAAARRRRRGGGGGHHHHHHH….
    Penasaran lanjutannya….. 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

  73. Yaaaa ampunnnn jd g sabr nunggu lanjutnya 😅😅😅, kyuhyun sosweeeet bangettttttt semoga ntr yg selamatin kyu y , ah n semoga semua kesalahpahan cpt selesei n happppy ending yyyy , kak jngan lm2 yyyy lanjutny 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏pleaseeeeeee ok

  74. lee suri emang dasar keras kepala ya? tapi nggk apa” dahh.. yang penting udh dapet feel nya..
    keren banget dahh pokoknya..

  75. Awalnya aku tidak tau dimana letak konfliknya, tapi semakin kebawah aku paham kalo sifat aslinya suri terungkap. Suri-aah rambutmu masih sama seperti saat terakhir ditinggal kyuhyun, mungkin aku harus menamparmu agar kamu sadar.
    Tetep berkarya yaaa, aku selalu mendukungmu.

  76. Woahh menegangkan, kenapa sih mereka ngincar suri,
    Kyu berada dbawah naungan badan intelligent g sih?
    Seandainya suri tau kyu yg sebenarnya, pasti ga akan bersikap dingin sm kyu

  77. Krennn bgett…. Bkin tegang, bkin pnasaran…. D tnggu kelanjutannya
    Semangat trus buat kakak pnulisnya…. 😊😊☺☺

  78. Ah… entah kenapa baca ini jadi ingat DOTS yg mana pekerjaan pemeran utamanya sangat berbahaya, tp di sini Letnan Kyu sebagai mata2 Internasional. Kasusnya tidak mudah diselesaikan, tapi untungnya cerita ini tidak akan banyak episodnya jadi penasaran pembaca akan segera terjawab di part selanjutnya.
    Umur Suri sebnarnya 29 apa 27 kak, karena di awal 29 tapi ketika Kyuhyun mengamati mantan istrinya itu 27. Ah, sepertinya laki2 yg berobat ke Suri dan mengatakan anaknya ditinggalkan Kyuhyun tsb adalah Kapten Seo yg tidak ingin Kyuhyun keluarga dr pekerjaan lapangan karena Suri.
    Tulisan kak Oky selalu bikin baper deh, bikin pembaca benar2 hanyut dalam ceritanya.

    1. What a satisfying analysis of you! Congratulations you’re the first that make a right comment. Let me know your socmed, haha.
      Soal 27 atau 29, sebenernya 29, cuma aku lupa ganti yang 27 itu, blunder.

  79. demi apa dong, gong yoo yang keluar di imajinasi saya si goblin yang kehidupannya abadi yang super kocak gituu 😄 wkkw
    terus disini dia perannya yang jadi penjaga serius gitu, jadi awalnya ketawa -ketawa sendiri bayangin Gong Yoo main serius. Tapi berkat penulisannya yg keren, jadibisa bayangin lah si ahjushi ini jadi penjaga
    nice keren kak ~~

  80. Hahhhhhhhh…. bernafas dulu 😥 selesai dalam waktu 1 jam haha

    Setelah sekian lama akhirnya aku bisa ngumpulin wangsit buat baca ff KyuRi lagi.

    Aku ngga tau kenapa nangis pas Kyuhyun berjalan di koridor sambil megangin perutnya yang tertusuk dan minta tolong sama Lee Suri, disitu rasanya kaya nonton drama yang

  81. -scene paling menyedihkan ketika melihat si pria sekarat dan meminta bantuan sama si perempuan yang paling dicintainya.

    Bagus ih ngga selalu menegangkan. Romance ada, action ada, comedy, hurt-nya juga aja, jadi ngga monoton hehe
    Gokilnya sih pas Suri numpang dimobil Taemin, dan kurangajarnya itu melewat 100 dari apartemennya 😂

    Oya kalau laki-laki yang berobat ke Suri adalah kapten Seo berarti dia tau dong kalau dulu suami Suri itu Kyuhyun. Berarti dia cuma pura-pura ngga tau didepan Suri.

  82. Kisah yg sgt menarik…. selama baca aku bnr2 mrasa masuk ke ceritanya, cerita sepanjang ini yg biasanya bkin bosen baca, tp gak berlaku buat yg satu ini… bner2 keren lah!!

  83. Huh kayanya udah setahun lebih ga mampir ke blog ini? :3 aku cuma baca lewat novel2 mu hihihi and ini fanfic pertama yang aku baca lagi hehehe as usual pengelolaan kata(?) ka Okky itu beda aja, menurut aku’ enak banget di bacanya. Feelnya ngeh banget.

    Over all ceritanya bagus meskipun awalnya aku bingung sih xD

  84. tegang bacany hrs ektra teliti bcany efek ffny yg pnjng bnerrrr
    jd pekerjaan kyuhyun tdk di ketahui suri hanya go yoo #klw gslh nma
    plus ayahny suru yg tau pkrjaan kyuhyun
    msh ambigu sama perckpn suri plus pasien.y yg blng putriny di tnggl suaminy yg tak lain adalah cho kyuhyun
    suri di culikkk
    smga cpt ada yg nlong

  85. Kyuhyun itu benar2 ya emang pernikahan itu sebuah lelucon huh di buang lalu dipungut kembali >_< 😦
    Jadi awal bertemu suri dan kyuhyun seperti itu hmmm
    Jadi pekerjaan kyuhyun itu tentara kah? tp sebagai sebagai agen rahasia??? emang dulu pas mereka menikah tidak tau pekerjaan kyuhyun yang sebenarnya? Ah kyu eottoke? suri sudah sangat kecewa 😥 Ah pasti tuan Ban itu musuhnya kyu kan? kenapa bilang bahwa kyu habis menikah dengan putrinya??? wkwkek lee suri tersiksa melihat pemandangan yang begitu menggiurkan 😀 sabar suri tenang ada kyuhyun 🙂 Huwaa suri ditangkep sama siapa? mana kyuhyun?? semoga suri selamat dan bisa menerima kyuhyun kembali 🙂

  86. waahhh sangking srius bacanya , mama aku manggil dah 5 kali nda ku gubris hahaha
    pdahal bru baca part 1nya , sumpah thor keren bingitss 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

  87. Amat disayangkn juga si mreka bercerai, aku msh blum trllu tau sbnrnya apa mslh mreka tpi dri sini aku udh bsa mnyimpulkn mreka bsa bercerai, krn smpe saat ini pun suri jga msh blum tau apa pkerjaan si upil, gk krasa 2jam aku mlototin nih ff saking mngkgayatinya..dan diakhir2 dibuat tegang, ayo cho slmetin surimu.!!

  88. Oh jadi suri gatau pekerjaan kyu selama ini tuh apa ?
    Dan kyuhyun rela gitu aja cerai dari suri? Kenapa dia ga jujur aja ? Toh kalo masih punya status jadi lebih gampang ngejaga suri 😂
    Agak greget ya sama kyuri mereka masih sama sama cinta tapi….
    Duuuh >< suri larinya kurang cepet. Kenapa ga dicopot aja itu jubah 🙈

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s