#2 Metanoia – Inside Out

metanoia-new-ok

Suri masih ingat betul ketika Kyu-Hyun membawakan cangkir kertas berisi cokelat panas miliknya dengan tangannya yang baru saja dijahit. Pria itu mengatakan tidak enak membiarkan Suri menunggu selama 3 jam penuh di rumah sakit hanya untuk mengurusnya yang terluka.

Tadinya, Suri ingin menjahit sendiri luka Kyu-Hyun toh hanya 15 senti meter dalam sekejap ia bisa menyelesaikannya, tapi saat itu ia ke Milan untuk berlibur, ia tidak membawa peralatan medis apalagi anastesi tidak dijual bebas di apotek, apa boleh buat, Suri dengan tergagap sambil didiktekan aturan lalu lintas juga jalan menuju rumah sakit terdekat oleh Kyu-Hyun yang duduk di sampingnya, mengemudikan mobil Kyu-Hyun agar luka pria itu lekas dijahit.

Mereka tidak menuju hotel tempat Kyu-Hyun menginap, menurut penuturan pria itu, mobilnya yang terparkir di ujung jalan jauh lebih cepat dicapai untuk menghentikan pendarahan di lukanya.

“Jadi kau ke Milan untuk liburan tanpa punya tujuan jelas?” tanya Kyu-Hyun sambil duduk di sisi kanan Suri, mereka menyaksikan penampilan musik jalanan di alun-alun kota tempat orang-orang berpakaian modis lalu lalang.

Sesaat Suri melirik pakaian yang Kyu-Hyun kenakan, meski terlihat gelap dan hanya kemeja dibalut mantel, sudah pasti yang melekat di tubuh pria itu bukan barang murahan. Sementara dirinya, Suri melongok pakaiannya yang terkesan asal, ia membelinya asal Natal tahun lalu karena tak sempat berbelanja, memalukan sekali.

Suri mengangguk. “Aku hanya perlu menjauh dari pekerjaanku, menjauh ke tempat yang tidak bisa dimintai tolong dan datang 30 menit setelahnya ke rumah sakit.”

Tawa Kyu-Hyun berderai. Jenis tertawaan yang membuat hati wanita meleleh bahkan mimisan, kata Gong Yoo, kalau wanita sudah merasakan hal seperti itu dari seorang pria yang bahkan tidak melakukan kontak fisik dengan wanita tersebut, tandanya wanita itu sedang jatuh cinta, atau paling tidak, tertarik.

“Bagaimana denganmu?” Suri balik bertanya. “Kenapa bisa di Milan dan mendapat luka robek di lengan?”

“Aku tadi bertemu perampok, mereka ingin merampas dompetku, kupertahankan mati-matian, dan mereka hampir menusukku, tapi tidak kena perut.” Tuturnya gembira diiringi senyuman hangat, seolah tidak kena perut adalah prestasi besar dalam melindungi diri, padahal kalau luka robek barusan tidak cepat ditangani, mungkin Kyu-Hyun akan pingsan karena kehabisan darah atau meninggal karena kemungkinan infeksi.

Tidak ada yang menyangka tutur polos barusan digunakan Kyu-Hyun untuk menutupi kejadian bahwa hari itu ia baru saja melakukan misi dan membahayakan nyawanya dengan maju sendiri tanpa menunggu tim datang hingga terpaksa mendapat luka robek di lengan. Ketika bertemu dengan Suri, Kyu-Hyun sedang dalam perjalanan menuju dokter ICD yang tinggal di meeting point mereka di Milan.

“Bukannya hal seperti itu wajib dilaporkan ke polisi, ya?”

Kyu-Hyun menggedikkan bahunya santai. “Yang penting bagiku, aku tidak menderita luka serius.” Perlahan sekali Suri memerhatikan cara pria itu menyesap cokelat panasnya seolah cairan tersebut tidak panas sama sekali. “Omong-omong, berapa umurmu sebenarnya?”

“22 tahun.” Jawab Suri singkat dan memeriksa cokelat panas miliknya kemudian mengaduh, masih panas, lidah si Kyu-Hyun itu saja yang tidak normal mungkin.

“Wah, kukira kau Noona.” Ledek Kyu-Hyun kembali tertawa dan disambut dengan decakan Suri.

“Kau menyebalkan, ya?”

Samar sekali Suri bisa mendengar suaranya sendiri di kepalanya sebelum tiba-tiba ruangan semakin dingin. Ia bisa merasakan sepatunya basah dengan tubuhnya yang mengigil hebat.

Perlahan sekali Suri mencoba membuka matanya, ruangannya gelap, terlalu gelap dan… tangannya meraba sekitar, mendapati ruangan yang ia tempati terbuat dari material kaca yang sempit, bahkan ia tidak bisa merentangkan tangan seluruhnya. Samar ia mendengar suara gemericik air yang bertambah nyata kelamaan sebelum ia menyadari bahwa ia duduk meringkuk di pojok ruangan dengan genangan air yang sudah merendam tubuhnya sebatas mata kaki.

Suri buru-buru bangkit dari duduknya, meraba bagian atas ruangan tersebut yang ternyata ditutup oleh kaca juga. Ia terperangkap di sebuah kotak kaca yang terisi air tanpa jubah labroratoriumnya dan tanpa ponsel yang tertinggal di kantor.

Tiba-tiba ruangan dipenuhi dengan cahaya hingga membuat retinanya terasa sakit dengan peningkatan intensitas cahaya yang drastis. Refleks Suri mengatupkan matanya sebelum perlahan sekali membukanya, membiasakan retinanya dengan intensitas cahaya yang masuk.

Sekarang barulah ia tahu ada di mana dirinya. Sebuah gedung tak terurus dengan lima lampu sorot menghadapnya, tepat lurus dengan kotak kaca di mana ia dikurung terdapat sebuah meja dengan sebuah laptop juga kamera yang mengindikasikan bahwa kamera tersebut merekam. Anehnya, Suri berbalik melihat sekeliling, tidak ada seorang pun di sana. Ia sendirian.

“Oke, jadi ini yang namanya disandera?” ucapnya pada diri sendiri, berusaha untuk tenang dan percaya bahwa Gong Yoo akan menemukannya sebelum air yang terus mengisi dari lubang di bawah kakinya memenuhi kotak kaca berfentilasi lima titik dengan masing-masing diameter 3 senti meter.

Sementara itu, mungkin ia harus mengingat-ingat di mana ia berada sebelum ia dibius pingsan di dalam mobil setelah insiden pelariannya di Myeong-dong. Seharusnya memang ia tetap tenang dan mengikuti ke mana ia di bawa, kalau tahu dirinya di rekam yang kemungkinan rekamannya di berikan pada orangtuanya atau orang yang membuat dirinya terperangkap di sini.

***

 

Kyu-Hyun langsung meninggalkan ruang rapat begitu sambungan telepon yang hanya berlangsung lima detik terputus dan digantikan dengan siaran langsung paling mengerikan seumur hidupnya tersambung melalui fasilitas video call.

Tanpa mengatakan apa pun, Kyu-Hyun langsung menancap mobilnya menuju tempat terakhir kali ia melihat Suri. Ia bersumpah jika melihat Gong Yoo yang lalai menjaga Suri, ia akan mematahkan kaki pria itu. Pagi tadi, dengan arogannya Gong Yoo mengatakan bahwa ia bisa menjaga Suri, tapi justru wanita itu entah berada di mana dan terancam tenggelam kalau ia tidak segera bangun dari pingsannya.

Laboratorium Seoul terlihat sedikit lebih ramai ketimbang pagi tadi, baru Kyu-Hyun keluar dari mobilnya, Gong Yoo yang seperti biasa entah datang darimana langsung saja melayangkan tinjunya ke wajah Kyu-Hyun, meski pada akhirnya Kyu-Hyun mampu menghindari tinju Gong Yoo.

“Kau bawa ke mana Lee Suri?” tanya pria itu marah.

“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa tidak ada kau di tempat ketika kejadian tersebut berlangsung? Ke mana arogansimu pagi ini yang begitu menyebalkan?” Kyu-Hyun balik bertanya sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia tahu dengan sadar bahwa argumen kekanakan semacam ini tidak akan menyelamatkan nyawa Lee Suri lebih cepat, tapi ia butuh sesuatu untuk dipersalahkan. Ia melangkah mendekat, menyerudukkan ujung sepatunya pada ujung sepatu Gong Yoo. “Aku titipkan ia padamu pagi ini untuk dijaga, apa kau salah satu dari mereka? Berapa mereka membayarmu?”

Chang-Min yang datang dari resepsionis lobi utama tergopoh-gopoh melerai adu argumen yang sebentar lagi mungkin akan berubah menjadi adu jotos. “Boys, stop it already!” ucapnya.

Dan ini adalah orang yang harus dipersalahkan lainnya, bukankah harusnya Chang-Min yang datang untuk memeriksa Suri?

“Kenapa kau tidak datang siang tadi?” tanya Kyu-Hyun dengan tatapan menghakimi pada Chang-Min.

“Aku datang, janjinya adalah 20 menit sebelum makan siang berakhir, asisten Suri sendiri yang menghubungiku. Ketika aku sampai, Suri sudah tidak berada di sini dan di daftar tamu, seseorang bernama Detektif Ha datang ke sini untuk menemui Suri sebelum aku.” Jelas Chang-Min buru-buru.

Gong Yoo mengalah, ia tidak akan menuruti egonya kali ini, lebih cepat menemukan Suri adalah tujuan utamanya, meski itu harus dengan bantuan Kyu-Hyun sekalipun. Ia menyodorkan ponselnya, memperlihatkan video yang diunduh di internet sebelum ia memerintahkan seluruh staf lainnya memblokir video tersebut.

“Aku membelikannya makan siang, dia tidak pernah suka makanan rumah sakit, saat aku kembali, aku tidak menemukan apa pun kecuali CCTV Suri yang berjalan lebih dulu dengan seorang pria yang menggandeng tangannya ke luar melalui pintu belakang. Dan itu…” ia menunjuk ponsel miliknya. “Video Suri 30 menit lalu yang tersebar di internet, sudah kublokir,” tambahnya cepat begitu melihat kemarahan di mata Kyu-Hyun. “Lokasinya di Myeong-dong, dari jangka waktunya video itu direkam dan kau mengetahui Suri hilang, sepertinya mereka tidak meninggalkan Seoul.”

Rahang Kyu-Hyun mengeras begitu menyaksikan wanita yang paling ia jaga selama ini ditarik dengan burtalnya ke tanah, dikerubungi dua pria yang, jika diperlukan, tidak akan ragu mematahkan leher Suri saat itu juga, serta bagian paling akhir yang hampir membuat Kyu-Hyun mematahkan ponsel Gong Yoo dalam satu kali genggaman adalah ketika salah seorang dari mereka mendaratkan tinjunya ke pipi Suri hingga wanita yang tadinya sedang mengambil ancang-ancang untuk kabur langsung telentang syok di jalanan. Pupil Suri berputar ke belakang dan darah langsung terlihat di sudut bibir wanita itu, pipi bagian dalamnya pasti robek atau paling tidak rahangnya akan mengalami trauma selama beberapa hari, berharap saja tidak ada gigi yang patah.

“Tidak ada yang menolongnya sama sekali.” Gumam Chang-Min pahit begitu melihat video tersebut.

“Apa yang kau harapkan dari Korea?” balas Gong Yoo. “Kau punya info lain yang bisa dibagi?” tanya Gong Yoo pada Kyu-Hyun yang nampak sebentar lagi akan meledak.

“Ya,” kali ini Kyu-Hyun gantian memperlihatkan video siaran langsung di ponselnya, Suri kali ini sudah terbangun, meraba-raba sekitarnya dan menyadari keberadaan air yang perlahan memenuhi dasar kotak. “Dia di sini dan tidak satu pun dari kita yang tahu di mana ini, aku sudah melacak sinyalnya namun…, tidak semudah itu. mereka penjahat profesional, tujuan hidupnya memang untuk menghilangkan jejak. Ponsel Suri kurasa tertinggal di ruangannya, tidak membantu.” Tutur Kyu-Hyun.

“Kalau begitu, di mana tempat pabrik sekitar Seoul? Kita mungkin bisa memeriksanya mulai dari—“

Tiba-tiba saja ruangan tempat Suri disekap terang benderang. Kyu-Hyun mengalihkan pandangannya, memerhatikan Suri yang menutupi wajahnya dengan tangan kanan, menghalau intensitas cahaya yang tiba-tiba.

Meski hanya di video, Kyu-Hyun bisa melihat dengan jelas luka memar membiru di pipi kiri Suri, terdapat darah kering di sudut bibir Suri, dan tubuhnya mengigil kedinginan dengan kemeja putih gadinya yang basah.

Orang normal seharusnya akan berteriak meminta tolong begitu tahu ia berada dalam bahaya, bukan justru diam memerhatikan keadaan sekitar dengan mata setengah menyipit dan tubuh mengigil, membuatnya seperti wanita linglung.

“Lee Suri?” panggil Kyu-Hyun pelan dan Suri memperlihatkan reaksinya, wanita itu menoleh ke sekelilingnya. Dia mendengarku!

“Lee Suri, jawab aku jika kau mendengar.” Panggil Kyu-Hyun lagi, sedikit lebih keras kali ini.

“Ya, aku bisa mendengarmu.” Suara itu terdengar gemetar tapi matanya tidak menunjukan ketakutan.

***

 

Tadinya Suri berpikir sedang berhalusinasi efek obat bius yang ia hirup tadi saat mendengar suara Kyu-Hyun memanggilnya berbisik. Tidak ada seorang pun di ruangan ini dan tidak mungkin Kyu-Hyun menemukannya secepat itu, tahu bahwa dirinya diculik saja tidak.

Tapi ternyata ia tidak sedang mengigau, suara Kyu-Hyun memang memanggilnya, mungkin dari laptop yang di pasang di tengah itu.

“Kau tahu ke mana mereka membawamu?” tanya Kyu-Hyun berusaha tenang meski dari suaranya terdengar bahwa pria itu siap mencekik siapa pun yang menghalangi jalannya.

“Tidak, mereka membiusku, yang kutahu mereka membawaku dengan mobil sedan hitam, Honda, keluaran tahun 2016, aku sadar di Myeong-dong dan setelah tertangkap mereka tetap lurus ke utara, aku tidak ingat setelahnya, mereka membiusku.”

“Bisa kau sebutkan seperti apa tempatmu berada?”

Suri bisa mendengar Kyu-Hyun berlari, menutup pintu, mungkin pintu mobil dan terdengar perintah berbisik untuk mengikutinya pada seseorang yang berada di belakang Kyu-Hyun.

“Ah…” Suri mencoba mencari petunjuk yang spesifik, tapi itu mustahil, tempatnya berdiri terlalu terang hingga tempat di balik lampu sorot jadi tak terlihat. “Aku tidak bisa menjabarkan banyak kecuali kaleng-kaleng tanpa label dan bau amis yang menyengat.” Matanya tak mungkin menyesuaikan perbedaan intensitas cahaya yang begitu mencolok.

“Apa ada bagian tubuhmu yang sakit? Perlu kupanggilkan medis?” tanya Kyu-Hyun lagi.

“Tidak, aku baik-baik saja.” Kecuali pipi dan kedinginan, itu bukan masalah besar baginya. Tidak ada yang membuatnya harus segera ditangani tim medis. “Yah, kecuali kau punya alat untuk menguras air yang semakin memenuhi kotak ini, mungkin aku perlu.”

Kyu-Hyun diam, dia sibuk berbincang dengan seseorang yang mungkin di samping atau di balik tubuhnya. Seperti kebiasaan Kyu-Hyun jika berbincang dengan orang lain selain dirinya, pria itu akan menggunakan suara yang amat pelan namun tegas.

“Kenapa kau yang mencariku?” tanya Suri di tengah-tengah kesunyiannya dan melihat air sudah memenuhi hingga batas pahanya.

“Ada aku di sini, Suri~ya.” Itu suara Gong Yoo. “Kami sampai sebentar lagi, bertahanlah, aku tahu kau punya cara untuk tetap bernapas di dalam sana.”

Harus ada. Pikir Suri dan mengangguk.

“Incheon, pabrik makanan kaleng yang ditutup karena pindah pabrik.” Gumam Gong Yoo pelan. “20 menit dari sini, kemungkinan mereka sudah mempersiapkan segalanya sejak jauh-jauh hari atau dini hari tadi.”

“Sebutkan alamatnya.” Pinta Kyu-Hyun dan langsung menyetel alamat sesuai yang yang Gong Yoo sebutkan. “Chang-Min, hubungi tim medis untuk berjaga-jaga.”

“Boleh aku tanya sesuatu?” Suri kembali bicara sambil melepas sandal hotel dan kaus kakinya kemudian berjongkok untuk menyumpal lubang air di bawah kakinya yang ternyata hanya sia-sia. “Kenapa aku ditangkap? Apa ayahku melakukan hal yang terlarang?”

“Tidak.” Jawab Gong Yoo cepat hingga membuat Suri tertawa pelan. “Lain kali, jika kukatakan bahwa nyawamu dalam bahaya, percayalah bahwa aku tidak sedang menakut-nakutimu.”

Tiba-tiba saja wajah mengigil Suri berubah panik, ia menyadari bahwa air yang kini mengisi kotak kaca semakin cepat mengalir memenuhi hingga batas pinggul Suri. Jarak fentilasi kotak cukup jauh untuk dicapai dan ia sudah merasakan sesak.

Satu yang ia ingat, jangan panik, panik hanya akan menhabiskan energi dan oksigennya lebih cepat, ia bisa lebih menggigil bahkan kehilangan kesadaran lantaran panik. Suri menyadari bahwa dirinya masih belum bisa melewati ketakutannya akan air dan tenggelam, seolah dahulu ia pernah mengalaminya, rasa mengigil yang sama dengan yang dahulu.

Tanpa diperingatkan oleh Gong Yoo atau Chang-Min yang duduk di kursi belakang tentang keadaan Suri, Kyu-Hyun buru-buru menginjak gasnya, membelah sub-urban Incheon yang semakin menyempit.

***

 

Apa yang ada di lapangan dan apa yang ada di dalam data memang tidak selamanya selalu sama. Siang ini, Kyu-Hyun mendapati dirinya mengumpat habis-habisan begitu melihat medan yang mereka lalui merupakan tanjakan curam yang tidak bisa dilalui dengan mobil.

Di jejak tanah bekas hujan semalam Kyu-Hyun bisa melihat jejak-jejak sepatu menanjak dan menurun, mungkin ada lebih dari 5 orang, tapi ia tidak menemukan satu pun jejak kaki Suri di tanah.

Tanpa memedulikan Chang-Min dan Gong Yoo yang masih memerhatikan keadaan sekitar, takut bahwa jalan ini hanya jebakan yang dibuat oleh penculik Suri untuk mereka, Kyu-Hyun berlari secepat mungkin. Masih ada 500 meter ke depan hingga ia bisa menemukan gudang tempat kemungkinan Suri disekap.

Kakinya melangkah lebar-lebar sambil sesekali melihat video, Lee Suri berdiri di dalam kotak dengan mata ketakutan dan tangan yang tak berhenti meraba tepi kotak, memukul hingga menendangnya, berharap bahwa bisa menemukan solusi sebelum dirinya datang, sementara sejalan lurus dengan usaha Suri membebaskan dirinya, air semakin cepat memenuhi kotak hingga saat ini kaki Suri mulai mengambang dengan kepala yang sebentar lagi mencapai puncak kotak.

Di sepertiga jalan, video tersebut terputus. Kyu-Hyun termangu, berhenti di tengah jalan dan berharap bahwa kesalahan terjadi pada sinyal yang buruk di pedalaman, namun kenyataannya tidak, sinyal ponselnya menunjukan performa yang baik. Ada seseorang di sini yang memerhatikan mereka, memperkirakan berapa lama lagi Kyu-Hyun tiba, dan memastikan bahwa paling tidak, jika Suri selamat dari percobaan pembunuhan ini, Suri mengalami trauma berkepanjangan akan air atau ruangan sempit.

“Kalian telusuri jalan ini, mereka pasti mengawasi dari dekat,” Kyu-Hyun melihat jam tangannya. “Timku akan datang 10 menit lagi.”

“Timku sudah di belakang.” Ucap Gong Yoo.

“Pimpin mereka untuk menyisir tempat ini, aku akan menemui Suri.” Kyu-Hyun bersiap meninggalkan tempat tersebut sebelum Gong Yoo menahannya. “Ada apa lagi?”

“Tolong bawa ia hidup-hidup, ia sudah seperti adikku sendiri selama ini.”

Kyu-Hyun hanya membalasnya dengan anggukan kepala sebelum berlari sekuat tenaga menyusuri jalan menanjak curam dengan tanah yang tidak rata. Bagaimana cara mereka membawa Suri ke sini, menggendongnya di pundak? Itu sangat memungkinkan sebab berat tubuh Suri berada di bawah berat tubuh ideal.

Dari kejauhan Kyu-Hyun melihat sebuah bangunan tua dengan warna putihnya yang usang, atapnya sudah mulai berkarat dimakan waktu, rumput di sekitarnya nampak tinggi, dan pintu besi berkarat tersebut tertutup rapat dengan rantai bergembok yang menguncinya.

Ia cepat-cepat memikirkan bagaimana membuka gembok tersebut, tidak mungkin mereka meninggalkan kunci di gembok tersebut, tidak ada kapak, kalaupun ada, akan memakan waktu setengah jam untuk memutuskan salah satu rantai berkarat, Suri tidak akan mampu menunggu hingga setengah jam lagi, ia tidak akan membiarkan dirinya menemukan Lee Suri dalam keadaan pucat tak bernyawa.

Hanya pistol satu-satunya senjata yang ia pegang, berharap saja teknik kampungan menembak rantai masih berfungsi hingga sekarang. Kyu-Hyun makin memperlebar langkahnya, ia terbayang wajah Suri yang berusaha mempertahankan nyawanya di dalam kotak tersebut dan itu bukanlah gambaran yang bagus atas konsekuensinya 7 tahun lalu melenyapkan saksi yang mungkin akan mengungkap seluruh kelompok Busan Psycho hingga ke akar.

Ia memeriksa rantai dan gembok tersebut, bukan rantai yang baru, tapi gemboknya cukup baru, karatnya tidak sebanyak yang terdapat di rantai yang melilit kedua pegangan pintu. Kyu-Hyun mundur tiga langkah dan mengarahkan pistolnya sejajar pada bagian rantai yang paling berkarat, ia membidiknya dan menarik pelatuk ponselnya hingga peluru terlontar dari moncol pistol dan mematahkan rantai berkarat tersebut. Dalam satu kali tarikkan, Kyu-Hyun menyingkirkan rantainya dari pegangan pintu.

Ia mendorong pintu berkarat tersebut hingga bunyi derit engsel yang macet menggema di seluruh ruangan gudang. Kyu-Hyun sudah siap jika ia menemukan beberapa orang Ryu-Shin yang berjaga di balik pintu tersebut dan memberondongnya dengan peluru, ia bahkan lebih siap dengan keadaan tersebut ketimbang menghadapi kenyataan bahwa kotak Suri sudah terisi penuh dengan air hingga meluber keluar kotak kaca tersebut dari lubang fentilasi di bagian atas.

Napas Kyu-Hyun tercekat, ia berlari menuju kotak kaca tersebut, menempelkan telapak tangannya di kaca dengan mata mengiba. Lee Suri di dalam sana dengan rambut cokelat bergelombangnya yang terurai di sekitar kepala, helaiannya nampak bersinar di bawah sorot lampu, kulit putihnya semakin bersinar, bibirnya yang biasanya nampak merah muda pucat nampak biru, dan matanya terkatup.

Kyu-Hyun menggeleng, ia tidak siap menerima kenyataan di depan matanya, tangannya mengepal, ia harus mengeluarkan Suri dari sana. Harus ada yang bisa ia lakukan untuk mengeluarkan Suri dari dalam kotak ini.

Bukan jenis kaca spesial yang anti peluru atau tahan akan pukulan benda tumpul, pikir Kyu-Hyun. Maka, Kyu-Hyun mundur dua langkah sebelum menembakan satu peluru lagi ke arah yang tidak terdapat tubuh Suri di baliknya.

Begitu peluru menembus kaca dan menimbulkan lubang kecil, kaca tersebut tidak retak karena tekanan air dari dalam yang berbondong-bondong tertarik grafitasi dari lubang tersebut hingga retakan dengan cepat membuat kaca bagian depan pecah berantakan.

Tubuh Suri yang terkurung di dalam air ikut jatuh bersama air yang mengurungnya ke lantai, namun sebelum sempat menyentuh lantai, Kyu-Hyun menangkap Suri ke dalam pelukannya, tidak memedulikan pecahan kaca yang mungkin akan melukai tubuh Kyu-Hyun karena nekat melindungi tubuh Suri agar tidak jatuh ke lantai kotor di bawahnya.

Badan Kyu-Hyun gemetar begitu mendapati tubuh Suri yang dingin, ujung jemarinya mengeriput dingin, tubuhnya pucat, dan matanya terkatup rapat, ia sudah pasti tenggelam lebih dari 10 menit, Suri tidak kuat menahan napas lama-lama dan wanita itu tidak mampu berenang, Kyu-Hyun tahu betul kebencian Suri akan air.

Tapi meski begitu, ia masih bisa merasakan samar-samar denyut nadi Suri, ia masih hidup meski napasnya sangat tipis. Kyu-Hyun membaringkan Suri di tempat yang tidak terdapat pecahan kaca dan mulai memberikan napas buatan, CPR untuk saat ini adalah hal terbaik yang bisa Kyu-Hyun lakukan hingga tim medis datang, ia tidak punya waktu untuk memberitahukan Gong Yoo dan Chang-Min untuk membawa tim medis ke sini lebih cepat, ia tidak menyangka volume air yang mengisi kotak Suri dipercepat lajunya.

“Lee Suri, buka matamu, aku belum selesai membuatmu jengkel, kau perlu membuka matamu lagi.” Ucap Kyu-Hyun berkali-kali sambil memberikan CPR pada Suri.

Tidak ada harapan, pikir Kyu-Hyun setengah putus asa, Suri tidak merespon selama bermenit-menit, mungkin air sudah memenuhi paru-parunya ketika Kyu-Hyun mengeluarkan Suri dari kotak kaca tersebut. Tangannya bergetar namun ia tidak menghentikan gerakkannya menekan dada Suri.

Dan tiba-tiba saja Suri terbatuk, ia memuntahkan air yang masuk ke paru-parunya melalui hidung dan mulutnya hingga ujung hidungnya memerah. Kyu-Hyun yang duduk di samping Suri tidak bisa menahan senyumannya yang lebar melihat Suri perlahan sadar hingga batuknya yang tadi mengeluarkan air berubah menjadi batuh kering dengan lendir dari hidungnya.

Kyu-Hyun membantu Suri duduk, menopang punggungnya dengan lengan kanan dan kaki kanan sementara tangan kirinya memeriksa luka tinju di rahang kanan Suri yang semakin menunjukan pembengkakan.

Sesaat Suri ingin melepaskan dirinya dari pelukan Kyu-Hyun dan mungkin berlari sekuat tenaga menemui Gong Yoo, si malaikat pelindungnya, namun Kyu-Hyun menahan tubuh Suri dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Suri yang kedinginan, kemungkinan hipotermia dan membahayakan paru-parunya, ia harus cepat mendapat pertolongan pertama yang lebih layak dari sekedar CPR dan pelukan Kyu-Hyun.

“Santailah, Dokter, tubuhmu kedinginan, aku tebak kakimu kaku dan sulit digerakkan, bukan?” ucap Kyu-Hyun, menyadarkan Suri bahwa yang berada di sampingnya bukanlah salah satu dari orang yang membawanya ke sini.

“Leher dan hidungku sakit.” Keluh Suri dengan suaranya yang serak dan samar sebelum meringkuk ke dalam pelukan Kyu-Hyun. Ia bahkan tidak bisa merasakan telapak kaki dan tangan saking dinginnya.

“Ya, tunggu sebentar lagi, tim medis akan datang.” Mungkin di wajahnya Kyu-Hyun tersenyum, namun hatinya terlalu sakit untuk mengatakan maaf pada Suri akan kejadian hari ini yang membuatnya terpaksa tenggelam dan berada di ambang kematian.

Sungguh, jika hari itu mereka tidak bertemu di Milan, mungkin hidup Suri akan senormal wanita seumurnya, menjalin hubungan dengan pria normal, memiliki apartemen megah atau bahkan sebuah rumah, memiliki anak-anak yang cerewet, atau mungkin Suri tidak akan bekerja lagi sebagai dokter dan memilih menjadi ibu rumah tangga? Ia tidak tahu, yang pasti akan jauh lebih baik jika mereka tidak pernah bertemu.

“Maafkan aku karena aku menyeretmu hingga sejauh ini, Lee Suri.” Ucapnya sambil menekan hidungnya ke puncak kepala Suri sebelum wanita itu kembali hilang kesadaran lantaran kelelahan bertarung mempertahankan nyawanya tadi. “Aku berjanji akan mengembalikan hidupmu senormal dulu, dengan atau tanpaku.”

 

***

 

Ia malas membuka matanya, tubuhnya masih sakit, dan rasanya kasurnya begitu hangat, lain dari malam-malam sebelumnya, bisakah ia tidur sepanjang hari? Bukankah ini hari Minggu? Tidak ada jadwal praktik di rumah sakit atau laboratorium di hari Minggu, ia bisa menghabiskan waktunya dengan berleha-leha di ranjang dengan es krim, biskuit cokelat, juga hamburger dengan ekstra keju sambil menonton ulang salah satu dari seri Doctor Who kesukaannya.

Samar-samar ia mendengar suara pria itu bicara pelan dengan seseorang di ponsel, Suri hapal kebiasaan pria itu di pagi-pagi buta, berkeliling rumah dengan earpiece di telinga, berbincang dengan suara rendah agar tidak tertangkap telinga orang lain, sampai ekspresinya pun Suri sudah hapal, mengeraskan rahang, mata menyipit, dan sesekali ketika diam pria itu akan mengigit tulang ibu jarinya, berpikir keras, seperti pagi-pagi sebelum ini.

Pagi-pagi sebelum 4 tahun ini.

“Tidak ditemukan siapa pun di sana?” tanya pria itu pelan dan terdengar suara langkah kaki di atas karpet, samar sekali. “Ini terlalu mudah, ini tidak seperti mereka biasanya, pasti ada sesuatu, sesuatu di balik ini, mungkin ini hanya permulaan, aku butuh banyak data, kirimkan padaku secepatnya jika ada tambahan,” pria itu berhenti bicara, meski dengan mata tertutup, Suri mengetahui pasti ia sedang melihat ke arahnya dengan mata menyelidik. “Nanti akan kuhubungi lagi.” Tutupnya.

Suri mulai keringat dingin, ia pasti ketahuan sedang berpura-pura tidur.

Perlahan sekali pria itu duduk di pinggir ranjang dekat tubuh Suri namun tidak mengatakan apa pun. Dan tiba-tiba tanpa perhitungan, tangan pria itu menyentuh area kantung matanya yang mungkin terlihat besar dengan lingkar hitam mengerikan.

Ibu jarinya mengusap perlahan dari bagian bawah mata hingga ke pipi dan turun ke garis rahangnya. “Apa kau bermimpi buruk?” tanyanya dengan suara yang dalam dan jelas.

Sudah tidak ada gunanya berpura-pura tidur, pria itu pasti bisa mengetahuinya dengan mudah, maka Suri membuka matanya perlahan, mengerjap perlahan dan melihat ke iris gelap pira itu yang nampak teduh, seperti pagi-pagi mereka yang lalu.

“Tidak.”

“Masih dingin?” Kyu-Hyun mengecek telapak tangan Suri, sudah jauh lebih hangat ketimbang kemarin siang.

“Tidak.” Dan Suri menyadari setelah beberapa detik membuka mata bahwa ini bukanlah apartemennya atau apartemen mereka dulu, ini tempat yang berbeda.

Ruangannya didominasi dengan warna hitam dan putih, ranjang besar dengan seprai putih yang kelihatannya jarang digunakan, komputer dengan enam layar yang standby, sebuah jendela besar menunjukkan pemandangan kolam besar dengan ujung halaman yang ditembok tinggi, ia tidak mendengar lalu lalang mobil, tempat ini pasti jauh dari pusat kota.

“Apa ini rumahmu?” tanyanya dan dijawab dengan gelengen kepala oleh Kyu-Hyun. “Aku tidak pernah tahu di mana kau tinggal, kau besar, sampai orangtuamu pun, aku tidak tahu.” Suri tahu ia mulai meracau, tapi ia tak kuasa mengulang semua keganjilan yang sempat ia lewatkan begitu saja lantaran rasa cintanya yang terlalu menggebu untuk Kyu-Hyun.

“Ada banyak keganjilan yang tidak pernah kutanyakan padamu,” lanjut Suri. “Aku tidak ingin memulainya, dulu, tidak pernah ingin, aku takut jika aku mulai bertanya, kau akan memperlebar jarakmu denganku.” Suri menggeleng pelan sambil bangkit dari tidurnya, melihat tangan kanannya diinfus. Terserahlah, ia tidak peduli apa yang terjadi selama dirinya pingasan.

“Maafkan aku,” hanya itu yang mampu Kyu-Hyun ucapkan. “Ada banyak hal yang kulakukan untuk melindungimu dari berita, aku tidak ingin mereka tahu bahwa kau adalah kelemahanku.” Ia berdiri, berjalan menuju jendela di kamarnya dan berdiri membelakangi Suri.

“Aku berpikir bahwa saat itu meninggalkanmu dalam kebutaan adalah hal terbaik yang bisa kulakukan.” Ia menatap Suri dari balik bahunya. “Aku tidak bisa membiarkanmu masuk lebih jauh ke kehidupanku saat itu, aku tidak siap menerima resiko jika suatu hari terjadi hal seperti ini dan kecelakaanmu tempo hari di depan rumah sakit membuatku sadar,” kali ini Kyu-Hyun benar-benar berbalik menghadap Suri, cepat atau lambat hari ini harus datang, sudah sejauh ini tak mungkin ia terus mengelak dan membiarkan Suri tetap buta sementara nyawanya terancam, “bahwa seharusnya kita memang tidak pernah berhubungan,” ia melangkah perlahan mendekati Suri yang terduduk di tepi ranjang.

“Kau… adalah kesalahan paling besar yang pernah kubuat dalam hidupku.”

Ucapan Kyu-Hyun, meski Suri sudah bisa memperkirakannya, tetap membuat hatinya remuk. Napasnya tercekat, bahkan lebih sakit daripada ketika ia kehabisan napas di kotak kaca kemarin siang.

“Aku seorang yang tidak terdaftar sebagai warga negara mana pun, aku dan 320 orang lainnya yang tidak akan pernah mendapat keterangan bahwa kami pernah lahir ke dunia hingga kontrak kami selesai.”

“Kau bukan Cho Kyu-Hyun yang lahir di Seoul tanggal 3 Februari 1992?” tanya Suri dengan nada penuh kebencian.

“Aku tak bernama, dan takkan pernah bernama, keluargaku memanggilku dengan Kyu-Hyun, benar, pekerjaanku memaksaku untuk menggunakan yang bisa semua orang panggil memilah di antara milyaran nama dan aku memilih Marcus, aku lahir di Vilnius, Lithuania, 3 Februari memang benar, hanya saja…” Kyu-Hyun berusaha menjauhi Suri, ia menahan keinginan untuk memeluk tubuh Suri yang terlalu menggoda mengenakan sweater hitam miliknya, duduk di atas ranjangnya dengan rambut cokelat yang acak-acakan, dan bibir merahnya yang sedikit basah. “Aku resmi menandatangani kontrak seumur hidup dengan ICD di usiaku yang ke-15 tahun, aku lahir tahun 1988 dan namaku hari ini di daftar kependudukan Korea sudah dihapus, jika aku menggunakan tahun lahirku, kemungkinan penyamaranku akan terbongkar dan membahayakan keluargaku, termasuk kau, maafkan aku.”

Suri memandang Kyu-Hyun datar dengan mata kelabunya yang kelelahan sebelum tertawa getir, ia menunduk memegangi dahinya sambil menggeleng pasrah. “Aku terlalu naif hingga menikahi pria yang bahkan tidak pernah kuketahui identitasnya dan aku…” Suri terlihat begitu marah ketika kepalanya terangkat. “Aku membiarkan diriku jatuh ke pelukanmu terlalu dalam, aku memang terlalu naif, maaf, tolol maksudku.”

Tidak tahan dengan omong kosong ini, Suri beranjak dari ranjangnya, meninggalkan kamar Kyu-Hyun menuju… ia berdiri di tepi ranjang, menatap Kyu-Hyun galak yang mungkin jika pria itu mengoceh hal tidak masuk akal sekali lagi akan terkena lemparan penyangga infus.

“Di mana kamar mandinya?” tanya Suri galak dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.

Kyu-Hyun mengulum senyum gelinya sambil menunjuk pintu di sebelah kanan tempat ia berdiri sekarang. “Di sini, Nona.”

Sambil menggeret tiang infusnya, Suri menyingkirkan tubuh Kyu-Hyun yang bahkan tidak menghalangi jalannya. “Minggir kau!” hardik Suri.

“Tentu saja.” Diam-diam Kyu-Hyun masih tersenyum geli dengan kedua tangan di balik tubuhnya, memerhatikan Suri yang masih menatapnya galak sebelum membanting pintu kamar mandi.

Semua orang pernah mengalami patah hati, kata orangtuanya patah hati mendewasakan manusia dan hanya mengakibatkan 2 hal pada penderitanya setelah pulih, entah dia menjadi orang yang akan jatuh cinta pada lawan jenis yang ditemuinya di jalan atau… seperti kedua manusia yang saling menatap pintu cokelat pemisah mereka, kesulitan untuk jatuh cinta bahkan tidak memercayai lagi dongeng manis tentang cinta.

Kenangan mereka terlalu manis untuk ditinggalkan begitu saja, namun akan terus menyakiti mereka jika terus dibawa. Mereka berjalan berlawanan arah dengan kedua tangan yang masih terikat, menggoreskan pergelangan tangannya hingga berdarah-darah karena terus melawan jerat tali di pergelangan tangannya.

Haruskah mereka menurunkan ego masing-masing untuk kembali? Atau salah satu dari mereka harus berani mengambil pisau dan memutus semua ikatan di antara mereka.

Ketika selesai mengenakan celananya yang kering di antara lipatan handuk bersih, Suri membuka pintu kamar mandi, mendapati Kyu-Hyun berdiri di depan komputer dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana, punggungnya nampak tegap, dan bajunya yang rapi meski ini masih pukul 7 pagi menandakan pria itu mungkin tak tidur semalaman.

“Apa aku diculik kemarin merupakan dampak yang kau takutkan itu?” tanya Suri sambil menempelkan plester pada bekas lubang infusnya, ia tidak betah harus menyeret-nyeret tiang ke mana pun ia pergi, jadi dilepas saja tadi.

Rupanya, kejadian seperti ini pun sudah bisa Kyu-Hyun prediksi dengan baik, meski ingin memaki Suri karena mengabaikan kesehatannya, Kyu-Hyun membiarkan wanita itu tetap sok kuat berdiri meski Kyu-Hyun yakin betul kakinya masih terasa lemas.

“Ya.”

“Siapa dan kenapa ia harus melakukannya?” kakinya terasa lemas, ia harus segera duduk sebelum Kyu-Hyun menyadari bahwa untuk menopang berat badannya saja ia tidak mampu. Suri buru-buru duduk di tepi ranjang mengingat satu-satunya bangku di ruangan itu tepat berada di samping Kyu-Hyun.

Berdiri di samping Kyu-Hyun dengan aroma tubuh khas pria itu yang dingin dan lembut di pagi hari dengan tambahan masih adanya obat penghilang rasa sakit di dalam darahnya yang bisa saja menyebabkan ia melantur adalah sebuah keputusan yang amat beresiko untuk diambil.

“Kang Ryu-Shin, orang keuangan dari kelompok Busan Psycho—“

“Kelompok internasional penjualan wanita dan anak-anak.” Gumam Suri, sedikit banyak ia mendengar tentang kelompok yang bahkan tidak pernah diberitakan di televisi selama ini, untuk mencegah tersebarnya informasi pada komplotan penculik bayi di rumah sakit alasan menurut pemerintah kenapa tidak pernah ada berita tentang Busan Psycho tersebut.

Kyu-Hyun mengangguk dengan senyuman bangga di bibirnya, ia tidak perlu repot menjelaskan masalah negara pada Suri, wanita itu, meski lebih banyak diam, ia banyak mendengar dan mengobservasi sendiri tentang masalah negaranya, terutama di bidang kemanusiaan.

“Ia tidak banyak terlibat dalam masalah operasional apalagi transaksi korban, yang Ryu-Shin tahu hanya menerima uang hasil transaksi, mengelolanya, dan menyimpan sebagian uang tersebut, tapi saat itu, 8 tahun lalu, Ryu-Shin adalah satu-satunya orang yang memiliki informasi Busan Psycho, kami mencarinya selama 15 tahun dan hasil yang kami temukan selalu terlambat dengan gerakan mereka yang selincah musang.

“Satu malam di bulan Juni, Ryu-Shin terseok datang ke kantor polisi tempat Maxim menyamar, atau orang yang seharusnya bertemu denganmu siang kemarin, Detektif Shim, meminta perlindungan. Wajahnya babak belur dan terdapat luka tusuk di paha kanannya. Ia menawarkan kesepakatan untuk bertukar informasi dengan identitas baru serta perlindungan saksi untuk keluarganya.

“Saat itu, para Kapten dan Jenderal organisasi—“

“Apa nama organisasimu?” potong Suri cepat.

International Crime Defender.” Kyu-Hyun masih tersenyum dan kali ini ia menyandarkan pinggulnya pada bibir meja komputer. “Kau mungkin tidak akan pernah mendengar nama ini setelahnya, Lee Suri, kami tidak pernah terdaftar sebagai warga negara mana pun semenjak kami direkrut antara usia 15 hingga 17 tahun.”

Suri memang tidak pernah mendengarnya, ayahnya tidak memberitahukan ada organisasi internasional yang menangani kasus-kasus kriminal besar dan salah satu anggotanya adalah seseorang berkewarganegaraan Korea Selatan. “Lanjutkan.”

“Kami menyetujuinya, awalnya semua berjalan baik-baik saja hingga suatu malam alarm kami berbunyi keras sekali.” Dalam kepalanya Kyu-Hyun masih bisa mendengar dengan jelas ketika alarm pusat berdering memekakan telinga, sebuah isyarat bahwa salah satu dari tempat perlindungan saksi dalam keadaan terancam.

“Rumah tempat kami menyembunyikan keberadaan istri dan anak dari Ryu-Shin terbakar habis, rata dengan tanah, kedua anggota keluarga Ryu-Shin masih berada di dalam saat kejadian. Mayatnya hangus dan tak bisa dikenali lagi.”

“Dan…? Apa hubungannya denganku? Maksudku things happen, right?”

“Aku adalah orang terakhir yang istri dan anak Ryu-Shin kunjingi dua malam sebelum mereka mati terbakar di rumah persembunyian. Aku dinon-aktifkan selama 2 minggu guna penyidikan kasus yang diduga kebocoran data tersebut. Tidak ada bukti yang mengindikasikan aku membunuh mereka lantaran jengkel dengan Ryu-Shin yang sok polos saat diintrogasi di mana mereka mendapatkan bayi-bayi tersebut dan remaja-remaja yang mereka pekerjakan sebagai wanita tuna susila atau tuduhan lain seperti aku menjual informasi pada 10 orang buronan Busan Psycho yang bahkan masih terlalu syok.”

Suri mengangguk-angguk paham, ia tahu kenapa orang-orang itu berniat sekali menculiknya di jam makan siang dan menyamar menjadi Detektif Ha, Suri, dalam sejarahnya tidak akan menerima pertemuan mendadak dengan seseorang yang bahkan ia kenal baik, mereka pasti bukan kemarin saja mengincarnya.

“Dan biar kutebak, ia ingin aku mati seperti keluarganya, begitu? Agar kau merasakan bagaimana menderitanya ia selama 7 tahun belakangan?”

Meski hanya bersama Kyu-Hyun selama 10 bulan, Suri mengenali betul ekspresi Kyu-Hyun barusan, matanya menunjukan ketidaksetujuan akan pendapat Suri barusan, namun kepala Kyu-Hyun tetap mengangguk tanpa bicara. Ada yang pria itu sembunyikan.

“Omong-omong,” Suri berdiri, menyejajarkan matanya dengan Kyu-Hyun, ia baru teringat sesuatu yang membuatnya begitu marah sore itu. “Seharusnya aku mengucapkan selamat padamu.”

“Karena sudah menyelamatkanmu?” pria itu tertawa rendah. “Tidak perlu repot-repot, itu memang—“

“Bukan, selamat untuk pernikahanmu.”

Wajah cerah Kyu-Hyun tiba-tiba mengeras, dahinya berkerut dengan rahang yang mengatup rapat. Sesaat ia meragukan pendengarannya dan berjalan mendekati Suri. “Apakah kau masih di bawah pengaruh obat bius?”

“Tidak sama sekali. Wanita di Spanyol yang kau nikahi dan tinggalkan sepertiku, apakah kau meninggalkannya demi kebaikannya juga? Atau kau hanya bosan dan mengkambing hitamkan pekerjaanmu??

Kyu-Hyun semakin tak paham dengan apa yang Suri ucapkan. Wanita Spanyol? Kapan ia berkencan dengan wanita di Spanyol?

“Sungguh, Lee Suri, dapat ide gila darimana hingga kau menuduhku seperti itu?”

Tapi wajah Suri sama sekali tidak menampakkan bahwa ia sedang bergurau. Iris kelabunya nampak tegas dan bibir basahnya menipis seiring napasnya yang mulai memburu meski samar.

“Patah hati untuk kali pertama akan membawa dua dampak pada seseorang, entah ia akan jatuh cinta pada setiap lawan jenis yang ia temui atau kesulitan untuk menemukan cinta lagi. Kurasa, kau terkena tipe pertama, jadi… siapa cinta pertamamu?”

Suri sudah bersiap mengepalkan tangannya, ia bisa meninju pria itu kapan saja ia mau dengan alasan meluapkan kemarahannya selama 4 tahun belakangan, ia bisa melakukannya dan ia pantas.

Tapi tidak untuk Kyu-Hyun, ada yang salah dengan pemahaman wanita itu. Ia mencengkeram pundak Suri dan memaksa wanita itu duduk kembali di tepi ranjang sementara dirinya berdiri setengah membungkuk agar wajahnya berhadapan dengan wajah Suri.

“Aku tidak pernah jatuh cinta pada wanita mana pun selain dirimu apalagi menikah,” katanya penuh penekanan. “Darimana kau dapatkan halusinasi seperti itu? Jika kau masih membencimu karena meninggalkan tidak tahu apa-apa 4 tahun lalu, silakan saja, tidak perlu menuduhku brengsek.” Ia mendesis tepat di depan wajah Suri, tidak membiarkan wanita itu menjauhi wajahnya hingga perdebatan mereka selesai.

Tentu Kyu-Hyun berbeda. Suri bisa merasakannya ketika kali pertama membuka mata di pagi ini. Wajah Kyu-Hyun tampak lebih misterius, matanya jauh tak beremosi, gestur tubuhnya menandakan bahwa ia dilatih menjadi pria yang berbahaya dalam keadaan normal sekalipun. Tapi bukannya merasa takut, Suri justru semakin sulit untuk melepaskan pria itu sekarang. Siapa yang rela melepaskan Benedict Cumberbatch yang bisa ia sentuh begitu saja?

Tapi pria di hadapannya ini brengsek. Mengatasnamakan tugas berbahayanya untuk meninggalkan wanita yang mencintainya begitu saja di kala bosan dan kembali dengan dalih bahwa ia rindu setengah mati di sela-sela waktu senggangnya.

“Seorang veteran tentara, Tuan Ban, datang padaku 2 hari lalu dan menceritakan putrinya yang tinggal di Spanyol menikah dengan seorang pria Korea yang baru ditemuinya dan, oh, tidak mungkin kebetulan sekali bahwa pria itu juga bernama Cho Kyu-Hyun.”

Wajah Kyu-Hyun yang tadinya memerah menahan amarah dengan lelucon yang Suri buat tiba-tiba saja kosong.

Hening sebentar sebelum Kyu-Hyun menegakkan tubuhnya. “Apa Tuan Ban itu memiliki keluhan sakit pungggung? Menolak untuk terapi meski susunan tulangnya sedikit memprihatinkan hingga berakibat pada sendi-sendi penopang tubuhnya yang mungkin akan menyulitkannya untuk bergerak?” Kyu-Hyun sibuk mencari sesuatu di ponselnya.

“Ya, ia datang dengan keluhan sakit punggung parah, aku rasa sakit utamanya ada di lutut artifisialnya, hanya saja itu bukan bidangku untuk—“

“Apa wajahnya seperti ini?” Kyu-Hyun menunjukkan foto di ponselnya. Seorang pria dengan jas biru gelap, rambut hitam yang berdampingan dengan rambut putih, kerutan di wajah yang terlihat normal untuk ukuran pria awal 60-an, serta kantung mata yang mengerikan. “Apa dia orangnya?”

“Ya, dia—“

“Keparat Pak Tua itu!” Kyu-Hyun menyumpak dan melipat tangannya di bawah dada, menolak untuk meninju-ninju udara seperti anak kecil. “Dia adalah kapten timku, Kapten Seo. Ban Hong-Ryeo adalah nama yang ia pakai untuk pendaftaran kependudukan Korea setelah statusnya berubah menjadi Kapten. Aku dan putrinya tidak saling mengenal sedikitpun, aku tak peduli. Pagi pertama setelah aku sampai ke Seoul, aku mengajukan uji kelayakan untuk naik pangkat dan meninggalkan pekerjaan lapangan, tapi ia tak mengijinkannya lantaran tahu kau adalah alasan utamaku untuk kembali ke masyarakat dan melonggarkan sedikit resiko kau disentuh oleh orang yang mengincar nyawaku.” Frustrasi, Kyu-Hyun mencengkeram rambut hitamnya kuat-kuat. “Tua Bangka sialan!”

Sebenarnya Suri ingin sekali tersenyum mendengar pengakuan Kyu-Hyun barusan, ia ingin bersorak bahwa selama 4 tahun ini bukan hanya dirinya yang menderita akibat perpisahan terburu mereka dahulu, tapi Kyu-Hyun merasakan bagaimana sulitnya tidur ketika mimpi selalu menyuguhkan kenangan mereka.

“Apa kau sungguh masih mencintaiku, Cho?” tanya Suri hampir berbisik.

Kyu-Hyun yang sebelumnya berjalan gelisah mondar-mandir di kamar, berhenti mematung, ia menatap Suri, kembali mendekati Suri dan menangkup wajah Suri dengan kedua tangannya.

There is no word unloved in dictionary, Lee Suri.”

Kyu-Hyun rindu bagaimana kelopak mata Suri terpejam ketika telapak tangannya merangkum wajah Suri yang kemerahan di pagi hari, ia menyukai rambut Suri yang terjuntai menyentuh punggung tangannya, dan bagaimana tangan Suri menggenggam lengannya, memohon agar detik ini bisa dihentikan dan biarkan mereka seperti ini selamanya, lari dari kenyataan bahwa dunia tidak memungkinkan untuk membiarkan mereka bersama.

“Aku tidak tahu apa yang lebih sakit dari ‘selamat tinggal’ yang kau ucapkan dulu,” Suri membuka matanya perlahan, “kenyataan bahwa takkan ada kau lagi esok hari atau kenangan yang kau tinggalkan di setiap sudut apartemen.”

Iris kelabu Suri yang selalu nampak cerdas mendadak berkabut pagi itu. kelopak matanya yang teduh seolah memanggil Kyu-Hyun untuk melakukan hal paling kotor yang selalu ia fantasikan jika ide utamanya adalah Lee Suri.

The puzzling reality of my world is as simply as this,” Kyu-Hyun membaringkan tubuh Suri perlahan ke atas ranjang, membiarkan lutut ke bawah tetap di luar ranjang sementara dirinya bertumpu pada siku dan lutut mengunci wajah tubuh Suri di sana. “Nothing is wrong, yet everything is.” Napasnya terdengar berat ketika melihat bibir Suri yang sedikit terbuka.

Tangan Suri perlahan naik, meraih kerah kemeja Kyu-Hyun dan menariknya untuk mendekat. “A loveless kiss won’t hurt.

But, there will be no loveles kiss if the subject is me and you.”

Tanpa peringatan, Kyu-Hyun langsung menyambar bibir Suri, memagut bibir Suri lapar seolah sedetik saja ia lengah dan membiarkan Suri memimpin, ia akan kehabisan bibir merah muda wanita itu. Perlahan jemari Kyu-Hyun menyusup ke balik sweater putih yang Suri kenakan pagi itu, meraba kulit perut Suri yang hangat.

Sementara Suri menjalankan jemarinya di antara helaian rambut hitam Kyu-Hyun yang tebal, ia mencengkeramnya dan menarik kasar rambut Kyu-Hyun hingga tautan bibir mereka terlepas meski bibir bawah Kyu-Hyun masih menyentuh bibir Suri.

Do you think you have entire lifetime to love?” tanya Suri dengan suaranya yang parau.

I do have entaire lifetime to love you.

No, you don’t. Love me now, love me greatly, now!

As you wish, My Lady.”

Kali ini, ciumannya jauh lebih lembut meski segalanya masih terasa terburu, namun Kyu-Hyun memperlakukan Suri seperti porselen Cina yang rawan retak jika tidak hati-hati. Ia menginginkan Suri berada di bawah tubuhnya, di ranjangnya, telanjang, dan berkeringat, tapi tidak memaksa, ia ingin menikmati setiap inci tubuh yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.

Tangan Kyu-Hyun turun ke paha Suri yang terbungkus celana kerja, ia membelai lembut bagian dalamnya, membuat Suri gemetar, sebelum mengangkat kakinya, meraba betis ramping wanita itu dan mencium telapak kaki Suri.

Tidak tahan dengan napas Kyu-Hyun yang menggelitik telapak kakinya, Suri menarik Kyu-Hyun lagi agar mendekat, menyambar bibir penuh Kyu-Hyun. Kali ini tangannya tidak tinggal diam, ia membuka kancing kemeja Kyu-Hyun dengan terburu, menarik kemejanya keluar dari celana kerja dan meraba dada yang menjadi bantal paling ia sukai untuk bermimpi.

Pria itu mendongakkan kepalanya begitu jemari kurus Suri meraba kulit dada telanjangnya. Berapa lama ia merindukan sentuhan ini? Sudah berapa lama ia menahan keinginan untuk disentuh Suri? Menghangatkan sisi dirinya yang dingin dan tak terjamah siapa pun, ia rindu kehangatan telapak tangan Suri, rindu bibir wanita itu yang selalu menempel di lehernya saat pagi hari, rindu kakinya yang dingin setiap malam, hingga suara parau wanita itu, ia rindu semua tentang Lee Suri, wanita sederhana yang mampu menjungkirbalikkan dunianya yang berbahaya.

Baru juga Kyu-Hyun akan berniat melepas sweater Suri, pintu kamarnya terbuka kasar, menampilkan Gong Yoo yang berkeringat akibat berlari sepanjang lorong.

“Aku punya beberapa kabar tidak—whoopsie!” Ia baru menyadari bahwa posisi Suri yang terlentang dengan ujung sweater yang terangkat sementara Kyu-Hyun berada di atas tubuh Suri dengan kancing kemeja yang terbuka. Rambut mereka berantakan dan wajah meraka memerah dengan napas terengah. Ia datang di waktu yang salah.

“Ah, aku rasa kita bisa menunggu sebentar,” ia melirik jam tangannya. “20 menit mungkin? Atau 30 menit?” tidak ada jawaban. “Oke, satu jam. Kutunggu di ruang tengah.” Ucapnya sebelum menutup pintu kamar perlahan.

Suri mengerjap, mengusap wajahnya yang terlanjur memerah sebelum menyingkirkan Kyu-Hyun dari atas tubuhnya. Ia duduk di tepi ranjang dengan Kyu-Hyun yang masih terbaring di ranjang, mengharapkan lebih dari sekedar penolakan pagi ini.

“Kita punya waktu 1 jam.”

“Dan membiarkan mereka memikirkan apa yang kita lakukan di sini?” Suri tertawa sumbang. “Jangan bercanda.”

“Aku serius, aku sudah manahannya selama 4 tahun dan hanya bisa membayangkannya, sekarang saat ada kesempatan, kenapa tidak digunakan baik-baik?”

Reaksi Suri justru membuat Kyu-Hyun gemas setengah mati. Wanita itu memukul pelan dada Kyu-Hyun sebelum berdiri dan membenarkan rambutnya yang berantakan.

“Pergilah, rapatkan dulu urusanmu.”

Yah, mau bagaimana lagi? Ada banyak hal yang harus ia bahas demi keselamatan Suri ke depannya. Ia bangkit, mengancingi kemejanya lagi dan menyisir rambut hitamnya ke belakang, membiarkannya tetap sedikit berantakan.

“Tunggulah di sini, akan kusuruh seseorang membawakanmu sarapan dan telepon yang terproteksi untuk menghubungi orangtuamu, mereka mungkin sedang panas dingin menunggu kabar darimu.”

“Cho,” Suri menarik ujung lengan kemeja Kyu-Hyun sebelum pria itu menjauh dan meninggalkannya sendirian di kamar. “Apa akan terjadi sesuatu yang buruk? Apa kau akan kembali dalam keadaan babak belur lagi?”

Sesaat Kyu-Hyun tertegun. Ia tidak biasa dikhawatirkan dan ketika tangan Suri menyentuh sisi hatinya yang dingin, Kyu-Hyun merasa dirinya lemah. Bisakah ia hidup dengan kelemahan ini?

“Aku tidak bisa menjamin, maafkan aku.”

“Bisakah kita bersama lagi setelah ini?”

Perlahan bibir tebal Kyu-Hyun tertarik, membentuk senyuman paling hangat yang ia lihat semenjak perpisahan mereka 4 tahun lalu. Pria itu merengkuh Suri dalam pelukannya, menyingkirkian anak rambut dari dahi Suri dan mengecup kedua kelopak mata Suri bergantian.

“Ya, aku berjanji, hingga saat itu tiba… duduk diam di bawah pengawasanku.” Gumamnya di puncak kepala Suri. “Sekarang, istirahatlah. Banyak buku di sini, nanti akan kubawakan juga sandal hotel kesukaanmu agar kita bisa berkeliling.”

Suri mendengus setengah tertawa sebelum merelakan pria itu pergi meninggalkannya untuk sesuatu yang pria itu anggap genting.

***

 

Gong Yoo nampak kaget melihat Kyu-Hyun berjalan melewati kaca-kaca yang terpasang sebagai pemisah ruang rapat di gedung yang tidak terdaftar di peta apalagi Google Maps tersebut.

“Kau tidak mengalami ejakulasi dini, bukan?” tuduhnya curiga karena hanya berjeda 10 menit dari ia meninggalkan kamar Kyu-Hyun.

“Yang benar saja,” ucapnya setengah jengkel. “Akan kucekik kau kalau menarikku dari Suri tanpa alasan jelas.”

Kali ini Gong Yoo tersenyum miring dan menyerahkan berkasnya pagi ini. “Terlalu mudah.” Komentar Gong Yoo melihat semua data statistik yang dijabarkan oleh timnya digabungkan dengan tim Kyu-Hyun.

“Tidak ada orang yang menjaga di sana, mereka mengendalikan dari jarak 500 meter, tempat kita memarkir mobil, tidak menyabotase mobil kita, tidak melukai Suri, tidak meminta pertukaran, atau apa pun yang lebih wajar.” Lanjut Gong Yoo.

Data menunjukan bahwa tempat itu kosong, tidak terisi dan tidak berpenghuni. Sebuah strategi yang mustahil untuk diterapkan oleh mantan kelompok sebesar Busan Psycho. Untuk apa menculik Suri jika hanya untuk menakut-nakuti Kyu-Hyun? Mereka tahu kalau Kyu-Hyun akan sampai ke tempat Suri tepat ketika air memenuhi kotak kaca, atau lebih tepatnya mereka menyesuaikan waktu penuhnya air dengan waktu tempuh Kyu-Hyun ke tempat itu.

“Polanya memang berbeda dari Busan Psycho biasanya. Terlalu mudah.”

“Ya,” aku Gong Yoo. “Ada sesuatu yang mereka incar selain membalaskan dendamnya padamu. Kau punya hutang sakit hati selain membiarkan keluarganya mati?”

Mata Kyu-Hyun menggelap, tapi ia tidak mengoreksi pernyataan Gong Yoo. “Tidak. Aku hanya mengambil alih kasus Busan Psycho 2 tahun sebelum kejadian tersebut, menggantikan Kapten Seo yang kecelakaan dan harus cuti setengah tahun untuk mengganti kakinya dengan tulang besi.”

“Kalau begitu dendam kelompok.”

“Mungkin.” Kyu-Hyun menutup laporan itu, hatinya merasa janggal. Ada sesuatu yang ia pikirkan, tapi tidak bisa dilakukannya dalam waktu dekat, terlalu berbahaya, dan mungkin ini yang Ryu-Shin harapkan sebagai hasilnya. “Mungkin tidak semuanya tentang dendam.”

Ekor mata Gong Yoo melihat tempat Kyu-Hyun masuk barusan, memastikan bahwa tidak ada yang mengikuti pria itu, terutama Suri. “Apa Suri berteriak dalam tidurnya?”

Kyu-Hyun menggeleng santai. “Hanya berkeringat.” Sesaat ia memang luput terhadap reaksi Gong Yoo, tapi sekilas ia melihat sebuah kecemasan mendalam, kecemasan seorang kakak terhadap adiknya. “Ada apa? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?”

“Tidak semuanya mesti kau ketahui, Kyu-Hyun~ssi.”

“Jika menyangkut Suri, aku harus mengetahuinya.”

“Bagaimana denganku? Ini menyangkut Suri juga, tapi kau tidak mengatakan apa pun padaku.”

Memang tak adil.

“Ini tidak menyangkut Suri,” tungkas Kyu-Hyun. “Ini tentang apa yang mungkin Ryu-Shin harapkan dari reaksiku.”

“Suri…” Gong Yoo perlahan mengeluarkan rokok dari balik jasnya, menyulutnya, dan menghisapnya perlahan sebelum mengembuskan asapnya perlahan ke udara. “Pernah menghilang saat umurnya empat tahun, bulan Oktober saat kali pertama rumah dinas panik karena tidak menemukan Suri di sudut mana pun, anak itu senang menjelajah sendirian. Jejaknya menghilang hingga pada bulan Mei, tepat pukul 12 malam tanggal 6, Suri berdiri linglung di depan gerbang sambil memainkan kausnya yang ia kenakan ketika ia menghilang Oktober lalu, tampilannya bersih, seperti anak yang dirawat baik-baik, tidak kekurangan satu apa pun, namun ia tidak ingat apa yang ia kerjakan selama ia menghilang, di mana ia tinggal sampai siapa yang membawanya kembali, ia tidak tahu.”

Hatinya remuk ketika mengetahui hal ini, Kyu-Hyun tahu syok yang ditimbulkan pada anak kecil mampu berdampak begitu dasyat hingga menghilangkan memori mengerikan tersebut dan itu artinya Suri mengalami kekerasan, entah dalam bentuk fisik atau mental, yang pasti penyiksaan itu mampu membuat pertahanan diri Suri memutuskan untuk melupakannya untuk tetap hidup.

“Itu kenapa kau tak pernah absen memeriksa keadaan Suri setiap hari?”

Gong Yoo mengangguk. “Ia tak pernah pergi dari pengawasanku hingga kau datang.”

Kepalanya terasa berdenyut, ia hanya mengharapkan bahwa Suri tidak memiliki pelampiasan yang membuat kepribadiannya terbelah menjadi dua. “Ya, Tuhan.” Gumamnya menyesal baru mengetahui fakta itu sekarang.

“Dan, orangtuanya akan ke Korea, aku rasa kau harus siap menerima beberapa pukulan dari ayahnya.”

“Tak masalah.”

***

 

Saat Kyu-Hyun masuk kembali ke kamarnya, Suri sedang duduk di ranjang, bersandar pada dasbor dengan mata yang menatap ke luar jendela, ia tidak berkedip bahkan menoleh saat Kyu-Hyun masuk dengan sandal hotel berwarna putih kesukaan Suri di tangan. Entah seberapa banyak Kyu-Hyun membelikan istrinya sepatu dengan merek ternama yang dibandrol selangit, Suri tetap saja memilih sandal hotel sebagai alas kaki kesukaannya.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Kyu-Hyun pelan dan menyentuh telapak tangan Suri. “Kau trauma dengan kejadian kemarin? Kami punya terapis di sini jika kau masih syok.” Tuturnya sambil melihat sarapan Suri yang tak tersentuh.

Memang bukan hal baru lagi bagi Kyu-Hyun melihat sarapan Suri atau makan siang wanita itu tak tersentuh, tapi tetap saja, kebiasaan seperti itu membuatnya marah setengah mati meski selama ini ia berhasil menahan.

Perlahan Suri menoleh sambil mengacungkan sebuah buku berwarna hitam dengan ikat jerami di sekelilingnya agar tak terbuka. Wajah Suri berubah dingin dengan bibir tipis, lalu berkata, “Aku membacanya.”

Wajah Kyu-Hyun datar, namun ia tidak menganggap itu sebuah kesalahan, sebelum keluar, ia sendiri yang mengatakan pada Suri untuk membaca salah satu dari bukunya di kamar ini, tanpa memberi peringatan mana yang tak boleh Suri sentuh.

“Lalu?”

“Namanya Kim Min-Ho?” tanya Suri. Media tidak pernah menyebutkan nama pelaku penabrakkannya dahulu, motifnya pun sebatas bahwa pria itu terburu untuk menjaga istrinya yang juga di UGD siang itu.

“Ya, kakak kandung dari Kim Hwang-Min, produsen narkoba terbesar di Asia.”

Suri mengangguk paham. Buku catatan berwarna hitam itu mulai di tulis dari tanggal ketika Kyu-Hyun mulai menjaga jarak dengannya hingga sidang perceraian mereka selesai. Hitam. Kalau pria biasa, mungkin akan menyebut buku ini adalah catatan harian, tapi karena bukunya berisi detail kejahatan hingga proses penangkapan dan hukuman, ini tidak bisa dikategorikan sebagai catatan harian yang terkesan merah muda.

“Kenapa adiknya sampai mati?” tanya Suri.

Di dalam buku tersebut dijelaskan bahwa kesedian Kim Min-Ho menukar informasi tentang kelompok yang menaungi adiknya dengan keselamatan adiknya tersebut hingga bebas meski itu harus memakan waktu 50 tahun lamanya, yang terpenting bagi Kim Min-Ho adalah bisa bertemu dengan Hwang-Min di akhir minggu atau acara-acara tertentu.

“Dia melawan.” Tutur Kyu-Hyun sambil menyendok kimchi bokkeumbap dengan lelehan keju mozarella di atasnya. “Salah satu anggotaku yang menangkap Hwang-Min, aku di sisi lain mengamankan tersangka lain yang terbirit, aku percaya bahwa Sean tidak akan menembak di tempat fatal kalau perlawanan Hwang-Min tidak mengancam nyawanya.”

Kyu-Hyun melirik Suri, menyodorkan sendok dengan menu sarapan pagi di atasnya. Menurut, Suri membuka mulutnya, menerima suapan yang Kyu-Hyun sodorkan, Suri cukup paham konsekuensi tidak akan diceritakan lengkap menurut versi Kyu-Hyun kalau tidak makan.

“Sean menembak Hwang-Min tepat di dada, menembus jantungnya dan mati di tempat. Tidak sesuai perjanjian memang, tapi begitulah kenyataannya, yang direncakan di atas kertas memang tidak selalu sejalan dengan yang ada di lapangan, kenyataan bahwa sewaktu-waktu pun aku bisa mati saat bertugas adalah resiko yang harus ditanggung.”

“Tapi bukan kau yang membunuhnya.”

“Aku yang menandatangani laporan kematian adiknya dan aku juga yang menyampaikan berita kematian adiknya malam setelah itu.”

“Bagaimana dia tahu tentangku?”

Tangan Kyu-Hyun terkepal, melemas, terkepal, kemudian melemas lagi sambil memotongkan telur mata sapi di piring lainnya.

“Aku yang ceroboh,” aku Kyu-Hyun. “Biasanya aku tak pernah mengerjakan laporan di rumah, aku selalu menyelesaikannya di kantor agar IP-ku tak terbaca, namun hari itu aku pulang terburu saat kau mengirimiku pesan kau terkena demam dan tak ada yang merawat.”

“Apa hari itu di mana seseorang dengan rambut cokelat terang, kemeja hijau, jas hitam, dan sepatu mahal itu datang ke rumah, menerima berkasmu dan langsung pergi?”

Kyu-Hyun terperangah, ia takjub akan ingatan Suri yang tajam meski hampir 5 tahun lalu dan hanya melihat Sean dalam satu kali pandang karena Kyu-Hyun menyuruh Sean untuk buru-buru pergi dari rumah mereka begitu Kyu-Hyun menyerahkan laporan kerja.

“Ya, itu Sean, nanti akan kukenalkan padamu.”

Suri terdiam sebelum mengambil alih sendoknya dari Kyu-Hyun, ia menyuap dua kali dan menyodorkan suapan ketiga pada Kyu-Hyun. “Aku lihat Kim Min-Ho menangis saat menabrakku, aku yakin ia sebenarnya tidak tega menabrakku, hanya saja ia terlalu kalut kehilangan adikknya.”

“Ya, ia mengakuinya dan minta hukuman mati, tapi tidak diberikan, hanya hukuman ringan 10 tahun penjara.”

“Tapi kau salah tulis, Cho,”

Teguran Suri membuat Kyu-Hyun mendelik. Apa yang salah tulis? Ia bertahun-tahun membuat laporan dan jurnal pribadi, tak mungkin salah tulis ada di dalam kamusnya.

“Di bagian baju Kim Min-Ho malam itu, kau tulis ia pakai sweater hitam, padahal ia pakai sweater cokelat. Aku pakai sandal hotel, padahal jelas-jelas sepatu oxford yang kaubelikan dan sekarang hanya tinggal sebelah di ruang ganti rumah sakit, sebelahnya hilang, terpental mungkin.”

Kyu-Hyun tergelak pelan sambil menggelengkan kepalanya melihat ekspresi Suri yang begitu serius. “Kau itu, sering sekali lupa menutup gorden ruang tengah saat pulang kerja, lupa mengunci mobil, hingga lupa pakai sepatu yang mana ketika pergi ke kantor, dan pulang dengan sepatu yang berbeda, tapi kau ingat sejelas itu padahal kau hanya melihat Kim Min-Ho sekilas.”

Inginnya Suri cemberut, seperti hari-harinya sebelum ini yang selalu cemberut setiap kali Kyu-Hyun mengejeknya, namun umurnya yang hampir menginjak angka 30 membuat wajahnya tak pantas berbuat manis seperti itu.

“Kau itu bisa diam tidak sih?” hardik Suri ketika Kyu-Hyun tetap tertawa hingga kepalanya rebah di ranjang.

Tangan pria itu menyentuh kaki Suri, memijatnya perlahan sambil tersenyum. “Aku bahagia karena aku yang menyelamatkanmu siang itu. Habiskan sarapanmu, nanti kuajak berkeliling.”

 

***

 

Seberapa banyakkah yang seorang Mentri Luar Negeri ketahui tentang organisasi keamanan dunia?

Jawabannya sudah pasti amat banyak.

Hampir 20 tahun ia bekerja sebagai mentri luar negeri di berbagai negara Eropa dan Asia, ia adalah orang pertama yang ditanyai soal kekacauan yang dibuat oleh agen ICD keturunan Korea Selatan di negara yang menjadi tanggung jawabnya. Harus ia dahulu yang turun tangan membersihkan jejak mereka.

Maka dari itu, ketika Gong Yoo menyebutkan alamat tempat Suri dirawat pasca drama penculikkan yang hampir merenggut nyawa putrinya tersebut, Chun-Hwa terkejut setengah mati. Sejauh ingatannya, Suri tidak pernah berhubungan dengan organisasi ICD dan seharusnya yang menangani kasus penculikan putrinya adalah kepolisian lokal atau Gong Yoo, bukan ICD.

Wajahnya memerah menahan amarah sementara ia tetap tenang selagi istrinya, Kyung-Sook, mati-matian untuk tidak jatuh pingsan ketika nanti melihat Suri yang mungkin dalam kondisi kacau balau, parahnya kalau sampai psikisnya terganggu.

Chun-Hwa langsung bangkit sambil mengepalkan tangannya begitu melihat pria dengan tubuh tegap meski umurnya sudah hampir mencapai kepala enam tahun depan berjalan dengan santainya diselingi senyum merekah dan baju dinas kebanggaannya berpangkat kapten.

Bisa-bisanya si brengsek itu tersenyum ketika melihatnya lagi!

“Sialan kau Seo Hoon!” omel Chun-Hwa tanpa menunggu Kapten Seo menyapanya. “Kau tidak memperingatkanku soal Cho Kyu-Hyun adalah anggotamu meski kutanya apakah kau kenal Cho Kyu-Hyun atau tidak? Terkutuklah kau!”

Bukannya buru-buru meminta maaf melihat sahabatnya mengomel, Seo Hoon, atau orang lebih mengenalnya dengan Kapten Seo, justru tertawa santai sambil mengenggam tangan Kyung-Sook yang pucat dan dingin, mengabaikan Chun-Hwa yang meledak-ledak.

“Apa kabarmu, Kyung-Sook~ah? Kau tak perlu khawatir, putrimu baik-baik saja.” Jamin Seo Hoon sambil menepuk sofa kosong di sisi kanannya. “Duduklah, Chun-Hwa~ya, kalau marah-marah terus kau bisa terkena stroke.”

“Enak saja kau bicara, kalau kau yang ada di posisiku bagaimana?” tuntut Chun-Hwa.

“Tentu aku akan bereaksi sama sepertimu. Siapa yang tidak khawatir putrinya terlibat dengan organisasi yang anggotanya paling diincar meski keberadaannya tidak pernah terendus publik?” meski ia seorang kapten yang dituntut untuk mengesampingkan perasaan dan mengedepankan logika, jika menyangkut putri semata wayangnya, tentu ia tidak akan bisa berdiam diri.

“Lalu kenapa tidak kau ingatkan aku sejak awal?”

“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur. “Aku tidak tahu bahwa yang kau maksud Cho Kyu-Hyun adalah Letnan Marcus Cho dan siapa yang menyangka pria seperti dia jatuh cinta? Aku bahkan memprediksi bahwa Letnan Cho itu akan menjadi kapten seumur hidupnya karena ia tidak memiliki siapa pun untuk dikhawatirkan, hatinya terbuat dari batu, paling tidak sampai aku mendengar bahwa ia ingin menjadi kapten untuk seseorang dan belakangan kutahu bahwa itu putrimu.”

Kapten Seo masih berusaha membujuk Chun-Hwa, ia benar-benar tidak tahu bahwa Kyu-Hyun akan jatuh cinta. “Jangan begitu, kita ini jarang bertemu, aku hanya bertemu putrimu saat umurnya 5 tahun, mana mungkin aku ingat wajahnya sekarang, ‘kan?”

Chun-Hwa menyerah, ia ingin sekali meninju wajah sahabatnya itu, Kapten Seo punya kekuasaan penuh mengakses nama-nama yang tak terdaftar di kependudukan, lalu apa salahnya memeriksa?

“Di mana Suri sekarang?”

“Sedang berkeliling sebentar, mereka sedang berbincang serius.”

“Apa kau keberatan jika aku menghajarnya sedikit?” tanya Chun-Hwa lebih santai sekarang.

Kapten Seo mengangguk pelan dengan wajah tidak keberatannya. Itu masalah pribadi yang tidak akan bisa seorang ayah diamkan begitu saja sementara pria yang menghancurkan kepribadian anaknya selama 4 tahun belakangan ini berada tepat di hadapan mereka.

“Silakan saja, asal jangan buat dia koma, bisa merepotkan untukku.”

***

 

Dadanya masih bergemuruh seperti biasa saat Kyu-Hyun menyudutkannya di ranjang pagi tadi, ia masih bisa merasakan sisa-sisa gairah di antara ciumannya, masih bisa merasakan seberapa posesifnya pria itu ketika menyentuhnya, mereka masih terikat rasa yang sama meski banyak hal berubah.

Ia melihat punggung Kyu-Hyun berjalan mendahuluinya begitu mendekati sebuah pintu yang menurut penuturan Kyu-Hyun merupakan ruang santai tempat anggota lain berkumpul di pagi hari tanpa misi seperti ini.

Pria itu menoleh, mengulurkan tangannya yang bebas dari genggaman kenop pintu pada Suri, dan berkata, “Biar kukenalkan kau pada teman-temanku.” Ucapnya.

Suri meraih tangan Kyu-Hyun, jemari lentiknya terasa hangat menyelinap di balik jemarinya. Ia heran, kenapa bisa ia merasa dirinya dan Kyu-Hyun masih berjarak meski kehangatan di tangan pria itu tak berubah, apakah memang Kyu-Hyun tak pernah merubah perasaannya ataukah memang dirinya yang hanya tinggal di dalam ilusinya sendiri selama ini?

Begitu pintu terbuka, Suri melihat sekitar 15 wajah berbagai ras dengan baju santai berwarna gelap seolah itu adalah aturan tak tertulis dari seorang agen rahasia untuk memakai pakaian gelap meski dalam suasana santai, dan kelimanya kompak berdiri tegap begitu Kyu-Hyun masuk lebih dulu sambil menggandeng tangan Suri yang menyusul dengan langkah ragu di belakangnya.

“Selamat pagi, Letnan Marcus.” Sapa mereka kompak yang dijawab dengan suara samar Kyu-Hyun meski masih terdengar kedinginan di suara pria itu.

Ia menoleh pada Suri, mengajaknya untuk berdiri bersebelahan. Kyu-Hyun tersenyum begitu menyadari Suri tak nyaman karena ia tidak mengenakan pakaian yang pantas apalagi sempat memakai make up untuk menutupi wajah pucatnya.

“Kau terlihat sempurna, Lee Suri, tenang saja.”

Kurwa.” Desis Suri yang ditanggapi dengan cengiran lebar Kyu-Hyun.

Kyu-Hyun memulai dari pria yang berada paling dekat dengan Suri, seorang pria asing dengan rambut kuning jagung yang disisir rapi ke belakang dan irisnya yang cokelat terang. “Ini Sean, peretas di kelompok kami,” Sean menyambutnya dengan anggukan.

Kyu-Hyun beralih pada pria kedua yang mengenakan kaus hitam pendek dan celana pendek, nampak santai dengan rambut hitamnya yang dibiarkan berantakan, Suri tebak dia baru saja bangun tidur beberapa menit lalu. “Ini Ray, kependekan dari Raynold. Pria yang selalu memblokir pelacak masuk ke meeting point ini.” Sama seperti Sean, Ray menyapa Suri dengan anggukan sopan dan mata menyelidik. Berbeda dengan Sean yang mungkin keturunan Kanada, Ray terlihat sangat Korea dengan monolid-nya yang khas.

Ia terus memperkenalkan pria di ruangan tersebut yang selalu menjawabnya dengan anggukan kepala, mungkin sebagian dari mereka sudah mengenal Suri sebagai penggangu waktu kerja Kyu-Hyun selama ini, tapi belum ada yang pernah melihatnya langsung, atau paling tidak itu yang Suri percayai hingga matanya mengangkap orang terakhir yang tergopoh masuk ke ruang santai tersebut.

Wajahnya masih sangat Korea dengan tulang pipi yang tinggi, garis mata yang tipis, serta rambut hitamnya yang ditata rapi dengan potongan pendek. Suri menelengkan kepalanya ketika menatap pria yang sekarang menyengir lebar ke arahnya.

“Dan ini Onew, orang yang memonitor keadaan sebelum penyergapan berlangsung.” Ucap Kyu-Hyun memperkenalkan pria di hadapannya. “Dia orang kepercayaan—“

“Apa kau pernah datang ke kafe di Gyong-gi yang namanya Au Lait Cafe tanggal 7 Mei 2015 lalu?” Suri mengabaikan perkenalan Kyu-Hyun, ia berjalan mendekat, memastikan ingatannya tidak pernah salah. “Ya, kau pakai kaus putih dengan jaket hijau kebiruan, celana jin biru, rambut hitam yang lebih panjang, kacamata berbingkai putih, dan… kau memesan Ice Americano, benar?”

Onew dan anggota lain dibuat terperangah dengan kedetailan cerita Suri barusan meski 2015 itu sudah 2 tahun lalu. Bahkan Lark, salah satu dari tim snipper terang-terangan mengumpat kedetailan yang Suri jabarkan barusan. Mereka semua tahu bahwa saat itu, 7 Mei dua tahun yang lalu Kyu-Hyun meminta Onew untuk menengok keadaan Suri sebentar sebelum menaruh bingkisan ulang tahun di kamar apartemen mereka yang lama, tapi tidak ada satu pun yang mengingat apa yang Onew kenakan saat itu.

Dengan tergagap, Onew menjawab, “Ya, aku memang berada di sana 7 Mei dua tahun lalu, tapi aku lupa aku mengenakan apa, Nona Lee.” Senyum Onew semakin merekah. “Hebat sekali Anda, padahal aku sudah melakukan hal yang paling tidak mencolok saat melihatmu dari jarak dekat, Anda masih bisa mengingatku sedetail itu.”

Suri mengangguk, puas dengan ingatannya yang tajam. “Kebetulan saja.” Jawabnya santai dan menatap Kyu-Hyun. “Jadi, kalau mereka yang bergerak di lapangan, apa yang kau lakukan?”

“Aku ahli strategi dan tentu, aku adalah orang terdepan yang maju saat di lapangan.”

“Apa kau selalu menyuruh orangmu untuk mengikutiku?”

Kyu-Hyun menggeleng pelan sambil menuntun Suri keluar dari ruang santai tersebut dan menuju lorong lainnya yang Suri tidak tahu akan berujung di mana.

“Hanya Onew dan satu kali, kalau terlalu sering, mereka akan curiga dan mencium keberadaanmu lagi.” Ia menunduk, menatap wajah Suri yang dari atas hanya kelihatan puncak kepala, dahi, hidung, dan segaris bibirnya yang terkatup datar. “Meski begitu, mereka tetap menemukanmu.”

Tidak menjawab, Suri justru melangkah mendahului Kyu-Hyun begitu melihat ujung lorong tersebut adalah sebuah taman luas dipenuhi dedaunan jingga yang meranggas, membiarkan helaiannya berserakan di atas rumput yang masih lumayan hijau. Tidak pernah Suri membayangkan ada taman yang begitu indah lengkap dengan labirin yang helaian hijau dindinnya mulai diselipi dengan dedaunan oranye di sebuah markas ICD yang berisi kumpulan orang-orang yang bergelut mempertaruhkan nyawa mereka untuk orang yang bahkan belum pernah mereka temui semasa hidup.

Begitu kaca pembatas digeser, Suri bisa membaui aroma khas musim gugur yang basah dan sisa-sisa kehangatan musim panas yang tertinggal di dedaunan hijau. Persis seperti aroma Kyu-Hyun. Ketika Suri menoleh, ia mendapati Kyu-Hyun berdiri di ambang jendela dengan kedua lengannya yang masuk ke saku celana jin, matanya nampak teduh dengan iris gelapnya yang mengancam.

“Kau pernah berhubungan dengan wanita lain sebelum aku?” tanya Suri sambil melangkahkan kakinya menjauhi Kyu-Hyun. Ketika ia bersama Kyu-Hyun, ia menolak membahas semua masa lalu Kyu-Hyun dengan wanita lain yang mungkin jauh lebih kompeten ketimbang dirinya, baginya itu adalah privasi Kyu-Hyun dan harus dihormati. Maka, ketika mereka berpisah, tak ada salahnya melangkah melewati privasi yang selama ini mereka junjung tinggi-tinggi.

“Tidak.” Jawabnya sambil melangkah keluar. Ia mengikuti ke mana Suri membimbingnya, menuruni undakan semen putih untuk menuju labirin. “Orang-orang meragukan kepekaan hatiku terhadap manusia, bahkan sebelum bertemu denganmu, aku dengan tegas mengatakan bahwa ‘kalau ingin melampiaskan kebutuhan seksual, cari saja pekerja seks komersial, kalau ingin interaksi, cari saja binatan peliharan’ pada anggotaku yang kedapatan jatuh cinta.”

Suri tertawa samar sambil melongok labirin tersebut. “Pantas mereka menatapku dengan dendam tersembunyi.”

“Ya, tapi tak ada yang berani membantah, mereka masih sangat awam menyembunyikan identitas saat itu, aku tak mau ambil resiko.” Suri terlihat ragu ketika akan memasuki labirin tersebut hingga Kyu-Hyun meyakinkan, “Aku hapal jalannya, kita bisa masuk.”

Suri menoleh, tersenyum miring, dan melangkahkan kakinya memasuki labirin. Seketika Kyu-Hyun merasa paru-parunya menciut sebesar aprikot kering, wajah Suri yang polos tanpa riasan, bibirnya yang merah muda basah, mata kelabunya yang jenaka, serta senyum mengejek ditambah efek rambut cokelatnya yang bergerak mengikuti irama angin, Kyu-Hyun tidak sanggup jika harus kehilangan Suri untuk kedua kalinya, ia sadar dengan sangat pagi itu bahwa ia tidak bisa melepaskan Suri untuk kali kedua dengan alasan apa pun.

“Lalu bagaimana denganmu? Kau pernah berkencan sebelum denganku?” Kyu-Hyun menyusul dengan langkah yang diperlebar, membuat jaraknya dengan Suri tak begitu jauh.

“Tidak,” jawabnya sebelum menghilang di kelokan pertama yang ia pilih. “Gong Yoo selalu mengawasiku 24 jam sehari, mana ada pria yang mau kenalan denganku?” tambahnya dan berhenti sesaat di ujung lorong, menunggu Kyu-Hyun. “Karena aku tak kunjung dapat kekasih, Gong Yoo juga kularang mempunyai kekasih, aku selalu datang dan menggagalkan kencannya, mengaku sebagai kekasihnya bahkan dengan sengaja mengaku istrinya yang sedang hamil,” Suri tertawa sebelum melanjutkan jalannya, memilih kelokan kedua. “Itu lucu sekali, kami saling menggagalkan usaha mempunyai pendamping.”

“Sampai aku datang?”

“Ya, sampai kau datang.” Suri mulai berlari, memilih lorong asal dengan intuisinya yang sudah lama tertidur. Ia, dengan sengaja, memendam sisi lain dirinya semenjak kepergian Kyu-Hyun, hampir membunuhnya jika tidak mendengar pengakuan Kyu-Hyun bahwa yang tersakiti bukan hanya dirinya pagi tadi.

Setengah tertawa, Kyu-Hyun mengejar Suri, berlarian di lorong, mengikuti arah yang Suri tuju dan hebatnya, wanita itu memilih lorong-lorong yang benar meski dalam keadaan terburu dan baru kali ini mampir ke labirin yang baru bisa diselesaikan oleh Sean setelah setengah tahun menjelajah.

“Apa yang Gong Yoo lakukan ketika kali pertama kau mengumumkan padanya bahwa kita berkencan?” tanyanya di sela-sela berlarinya dengan cengiran lebar.

“Tidak setuju tentu saja, dia mengatakan pria semacam kau yang pekerjaannya tidak jelas dan selalu bepergian tanpa kabar adalah jenis pria yang akan membuangku di pertemuan ke sepuluh.”

Kyu-Hyun harus mengakui pada awalnya ia memang akan meninggalkan Suri di pertemuan ke sepuluh mereka, tidak akan ada hubung yang berjalan dengan baik jika sudah berhubungan dengan pekerjaannya.

“Pria memang selalu melarang teman wanitanya untuk dekat dengan pria, bukan?” jawabnya dan hampir saja menyusul Suri sebelum wanita itu mempercepat langkahnya meski napasnya mulai terengah.

“Ya, karena pria tahu mana pria yang serius dan mana yang main-main.” Suri kembali tertawa saat menjawabnya. “Setelah diperhatikan, ternyata kau dan Gong Yoo memang sama saja, senang sekali memainkan hati wanita.”

Ketika kata itu terucap, Kyu-Hyun langsung menyusul langkah Suri yang saat ini sudah memasuki tengah labirin tempat sebuah air mancur dengan batu-batuan berwarna-warni di dasarnya berada. Tempat ini biasanya digunakan oleh Kyu-Hyun untuk diam bermenit-menit ketika merindukan Suri. Dirinya jugalah yang mengusulkan untuk membuat sebuah air mancur di dalam labirin 4 tahun lalu, dalihnya sih untuk pengembalian emosi setelah mengalami syok yang cukup berat di lapangan, tapi sebenarnya Kyu-Hyun hanya ingin sendiri memikirkan Suri di saat-saat ia tidak bisa menyentuh wanita itu atau sekedar melihat wajahnya secara langsung.

Kyu-Hyun menarik tangan Suri, membuat tubuh Suri yang berbalut sweater rajut Kyu-Hyun yang sedikit kebesaran hingga kedua lengannya digulung tersebut mendekat ke dalam pelukannya. Tangannya merengkuh tubuh Suri, menempelkannya erat-erat ke tubuhnya, napas Suri terengah, wajahnya memerah, namun senyuman itu merekah, membuat Kyu-Hyun kesulitan untuk mengatur dirinya sendiri.

“Aku tak pernah bermain-main jika itu sudah menyangkut kau.” Desisnya tepat di depan wajah Suri. “Situasilah yang memaksaku memilih saat itu, bukan hatiku yang bosan padamu.”

Setengah tersenyum, Suri menjauhkan wajahnya dari Kyu-Hyun. “Aku tahu, santai saja.” Kali ini Kyu-Hyun hampir jantungan dibuat Suri hanya karena balasannya mengalungkan kedua tangannya ke leher Kyu-Hyun. “

Ia sadar betul bahwa akan ada AJ yang pagi itu menjaga sisi barat kalau ia melakukan hal kotor di dalam labirin, tapi ia paham betul labirin ini, ia yang membuatnya. Dari lantai dua tempat AJ mengintai terdapat titik buta yang tak mungkin pembidik kebanggaannya itu bisa intip.

Kyu-Hyun menarik Suri menuju titik buta tersebut dan menciumnya kasar. Sudah berapa lama ia tidak menyentuh bibir wanita? Ah, rasanya berabad-abad, terlebih lagi bibir yang ia tinggalkan adalah bibir Suri, mana bisa ia melupakan sensasi bibir wanita itu yang selalu terasa lembut dan dingin.

Tangan Suri menyusup di balik rambut hitam Kyu-Hyun dan menariknya hingga bibir mereka terlepas tautannya, wanita itu tertawa rendah dengan wajah memerah dan sorot mata sayu yang siap kapan saja jatuh ke pelukan Kyu-Hyun.

Suri membuka mulutnya lagi, membiarkan lidah Kyu-Hyun masuk, melepasnya, mengigit bibir bawah Kyu-Hyun yang tebal hingga terkesiap begitu tangan Kyu-Hyun mengusap punggungnya. Ia hampir saja lepas kontrol dan mendesah jika saja tidak ingat bahwa ia harus memegang kontrol kali ini.

“Tidak secepat itu, Cho.”

“Oh, ya?” Kyu-Hyun mengeratkan pelukkannya dan merasakan setiap lekuk tubuh Suri yang masih ia hapal.

Sudut matanya menangkap sebuah pantulan yang sangat ia kenali selama 15 tahun bertugas sebagai agen ICD, pantulan cahaya dari lensa bidik senjata runduk. Mereka mengincar dirinya, atau lebih tepatnya Suri hingga mengejar ke sini dan berpotensi terbunuh dalam misinya.

Dengan sigap Kyu-Hyun menarik tangan Suri untuk menunduk ketika sebuah peluru melesat membelah udara dan mengarah pada Suri. Terlambat sepersekian detik saja, mungkin ia akan melihat Suri tergeletak bersimbah darah sekarang. Tiga peluru mengarah ke tubuh Suri yang bebas tanpa perlindungan beberapa saat lalu, dua dari tiga peluru menabrak pinggir kolam, meninggalkan sedikit retak di ujungnya sementara satu lagi melesat ke tanah.

Ia membalik tubuh Suri yang ada di bawah tubuhnya, mengecek tubuh Suri cepat-cepat, memastikan bahwa ia baik-baik saja. Aman.

“Apa itu?” tanya Suri yang baru sadar dari mabuknya beberapa detik lalu, ia begitu tenggelam setiap kali Kyu-Hyun menyentuhnya hingga tidak sadar yang terjadi barusan bisa saja membunuhnya di tempat.

“Seseorang menyusup.” Jawab Kyu-Hyun sambil melirik arah datangnya peluru dan mengeluarkan ponselnya, menghubungi AJ yang pagi itu bertugas menjaga sisi barat makanya tidak nampak di ruang santai pagi ini. “75 drajat dari pusat labirin, barat arah pukul 2, satu orang.” Ucapnya masih merunduk, berlindung di balik tepian kolam sebelum serangan kedua melesat, membuat Kyu-Hyun bersembunyi lagi di balik tepian kolam. “Aku coba alihkan perhatiannya.”

Ia melirik Suri yang entah sejak kapan menatap Kyu-Hyun datar sambil mengeluarkan pistol dari balik sweaternya. “Apa kita akan beradu argumen soal aku tidak boleh membunuh karena naluri kemanusiaanmu sebagai dokter, Lee Suri?” ia memeriksa berapa banyak amunisi yang ia siapkan, penuh, tak masalah. Ia hampir tak pernah meninggalkan kamar tanpa pistol di balik sweaternya.

“Tidak, sama sekali tidak. Hanya saja, pastikan jangan mati di depan mataku.” Balas Suri seiring senyuman miringnya.

Kyu-Hyun balas tersenyum dan mencium Suri kasar, “tunggu di sini dan tetap merunduk.”

Seperti adengan di film lainnya, Kyu-Hyun bergeser dua langkah sebelum berdiri mengacungkan pistolnya ke arah target yang tadi melesatkan empat timah panas ke arahnya. Bukan karena mengetahui dia adalah tokoh utama dan tokoh utama tidak akan mati di awal makanya Kyu-Hyun dengan berani menantang penembak tersebut, tapi karena seorang pembidik profesional tidak akan menembak yang bukan sasarannya, dan target utamanya bukanlah Kyu-Hyun, melainkan wanita yang merunduk di atas tanah dan menatapnya dengan mata kelabu yang datar.

Di sebelah barat markas memang terdapat sebuah pohon tua yang jaraknya mencapai 200 meter jauhnya dari tembok terluar markas. Dari jarak sejauh itu tidak mungkin pelakunya menggunakan pistol biasa, sniper sungguhan. Itu artinya Ryu-Shin benar-benar serius untuk mengancam nyawa Suri.

Ia tahu dengan jarak sejauh itu Smith & Wesson 500 Magnum miliknya tidak akan mencapai akurasi yang tepat meski kemungkinan masih bisa ia dapatkan kalau ia nekat mendekat. Tapi kemungkinan peluru yang dilontarkannya menyasar ke salah orang merupakan resiko yang tak termaafkan lantaran jarak target terlalu jauh.

“Jaraknya terlalu jauh, aku butuh tim tambahan.” Ucap Kyu-Hyun masih mendongkan pistolnya ke arah sasaran meski tahu jarak tembak akurasi pistolnya hanya maksimal mencapai 90 meter.

“Diterima.” Jawab AJ yang tiarap di balik AS50 Sniper Rifle hitam milliknya di lantai kamar yang terletak di lantai dua dengan jendela yang sudah terlubangi. Ia sudah membidik semenjak terdengar suara tembakan di taman belakang, hanya menunggu seseorang menghubunginya untuk dimintai bantuan.

Sambil mengunyah permen karet dan membidik sesuai arah yang Kyu-Hyun sebutkan dan perhitungannya sendiri sebagai seorang profesional, ia merasa gembira setengah mati, sepuluh tahun karirnya ia menungu datik-detik ketika seorang penyusup yang cukup tolol berusaha menyerang ke dalam markasnya di pagi hari.

Gotcha.” Bisiknya sebelum menarik pelatuk senapan dan sebuah peluru melesat membelah udara tepat ke arah pohon tua di tengah putaran 200 meter jauhnya dan dalam waktu kurang dari tiga detik burung-burung yang bertengger di pohon tersebut langsung terbang meninggalkan sarangnya, kaget akan tubuh yang melayang jatuh membentur rantaing-ranting besar dan tersangkut di salah satu dahannya yang lebat, menjatuhkan HK416-nya ke tanah.

AJ menyengir lebar sambil terkekeh pelan sebelum membuka kaca kamarnya. “Dapat!” lapornya pada Kyu-Hyun di tengah labirin dengan seorang wanita yang merunduk di balik kolam air mancur.

Kyu-Hyun mengangguk, memasukkan lagi pistolnya ke belakang kaus sambil menjulurkan tangan kanannya ke hadapan Suri.

“Mati?” tanya wanita itu, tangannya sigap membersihkan kerikil dari celana dan tangannya.

“Tidak ada cara lain, kan?” Kyu-Hyun tersenyum samar. Ia siap jika Suri akan menceramahinya jika suatu hari mereka kembali bersama, mungkin ia akan merindukan hal itu, merindukan hal yang bahkan belum pernah terjadi dalam hidupnya. “Ayo kita keluar, aku harus menjemput tubuh seseorang.”

Kapten Seo berjalan menyusuri satu-satunya lorong menuju labirin di taman barat dengan tongkatnya. Dari wajahnya yang tenang nampak kemarahan yang siap meledak kapan saja kalau ia mendengar laporan target penyusupan kabur dari tangan Kyu-Hyun, si Letnan paling dibanggakan.

Sambil menggandeng tangan Suri, Kyu-Hyun melangkah lebar-lebar menyusuri halaman belakang, wajahnya datar sempurna, tidak ada mata jenaka ketika bercumbu bersama Suri di tengah labirin tadi.

Cho Kyu-Hyun mode bertugas, pikir Suri. Selama 9 bulan mengenal pria itu, Suri tak pernah melihat Kyu-Hyun sedingin ini lagi setelah pertemuannya di persimpangan di Milan. Ia seperti Cho Kyu-Hyun yang berbeda, namun genggaman tangannya yang erat di antara jari-jari Suri menandakan bahwa ia adalah pria yang sama.

“Ada apa?” tanya Kapten Seo langsung.

“Seseorang berusaha membunuh Suri di hadapanku dengan pembidik, empat kali tembakan, profesional, dan bukan profesional yang direkrut sembarangan.” Lapornya cepat.

Kapten Seo melirik satu-satunya tempat yang memungkinkan seseorang untuk membidik masuk ke dalam labirin sebelum mengangguk, meminta Kyu-Hyun untuk melapor resmi sesegera mungkin.

“Tuan Ban?” tanya Suri dengan alis kiri yang naik. “Jadi…” Suri menoleh pada Kyu-Hyun, menunjuk Kapten Seo yang seumur-umur belum pernah ditunjuk tepat di wajahnya. “Dia Tua Bangka yang kau maksud pagi tadi?”

Sesaat Kyu-Hyun membelalakan matanya dengan senyum ketat menatap Suri. Pertama, dia menunjuk wajah atasannya dengan telunjuk dan kedua, dia baru saja memberitahukan panggilan ‘kesayangan’ Kyu-Hyun untuk Kapten Seo.

Bukan memberi hukuman lalu pergi seperti yang biasa dilakukan Kapten Seo pada anggotanya yang membangkang, ia justru tersenyum pada Suri, mengangkat tangan kanannya dan keadaan tak terduga itu membuat Suri dan Kyu-Hyun tak tahu harus bereaksi seperti apa.

Kapten Seo mengusap kepala Suri dua kali sambil tersenyum, senyum yang hanya Kyu-Hyun pernah lihat ketika Kapten Seo melihat putrinya lulus sekolah hampir enam tahun lalu.

“Sudah lama tidak bertemu denganmu, Suri~ya, kau sudah jadi wanita dewasa dan dokter yang sangat sukses sekarang, ya.” Ucapnya penuh sanjungan dan kembali meletakkan kedua tangannya di balik tubuh.

Dari sudut matanya ia melihat AJ dengan celana pendek, sweater hitam, dan topi baseball di ujung taman. Pria itu memberi anggukan sekali pada Kyu-Hyun sebelum memakai kacamatanya dan berdiam menunggu.

Meski tidak mengatakan apa pun, Suri bisa membaca bahwa akan ada protes besar-besaran jika Kyu-Hyun kembali ke markas setelah memeriksa targetnya.

“Sebaiknya kau masuk,” Kyu-Hyun sedikit mendorong punggung Suri ke arah Kapten Seo, “aku harus memeriksa sesuatu sebentar, tunggu aku di dalam.”

Dengan terpaksa Suri melepaskan genggaman tangan Kyu-Hyun di tangannya. Langsung saja dinginnya udara luar merambati telapaknya yang barusna terasa hangat.

“Ya, hati-hati.”

Kyu-Hyun hanya membalasnya dengan senyuman sebelum melangkah lebar-lebar menyusuri taman sisi lainnya. Tangannya sigap menangkap lemparan vedora hitam dari AJ begitu jarak mereka semakin dekat. Ia menyempatkan diri menoleh satu kali lagi sebelum masuk ke mobil yang sudah dipersiapkan.

Lee Surinya menunggu di sana, berdiri dengan wajah tak rela namun tak ditunjukkan secara terang-terangan. Mata kelabunya nampak berair karena dingin, dan bibirnya terkatup rapat, menahan protes akibat dingin yang mulai merayapi tangan selepas Kyu-Hyun meninggalkannya, rambut cokelatnya yang sedikit bergelombang menari mengikuti irama angin, menutupi sebagian wajahnya, dan Kyu-Hyun tersenyum sekali lagi.

Pagi ini AJ-lah yang duduk di belakang kemudi. “Dia wanita yang waktu itu, ya?” tanya AJ masih mengunyah permen karetnya, melirik Suri dari kaca spion sebelum melirik wajah Kyu-Hyun yang seperti biasa, tak terbaca.

“Ya.”

“Apa serangan kali ini juga untuknya?”

Kyu-Hyun melirik AJ hingga membuat pria dengan wajah menyerupai kucing tersebut ciut, ia berdehem sekali sebelum mengusap hidungnya dengan telunjuk.

“Ya, makanya kubilang, kalau belum siap dengan konsekuensi seperti ini, jangan berhubungan.” Jawab Kyu-Hyun pada akhirnya sebelum meloncat keluar dari mobil.

“Itu artinya Anda sudah siap dengan konsekuensi bahwa Lee Suri bisa saja mati esok karena pekerjaan Anda, Letnan?”

Ia memeriksa keadaan sekitar dalam sekali pandang. “Tidak akan terjadi jika ia berkencan denganku. Di sana,” tunjuk Kyu-Hyun pada semak di seberang jalan dari putaran yang terdapat sebuah pohon tua di tengahnya. “Periksa, kemungkinan ia ke sini sendiri tapi tetap waspada.” Ucapnya begitu melihat senapan HK416 hitam yang tadi digunakan masih tergeletak di tanah.

***

Dia orang yang berbeda. Hanya itu yang bisa Kyung-Sook dan Chun-Hwa pikirkan begitu Kyu-Hyun memasuki kantor Kapten Seo. Tubuhnya lebih tegap dari yang terakhir mereka ingat, sorot matanya jauh lebih dingin, dan balutan sweater turtle neck hitam yang dipadukan dengan celana jin hitam juga sepatu oxford hitam membuat tampilan pria yang pernah menjadi menantu mereka tersebut terlihat begitu mengerikan, tak ubahnya malaikat pencabut nyawa, yah, meski sebenarnya mereka belum pernah tahu seperti apa malaikat pencabut nyawa itu.

Langkah lebarnya hampir tidak terdengar membuat pria itu nampak elegan sekaligus mematikan. Persis seperti gambaran pembunuh bayaran di film-film yang sering Suri dan Gong Yoo tonton. Mungkin sebenarnya pekerjaan asli Kyu-Hyun adalah membunuh, hanya saja menyamarkannya menjadi agen rahasia? Siapa tahu? Organisasi seperti ICD memang selalu menyimpan banyak kemungkinan tak terduga, bukan?

Dulu Kyung-Sook sering bertanya-tanya kenapa putrinya yang selalu mengernyitkan dahi jika dikenalkan dengan pria dari teman ayahnya bisa jatuh cinta pada Kyu-Hyun, ia melirik putrinya yang menatap Kyu-Hyun tanpa bernapas, ia mendengus sesaat, siapa juga wanita yang tidak jatuh cinta pada pria semacam Kyu-Hyun?

Kyu-Hyun melirik Suri dan orangtuanya sesaat. Wanita itu diberikan selimut pada bahunya, seperti korban tak berdaya, tapi anehnya mata kelabu Suri sama sekali tak menampakkan bahwa kejadian barusan adalah kejadian traumatis yang mampu mengguncang kewarasannya, malahan Kyu-Hyun bisa melihat sedikit emosi kegembiraan mengetahui nyawanya terancam barusan.

“Letnan Marcus melapor terkait kasus XIIIKRS-23, Kapten.” Ucapnya tegas sambil menyodorkan tablet hitam di tangannya. “Pelaku diketahui sebagai pembidik profesional, bekerja lepas untuk Busan Psycho selama 12 tahun, Hong Ju-In, 40 tahun, kewarganegaraan Korea, status, mati.”

Kapten Seo melihatnya cepat, laporan yang efisien, foto yang menunjukan bahwa kematian Hong Ju-In bukanlah palsu serta penyitaan senjata runduk yang dipakai oleh pembidik, semuanya terlapir rapi hingga foto TKP yang belum sampai 2 jam lalu kejadiannya.

“Jika maksud Ryu-Shin hanya untuk membalaskan dendamnya padamu, tidakkah ini terlalu ambil resiko?”

“Tidak, Kapten.” Kyu-Hyun menggeser ke laporan lembar kedua. “Menurut catatan yang telah dirangkum selama 15 tahun, Kang Ryu-Shin mempunyai hobi bermain-main dengan garis batas hingga akhirnya tertangkap basah 8 tahun lalu oleh ketua Busan Psycho yang menuntun kita pada kelompoknya.”

Perangai khas Busan Psycho, mereka tidak akan pernah bermain aman, baginya urusannya dengan polisi atau institusi hukum lainnya adalah sebuah permainan yang membuat bisnis kotor semakin patut diperjuangkan dan tidak membosankan.

“Kenapa putriku bisa terancam nyawanya?” Chun-Hwa tidak terima dengan kesimpulan yang Kyu-Hyun berikan barusan. “Dia tidak melakukan apa pun yang salah.”

Kyu-Hyun menoleh dan menundukkan kepalanya sedikit. “Aku penyebabnya.” Meski Suri sudah menggeleng, Kyu-Hyun tetap melanjutkan, “Putri Anda adalah satu-satunya orang yang mereka tahu berharga untukku—“

“Apa maksudmu kau pernah membunuh satu kelompok dan menyisakan satu yang masih hidup hingga mereka bisa membalas dendam?” potong Chun-Hwa.

Kyu-Hyun terlihat sedikit ragu sebelum menjawab ya. “Lebih tepatnya membiarkan keluarga Ryu-Shin mati sementara dirinya sudah meminta perlindungan saksi pada keluarganya juga.” Jelas Kyu-Hyun cepat dan tetap diam di tempatnya. “Segalanya bisa terjadi di lapangan, tidak ada yang bisa menjamin jika keadaan berbahaya.”

“Bukankah ICD adalah institusi yang lebih hebat dari FBI dan CIA, kenapa bisa sampai kecolongan dan membiarkan saksi yang harusnya kalian lindungi mati begitu saja?” ia pernah dengan banyak kasus dari kelompok ICD yang dipimpin kawannya ini, bukan satu kali mereka menangani saksi yang diincar banyak orang nyawanya, tapi kenyataan mereka lalai dalam menjaga bahkan yang bukan saksi utama merupakan sebuah kesalahan yang fatal di mata Chun-Hwa.

“Saat itu Busan Psycho baru saja tertangkap, Chun-Hwa, kami mengurusi 300 lebih orang dibantu dua tim lain, keadaan sangat kacau hingga kabar keadaan keluarga Ryu-Shin luput dari pandangan kami dan…” Kapten Seo menggerakan tanggan, “kau tahu selanjutnya. Pekerjaan sepertiku tidak bisa menjanjikan hidup yang lebih lama pada—“

“Mereka tidak mati, bukan?” potong Suri cepat sambil membenarkan selimut yang tersampir di bahunya. Ia tidak melihat ke wajah ayahnya atau Kapten Seo, ia melihat langsung ke mata Kyu-Hyun dengan tatapan datar. “Mereka tidak mati, bukan? Kau…” Suri berdiri dan melangkah mendekati Kyu-Hyun, “bukan pria yang seceroboh itu, kau akan mempertaruhkan nyawamu untuk apa pun yang menurutmu patut dilindungi, saat itu belum ada aku di hidupmu, kau tak punya banyak kepentingan untuk dilindungi, aku yakin saat itu, mati pun jika itu demi misi dan demi negara, kau takkan mempermasalahkan hal tersebut, benar?”

Ini bukan pertengkaran siapa yang mati dan tidak, melainkan pertengkaran kepercayaan yang selama ini tidak Kyu-Hyun berikan pada siapa pun, termasuk Suri, ini pertengkaran rumah tangga yang belum tuntas.

“Mereka tidak mati, bukan?

Kyu-Hyun tetap bungkam sambil melihat Suri tepat ke mata kelabunya yang sama-sama keras kepala dengan mata gelap miliknya. Mereka, jika terus bersama dengan ego yang tak berubah, akan hancur dalam hitungan tahun.

 

—#2 END—

 

Ah, sebenernya mau posting semua, cuma jumlahnya ada 170+, kemarin baru 50 lembar aja ada yang komentar, “Aduh kepanjangan”, pengen sih balesnya judes, cuma males, haha. Jadi dipersingkat ke 50 lembar lagi aja, ya.

Kalau ada yang protes kependekan, embuhlah, terserah kalian aja, Hayati lelah.

 

 

Advertisements

125 thoughts on “#2 Metanoia – Inside Out

  1. berarti ini belum selesai ya kak? masih ada part 3?? kan 170+ lembar

    kalo ga panjang bukan kak okky namanya. tapi udah konsisten kok kak. kalo ada orang yg komen kaya gitu berarti emang jarang baca. coba aja disuruh baca da vinci code. kenyang tuh haha

    suri punya sindrom hipertimestic kah? ingatannya tajam sekali. bahkan orang sekelas agen pun ga mengingat sedetail itu. tapi orang yg punya sindrom ini biasanya mentalnya terganggu. karna ingatannya yg terlalu kuat. tapi kalo suri kasusnya kayanya gak deh. abis diculik aja dia biasa aja.

  2. Ya ampunn ,, makin kerenn ajh cerita’a
    Makin seru saat suri sudah mengetahui jati diri kyuhyun, n suri seperti bisa menerima kyuhyun kembali ..
    Makin banyak teka teki tentang busan psycho n ryusin .

  3. feelingku bilang mereka tidak mati.
    tapi feelingku tidak pernah benar. entahlah biarkan aku menebak2 saja akhir cerita yang terasa menggantung itu. 😁

    1. Di part 1 kan mereka muncul sayyy…
      Istri sama anaknya selamat tapi Kyuhyun gk ngomong karena dia masih belom Nemu siapa yang ngebocorin informasi tempat tinggal mereka.

      Ibunya juga sempat mohon sama Kyuhyun supaya mereka dilindungi dari suaminya…

      #klo gk salah yaaa
      Aku baca lagi deh part 1 nya..
      😀😅😎

  4. Klo di part 1 Kemaren yang gue takutin adalah ceritanya bakal abis ditengah jalan, part 2 ini seengaknya gue rela nunggu postingan yang entah kapan dilanjut. 😊😉

    Segala macem pertanyaan di otak gue udah terjawab sudah… Tinggal nunggu kejutan dari misi Kyuhyun dan kelanjutan love story suri. 😆
    Akankah Gong Yoo akan menjadi jomblo selama 920 tahun?? Kita nantikan saja, apa author setega itu sama bodyguard tamvan ini?? 😂

    Aku suka aku suka…
    Nice nice, belom sempet beli novel nya karena kemaren buat bayar UAS. Geregetan sama kelanjutan CV sama ending dari CBE.. saya good bye laah sama Album Kyuhyun… 😅😰 Kan di album Kyuhyun gk ada Sungmin nya 😈

  5. But di sorry nih kaa,, ada typo yang sempat bikin bingung..

    ***”Jika kau masih membencimu karena meninggalkan tidak tahu apa-apa 4 tahun lalu, silakan saja, tidak perlu menuduhku brengsek.”

    Mungkin maksudnya “Jika kau masih membenciKU karena meninggalkanMU tidak tahu apa-apa 4 tahun lalu,

    Maybe,,,

    Kesalahan penempatan Kata ganti orang kedua kadang bikin bingung bacanya ka,, 😊😎

      1. Gpp chingu
        Typo itu bagian seni tulisan
        Ya sekaligus melatih kita para pembaca buat lebih jelih lagi
        Supaya perkatanya jg diresapi baik2
        Bacanya jg santai
        Ga terburu2

        Baca cerita mu ini meski puluhan ribu halaman jg ga puas
        Mau terussss
        Bikin ketagihannnnnnn

        Untung aja suri selamat
        Hebat bnget deh ah ICD

        Gila nekat itu org
        Sampai nyerang ke markas mereka
        Cari mati bner deh

        Gong yoo
        Aduhhhj kasian kamu bro
        Sabar yaaaaa

        Tn. Bang n chun hwa temenan
        Pantes ya meski suri nunjuk2 jg ga dimarahin
        Tn. Bang anaknya baru lulus
        Dia udh tua
        Lah jadi boleh dong nikah ya

        Cm harus tanggung resiko sendiri nampaknya ya

  6. ahhhh selalu ya.. kalo mereka lagi mesraaaa pasti adaaa aja yang ganggu 😂😂 mau yang manis2 lagi dari mereka 😆 *manis versi kak okky maksudnya wkwk

  7. Kayaknya ini bener2 bukan ending yg sebenarnya deh. Mungkin maksudnya kak Okky, ending buat part 2 nya, bukan ff nya yang ending. Right?

    1. Kan udah dibilang, ga boleh komentar soal “kepanjangan atau kependekan”, bikin males update kalo udah dikasi bacaan malah komentar keluar dari konteks.

  8. keren bangettt ka sur. menurutku ini porsi yang pas :v ngga kepanjangan amat ngga pendek pendek amat. yang pasti ditunggu kelanjutannyaa

  9. Daebak…emosi mereka yg terpendam tersampaikan dengan enak dan jelas. Asmaranya juga kwk…kwk…4 tahun berpisah tidak memadamkan itu justru makin berkobar. Salut ma Suri yg bisa mengontrol kecemburuannya jd sesuatu yg jenaka bagi Kyuhyun belum lagi bayangan penampilan Kyuhun yg garang greeeerr tapi loveable banget. Di tunggu banget lanjutannya biasanya saya skip adegan action tapi yg ini jenis senjatanya aja saya tau, pokoknya keren. Banyak in adegan masa lalu mereka dong penasaran waktu Kyu kasmaran sampai memutuskan menikah dalam waktu yg singkat

  10. aku belum baca part 1 nya tapi pas baca ini imajinasiku udah gerak. Yaampun mba okky kalo bikin cerita bikin ketagihan. Ga bisa diprediksi gimana akhirnya, kalo udah ada rencana terbit kabarin ya mba. aku mau PO 😄😁

  11. Giiiila!
    Ini bener-bener gila!
    Aku sampek refleks tahan napas di beberapa scene. Bikin aku megap-megap.
    I like this!
    Gak tau gimana persisnya aku harus komentar. Yang jelas aku sesak napas setelah baca part ini.

  12. Finally update
    Kata2 terakhirnya itu loh benar banget klu mereka masih sama2 egois dan keras kepala kayaknya nggak bisa de dipertahanin

  13. Aku lebih suka cerita yg chapternya pendek tapi tiap chapternya panjangnya kyk gini, lebih kerasa tegangny daripada yg pendek2, hahaha
    Ini yg aku suka dari blog ini, durasi ceritanya puanjang tapi ga ngebosenin, aku dukung kak, chapter selanjutnya ga perlu di potong lagi, biar cepet habis, hahahaha

    Keep Writing!!!

  14. baru ketemu udah mau bertengkar.. hahahaha.. seru bgt ini gak sabar next ceritanya.. yg cpt ya ka.. sambil menunggu CV2.. hahahaha

  15. Kurang panjang. hhahahhaa…..
    Kirain diawal nih bakalan part ending nya sekaligus tp msih ada satu part lg, jd gak sbar nunggunya. Hhaaha
    Dn beneran masih rda penasaran sma penyekapan Suri, masa gitu doang???
    Dan yg lebih penasaran sbnarny ttg menghilangnya Suri dlu dan reaksi suri ttp kelihatan biasa aja tiap ada kejadian yg menurut org normal akn meninggalkn sedikit rasa trauma. Tp memang si duo SK ini gak normal kn yah? Hhahaha
    Btw, agak meleset saat baca Gong Yoo, akn kah dia bkalan nunggu 900 thun dlu biar dpt pengantinnya. Hhahaaha

  16. sebenernya panjang pendeknya ga terlalu ambil pusing. malah lebih seneng yang panjang, cuman mikirnya satu “apa hpku muat buat buka halaman sepanjang itu?” kalau muat sih malah seneng. 170kan? berarti masih bisa dibuat ke part 3 ya. Ditunggu >< semoga kisah mereka berakhir dengan bahagia. selalu percaya kyuhyun bakal bisa ngejaga suri.

  17. Kak okky, ini hari libur, kenapa dikau malah memberiku PR untuk memikirkan tentang busan psycho, suri yang diculik waktu kecil, suri yang menurutku punya photogeapic memory meskipun lupa pada hal2 tentang dirinya, bagaimana pak mentri bersahabat baik dengan pak tua bangka Seo, kelanjutan hubungan si cho kyuhyun brengsek tapi seksi dan lee suri yang self careless. Tolonglah, demi kesehatan otakku, segera publish kelanjutannya ya?

    Ada beberapa hal yg kupikirkan soal sampai chapter 2 ini.
    1. Tentang Suri yg diculik pada bulan oktober dan kembali saat ulang tahunnya 6 mei. Mungkinkah dia diculik busan psycho dan diselamatkan oleh kapten seo dan dirawat di markas ICD? Itu juga yg membuat pak mentri dan kapten bersahabat baik? Suri juga udah hapal jalan labirin meski baru pertama, mungkinkah sebenarnya di udah kenal labirin itu jadi gampang aja lewatnya, entahlah
    2. Kematian keluarga ryu shin. Di chapter 1 kalau gk salah ibu dan anak itu datang ke kyuhyun utk meminta perlindungan dan agar kyuhyun tidak percaya pada ryu shin begitu saja. Kenapa harus kyuhyun? Kenapa bukan ke kapten seo?
    Masih jadi tanda tanya selama sampai chapter berikutnya terbit.
    Jadi kak okky, tolong publish secepatnya ya? Please *puppy eyes* 😀

  18. Huuaaaahhh pekerjaan kyuhyun emang keren yaah :-*
    q tuh yah kalo baca ff leah eonni selalu baper tau.. 😀
    apalagi yah kalo mereka adu argumen tuh menurutku itu romantis loh 😀
    itu sesuatu yg berbeda.. Stiap kalo suri tertawa tuh . Kyanya sya ngrasain gtu kalo kyu bener2 jatuh cinta sama suri.. Cuma hanya karna tawanya suri loh.. :-* apalgi tiap menggambarkan kekagumanya satu sama laiin.. Eeeeerrrr :-* 😉 😀
    suka suka suka..
    Ditunggu ah lanjutanya 😉

  19. abis deh dicekokin cerita detektif detektifan, di ff sama drama pun sama tegang nya. tapi disitu lah kita bisa ikut mikir juga, gak cuma asal nikmatin aja!!

    bahahaha sekian lama req aku ttg romance mereka akhirnya nyelip sedikit 😂😂
    penjahatnya kan belom ketangkep, semoga belom END., ketegangan antara ex mertua dan ex menantu juga blm diselesaikan. tapi mungkin suri bisa jadi salah satu anggota tim mereka krn daya ingat nya yang spesifik itu.

  20. Suri ga tau apa2 tentang Kyuhyun selama ini. Berasa kayak nonton film action thrller tapi vers bacaan. Suri orangnya keras juga semoga bersatu ya.

  21. kerennnn..ya ampun tulisan ny bgus bngett plus ceritany daebakk..kyu so sweett bngett aq suka..pknya next ny ditunggu

  22. Makin seru ceritanya,,dan makin degdegan stiap baca alurnya..
    Berasa kata nnton film action..
    Hahaha,,,semoga next partnya cepat di post..
    Smngat thorr

  23. Wow! Such a long perfect part 2 😊

    Kualitas teknis dan kontennya bnr2 terjaga. Seluruh part terdeliver dg detil, bikin yg baca berasa bnr2 kyk ngeliat frame to frame scr live.

    Semua part yg serius dan lucu ditaruh dg pas, suka! Gk sabar nunggu part berikutnya 😊

  24. Ditunggu kelanjutannya, termasuk misteri suri diculik dulu waktu kecil, kedekatan kapten seo dan ayah suri dan pastinya juga misteri tentang busan psycho

  25. Akhirnya keluar juga ni cerita, q gak nyangka kyu bakalan menhelaskan semuanya agar bisa kembali ma suri. Wahhhh kyu bakalan jawab jujur gak yaaaaa ttg saksi yg d lindungi kyu. Next d tunggu cinggu

  26. Kyu akhirny bisa ngungkapin sp dia sebenarnya
    Suri hebat walau pernh di tingglkn kyu tp pandngnny ke kyu msh spt org yg jatuh cinta tp emng ke2nya msh slng mncintai
    Semoga kyu ttp bisa bersm hidup dg suri walaupun byk persoaln dan musuh yg selalu mngintai mrk

  27. ga koq ka … mau kepanjangan mau kependekan semuanya ok koq …
    kita tetep nunggu semua karya” ka oki..
    fighting ^^

  28. Akhirnya bisa baca,harusnya kemaren bisa jadi first reader karena eror jadi g bisa kebuka buka linknya…
    siapa yg komen kepanjangan?? Mesti diajarin baca dalam hati & tetep fokus, dia bacanya keras2 kali jadi cepet cape……he,,,,,,,
    pekerjaan yg sangat beresiko, tapi cinta masih lebih beresiko lagi kan. Kenyataan lo suri masih tetep diincar walopun mereka udah cerai berartii emang mestinya mereka g pisah lagi, akan lebih mudah buat kyu nglindungin suri lo dia selalu ada dalam jarak pandangnya. Toh ada dimanapun suri tetep terancam,paling gak mereka bisa eering ngabisin waktu berdua & g tersiksa jarak yg memisahkan…cie,,,..bahasanya aneh…..

  29. Sempet dag dig dug jga karna kta’a mo END , y walopun bner jga c part2 ini yg END😂😂😂
    Aku jga waswas tdi pas jalan kyuhyun wat bebasin suri kok mudah banget tanpa ada halangan lagi, ini yg kek gini yg bkin curiga dan waspada…
    Untung kyuhyun dah jujur ttg pekerjaan jga yg lain y walopun yg urusan saksi itu g te jga y kyu bakalan jujur p g ma suri
    Kok q jdi curiga y ma suri yg wkt kecil hilang itu, jangan-jangan ada hbngn’a dgn busan psycho??? Tpi kok suri jdi linglung gitu pdhl ingatan dya kuat bgt. Yakin ada sesuatu ini😄😄😄
    Hahahahaha kasian y mo mesra-mesraan mlh ada aja pengganggu😂😂😂 belon rejekimu cho😂😂😂
    Sangat menantikan lanjutan’a ini, sumpah penasaran…
    Semangat oki nulis’a😙😙😙

  30. Ini nih yang ditunggu tunggu😍 pas kak okky ngepost di ig, aku selalu langsung buka blog, siapa tau udah di post😂 dan akhirnya terjadi hari ini
    Btw kok bisa tau ttg kedokteran sama organisasi tersembunyi kayak gitu kak?😂 asli detail banget.. keren bet dah😂 kagum sama kamu😘
    Kapan aku bisa kayak gitu😢

  31. alhamdulillah part 2 di post juga…
    sudah sampe di sumpahin kah sama para victims kah kky?? hahha…

    ini entah karna aku maksa bacanya walaupun sambil ngantuk2, atau emang otakku yang lagi lama loadingnya, kok perasaanku tulisan di part ini agak beda yah, agak sulit dipahami maksud tulisannya.. :/

  32. Kereeen…masih banyak hal2 yang belum diketahui…masih misteri…tapi ada satu hal yg harus disyukuri, Suri sudah tau tentang pekerjaan Kyuhyun, setidaknya dia tau alasan Kyuhyun meninggalkannya waktu dulu..dan Suri pun bisa menerimanya…entah kenapa suka Suri dan Kyuhyun waktu berinteraksi…dingin2 romantis gitu…

  33. Yang masih misterius buat aku yang kehidupan kecil suri, terus yang di part 1 yang kyuhyun kedatangan 2 orang tamu yang kehujanan seorang ibu dan anaknya apa mereka adalah anak dan istri yang mengincar suri.
    Kalo menurut aku pribadi aku suka sama cerita yang panjang.
    Terimakasih… 😊🎩
    😁
    👕👍Great!
    👖

  34. selalu cek ada ff terbaru apa ga, dan eh ada wkwkk.. ff ka aquilea selalu banyak misteri, bikin bingung tapi seru, tapi tetep ada sweetnya,, cerita aku bgt kak wkwkk,,

    masih misteri, sebenernya yg diincer tuh siapa dan apa? apa bener bales dendam? ato ada kaitannya sama menghilangnya suri waktu umur 4tahun? eh itu btw suri hilang dari oktober – mei?? lama dong ya, 7bulanan? wah,, masih penasarann kak, aku tunggu kelanjutannya hehe

  35. Awal-awal pas Suri kekurung dikotak kaca itu bikin jantungan, bahasa koreanya dugeun-dugeun. Sumpah itu menegangkan banget, apalagi pas Kyuhyun nembak kacanya trus langsung nangkep tubuh Suri tanpa perduli sama pecahan kaca itu bakal kena tubuhnya, duhh itu adegan yang paling-paling so sweet, bukan so sweet yang manis sih tapi lebih ke mengharukan, bener-bener luar biasa pokoknya, ahh intinya menyentuh hatiku ❤

    Jujur aku langsung ketawa pas baca ini ⇨ Baru juga Kyu-Hyun akan berniat melepas sweater Suri, pintu kamarnya terbuka kasar, menampilkan Gong Yoo yang berkeringat akibat berlari sepanjang lorong.

    “Aku punya beberapa kabar tidak—whoopsie!”

    Aku beneran ngebayangin ekspresi wajah Gongyoo, 11 12 kaya ekspresi kagetnya+bloonnya di Goblin 😂🔫

    Salut ya sama ingatan Suri, bisa sedetail gitu padahal udah 2 tahun yang lalu. Kelebihannya sempurna banget. Oya, aku sedikit curiga sama kapten Seo, apa kemungkinan sebetulnya dia dalangnya?

    Kak Okky selalu kren kalau buat cerita, aku bacanya sambil mikir keras karna penasaran. Aku sampai kebayang loh beneran kaya nonton film-nya PSR sama CKH. Ngga heran fans Kak Okky banyakk..

  36. jadi keingat drama remember yang cowoknya punya ingatan tajam terus /spoiler alert/ akhirnya dia punya penyakit yang menyebabkan dia jadi lupa ingatan. semoga suri gak seperti itu.

    ditunggu part 3 nya ya kak. setelah baca part 1, saya kunjungi blog kak okky terus tiap hari buat ngecek kapan part 2 keluar! hehe.

  37. Duhh.. kakakk aq sih bodo amat dehh klo ada yg koment aneh2. Macam pertandingan bola ajh, penonton itu bisanya cuma teriak kasih semangat atau teriak maki2 pemain. Yasudahlah.. wes sabar wae!!!

    Btw ini konflik makin asoy ajh. Deg2 tiap baca kalimat by kalimat. Ehh busyett byk banget rahasia. Dan itulah ciri khas tulisan km kak.
    TOP abis lahh. Love banget sama pasangan kyuri.

    Terus semangat next part nya!!!

  38. Comment ke-2 😁

    Jadi kepikiran … Jgn2 Suri diculik Busan Psycho, lalu direkrut sbg agen pasif ala2 Salt 😫 ataaaau… Skrg diburu krn kemampuan photographic nya yg kuat 😥

  39. ‘Pagi-pagi sebelum 4 tahun ini.’
    Sempet bingung pas baca abis tulisan ini, tekira nyritain kenangannya suri sama kyuhyun 4 thn yg lalu, tp ternyata bkn. Sebenernya masalahnya kyuri ‘cuma’ maslah kepercayaan ya ka, tapi emang kalo cinta g dibarengi sama rasa percaya sama aja boong sih. Justru kalo masalahnya org ketiga tp mereka punya kepercayaan yg kuat malh g jadi masalah ya. Hehe malah jd nglantur kmana2
    Semangat terus ka nulisnya, aku selalu nunggu karyamu😊

  40. Ini yg slalu q sk klo baca karyanya ka okky panjaaaaaaannnnnggggg banget ceritanya,bikin q puas pake bangets..😀😀😘,dan selalu lanjutannya g bs ditebak,suka berimajinasi sendiri,tp nanti klo pas lanjutannya sdh dipublish,ternyata salah tebak..😀kata2nya itu lho slalu bikin q terpesona..hebat banget ka,krn sering baca karya ka okky cast kyu sm suri,q slalu bayangin mereka bs jd real couple, dng karakter cwe kyk suri kurasa cocok banget buat kyu..😄jadi sering kepoin ig nya park sora,sosok asli lee suri..klo ada rencana terbitin novel lagi,tlong dikasih tau klo bk po nya ya ka..mksh..😍😘

  41. Yeye seneng mreka bsa sma” lgi wlaupun smpat tegang pas suri d sandera😦
    semoga mereka ttap brsma wlauapun bnyak rintangan mnghadang😂😃😃😯😍😘😘😘😘

  42. Masih tanda tanya banget yag.. Tapi ak rada penasaran, wktu kecil si suri ngilang, kog ak curiga dia sama kapten seo ya? Karna kan kapten seo bilang dia udh lama ga ketemu surii trus temen appanya kan ya.. Seru banget..
    Ada typo sih 1 tadi tp bukan masalah besar.. Konfliknya seru, ceritanya seru, dan i love it!

  43. Typonya masih ada beberapa tapi nggak sebanyak Metanoia 1. Ceritanya bagus dan entah kenapa deskripsi yang kamu tulis untuk menggambarkan Kyuhyun selalu jadi keren di imajinasiku. LOve it!

    Sebenarnya aku udah baca Metanoia 1, mungkin. Tetapi herannya aku nggak ingat sama sekali soal cerita di Metanoia 1, sampai-sampai biar bisa ngerti dengan part 2 aku harus baca ulang. Jangan-jangan aku berhalusinasi. Harusnya aku masih bisa ingat walaupun udah lama semacam CV, tapi ini nggak ada di ingatan sama sekali kecuali judulnya. Ah, entahlah.

    Whatever that, seluruh ceritanya keren. Terus berkarya Okky.

  44. Yah syukur suri bisa slamet kalau nggak yakin aku kyuhyun beneran jadi gila entar 😂😂
    Kirain part dua ini beneran udah end ternyata masih ada lanjutannya
    Ditunggu next part kakak

  45. Wow!!! ingatan Suri hebat bgt!! bahkan ada agen yg terang2an mengumpat gara2 kemampuan ingatan Suri….

    Kyaaaa!!! senengnya mereka udh saling terbuka,baik ttg perasaan mereka maupun pekerjaan Kyu…
    mereka emang masih sama2 keras kepala ya,hehehe

    Next part ditunggu ya Ka, semangat terus!!!!

  46. uwooooooo dilanjuttttt!! ah seneng betullll setelah 4 tagun pisah akhirnya kyuhyun jujur ngaku peerjaan dia apa.. tp sebrnernya kalo udah begini tuh ya bakal gimana, apa yah idupnya kaya gakan bisa trnsng gitu both kyuhyun dan suri hahaha untungnya suri orangnya tangguh juga gitu, selain hancur karena ditinggal kyuhyun.. yah mereka udah baikkan disini, thats a good point, masih saling cinta makanya ngalir gitu aja kan hahahah nah maksut suri apa tuh terakhirnya……… mereka ga mati dan kyuhyun diem aja.. apa bener mereka ga mati….. masih ada lanjutannya kan ya? ini gabisa end gini aja hahaha ditunggu selaluuu lanjutannyaaaa

  47. Iyakah? Ada yg protes bilang part kemaren kepanjangan? Ganggu suasana aja.

    Peran agen rahasia kekgini selalu mengingatkan aktor tamvan yg ituu,JCW 😀 O iya,ini bakalan tamat di part 3 kah kak Okky? Pasti selalu setia menunggu postingan selanjutnya..semangat!!

  48. padahal mereka udah dimarkas tp masih ngebuntutin suri, waw sekali ya keberanian orang tipe-tipe mereka. Kira-kira setelah suri tau semua ini apa kyuhyun bakal ninggalin suri lagi

  49. Makin menegangkan…. tp syukur lah masalah antara suri ama kyu bisa selesai…. tinggal ngurus kurcaci pengganggu … tp bakalan happy end kan chingu…… 😦
    Tnggal nunggu part 3 publish hihihihi…..
    Semangat dan jangan lupa jg jaga kesehatan biar ga drop secara musim panca roba….heheheheheheh

  50. udah sepanjang ini tapi belum kelar jg, yaampun…
    makin keren aja deh ceritanya, kl kyuhyun didunia nyata sifatnya ky gitu keren jg kali ya

  51. akhirnya kyuhyun terus terabg jg dgn jati dirinya. makin penasaran sm part selanjutnya.
    suri aja yg baru dengar ttg kasus itu bisa tau kalo saksi sebenarnya blm mati. kurang memahami apa coba suri ttg kepribadian kyuhyun. bikin iri aja.

  52. Ini kereen kak! Berasa tegangnya. Berasa galaunya. Dan pendapatku pun dari part 1 sama, waktu Kyuhyun ngunjungin Ryu-Shin dan waktu dia dikunjungi sama Istri dan anaknya pria itu, kalo mereka belum mati. Tapi alasan Kyuhyun nutupin itu semuanya lho yang bikin penasaran. Duuuuh…

    Aku ketawa pas bagian Gong-Yoo mergokin KyuRi lagi ahem-aheman. Wkwkwk. Sumpah itu kebayang gimana muka datar+kagetnya mereka berdua. Dan muka konyolnya Gong-Yoo ngasih tenggang waktu tapi gak dibales apapun. Hahaha.. Trs waktu Kyuhyun kesel pas tau yg nuduh dia nikah lagi ternyata Kaptennya. Disitu aku juga kena zonk. Jadi ternyata—-hahaha…

    Ada typo nyempil tadi kak. Tapi keseluruhan, aku suka 😍😍 ditunggu part 3nya ~~~

  53. Kerennnn bgt … 👍
    Dan mkin menegangkan aplgi ps suri d sandra… Smga tugas kyuhyun utk nmnyingkirkan busan psycho cpt d slsaikn biar ga d teror2 lagi surinya… Dan juga msih ada bbrpa misteri yg blm d ungkap trtma wktu suri kcil…
    Smangat trus bwt kk… D tnggu next chapnya ☺☺☺

  54. Menurut aku ini lumayan pas untuk seri sebuah cerita. Bagi mereka yg cuma hobi komentarin panjang pendek doang ga usah di ladeni. Emangnya nulis itu mudah? Harusnya komentar mereka itu yg memberi semangat kan Okky? 😊

    Aduh si Kyu- pekerjaan nya ga ada yg santai nih? Menguras tenaga dan otak terus. Tegang. Tp klo ga genre ini si Kyu- bukan Kyuhyun namanya.

  55. subhanallah ini part bikin nyengir2 sendiri di beberapa scene 😀 trus tiba2 gregetan sma para penjahat yg bener2 buat mikir kerass dibalik penculikan suri jadi berasa anak buahnya kyuhyun secara tidak langsung hahaha

  56. Oke… Disini yg masih terjebak sama perasaan yang belum kelar adalah kyuhyun dan suri, tapi ini malah jadi aku yg heboh sendiri.. Hoho
    Liat mereka yg akhirnya bisa mesra”an lagi itu adalah hal paling menyenangkan.. Wkwk yahh meskipun belom sepenuhnya ok ok aja.
    Paling senang tuh kalu liat suri yg terpesona liat kyuhyun, jadi geli sendiri wktu ibunya suri bilang “siapa juga wanita yg tdk jatuh Cinta pada pria semacam cho kyuhyun.. Wkwk apa lagi liat suri yg menahan napasnya.. Hahaha

    Dan lagi lagi harus rela jatuh Cinta sama tulisan kak okky, ini berasa ikut masuk didalemnya.. Hoho
    Next Metanoia ditunggu kak.. Fighting!!!

  57. Selalu suka dgn fanfict nya eonni satu ini.
    Ide cerita, gaya bahasa, pemilihan kata, karakter castnya, penggambaran setting yg dibeberapa bagian egk detail tapi mudah d pahami.
    Pokonya cucok emm deh

  58. Kayak yg part 1. Bikin tegang bacany. Sukaaaakkk
    Keren ffnya bneran keren. Suka aku karakter Kyu yg bner bner misterius kayak gini.
    Bner bner ditunggu kak lanjutannya, semangat~

  59. berarti masih 2/3 kali posting lagi dong kak? jadi makin penasaran aja.aku harap sih ini bener2 sampe End dan gak dibuat novel,soalnya aku masih dalam mode pelajar jadi blm punya uang sendiri* cielah malah curhat* pokoknya ditunggu posting selanjutnya,jangan lama2 kak

  60. aq rasa suri benar istrinya ryu shin kn pernah minta tolong ma kyu buat sembunyi dr suaminya dan pasti kyu yg sembunyiin keberadaan mereka,
    seneng bgt akhirnya kyu bisa jujur ma suri jadi gak salah paham lagi mereka sweet bgt walau gak pakai bunga ma coklat hanya tatapan mata dan perhatian kecil kyu itu udh bikin hati meleleh…..hehehehe
    klo mnrt q sih lebih baik panjang drpd kependekan klo panjangkn lebih puas bacanya dan kangennya nunggu ff bisa terobati,,,,,,,trimakasih udh publish

  61. Wihhh akhirnya dilanjutin…
    Duh makin penasaran, takut banget kalo akhirnya sad. Tolongbanget thor akhirnya dibuat happy dong hehe
    Karakter suri tetap juara banget deh
    Next part sangat ditunggu ya thor, semangat buat authornya ☺️💪🏻💪🏻

  62. ceritanya panjaang ..but its okAy.. kereeeen lahh..
    yang namanya cerita yg punya genre kayak punya kakak ini mah, emang lebih bagus kalau ceritanya panjang. lebih bisa menghayati jalan ceritanya, sih ya?
    maaf ya kak baru bisa comment sekarang?

  63. Bener2 jatuh cinta sma kisahnya….. walau panjang g bosen… justru menarik, soalnya penggambarannya bner2 keren. Akhirnya suri tau deh apa kerjaan kyuhyun, daan ternyata si tua bangka atasan kyuhyun temannya ayah suri… dunia selebar daun kelor wkwkwk…
    Moga2 suri & kyuhyun balikan, & bahagia

  64. masih aja ada komedi-komedinya ditengah keadaan menegangkan 😂
    Suri unik banget, buat ngunci pintu mobil lupa tapi nginget apa yg dipake Onew bisa bahkan sedetil-detilnya haha
    ini ending nya ga aka sad kan kak? 😭

  65. Scene ketika Kyuhyun melindungi Suri maupun menyelamatkannya itu aduh.. bikin baper bener deh. Apalagi pas mesra2an dan ketahuan Gong Yoo itu, hehe
    Di sini pekerjaan Kyuhyun sudah diketahui oleh Suri dan keluarganya, yang membuat terkejut adalah Kapten Seo adalah sahabat baik ayah Suri. Berarti ia akan merestui jika Kyuhyun berhenti dr pekerjaan lapangan demi Suri dong (Mungkin).
    Ingatan Suri sungguh membuat tercengang, ia bisa mengingat sedetail itu.
    Belum ada petunjuk siapa penjahatnya, bikin penasaran banget.
    Akan tetapi justru yang membuat bertanya-tanya adalah tahun setting cerita ini, Scene ketika Kyuhyun melindungi Suri maupun menyelamatkannya itu aduh.. bikin baper bener deh. Apalagi pas mesra2an dan ketahuan Gong Yoo itu, hehe
    Di sini pekerjaan Kyuhyun sudah diketahui oleh Suri dan keluarganya, yang membuat terkejut adalah Kapten Seo adalah sahabat baik ayah Suri. Berarti ia akan merestui jika Kyuhyun berhenti dr pekerjaan lapangan demi Suri dong (Mungkin).
    Ingatan Suri sungguh membuat tercengang, ia bisa mengingat sedetail itu.
    Belum ada petunjuk siapa penjahatnya, mungkin ada orang dalam karena mengetahui persembunyian rahasia tsb dan dalam waktu hilangnya Suri, ia di mana siapa yg mengasuhnya karena kembali dalam keadaan utuh tapi tak ingat apa yg dilaluinya, mungkin kah justru yg terlibat dalam kejahatan itu adalah orang tsb, sumpah bikin penasaran banget.
    Akan tetapi penasaran juga dgn tahun setting cerita ini, Ah, penasaran tidak penting sekali. hehe
    End part 2, dinantikan part 3 kak.

  66. Scene ketika Kyuhyun melindungi Suri maupun menyelamatkannya itu aduh.. bikin baper bener deh. Apalagi pas mesra2an dan ketahuan Gong Yoo itu, hehe
    Di sini pekerjaan Kyuhyun sudah diketahui oleh Suri dan keluarganya, yang membuat terkejut adalah Kapten Seo adalah sahabat baik ayah Suri. Berarti ia akan merestui jika Kyuhyun berhenti dr pekerjaan lapangan demi Suri dong (Mungkin).
    Ingatan Suri sungguh membuat tercengang, ia bisa mengingat sedetail itu.
    Belum ada petunjuk siapa penjahatnya, mungkin ada orang dalam karena mengetahui persembunyian rahasia tsb dan dalam waktu hilangnya Suri, ia di mana siapa yg mengasuhnya karena kembali dalam keadaan utuh tapi tak ingat apa yg dilaluinya, mungkin kah justru yg terlibat dalam kejahatan itu adalah orang tsb, sumpah bikin penasaran banget.
    Akan tetapi penasaran juga dgn tahun setting cerita ini, Ah, penasaran tidak penting sekali. hehe
    End part 2, dinantikan part 3 kak.

  67. Iiissshh .. siapa sih yang komen kepanjangan?? Bikin gedek aja.. walaupun panjangnya kaya kereta dari jkarta ampe sumatra(?) Aq siap kok kak bacanya. 🙂

    Aq udah pernah kenalan nggak ya.. ama “the owner of this blog?” Lupa 😀 kenalan lagi dah..

    Hay, kak.. aq bukan reader baru diblog kakak yang keren ini.. aq udah baca part 1 dari ff ini, tapi lupa komen kagak ya? :/ mau ijin baca yang laennya kak.. tapi kayanya aq pernah kirim email ke kak oky deh.. lupa 🙂 apa karena udah setahun nggk pernah baca” ya??
    Tau ah,, aq cuma mau ijin baca kok kak.. #malahjadipanjang

    Aq bingung deh, itu anak dan istrI ryu shin udah mati belom sih?? Di part 1 kayaknya belom dehh..tapi kyu nggak lapor? Taapi kok katanya udah mati?? Bingung ah.. nunggu part 3 nya aja..

  68. 🙈🙈 ah kenapa gagal mulu setiap KyuRi mau mesra2an huh.. Lookin forward to the next chapter nih bcos ka Okky kalo bikin fanfic suka kurang ajar, ga bisa ketebak cerita selanjutnya yang berakhir bikin baper aku T.T

  69. Akhirnya suri tahu tentang kyuhyun walaupun tidak semuanya tapi paling tidak, tidak ada yang frustasi lagi karna tidak tahu siapa kyuhyun. Dan eonni jangan buat mereka pisah lagi, kasihan mereka, harus tersiksa gitu karna cinta mereka.

  70. Best Blog lahh ini pokoknya, keren-keren kak ceritanya!! Kalo emg yg bilang ini keanjangan, orangnya emang cepet bosen, gk konsisten, gk ush didengerin kak, tutup mata ama telinga ajaa lah, Ditunggu lanjutannya kak!!

  71. Aw manis banget sih mereka :-* apalagi yang palin suka disini saling terbuka akan perasaan masing 🙂 dan sekarang sudah tau pekerjaan kyuhyun seperti apa 🙂 Ah padahal itu lagi panas2nya 😀
    Semoga mendapat restu lagi dari kedua orangtua suri 🙂 tp bikin deg2n juga deket2 dengan kyuhyun serem 😥 Huwaa eonni ditunggu banget part selanjutnya jebal ❤ udah penasaran sama kisah couple ini 🙂 Aku malah suka sekali kalo ada ff yang sepanjang seperti ini 🙂 puas banget bacanya ❤

  72. Gilaaaaa ini cerita keren banget, panjang banget.. Dan manisnya mereka, sejujurnya ada bbrpa bahasan yg tidak aku mengerti sih entah karna ini bahasa baku yg tinggi mungkin. Ini 2part serasa baca 5part,panjang banget daebak.. Dan ceritanya bikin penasaran. ini bukan end kan? Masih dilanjut part part selanjutnya?.

  73. Hwooo kerenlah kak oky pasti kalo bikin cerita khasnya keluar banget…
    Emang dipart 1 sempet pengen cepet2 tau inti ceritanya. Tapi setelah dipart 2 berasa pengen ikuti aja alurnya,berasa jadi menikmati alur yang maju mundur dan bener2 bikin spot jantung and kisah romantisnya ditengah cerita..hwaa SEMANGAT KAK :3

  74. Apa mksd suri mreka blum mati adalah 2 orang yg wktu itu sama kyu sblum kejadian suri diculik,, makin tmbh pnsran.ajh nihh,, gpp kepanjangan juga aku mlh suka kpn lagi baca ff yg seru kaya gini.
    meski ini gk trllu panjang tpi gpp ini ajh udh brsyukur..hehe

  75. Unnie kapan part 3 nya di publish?????? Udah penasaran nihhhh…. Kalau perlu yang panjangggggg ya eon hehe

  76. Suri kelemahan Kyuhyun makanya dia nyembunyiin semua indentitasnya

    Duhhh gak kebayang jadi Suri pasti rasanya kayak nikah sama orang asing

  77. Ohh sekarang udah mulai tegang Nih otak Saya, sudah mulai terlihat benang merahnya, Sebab akibatnya. Mau FF nya kepanjangan atau kependekan selama FF itu tentang kyuhyun Dan Suri, dijabanin.

  78. Halo kak … hehee akhirnya bisa mian lagi ke blig ini. Udah lama banhet ga main setelah baca part satunya. Bukan tanpa alasan aku nungguin updetan banyak dulu 😊😊. Kangen vabget sama tulisan panjangnya akhirnya part 2 udh selesai di baca. Aku ijin baca next part nya lagi ya kak. Komentar kali ini cuma nyapa aja gpp kan??

  79. Ini masih ada lanjutannya kan kak? Seru bgt ini ceritanya aku sukaaa.. Ditunggu ya kak next chap nya. Oiya, aku reader baru n clueless banget sama semua pw ff yg di lock. Aku gak ngerti satupun haha *akunya lola juga sih* ada gak kak cara lain buat tau pw nya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s