#4 Metanoia – Agony (END)

metanoia-new-ok

Sindrom stockholm adalah kelainan yang terjadi pada korban penculikan atau korban kekerasan lainnya yang menunjukkan tanda-tanda kepatuhan, simpatik, hingga jatuh cinta pada pelakunya dan mengabaikan pengalaman buruk yang pelaku lakukan pada korban. Kelainan ini diakibatkan tidak adanya teman bersosialisasi lainnya dalam masa penyekapan hingga hubungan antara pelaku dan korban menjadi lebih personal dan terjadinya pemahaman terhadap apa yang pelaku lakukan pada korbannya.

 

Laporan kejadian paling baru tercatat tahun 2006 yang dialami oleh Natascha Kampusch, dan kejadian paling fenomenal yang turun temurun menjadi inspirasi bagi anak perempuan adalah kisah ‘Beauty and The Beast’ di mana Belle, tokoh utama wanita, yang akhirnya jatuh cinta pada pengekangnya, Si Monster, meski fakta mencatat bahwa adanya sindrom stockholm, beberapa orang meyakini bahwa sindrom ini tidak lebih dari bualan, tapi bagi Kyu-Hyun … ia bahkan melihat hal yang lebih keji dari hasil sindrom stockholm, beberapa kali dirinya mengalami luka fatal lantaran korban penculikan yang seharusnya melarikan diri justru membela pelaku dan melakukan perlawanan terhadap Kyu-Hyun dan tim.

Penjahat yang bisa memanipulasi psikologi korbannya adalah penjahat yang amat berbahaya, ia bisa mengendalikan apa pun dalam satu kali sentuh, bahkan orang yang paling patuh terhadap hukum bisa dibuat bertekuk lutut di hadapannya, dalam kasus Ryu-Shin, pria itu amat cerdas dan terlalu licin, saking licinnya tak pernah sekalipun Kyu-Hyun melihat Ryu-Shin menghubungi seseorang diam-diam dari balik selnya.

“Kenapa bisa lupa ingatan sesaat?” tanya Mark yang berkumpul di ruangan Kyu-Hyun sambil melipat tangannya di bawah dada.

“Amnesia selektif.” Jelas Kyu-Hyun sambil membuka sebuah buku psikologi dasar dan menggarisbawahi teori yang ada di kepalanya. “Psikologi manusia tak lebih dari naluri hewan yang akan balik mengigit dalam keadaan terancam. Begitu pun mereka, tapi tidak mungkin seluruh korbannya mengalami amnesia selektif hanya untuk mempertahankan diri mereka dari depresi berat.”

Mereka memerhatikan 7 foto di atas meja dari orang berbeda yang dijejerkan berdampingan dengan foto sesudah mereka keluar dari penculikan. Semua terlihat sama, matanya berubah tanpa emosi, rambut mereka terlihat sedikit cokelat, kulit mereka nampak pucat jarang terkena matahari, dan dari catatan kesehatan tidak menunjukan penurunan berat badan atau zat tak lazim yang ditemukan di dalam tubuh mereka. Ini sungguh jauh di luar dugaan Kyu-Hyun.

“Tapi ini sangat aneh, LT,” Redbeard menunjuk catatan kesehatan, “mereka bahkan tidak menunjukan tanda-tanda traumatis alam bawah sadar, tidak ada yang berteriak di dalam tidur, tidak ada kelakuan yang aneh kecuali mereka melupakan kejadian selama mereka menghilang, ditambah mereka sepertinya diperlakukan dengan amat baik, tidakkah ini begitu ganjil untuk ukuran Busan Psycho yang bahkan tak tanggung-tanggung untuk meledakkan kepala anak kecil?”

“Ryu-Shin berbeda dengan Busan Psycho. Ryu-Shin dengan amat sadar bahwa dirinya lemah dalam kemampuan bertarung fisik, ia takkan repot-repot merekrut banyak anggota dan berpotensi menimbulkan kecurigaan Busan Psycho, itu kenapa mereka memilih anak kecil, investasi jangka panjang.”

Kyu-Hyun terdiam, berkutat dengan kepalanya sendiri, teori amnesia selektif memang tidak masuk pada kasus penculikan Ryu-Shin, mereka mengalami gejala serupa, jika itu adalah reaksi alami dari psikologi, seharusnya satu dari korbannya bisa mengingat kejadian yang menimpa mereka meski hanya secuil. Tingkat ketahanan psikologi setiap anak berbeda-beda dan tak mungkin satu kejadian menimbulkan efek yang sama pada anak lain.

“Mereka dihipnosis.” Bisik Kyu-Hyun menyimpulkan begitu melihat laporan yang Gong Yoo kirimkan ke perangkatnya tentang tidak ditemukannya catatan yang mencurigakan dari seluruh korban termasuk Calla yang tak menyimpan apa pun di kubikelnya. Suri mengalami kejadian yang sama, hilang ingatan dalam satu hari setiap tahunnya. Gong Yoo menganggap prilaku aneh Suri tersebut disebabkan oleh Suri yang mulai beranjak remaja dan mulai membangkang, lantaran 7 tahun lalu kebiasaan tersebut mulai hilang, tak pernah Gong Yoo kelimpungan mencari Suri yang tak ditemukan keberadaannya. “Ryu-Shin menidurkan ingatan tersebut dan ….” ia berbalik menatap sinyal ponsel Suri yang berjalan menuju rumah Kapten Seo. “Ryu-Shin berusaha membangkitkan ingatan tersebut.”

Frederick maju selangkah, “itu artinya tinggal Lee Suri-lah yang belum bergabung bersama Ryu-Shin dan korban lainnya.”

“Ya. Dia adalah orang terakhir yang belum bergabung.”

“Kalau begitu bawa Lee Suri ke sini, Kapten Seo bisa menjaganya di sini ketimbang di kediamannya, akan sangat mencurigakan kalau kami pergi ke tempat Kapten Seo berbondong-bondong, LT.”

Kyu-Hyun menggeleng. “Tidakkah kau berpikir bahwa hal itulah yang Ryu-Shin inginkan? Membawa Suri ke markas agar lebih muda menemukan Lee Suri?”

Frederick terdiam dan mengangguk, menyetujui bahwa memang jauh lebih mudah menemukan markas mereka ketimbang harus mencari nama Kapten Seo dan alamatnya. “Lalu apa yang akan kita lakukan? Menunggu?”

Tidak ada tindakan pencegahan yang lebih efektif ketimbang menunggu, surat tantang sudah dilayangkan dan dengan jelas mengatakan bahwa satu-satunya cara menyelesaikan permainan ini adalah dengan menunggu permainan dimulai.

“Tidak ada gunanya membuang energi dengan berusaha mencegah atau mencari kelompok Ryu-Shin ke seluruh penjuru Korea Selatan. Ketuanya ada di sini dan pasti mereka akan menjemput Ryu-Shin.”

“Bagaimana kalau semua bisa dilakukan tanpa Ryu-Shin?”

Kyu-Hyun menggeleng, untuk apa ambil resiko besar mengkhianati Busan Psycho hanya untuk menjadi bawahan orang lain lagi? Tentu Ryu-Shin mempunyai ambisi sendiri yang ia pendam baik-baik selama bergabung bahkan dalam pengasihan 7 tahun terakhir.

“Tidak akan, Ryu-Shin mempunyai pikiran sendiri mengenai bagaimana kejahatan seharusnya dibangun, ia pria yang berpikir menggunakan ketengan psikologis dan akan selalu begitu. Status Ryu-Shin?” tanya Kyu-Hyun.

“Aman, LT, sinyal otaknya mengatakan bahwa ia tertidur.”

Kyu-Hyun mengangguk, melirik sebentar layar yang menampilkan pergerakan Ryu-Shin, mereka punya waktu sampai tengah malam untuk bersiap, sekarang yang bisa mereka lakukan hanya mencoba untuk mencari di mana kemungkinan markas Ryu-Shin berada. Hanya ada dua kemungkinan, kalau tidak seperti Busan Psycho yang membuat markas berkedok pabrik tekstil, pastilah kebalikan dari Busan Psycho, memakai rumah normal atau bahkan mungkin saja tempat mewah sebagai markasnya.

“Berapa banyak properti mewah yang tidak ditinggali pemiliknya selama 7 tahun—tidak, 20 tahun belakangan?”

Dengan pertanyaan Kyu-Hyun, mereka kembali ke kubikel masing-masing dan berkutat dengan data properti milik sendiri dan disewakan di sekitaran Seoul. Ryu-Shin tidak akan mengambil lokasi di Busan, terlalu dekat dengan kelompok utamanya dan tidak akan memilih lokasi di pelosok kota, ia bukan jenis orang yang hobi tinggal di pedalaman.

***

Suri melihat jam tangannya, pukul 7 malam, apakah Kyu-Hyun sudah berhasil mengetahui keberadaan Ryu-Shin? Apakah pria itu baik-baik saja? Apakah justru Kyu-Hyun sekarang berada di garis tipis kematian? Entahlah, Suri bertanya pada AJ pun tidak dijawab oleh pria itu, ia hanya mendapat balasan senyum sebelum AJ meninggalkannya mematung di lorong rumah sakit tadi.

“Kau khawatir dengan Kyu-Hyun?” tanya Kapten Seo yang duduk di belakang kemudi. “Kyu-Hyun sudah bersama kami selama 15 tahun lebih, ia memilih kerja lapangan selama ini ketimbang duduk di belakang meja sepertiku, kau tak perlu takut, otot-ototnya masih sangat cekatan untuk menangkap 3 atau 4 pukulan dalam waktu bersamaan.”

“Aku mendapati tangannya dislocation dan telah dibetulkan ketika 2 bulan setelah kami menikah, bagaimana bisa aku duduk tenang di rumah Anda sementara Kyu-Hyun mempertaruhkan nyawanya untukku di luar sana?”

Kapten Seo tertawa sebentar sebelum berhenti di perempatan jalan. “Kau salah, dia tidak hanya berjuang untukmu selama ini, mungkin sekarang kau adalah prioritas pertamanya lantaran kaulah satu-satunya wanita yang berharga untuknya, membuat pria hampir mati rasa itu hidup kembali, tapi Kyu-Hyun tak hanya berjuang untukmu, banyak nyawa di tangannya dan aku yakin Kyu-Hyun paham betul dengan hal tersebut. Ia selalu menjadi orang yang paling peduli jika korbannya adalah anak kecil.”

Dari balik rearview Kapten Seo bisa melihat dahi Suri berkerut sebentar. “Kenapa Kyu-Hyun sangat sensitif dengan isu anak-anak? Ia bercita-cita menjadi aktivis UNICEF?”

“Temannya meninggal sewaktu masih berusia 10 tahun,” buka Kapten Seo, ia melihat bocah lelaki dengan mata gelap yang terluka hari itu di pemakaman. “Korban pencurian organ di pasar gelap internasional, diketahui belakangan bahwa pelakunya merupakan staf lab di rumah sakit besar di Seoul dan beberapa negara Eropa.”

“Apa yang mereka lakukan pada teman Kyu-Hyun?”

“Mengambil ginjal, lambung, kulit, jantung, dan bola matanya. Tubuhnya ditelantarkan di sungai Han. Kyu-Hyun tidak menangis saat menguburkan sahabatnya itu, ia hanya menatap lurus ke peti mati sebelum dengan berani mendatangi Wolfgang yang waktu itu masih berpangkat Kapten dan aku masih agen bau kencur sementara ayah Kyu-Hyun menjabat sebagai Jenderal ICD.

“Malamnya Kyu-Hyun meminta untuk diijinkan masuk ke dalam ICD untuk menyelamatkan anak-anak lain, ia menjadi sangat peka terhadap informasi soal anak hilang dan sering kudapati anak-anak tenang berada di sekitar Kyu-Hyun.”

Suri menatap ke luar jendela, apakah Kyu-Hyun sudah mengetahui tentang dirinya yang diculik dan selalu mengalami hilang ingatan?

“Apa dia tahu bahwa aku pernah diculik?”

Pertanyaan tersebut membuat Kapten Seo mencengkeram kemudinya lebih kuat meski wajahnya tetap tenang dan hanya melirik Suri dari kaca. “Dari mana kau tahu dirimu pernah diculik?”

“Apakah Kyu-Hyun tahu?”

“Ya.” Jawab Kapten Seo setelah beberapa saat. “Dia mengetahuinya dan amat marah karena melewatkan fakta tersebut.”

Suri tersenyum sambil tertunduk. “Aku ingin menceritakan hal tersebut pada Kyu-Hyun dulu, tapi aku takut bahwa ia akan menceraikanku karena ketidakmampuanku mengingat kejadian penculikan tersebut. Orang bilang aku mungkin trauma hingga menghilangkan memori tersebut di dalam otakku sendiri.”

“Kemungkinan besar seperti itu, apa kau mengingat hal lain dari kejadian tersebut, Suri?”

Suri menggeleng kemudian memandang lagi jalanan ibu kota. Ia tidak mengingat apa pun, meski ia berusaha sekeras mungkin, tak ada satu ingatan dari masa itu yang muncul ke permukaan. Yang ia ingat terakhir kali adalah ia pergi berjalan-jalan kemudian kembali karena sudah tengah malam dan orang rumah nampak begitu kesal dan sedih ketika ia membunyikan bel di depan gerbang.

“Tak sedikitpun.”

***

Jika memang Suri dihipnosis seperti teori keduanya yang menjelaskan kenapa Suri tidak mengingat apa yang terjadi dengannya ketika menghilang, sudah dipastikan teori sindrom stockholm terbantahkan. Yang mana dari dua teori tersebut yang benar-benar mengubah prilaku Surinya kelak?

Kyu-Hyun tak yakin, yang manapun bisa, namun jika sindrom stockholm yang Suri idap … itu akan sangat sulit mengembalikan Suri ke dalam pelukannya, perlu rehabilitasi bertahun-tahu, perlu pemahaman bahwa yang Suri alami adalah sebuah kekeliruan, dan Kyu-Hyun perlu meyakinkan dirinya bahwa mereka menikah karena saling mencintai, bukan Suri yang ingin menggali informasi darinya.

Kyu-Hyun selalu tahu bagaimana rasanya ditampar fakta begitu keras hingga rasanya kewarasannya sedikit menguap, ia paham betul bahwa persepsi di kepalanya mungkin saja salah, bahwa teori yang ia ambil dalam hitungan menit besar kemungkinan hanyalah hasil perlindungan psikologisnya yang tak siap menerima bahwa ia mencintai wanita yang hanya memanfaatkan informasi darinya hingga berdarah-darah.

“Letnan!” teriak Mark menunjuk ke layar yang menampilkan sinyal pelacak yang mereka tanam di mantel Suri. “Mereka keluar rute seharusnya.”

Rahang Kyu-Hyun mengeras. “Hubungi Kapten Seo.” Perintahnya dengan suara tenang. Rute ke kediaman Kapten Seo seharusnya sudah dicapai semenjak 7 menit lalu, namun Kyu-Hyun baru menyadari bahwa mobil Kapten Seo keluar jalur, mereka menuju jalan bebas hambat dengan kecepatan tinggi.

“Tidak dijawab.”

“Tampilkan gambaran satelit.”

Onew yang ikut bergabung dalam tim informasi langsung melacak melalui pencitraan satelit dan mengambil beberapa gambar CCTV yang dipasang pemerintah di sepanjang jalan bebas hambat. Sialnya, pencitraan tersebut tidak membantu banyak, kaca mobil Kapten Seo gelap, mereka tidak bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam mobil hingga menyebabkan Kapten Seo keluar dari rencana awal mereka.

“Kapten Seo tidak menjawabnya, LT.”

“LT…,” panggil Frederick ragu-ragu, “apa memungkinkan jika Kapten Seo adalah anggota dari Ryu-Shin? Atau bahkan mereka menjabat kedudukan setara?”

Tak menjawab, Kyu-Hyun langsung meraih jaket kulit, memakainya dan memasang earpieces. “Hubungi aku pergerakan mereka.”

“Aku ikut,” Frederick menyiapkan diri namun ditahan oleh Kyu-Hyun. “Kau tak bisa pergi sendirian, LT, bagaimana kalau mereka ke markas Ryu-Shin? Kau bisa mati sia-sia!”

“Awasi Ryu-Shin, kupastikan mereka akan datang untuk menjemput Ryu-Shin, awasi ia diam-diam dan pastikan bahwa ia tak keluar sedikit pun. Ryu-Shin adalah kuncinya dan mereka tidak akan berbuat apa pun hingga Ryu-Shin keluar.”

Tanpa banyak memerintah Kyu-Hyun menuju mobilnya dan menancap gas sekencang mungkin menyusuri jejak Suri yang terekam. Mereka akan keluar Seoul? Ke mana? Mengapa semua prediksinya nampak tumpul ketika nama Suri terseret, tidak kompetenkah ia jika menyangkutpautkan dengan urusan pribadi? Ataukah Ryu-Shin memang terlalu cerdas?

Kota pelabuhan terdekat? Untuk apa? Menjual anak-anak lagi? Itu sama saja seperti Busan Psycho, lalu kenapa Ryu-Shin sampai keluar kalau hanya ingin menjalankan bisnis yang sama? Tidakkah lebih mudah jika mereka bekerja sama? Atau Ryu-Shin ingin menguasai pasar Asia sendirian? Yang pasti Busan Psycho sudah tersingkir dan Ryu-Shin tak perlu takut dirinya mati dengan kekejian oleh kelompok yang ia khianati tersebut.

Kyu-Hyun masih buta akan apa yang Ryu-Shin lakukan, satu-satunya petunjuk yang ia punya adalah anak-anak tersebut diminta mengingat tentang kode. Entah kode penyimpanan, kode koordinat, atau kode apa pun, hanya ada kode.

Kata orang, menjadi pemberantas kejahatan adalah hal yang penuh resiko, bukan, ini bukan tentang kematian yang kapan saja siap menjemput, melainkan kapan saja mereka bisa berubah sebagai penjahat itu sendiri tanpa disadari. Kyu-Hyun tahu itu ketika ia mulai memimpin sebagai letnan, dirinya sering kali tenggelam dalam pikiran penjahat, memikirkan apa yang akan ia lakukan jika ia memiliki kesempatan yang sama, mengatur psikologisnya sesuai apa yang ia pelajari lewat info sekedarnya, biasanya itu tak sulit.

Namun kali ini ia berhadapan dengan manusia yang pandai memanupulasi perlakuan orang lain semudah menyentuh lengannya saja, ini akan jauh lebih berbahaya dan lebih mengancam ketimbang aksi baku tembak yang kebanyakan bisa ia perkirakan serangannya.

Kebencian yang didasari kebencian murni tidaklah berbahaya, apa pun yang orang mereka benci lakukan tidak akan berpengaruh pada hidupnya. Namun, kebencian yang didasari oleh rasa cemburu lain cerita, dan Kyu-Hyun menganggap Ryu-Shin melakukan semua ini untuk menghukum dirinya pada awalnya, tapi sekarang, ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa bukan ialah target utama Ryu-Shin, melainkan Lee Suri, Kyu-Hyun mengalami kebuntuan, ia tak menyangka keangkuhannya bisa berakibat fatal seperti ini.

“Mereka menuju Anyang, LT.” Ungkap Onew. “Belum keluar jalan bebas hambat, tapi sudah mengambil rute Anyang.”

“Laporkan keadaan secara berkala.”

Anyang … lama kepala Kyu-Hyun memutar apa yang ada di Anyang dan kemungkinan ke mana perginya Kapten Seo hingga ia teringat satu hal tentang Ryu-Shin. Pria itu mengatakan bahwa ada seorang kerabat lain sebagai ahli waris jika ia meninggal ketika menjalani pengasingan, Paman Ryu-Shin yang tinggal di daerah Anyang dan memiliki sebuah bar terkenal.

Tangan Kyu-Hyun meninju stir mobilnya kuat-kuat. Apa yang Kapten Seo lakukan sebenarnya? Kenapa dia ikut membelot? Kriteria penghianat hanya karena terlalu memahami jalan pikiran penjahat tidak terbaca di Kapten Seo, ia takkan percaya meski Kapten Seo mengakuinya seratus kali pun.

Sementara Suri … ia melihat sosok yang begitu terkonsentrasi, sasaran empuk untuk dimanupilasi karena ia takkan berpikir untuk melihat keadaan sekitar saking terfokusnya pada hal tersebut. Ia tak ingin berpikir yang buruk mengenai wanita yang dicintainya tersebut, tapi memang ia masih memikirkan tindakan apa yang akan ia lakukan jika Suri menikahinya hanya untuk sebuah gambaran kebiasaan dirinya atau sekedar informasi yang Suri tunggu-tunggu selama lima tahun?

Entahlah, nanti saja dipikirkannya, yang utama ia harus menyelamatkan Suri dan orang lain yang terlibat dalam kasus ini.

***

Perlahan Ryu-Shin bangkit dari ranjangnya, ia berjalan menuju wastafel, mencukur bulu harus di sekitar dagu dan lehernya sambil bersiul-siul. Puas dengan hasil cukurannya, Ryu-Shin mencuci wajahnya dengan air, mengeringkannya dengan handuk secara perlahan. Sambil mencari sisir di kotak penyimpanan, ia meraih setelan setelan terbaik yang ia dapat saat kunjungan Calla-nya tercinta.

Ia mengganti pakaian tahanan yang berwarna putih seperti tahanan sakit jiwa menjadi setelan Givency mahal berjahitan rapi. Ia mengelusnya perlahan dan tersenyum, sudah berapa lama ia tak berpakaian sebaik ini lagi? Ah, masa-masa kemilaunya akan datang sebentar lagi.

Masih sambil bersiul Swan Lake, Ryu-Shin menyisir rambutnya ke belakang rapi sekali, mengenakan jam tangan dan berdiri di tengah sel putih yang dikelilingi kaca miliknya. Kedua tangannya bertautan di depan tubuh, senyuman menyungging di bibirnya, ia melihat sebentar jam tangannya sebelum tersenyum.

“Mari kita hitung mundur.” Ucapnya.

***

Seperti bar-bar lainnya di Gangnam, bar atas nama paman Ryu-Shin di Anyang pun tak kalah megah dan hingar bingar akan musik elektronik serta lampu disko yang menyorot sembarang arah, telinganya terasa sakit begitu memasuki pintu depan. Wajah mereka langsung dikenali oleh penjaga pintu yang memberi anggukan dan menarik tangan Kapten Seo diseret menjauhi kerumunan menuju gudang belakang yang memang dipersiapkan oleh Ryu-Shin beserta pamannya semenjak 20 tahun lalu.

Sementara Suri, rambutnya diikat ekor kuda dengan sisa anak rambut yang terjuntai menutupi tengkuk serta dahinya, wajahnya datar, dan dengan santai ia melemparkan mantel yang dikenakannya tadi ke luar bar.

Pintu tersembunyi itu terbuka, menampilkan 3 anak lainnya serupa Suri yang tengah duduk tenang membaca buku. Ketiganya kompak menoleh dan tersenyum sambil memberi hormat pada Suri.

“Selamat datang, Letnan.” Sapa mereka.

Suri mengangguk, “selamat datang kembali, Saudaraku.” Suri memberikan pelukan hangat pada ketiga anggota lainnya.

Perempuan berdarah Jepang tersebut menyerahkan pakaian berwarna kelabu pada Suri dan menawarkan bantuan untuk berpenampilan seperti mereka; kaus panjang turtle neck hitam yang dilapisi kemeja kelabu, serta celana kelabu.

“Ikat dia baik-baik.” Suri memerintah sambil lalu ke sebuah pintu di seberang ruangan sebelum wanita itu menghilang dari pandangan Kapten Seo dan dia didudukkan dengan paksa di sebuah kursi sebelum tubuhnya dililit dengan tali.

Badannya rileks namun matanya tetap memerhatikan sekeliling. Dua buah pintu biasa yang salah satunya adalah tempat ia masuk tadi. Sebuah ruangan tertutup dengan dua daun pintu metalik berada tepat di depan ia berdiri sekarang. Papan itu sepertinya terkunci dengan sebuah kode pengaman, terbukti dengan papan kunci di sisi kanan pintu tersebut.

Suri berdiri menghalangi pandangan Kapten Seo sebelum memasukkan kata kunci dan menghilang di balik pintu tersebut. Bisa saja Kapten Seo melawan dan kabur dari tempat ini, namun apa yang akan terjadi pada Suri? Ia tidak bisa begitu saja meninggalkan Suri di sini.

Ikatan di tubuhnya semakin dikencangkan oleh lelaki yang tadi menggiringnya ke ruang rahasia, Kapten Seo duduk sambil berpikir, mengulang kejadian yang terjadi begitu cepat.

Mata Lee Suri yang biasanya nampak sendu tiba-tiba berubah menjadi mata kelabu datar, bibirnya tak lagi setengah tersenyum, ia datar sempurna. Seperti program yang baru saja di-reset kemudian dihidupkan kembali dengan setelan berbeda, Lee Suri yang sekarang bukan seperti Lee Suri yang selama ini ia kenal sebagai anak Lee Chun-Hwa.

Meski masih mengenali siapa Kapten Seo dan siapa Cho Kyu-Hyun, namun ia tak bisa melihat emosi di mata Suri ketika mengucapkan siapa dirinya bahkan Cho Kyu-Hyun yang berhasil membuat Suri tersipu malu di depan kedua orangtuanya.

Suri menodongkan moncong pistol tepat ke lehernya ketika berada di mobil tadi dan memerintah dengan nada datar untuk menuju arah yang ia tunjukan. Meski mewanti-wanti adanya kemungkinan Suri termasuk ke dalam kelompok Ryu-Shin, dirinya tak menyangka bahwa kemungkinan yang ia perkirakan tak sampai 10% tersebut justru adalah kenyataan yang selama ini mereka tolak untuk lihat.

Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi di sini dan yang paling ia takutkan adalah kalau Suri ternyata hanya menjadi objek penyimpanan saja. Layaknya objek penyimpanan lain, jika barang yang disimpan sudah dikeluarkan, maka wadahnya sudah tak berguna, patut dibuang daripada merepotkan, hanya itu alasan ia urung kabur dari tempat ini meski ia mampu.

Tak lama Suri kembali ke ruangan tersebut sebagai orang yang berbeda. Caranya memandang sudah sangat berbeda, caranya memerintah tak seperti yang ia dengar di ruang pemeriksaan.

“Sudah berapa lama kau bergabung dengan Ryu-Shin?” tanya Kapten Seo.

“Apa maksudmu sudah berapa lama?” Suri bertanya balik sambil menumpukan berat tubuhnya ke kaki kiri. “Kau tahu kapan aku kembali dari markas Ryu-Shin dan semenjak itu aku dan mereka … tak pernah lagi sama.”

“Dia mengancammu?”

“Tidak ada ancaman.” Matanya datar dan pupilnya stabil, bukan sebuah ucapan yang didasarkan kebohongan guna menutup-nutupi alasan ia melakukan hal ini. “Kau sudah bisa menduga hal ini sejak lama bukan, Kapten Seo? Hanya saja kau menolak untuk melihatnya, kau menolak semua kenyataan yang tak sejalan dengan teorimu.”

“Aku tak percaya bahwa kau bisa melakukan hal semacam ini, kau begitu peduli pada sesama. Itu tujuanmu menjadi dokter, kan? Membantu sesama. Kau begitu ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain, dokter, pemadam kebakaran, relawan kemanusiaan, polisi, kau selalu mengagumi mereka, Lee Suri, tak ingatkah dirimu?”

Sebuah senyum hinaan terlukis di wajah Suri dan ia menjawab, “Bahkan kau tak benar-benar mengenal putrimu sendiri karena terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, bagaimana mungkin kau mengaku sangat mengenalku, Kapten Seo?”

Ia tak menyanggah, itu benar, ia terlalu sering melupakan tanggal ulang tahun putrinya, melewatkan acara penting di sekolah putrinya, bahkan ketika putrinya diangkat menjadi pengacara senior pun, ia tak datang.

“Kyu-Hyun akan sangat kecewa jika mengetahui ini.”

Suri diam sesaat sebelum berkedip perlahan dan tersenyum miring. Wanita itu tak menjawab dan justru kembali bicara dengan salah satu temannya menggunakan bahasa Rusia, nadanya rendah dan hampir berbisik, kemudian ketiganya mengangguk dan melaksanakan apa yang Suri bisikkan barusan tanpa sepengetahuan Kapten Seo.

“Kita tunggu acara puncaknya, mohon bersabar, Kapten Seo.”

***

Jinki mendadak pucat begitu berniat memeriksa sel khusus Ryu-Shin, sel tersebut sudah kosong tanpa ada tanda-tanda Ryu-Shin di pojok ruangan. Napasnya tercekat mana kala empat penjaga yang berada di depan pintu sel sama sekali tak mengetahui hal tersebut. Sambil tergopoh ia kembali ke ruang kontrol.

“Ia tak ada,” ucapnya lemah dan langsung memeriksa kamera pengawas secara teliti. “Aku sudah mencarinya ke seluruh penjuru sel dan tak menemukan apa pun. Penjaga mengatakan kalau mereka tak melihat apa pun dan tak terjadi apa pun selama 1 jam belakangan!”

Mark mengusap bibirnya yang basah. “Tapi bagaimana bisa? Aku mengawasi kamera dengan teliti, ia tak mungkin lolos, kan?”

Mereka terdiam melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan Ryu-Shin berjalan melewati penjaga, menyusuri lorong utama, bahkan melambaikan tangan ke arah kamera begitu mudah tanpa ada yang menyadari bahwa Ryu-Shin kabur.

“Kenapa bisa begini?”

AJ yang baru kembali dari rumah sakit setelah mendengar bahwa Lee Suri keluar jalur dan kemungkinan tidak ada serangan di rumah sakit apalagi gerakan untuk menculik Lee Suri lagi, AJ segera kembali ke markas bersama Waterhouse dan Lark.

Tanpa mengetahui apa pun yang terjadi sebelumnya, AJ berkata, “Bau apa ini? Apa baru saja ada yang membakar ganja dan membuangnya ke saluran udara? Kenapa semenjak masuk aku mencium bau ini sih? Kalian mau mabuk bersama?”

Refleks Frederick menyadari di mana letak kesalahan mereka dan mengapa tak satu pun dari orang yang ada di markas menyadari kepergian Ryu-Shin barusan. “Kita dibius massal. Gas ini ganja, bukan?” ia tidak begitu menyadari sejak kapan aroma ini tercium tapi satu-satunya penjelasan mengapa mereka membiarkan Ryu-Shin kabur begitu saja melenggang bebas tanpa pencegahan.

Jinki yang juga menyadari langsung mengangguk setuju, “tak pernah dalam sejarah mereka menghipnotis satu markas besar.” Kepalanya tiba-tiba pusing manakala mencoba untuk menekan efek halusinasi tersebut. “Rasanya kita semua butuh penetral sebelum menyusul LT.” Tanpa diperintah, ia pergi menghubungi bagian medis dan mengatakan masalahnya di markas serta masalah yang akan mereka hadapi.

“Kalau bukan orang dalam pelakunya, tak mungkin mereka tahu di mana letak saluran udara utama bahkan tahu kode agar tak memicu alarm internal.”

“Calla.” Mark bergumam memikirkan wanita lemah lembut yang akhir-akhir ini selalu ia temui.

AJ dan Waterhouse yang tak menghirup gas tersebut langsung berdiri dan saling mengangguk tanpa kata-kata. Mereka keluar dari ruang meeting menuju ruang fentilasi pusat. Mereka cukup tahu kalau fentilasi bisa saja disusupi, maka pusat fentilasi seluruhnya dipasangi sensor gerak dan satu-satunya cara untuk mematikannya adalah dengan memasukkan kode di papan kontrol di pusat dan kode tersebut hanya dimiliki anggota saja.

“Kau bawa pistol? Untuk berjaga-jaga saja.” Ungkap Waterhouse yang mengeluarkan sepucuk pistol dari balik mantel hitamnya.

“Tentu, tapi kurasa mereka sudah tidak di sini lagi, untuk apa? Ryu-Shin sudah pergi dan mereka akan memulai misi tersebut sebentar lagi. Kita hanya memiliki dua pilihan; pergi menyusul LT dan meninggalkan teman-teman di sini dengan resiko penyerangan kedua di markas atau kita tetap tinggal dan memperbesar kemungkinan LT mati.” Tapi AJ tetap mengeluarkan pistol dari rompi senjatanya yang menggantung di bahu.

“Ada Kapten di sana.”

“Belum bisa dipastikan apakah Kapten Seo ada di pihak kita. Bagaimana kalau di pihak Ryu-Shin dan memang itu tujuan awal dia? Menjauhkan Suri dari markas?”

Keduanya terdiam, memang kemungkinan itu ada tapi tak satu pun dari mereka yang percaya bahwa pria semacam Kapten Seo dapat membelot hanya untuk uang. Tidak ada yang ditawarkan oleh Ryu-Shin kecuali uang yang lebih besar dari yang mereka dapat di ICD.

Mereka membuka pintu ruang fentilasi utama dan seperti dugaan AJ sebelumnya, tak ditemukan jejak mereka satu pun, semua lenyap kecuali sebuah tabung berwarna hitam yang sudah bisa mereka simpulkan bahwa itu adalah wadah dari gas yang teman-temannya hirup. Dengan hati-hati mengenakan sarung tangan, AJ memasukkan tabung yang masih mengeluarkan sisa-sisa gasnya ke dalam tabung yang lebih besar untuk dijadikan barang bukti.

“Setel ulang fentilasi, mode pembersihan udara.” Perintah Waterhouse pada perangkat komputer. “Periksa CCTV,” namun komputer bergeming. Media penyimpanan CCTV mereka dirusak. “Dua kode terakhir masuk.” Sebuah data berkedip pelan, kode karyawan miliknya yang baru masuk 2 menit lalu serta kode karyawan milik Calla yang amsuk sekitar 22 menit lalu.

“Benar Calla, ya?”

“Hm.”

***

Kyu-Hyun tidak mengeluarkan sumpah serapahnya begitu mendengar kabar bahwa markas diserang dengan cara halus hingga Ryu-Shin kabur dari tahanan dengan cara yang amat mudah, melenggang layaknya ia bukanlah orang berdosa atas 20 anak-anak yang mati sia-sia. Tangan Kyu-Hyun mencengkeram erat setir mobilnya dan menambah kecepatan, ia harus lebih dahulu sampai sebelum Ryu-Shin.

Kelab malam yang Suri tuju berada di salah satu jalan tersibuk di Anyang, dengan kerumunan orang di kanan kirinya, ia tak mampu memacu kendaraannya secepat mungkin, maka ia meminggirkan mobilnya di depan toko antik dan meneruskan sisa perjalanan dengan berlari. Resikonya jauh lebih kecil dan lebih cepat jika ia berlari.

Dari jarak 10 meter ia melihat dua penjaga berbadan kekar dengan kepala pelontos siap menghadang Kyu-Hyun. Sepertinya memang Ryu-Shin sengaja untuk menjatuhkannya di pintu kelab. Atas alasan banyaknya warga sipil, Kyu-Hyun tidak akan menggunakan pistol kesayangannya tersebut, ia sudah mengepalkan tangannya, menyiapkan gerakan paling sederhana dan paling efektif untuk merubuhkan lawannya.

Ia menghitung, memperkirakan, serta merencanakan apa yang akan ia kerjakan setelah berhasil menyusup.

Belum-belum Kyu-Hyun melemparkan serangannya, pria berbadan kekar yang mengenakan jaket biru tersebut langsung menyingkir, membuat Kyu-Hyun mengurungkan serangannya.

“Anda Cho Kyu-Hyun?” tanyanya.

“Ya.”

“Ketua sudah menunggu kedatangan Anda, mari ikuti saya.” Tawarnya sambil membukakan pintu kelab. Serta merta hingar bingar dari dalam kelab menyentak indera pendengaran Kyu-Hyun, lampu disko menyorot asal ruangan, dan beberapa pria asik menggerayangi tubuh wanita di lantai dansa.

Mereka menuju sebuah pintu di area belakang yang senyap, tak ada seorang pun yang berdiri di sekitar lorong gelap itu. sambil menggeser tubuhnya untuk menutupi pandangan Kyu-Hyun, pria tadi memasukkan serangkaian kode sebelum bunyi mendesis terdengar.

“Silakan,” kali ini tidak ada bantuan membuka pintu, bahkan pria itu meninggalkan Kyu-Hyun sebelum Kyu-Hyun membuka pintunya.

Perasaannya tidak enak, yang ia rasakan pertama kali ketika membuka ruangan tersebut adalah suhu yang berada 10 derajat celcius. Seperti gudang lain yang lama ditinggalkan, gudang tersebut pun berwarna suram dengan dinding kelabu dan … sebuah lemari besi di ujung ruangan. Bukan sebuah peti besi ukuran normal, lebih mirip peti besi untuk menyimpan uang di sebuah kasino di Las Vegas.

Ketika matanya berpaling dari lemari besi tersebut, Kyu-Hyun melihat Suri duduk dengan kepala terkulai ke depan di sebuah sofa, pakaiannya berbeda dan di tangannya ia mengenggam ponsel hitam yang bukan kepunyaan Suri.

Tanpa pikir panjang, Kyu-Hyun langsung berlari menuju Suri. Ia memeriksa nadi Suri yang berdenyut normal, masih hidup dan hanya pingsan, pikir Kyu-Hyun sebelum mulai menciumi wajah Suri. Anehnya ia tidak menemukan bau obat bius atau obat-obatan lainnya yang membuat Suri bisa pingsan di atas sofa memegangi ponsel orang lain.

Dihipnosis? Oleh siapa? Mata Kyu-Hyun berkeliling lagi, harus ada orang lain di tempat ini selain mereka berdua, harusnya ada Kapten Seo atau benar dugaan Jinki bahwa Kapten Seo pun terlibat dalam—Kyu-Hyun tak berhasil menyelesaikan kalimatnya begitu mendapati sensasi tergigit di lehernya.

Sialan, ia lengah untuk kali kedua!

Bukan Kapten Seo-lah yang harusnya ia curigai, melainkan … Kyu-Hyun melirik ke sisi kirinya, melihat Suri dengan wajah datar tanpa jiwa itu menancapkan jarum suntik ke lehernya. Tubuhnya langsung bereaksi dengan  sedikit pusing, haus, dan sulit untuk bergerak dalam waktu yang sangat cepat.

Bahkan untuk memanggil nama Suri pun, Kyu-Hyun tak mampu menggerakkan bibirnya. Kyu-Hyun duduk kaku di sofa sementara Suri berdiri, membuang suntikan kosong tadi ke lantai. Wajahnya takkan pernah bisa Kyu-Hyun lupakan, mata kelabu itu nampak tak mengenalinya, bibirnya yang biasanya masih suka tersenyum diam-diam nampak datar, dan kelopak matanya nampak sendu seperti tak ingin melihat wajah Kyu-Hyun lagi.

“Manusia itu sangat unik,” ucapnya masih menatap Kyu-Hyun malas, “hanya melihat apa yang mereka ingin lihat, mengabaikan fakta yang begitu jelas hanya untuk memuaskan batinnya dan akan meraung-raung bertanya mengapa ini bisa terjadi ketika fakta tersebut menjadi kenyataan, bukan … Cho Kyu-Hyun? Kau melihatnya, hanya saja kau menolak untuk memercayainya.”

Kyu-Hyun tak menjawab, lidahnya kelu dan ia tak mampu menggerakkan tubuhnya. Ia seharusnya melihat kemungkinan tersebut, ia seharusnya tak mengabaikan fakta seberapa cocoknya Suri dengan anggota-anggota yang Ryu-Shin rekrut selama ini.

Tanpa menoleh lagi, Suri berjalan menjauh, menyalakan seluruh lampu ruangan hingga ia bisa melihat Kapten Seo duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat, 5 orang berpakaian persis seperti Suri yang salah satunya adalah Calla, dari bagian informasi dan birokrasi, dan Ah-Young berdiri di sisi lain dari Kapten Seo yang menatapnya penuh kebencian sementara Ryu-Shin, duduk bersisian dengan Kapten Seo menyilangkan kakinya dan tersenyum lebar. Tidak ada rambut di wajahnya seperti terakhir kali ia lihat di CCTV beberapa puluh menit lalu.

“Halo, Letnan Cho yang baik.” Bukanya dan mengulurkan tangan pada Ah-Young, meminta wanita muda itu mendekat, “terima kasih sudah menjaga putriku dengan sangat baik hingga aku kesulitan mencarinya. Butuh waktu satu tahun penuh untuk menjemput Ah-Young, benar, Sayang?”

Ah-Young menatap mata ayahnya penuh binar dan mengangguk dengan senyuman malu-malu.

Suri yang mendekat langsung diberikan ciuman di pipi oleh Ryu-Shin dan begitu kelopak mata Kyu-Hyun terbuka lebar, Ryu-Shin menyeringai. “Kau tak punya kekuatan di sini.”

Dengan langkah sedikit riang, Ryu-Shin berjalan ke tengah ruangan. “Tapi harus kuakui kau memiliki pengamatan yang amat baik. Aku tak akan memilih pria-pria dari Busan Psycho, tentu saja, siapa yang mau bekerja sama dengan orang-orang yang berpikir menggunakan otot tersebut, bukan?

“Kemudian kau melarang anggotamu untuk membawa Suri ke markas ICD lantaran itulah yang kuinginkan dan … itu juga benar.

“Sayang, kau lemah terhadap satu perempuan dan kebetulan sekali kelemahanmu adalah Letnan kami di sini, ia wanita yang tangguh, bukan? Hebat sekali kan aktingnya selama menikah denganmu bahkan sampai memancingmu ke apartemen lama mereka hanya untuk melihat pesan yang sudah kusiapkan di sana?”

Suara tertawanya terdengar merendahkan.

Kyu-Hyun kembali mengerang, berusaha menggerakan tubuhnya namun sia-sia, karena tak ada perubahan banyak.

“Tenang dan saksikanlah, bukankah aku sudah memberitahumu? Duduk di kursimu dan saksikan!” Ryu-Shin melebarkan kedua tangannya dan secara dramatis lampu-lampu di ruangan menyala, terang benderang hingg seluruh ruangan tersebut benar-benar dipenuhi cahaya dan tujuh buah kursi perlahan terangkat ke permukaan.

***

Dibantu Waterhouse, AJ sibuk mencari apa yang sebenarnya Ryu-Shin lakukan selama ini dengan uang hasil curian dari Busan Psycho dan dugaan Kyu-Hyun juga Kapten Seo tidak terbukti salah, Ryu-Shin ingin menguasai pasar gelap sebagai lahannya tersendiri.

Dalam 7 tahun belakangan hampir semua pedagang di pasar gelap yang hampir sebesar Busan Psycho mulai tertangkap oleh otoritas setempat atau FBI, anehnya mereka menyerahkan diri dan datang begitu saja ke kantor polisi pusat untuk mengakui kesalahannya. Tidak pernah dalam sejarah pelaku perdagangan manusia dan pengedar narkotika kelas berat seperti mereka tiba-tiba saja bosan dengan kehidupan kucing-kucingan dengan polisi, sebagian mereka berkejaran dengan polisi adalah hal yang menyenangkan.

“Yang di Vietnam dan China pun mengalami hal yang sama, mereka dengan sengaja mengirim lokasi pada polisi untuk datang dengan pasukan penuh karena malamnya akan ada transaksi besar. Tim 5 dan Tim 7 yang kosong langsung ikut membantu penyergapan.”

AJ mengintip dari balik bahu Waterhouse, membaca keseluruhan laporan tersebut. Ketua mereka memang tidak mengaku bahwa dirinya terkejut dengan kedatangan polisi ataupun saat diperiksa bahwa surel tersebut dikirim dari alamat surel ketua mereka sendiri. Namun salah satu anak buah mengaku sangat kaget karena pertemuan itu sangatlah besar dan sangat rahasia, hanya segelintir atasan saja yang mengetahuinya, anak buah sepertinya baru diberi tahu beberapa jam sebelum tamu pertama datang.

“Apa memungkinkan untukmu kalau Ryu-Shin yang melakukan semuanya? Dia dalang di balik seluruh tertangkapnya pemasok manusia terbesar di Asia?”

“Tak tahu,” jawab Waterhouse masih meneruskan bacaannya. “Tapi dia tak pernah keluar dari Korea, bahkan menetap dan memenuhi wajib lapor selama tinggal di Gyeonggi.”

Tubuh AJ kembali tegak sambil mengisi amunisi kemudian memakai rompi antipelurunya. “Kita harus cepat menyusul LT, dia bisa saja dalam bahaya.”

“Dia bukan ‘bisa saja’ tapi memang dalam bahaya. Dia datang ke sarang ular dengan modal obor, wanita memang membuat sebagian pria buta.” Ucapnya dan ikut berdiri dari kursinya.

Mereka melihat efek mabuk dan halusinasi mulai meninggalkan sebagian anggota dan sebagian lagi masih terlihat setengah teler. Jinki, yang duduk dengan rahang mengeras, terus bersumpah serapah.

“Aku ikut kalian.”

“Tidak!” jawab Waterhouse dan AJ kompak. “Kalau kau pergi dari markas, siapa yang akan memberitahu keadaan darurat, tetaplah di sini dan pantau dengan seksama, pastikan kau menyadari kalau ada bau-bauan aneh lagi.”

***

“Ah,” Ryu-Shin berbalik dengan senyuman kecil. “Kalau kalian mau tahu kenapa aku menunggu hingga tujuh tahun dan rela diawasi oleh kalian, itu karena … aku menghabiskan seluruh pedagang yang sama denganku.” Ia mulai menyebutkan sederetan nama kelompok yang berhasil ia giring ke ICD dalam 7 tahun terakhir secara terperinci dan bahkan Ryu-Shin menyebutkan keuntungan apa yang bisa ia ambil dari pesaingnya yang pensiun dini tersebut.

“Mereka itu terlalu percaya diri, ketika aku datang dan mengaku sebagai anggota Busan Psycho yang berhasil lolos dari kejaran ICD, mereka langsung menerimaku, mengajakku kerja sama hingga menanyakan bagaimana caranya terhindar dari kalian dan tentu saja …” wajahnya tenang meski pancaran kebahagiaan tak dapat ditutupi, “tak kuberi tahu rahasiaku.”

Sesaat Ryu-Shin mengecek jamnya dan berkata ‘ups’ perlahan sebelum kembali ke pojok ruangan, memilah piringan hitam yang berderet rapi di bawah meja kayu setinggi 70 senti tersebut. Dari puluhan piringan hitam, Ryu-Shin menyetel alunan ceria La Gazza Ladra dari Gioacchino Rossini. Perlahan alunan khas Italia terdengar memenuhi seluruh ruangan suram tempatnya berkumpul.

Sedikit demi sedikit Kyu-Hyun bisa merasakan lidahnya lebih rileks sekarang dan ototnya tak sekaku tadi, tak ingin gegabah, Kyu-Hyun tetap duduk dengan rahang terkatup di sofanya menahan diri untuk tidak menerjang Ryu-Shin yang tengah mempermainkan mereka.

Wajah Suri jauh lebih datar dari sebelumnya, mata kelabunya tak melirik Kyu-Hyun sedikit pun ketika dengan serempak 7 orang yang dahulunya adalah korban penculikan Ryu-Shin berjalan menuju kursi yang tersedia dengan langkah kaki ringan cenderung menari.

Ryu-Shin yang mengawasi ikut berjinjit bahkan menggumamkan nada-nada lagu tersebut, bibirnya tersenyum tipis dan mata cokelat gelapnya bersinar-sinar penuh kebahagiaan.

“Uangku takkan cukup untuk membuat modal usaha besar-besaran demi menutupi permintaan pasar gelap yang sedang tinggi akhir-akhir ini, maka itu … kupersiapkan mereka sebagai senjata paling ampuh.” Persis seperti reaksi yang Ryu-Shin inginkan, mata gelap Kyu-Hyun menyalang dengan kedua tangan yang masih kaku di sisi tubuh pria yang 7 tahun lalu dengan sigap menumbangkan ketua Busan Psycho dengan satu tangan tersebut.

“Tidak, tentu saja tidak, aku takkan menjual mereka ke pasar internasional untuk dijadikan pelacur seperti bayanganmu.” Ia terkekeh sesaat, bermain dengan kepala pria memang menganggumkan, siapa sangka Surinya mampu menjerat Kyu-Hyun dalam kehidupan nyata begitu dalam. “Ini soal sesuatu yang ada di otaknya, tentu kau tahu wanita yang kaunikahi itu sangat cerdas, bukan?”

Suri dan 6 orang lainnya duduk di kursi dan mulai merapalkan sesuatu, Kyu-Hyun mencoba mendengarkannya baik-baik dan benar dugaannya, itu adalah bahasa Jerman, sesekali ia berhasil menangkap apa yang mereka katakan meski terdengar seperti menyeret lidah. Mereka menyambung cerita per kalimat kemudian di sambung oleh orang kedua, ketiga, dan seterusnya hingga ketujuh.

“Ah, mereka akan mengoceh cukup lama, kita punya cukup waktu untuk berbincang,” Ryu-Shin menoleh pada Kapten Seo dan Kyu-Hyun secara bergantian sebelum menarik kursi ke tengah ruangan dan menempatkan dirinya di antara Kyu-Hyun juga Kapten Seo.

“Lee Suri tidak akan bertemu denganmu kalau bukan perintahku, jadi memang benar adanya jika Lee Suri menikahimu hanya untuk melancarkan misinya.”

Tidak ada yang lebih menyenangkan ketimbang melihat lawannya mencoba membantah, meyakini bahwa kenyataan di depan matanya; wanita pujaannya hanya berpura-pura, bukanlah ketakutannya semata.

“Ryu-Shin hanya mempermainkanmu, kau tahu betul itu, Suri takkan mau melakukan hal rendahan seperti itu.” tungkas Kapten Seo begitu melihat mata gelap Kyu-Hyun semakin melebar. Kyu-Hyun harus tetap tenang.

“Uh, kata-katamu sangat menyakitkan, Kapten,” Ryu-Shin menggoyangkan jari telunjuknya. “Terserah padamu mau percaya atau tidak, tetapi, hari itu Suri ke Italia tentu saja untuk menemuiku, karena kebetulan kau sedang ada misi di sana pula, jadi kenapa tidak menerapkan ‘sekali memancing mendapat dua ikan’? Rupanya, bukan hanya kau yang kudapat, tapi seluruh ICD pun ikut terpancing bersama Suri.” Pandangan mata Ryu-Shin terhadap Suri jelas memuja, tapi bukan dalam bentuk seksual, seperti seorang ayah yang melihat putrinya memenangkan juara nasional dalam bidang matematikan. “Dia anak terbaikku.”

“Apa yang kau sembunyikan di dalam sana, Ryu-Shin?” Kapten Seo kembali bicara.

“Oh, sesuatu yang sangat diharapkan oleh pedagang-pedangan sepertiku, kau tahu kan … alat penyadap tak terdeteksi? Chip yang mampu menangkap seluruh sinyal radio dan membuka kode pertahanan negara semudah membuka diari bocah 5 tahun?”

“Pasarmu akan kalah kalau begitu.”

Ryu-Shin tercengang untuk beberapa saat. Pria itu terdiam seolah sedang mencerna apa yang Kapten Seo baru saja ungkapkan adalah sebuah kesalahan yang tak terlihat olehnya namun di detik berikutnya Ryu-Shin terbahak keras hingga bertepuk tangan seperti anjing laut sirkus.

“Memang! Tentu saja seperti itu, ‘kan? Kalau semua pedagang sepertiku tahu jalur Interpol akan sulit untukku bersaing di pasar gelap, itu benar sekali, kau sangat brilian, Kapten!” pujinya sambil berdiri membuka kedua tangannya. “Tapi hal tersebut tidak akan terjadi kalau di dunia ini hanya ada dua buah chip, satu untukku dan satunya untuk pelelang dengan harga tertinggi.”

Selama Kapten Seo mengalihkan perhatian Ryu-Shin, Kyu-Hyun berhasil menangkap apa yang 7 orang itu ceritakan. Cerita tentang seorang veteran perang yang diusir oleh raja karena tubuhnya yang penuh luka, Kyu-Hyun kehilangan kata-kata di beberapa bagian hingga tersambung lagi begitu veteran tersebut bertemu dengan seorang penyihir dan melakukan perjanjian untuk diberikan kekuatan, entah apa, Kyu-Hyun baru bisa mendengar lagi ketika veteran tersebut mendapatkan kekuatan cahaya biru yang ia gunakan untuk memusnahkan seluruh pengawal raja serta raja itu sendiri hingga tak ada yang bersisa dari kerjaan tempat dahulu ia mengabdi.

Ketidakberdayaan veteran tersebut digambarkan dengan sosok kurcaci tua yang pendendam dan sakit hati. Persis seperti Ryu-Shin. Orang yang tak dianggap di Busan Pscyho hanya karena ia tukang hitung, diremehkan hingga mendapat plecehan verbal, pada akhirnya Ryu-Shin menggunakan caranya sendiri untuk terbebas dari Busan Psycho dan justru sekarang ia sedang diperjalanan merajai pasar gelap Asia atau mungkin dunia jika benar yang dikatakannya mengenai chip pemecah sandi Interpol.

Begitu dongeng mencapai titik di akhir kalimat, Ryu-Shin berdiri. Ia menghadap ketujuh anak asuhnya tersebut dan tersenyum lembut. Tidak, ini sungguh berbeda dari senyum lembut yang menyimpan ancaman di dalamnya, cara tersenyum Ryu-Shin sungguh tulus di mata Kyu-Hyun.

“Kita mulai operasinya sekarang.”

Suri yang duduk di tengah menyebutkan satu kalimat acak, kemudian disahuti pria di ujung kanan dengan kalimat acak lainnya, dan begitu seterusnya berurut tak menentu. Kyu-Hyun mencoba menghitung kemungkinan selanjutnya, namun mereka bergantian menyeebutkannya acak hingga sebuah lampu berwarna hijau sepanjang lima senti tersebut menyala di ujung banker setelah kata kembali pada Suri.

Mereka mulai mengacak lagi urutannya namun akan selalu berakhir pada Suri.

“Jika banker itu terbuka,” Ryu-Shin berpaling pada Kapten Seo, “maka, data seluruh dunia akan ada di sana dan sistem mereka akan shutdown selama beberapa detik dan … kestabilan ekonomi akan sedikit goyah, dunia akan kacau, mereka akan berteriak dan mencari solusi gelap dan di sanalah aku muncul …” ia menyengir lebar pada Kyu-Hyun, “seorang penyelamat dari dunia gelap.”

Meski hanya satu detik, Kapten Seo dapat melihat jari Kyu-Hyun bergerak, tanpa melakukan kontak mata yang mungkin akan menyebabkan kecurigaan pada Ryu-Shin, Kapten Seo mengalihkan perhatian pria itu padanya.

“Sindrom stockholm?” tanya Kapten Seo cepat, ia bisa melihat perubahan di mata Suri ketika membawanya ke sini dan menuruti pengakuan Ryu-Shin tentang Suri yang secara suka rela menjebak Kyu-Hyun sebagai pusat informasi, kemungkinan besar adalah sindrom stockholm. “Apa mereka terjangkit sindrom stockholm? Kami tahu kau bisa memengaruhi otak polos mereka dengan mudah dengan cerita-cerita menyedihkan.”

Dengan wajah tenang, Ryu-Shin berbalik dan menyisir lagi rambutnya ke belakang menggunakan jemari dengan gaya yang sangat elegan. “Cerita-cerita menyedihkan? Tidak, tentu saja tidak.” Ia mengibaskan tangannya cepat seolah anak kecil yang sedang membantah lawan bicaranya dengan gaya sok tahu. “Bagaimana kalau cerita-cerita menyenangkan tentang tidak adanya aturan dari orangtua selain menghapal angka tersebut di masa depan?

“Kau … Kapten, rupanya masih bodoh soal psikologi manusia yang sebenarnya. Anak-anak tak peduli dengan sesuatu yang menyedihkan, tentang seberapa banyak uang yang akan mereka miliki kelak. Mereka hanya ingin … “ Ryu-Shin mencoba mencari persamaan yang paling tepat di kepalanya sebelum tersenyum penuh arti, “gula-gula dan tidak ada kekangan kapan harus belajar dan kapan harus tidur? Anak-anak menyukai itu!” ia tersenyum puas dan kembali memerhatikan anak didiknya.

Wajah tenangnya terlihat puas, persis seperti wajah orangtua yang melihat anak-anaknya tumbuh dengan baik. Ia menganggap mereka sebagai anak, mengasihi baik-baik dan amat kecil kemungkinan bahwa sindrom stockholm tersebut memang tidak terjadi. Jika Kyu-Hyun menyadari ini, Kapten Seo melihat pria itu masih duduk kaku di sofanya, mungkin Kyu-Hyun akan merasakan patah hati paling hebat untuk kali kedua setelah mengubur sahabatnya bertahun-tahun lalu.

Jika kematian sahabatnya dahulu adalah pemicu mengapa Kyu-Hyun begitu peduli pada perlindungan korban anak-anak, apa yang akan terjadi jika Suri menjadi korbannya sekarang? Atau bagaimana jika Kyu-Hyun merasakan penghianatan begitu dalam hingga menguburkan seluruh motivasi awal Kyu-Hyun?

Ini tak boleh terjadi, ia tak boleh kehilangan calon pemimpin ICD secepat ini, ia tak boleh kehilangan Kyu-Hyun dengan kejeliannya yang sekarang. Dari seluruh anggota ICD hanya Kyu-Hyun-lah yang mampu diandalkan, bahkan petinggi sudah memperingatkannya untuk segera mencabut Kyu-Hyun dari orang lapangan untuk ditempatkan pada kepala strategi dan membentuk tim khusus.

Perlahan ia bisa merasakan jari-jari kakinya menghangat, aliran darah mulai terasa lagi. Kalau ia tak salah ingat, aroma yang Suri suntikkan padanya adalah obat saraf, bukan obat penenang, artinya meski seberapa kuat pun sugesti pada otaknya untuk meyakinkan dirinya bisa menggerakkan kakinya lagi seharusnya takkan memiliki pengaruh apa pun.

Lalu mengapa ia bisa menggerakan jari-jari kaki serta sendi-sendinya mulai terasa melemas meski baru 30 menit?

Baru Kyu-Hyun akan memberi isyarat pada Kapten Seo bahwa dalam waktu 10 menit ia bisa menggerakkan seluruh tubuhnya, namun matanya menangkap benda yang Suri campakkan tadi di lantai. Suntikan tersebut hanya kehilangan satu per empat cairannya.

Matanya melebar saat melirik Suri, apa wanita itu tidak sepenuhnya di bawah pengaruh Ryu-Shin atau Suri memang ceroboh?

Kyu-Hyun tak mendapat lirikan balik, sesaat ia ragu untuk memercayai bahwa Suri-nya tak terpengaruh lantaran mata Suri tetap lurus menatap Ryu-Shin berjalan-jalan kecil di tengah ruangan berbincang dengan Kapten Seo.

Namun saat itu, ia mendengar Suri berkata perlahan, hampir hanya menggerakkan bibirnya, dalam bahasa Jerman, “lari” dengan pandangan lurus ke depan.

“Lari.”

Kyu-Hyun yakin bahwa kata itu tidak termasuk dialog yang seharusnya Suri ucapkan.

“Lari sekarang.”

Kemudian Ryu-Shin berbalik dengan mata melebar, ia berhenti di tempatnya sambil mengangkat tangan kanan tanda untuk menyetop kegiatan merangkai password tersebut. “Kau … terpeleset, Letnan Lee?”

Mata kelabu Suri masih tanpa emosi manatap balik ketuanya dan berkata, “Tidak, Sir,” tanpa bergetar sedikit pun.

“Kenapa aku dengar sesuatu yang tak seharusnya kau ucapkan.” Ryu-Shin tentu menyadari hal tersebut semenjak awal merekrut Suri, kemungkinan itu ada di urutan paling atas namun ia yakin dirinya tak seamatiran itu, ia tahu dan sangat bisa mengendalikan Suri yang terlampau memiliki kepala yang bisa mematahkan perintahnya.

Perlahan sekali tangan Ryu-Shin meraih pistol di balik jas kelabunya, ia tak bisa menghentikan ini sekarang setelah apa yang ia lakukan selama 7 tahun belakangan, setelah pengorbanannya selama ini, takkan ia biarkan Suri mematahkan hal tersebut semudah ini.

“Lanjutkan semuanya secara benar, Letnan, kau tahu konsekuensi apa yang akan kau terima jika sedikit saja kau meleset.”

Ancaman!

Tentu bukan sebuah ciri-ciri dari sindrom stockholm yang mewajibkan penderitanya melakukan perintah dari pelaku dengan suka rela meski itu menyangkut nyawanya sendiri. Surinya masih bisa diselamatkan.

“Baik, Sir.”

“Itu bukan sindrom stockholm.” Tekan Kapten Seo, “mereka tak melakukan ini atas kemauan mereka sendiri.”

Pistol gelap tersebut akhirnya ditujukkan untuk menggaruk pelipisnya yang tak gatal, wajahnya yang tenang berubah seperti wajah anak kecil yang tertangkap basah baru saja mengusili anak lain hingga menangis tersedu.

“Ah, sindrom stockholm itu menyusahkan, mana bisa anak-anak dibujuk meski dengan suplay gula-gula gratis seumur hidup? Yang mereka mau, ‘ingin ibuku’ sambil terus merengek-rengek. Anak-anak yang bertahan ini,” ia menunjuk tujuh orang yang sekarang sibuk bersahut-sahutan lagi, menggunakan pistolnya, “adalah anak-anak yang paham kalau tidak menuruti kemauanku mereka tidak akan pernah bisa kembali ke rumah mereka.”

“Dan mengapa mereka melupakan kejadian selama denganmu? 6 bulan bukanlah waktu yang sebentar, Ryu-Shin!”

“Kapten Seo, Kapten Seo … tentu saja aku menyegelnya. Ingatan tersebut hanya ada di kepribadian mereka, kepribadian prajuritku, milikku, dan hanya aku yang bisa membuat pribadi kedua mereka tersebut bangkit dan duduk di hadapanku mengucapkan seluruh angka.”

Begitu rupanya. Ryu-Shin memanipulasi dan dengan sengaja memecah kepribadian anak-anak yang bahkan belum cukup besar untuk mengikat tali sepatunya sendiri menjadi dua. Satu untuk ditunjukkan ke publik dan satunya untuk mengabdi sebagai penyimpan kode paling aman. Tentu takkan terdeteksi dengan mudah, mereka tak ingat, tak tahu ke mana, apa, hingga siapa yang merawat mereka selama 6 bulan atau bahkan kejadian menghilang satu hari yang terus berlanjut hingga mereka remaja dan dewasa.

“Kau lebih busuk dari hewan, Ryu-Shin.” Kapten Seo mendecih.

“Ya, ya, aku tak mengurusi moral manusia, sudahlah.”

Lampu konfirmasi sandi kedua menyala hijau, kesempatan mereka semakin menipis dan Kyu-Hyun belum juga mampu menyentakkan sendinya. Ia tak ingin terjatuh di tengah ancang-ancangnya menendang wajah Ryu-Shin hingga hancur.

“Aku tak ingin ada interupsi lagi,” umum Ryu-Shin pada ketujuh anaknya, “sampai ada satu kesalahan, kalian sungguh tahu konsekuensi yang akan ditanggung. Aku tak suka kalian menderita, tapi kalau kalian berbuat salah, aku bisa apa?” wajahnya jelas-jelas mengiba memandangi satu per satu anak-anak yang terjebak ketakutan di dalam tubuh orang dewasa tersebut.

Psikologis mereka ditekan untuk tetap menjadi anak 6 tahun yang diancam akan dipotong kakinya jika tak mau menghapal. Ia tak tahu jenis hukuman apa yang biasa mereka terima, namun ia yakin salah satunya berhubungan dengan air.

Selama menikah Suri selalu termenung menatap air bahkan hanya air yang memenuhi bathtub pun akan ia lihat berlama-lama hanya untuk meyakinkan dirinya takkan ada hal buruk yang menimpanya. Dan itu bukanlah kepribadian yang Ryu-Shin buat yang ia temui.

Ia melirik Kapten Seo sesaat sebelum mendapat anggukan dari pria itu. Tangan kanannya mengayun refleks begitu tubuhnya bangkit dari sofa menerjang Ryu-Shin yang membelakanginya. Jemarinya terkepal dan dengan kekuatan penuh ia mengarahkan pukulannya pada rahang kanan Ryu-Shin hingga pria itu terjengkang.

Melihat ayah mereka jatuh akibat tinju Kyu-Hyun, 6 orang anak asuh Ryu-Shin berdiri dan langsung membuat kuda-kuda dengan wajah datar. Dengan irama yang tenang mereka mulai bergerak mengelilingi Kyu-Hyun, namun Suri … wanita itu duduk diam dengan kedua tangan di atas lutut menatap lurus.

Ryu-Shin tertawa merendahkan sambil mengusap darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan. “Kuat sekali sarafmu bisa bangkit secepat ini.” Ia perlahan bangkit, menjilat bekas mengalirnya darah kemudian menyeringai, “Letnan Lee, kau teruskan hingga akhir.” Perintahnya tanpa mengalihkan padangan dari mata Kyu-Hyun, “kalian, habisi Kyu-Hyun.”

Detik berikutnya 6 orang tersebut mengeluarkan sebuah pisau lipat dari balik tubuh mereka. Tangan terampil yang tak pernah Kyu-Hyun ketahui mampu memainkan pisau lipat di antara jemari mereka. Seperti hiu yang sedang mengepung mangsanya, mereka bergerak memutar tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Kyu-Hyun.

Serempak mereka menyerang Kyu-Hyun, menghunuskan pisau tersebut dengan gerakan cepat dan bersamaan. Meski begitu, bukan Kyu-Hyun namanya jika hal seperti ini tak mampu ia hindari. Dengan cekatan tubuhnya menghindari tusukan demi tusukan, lengannya bergerak menyesuaikan irama, menepis tangan yang terjulur.

Jika saja mereka benar-benar salah satu dari anggota Ryu-Shin tanpa embel-embel hipnosis atau doktrin apa pun, mungkin Kyu-Hyun akan lebih leluasa menghabisinya, mematahkan leher mereka atau paling tidak mematahkan beberapa rusuk hingga mereka tersungkur tak berdaya. Sayangnya mereka adalah warga sipil biasanya yang tak mampu menolak perintah Ryu-Shin.

Zi Feng dan Eun-Ah adalah dua orang yang terlalu terampil menggunakan pisau, tak heran, Zi Feng merupakan pemain pedang tradisional dan Eun-Ah, jika saja ia tak selalu kehilangan ingatannya satu hari dalam satu tahun mungkin sudah menjadi agen lapangan yang ia kepalai dengan nama Calla.

Untuk sepersekian detik Kyu-Hyun lengah dan hunusan pisau Zi Feng tepat menggores lengan kanannya cukup dalam, merobek kemeja hitam yang dikenakan. Melihat Kyu-Hyun yang lengah, Eun-Ah menyerang titik buta Kyu-Hyun, pinggul kiri.

Sensasi panas itu menjalar melalui pinggang kiri Kyu-Hyun ketika ia menemukan ekspresi mengerikan Eun-Ah yang menyeringai dengan mata sayup yang mengerikan. Barulah Kyu-Hyun tersadar bahwa yang ia lawan bukanlah warga sipil yang tak berdaya, mereka adalah sekelompok pribadi yang tak mengenal siapa pun kecuali Ryu-Shin dan takkan menuruti apa pun perintah orang lain selain Ryu-Shin.

Kali ini wajah Kyu-Hyun berubah gelap, ia melirik Suri yang meneruskan kalimat lainnya untuk membuka kata kunci dan sekarang hanya tersisa satu lampu hijau lagi.

Tangan Kyu-Hyun bergerak cepat menarik pria di hadapannya, memelintir lengan pria itu hingga bunyi tulang patah sementara wanita lainnya di arah kanan mencoba menusukkan pisaunya ke lengan Kyu-Hyun. Dengan cekatan Kyu-Hyun menarik lawannya, menggantikan lengannya untuk mendapat tusukan sebelum meninju tepat di perut wanita tadi yang menyebabkan kekurangan oksigen secara tiba-tiba.

Masih menggunakan tameng pria yang sama, Kyu-Hyun memutar pria itu lagi untuk mendorongnya menjauh bersama Eun-Ah yang terjungkal ke belakang. Ia tak punya banyak waktu hingga Eun-Ah bangkit dan mulai menyerang. Matanya melirik Kapten Seo yang dengan tenang mencoba meloloskan ikatan kakinya.

Ryu-Shin tersenyum senang melihat pertunjukan secara langsung di hadapannya. “Kudengar kau memang punya moral yang tinggi dan kemampuan bertarung tinggi, tapi bagaimana? Jika kau membunuh mereka, maka kau tak ubahnya aku yang membunuh warga sipil tak bersalah. Namun jika kau tak menghabisi mereka, mungkin …” Ryu-Shin sekarang mengeluarkan satu pistol lagi dari balik jubahnya dan mengarahkan kedua pistol tersebut pada Suri salah satunya dan satu lainnya pada Kapten Seo, “salah satu dari mereka akan mati malam ini.”

Ah, keparatlah. Ia paling benci keadaan seperti ini. Biasanya agen yang menghadapi keadaan seperti ini akan memilih kekasih atau rekan kerjanya ketimbang orang yang tak mereka kenal sekalipun. Namun di beberapa kejadian banyak juga yang lebih memilih warga sipil lantaran di peraturan disebutkan dengan jelas bahwa keselamatan warga sipil berada di atas segalanya.

Sambil memelintir lengan pria lainnya yang terjulur dan menyetak tengkuk pria itu menggunakan sikunya hingga hilang kesadaran dan terkulai di lantai menubruk Zi Feng yang sebelumnya bersiap menyerang, ia menjawab, “Setiap orang memiliki pilihannya sendiri, ini negara demokrasi, Ryu-Shin.”

Ketika Eun-Ah kembali menyerang Kyu-Hyun, perhatian mereka teralih dengan ribu-ribut di kelab malam yang tadi riuh dengan pengunjung. Terdengar letusan dua kali sebelum teriakan-teriakan terdengar dan tak lama pintu gudang tersebut terbanting terbuka.

Gong Yoo berdiri di sana dengan kemeja hitamnya yang kusut dan rambut belah tengahnya yang berantakan. Wajahnya pucat mencari Suri. Dan detik berikutnya Kapten Seo bisa melihat sebaris senyuman di bibir pria itu.

Yang dipikirkan Kapten Seo adalah Ryu-Shin yang akan panik lantaran anak buah Gong Yoo telah sampai dan mulai mengepung tempat ini dan artinya tak lama lagi tim mereka akan datang, namun ketika Gong Yoo melintasi ruangan dan dengan panik berusaha menyadarkan Suri, Ryu-Shin justru tersenyum lembut menurunkan kedua pistolnya dan duduk di bangkunya kembali.

Pertunjukan impianku, pikir Ryu-Shin, Kakek Tua yang frustrasi melepaskan ikatannya, Kyu-Hyun yang dikewalahan menghadapi agennya sendiri, serta Gong Yoo yang berusaha menarik Suri dari kegiatan membuka kodenya.

Dalam satu tarikan lengan, Gong Yoo membuat Suri yang sebelum ini tak bergeming ikut tertarik, tubuhnya berdiri kemudian memasang kuda-kuda dengan sangat jelas bahwa mata kelabu itu tak mengenali siapa di hadapannya.

Tiba-tiba siku tersebut sudah menghantam dada Gong Yoo, membuat pria itu goyah dan mengendurkan pertahanannya. Tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Suri kembali maju dan mengarahkan tinjunya ke tulang rusuk Gong Yoo dengan kekautan penuh.

Ia tak pernah tahu bahwa Suri mampu bertarung sebaik itu.

Dengan tangan yang masih terjulur ke dada Gong Yoo, pria itu menarik dan memelintir lengan Suri hingga Suri membelakangi Gong Yoo, “Lee Suri, sadarlah, ini aku Gong Yoo!” teriaknya sebelum kembali mejaga jarak kembali karena Suri langsung terlepas dan membuat kuda-kuda.

Sementara di sisi lain Kyu-Hyun kewalahan mendapat tiga serangan yang cukup gesit dari Eun-Ah dan Zi Feng juga seorang berkulit putih. Dengan luka di perut yang terus mengeluarkan darah tepat di lukanya yang kemarin, gerakan Kyu-Hyun menjadi sedikit lamban. Matanya sesekali melihat Suri yang bangkit dan melawan Gong Yoo dengan cekatan. Sebagian hatinya ingin mematahkan leher Gong Yoo yang berani-beraninya memelintir lengan Suri, namun sebagian hatinya ingin tertawa karena sejak dahulu ia ingin sekali Suri menendang wajah pria itu hingga terjungkal dan harapannya baru saja dikabulkan.

Dengan gerakan cepat Kyu-Hyun memutuskan untuk menyudahi bermainnya dengan pria berkulit putih, ia memukul pria itu hingga matanya berputar menyisakan putih yang terlihat di sela kelopak mata yang terbuka.

Namun kenyataan Eun-Ah sebaik bertarung agen bawahan lainnya membuat ia sedikit kewalahan ditambah Zi Feng yang dengan lihai memainkan dua pisau di tangannya. Tangannya sedikit licin akibat darah dari perutnya dan suhu tubuhnya mulai menurun perlahan. Selesaikan secepat mungkin dan tangkap Ryu-Shin sebelum Suri menyelesaikan ucapannya.

Saat itu Suri berhasil memegangi kedua bahu Gong Yoo yang tadi terjungkal ke belakang akibat tendangan Suri yang tepat mengenai wajahnya, ia tak bisa melawan, ia ingat Suri yang selalu mengeluh ototnya sakit ketika diajari bela diri dan melihat Suri yang begitu tangguh dengan kepalan tangan dan kuda-kuda mantap di hadapannya membuatnya sedikit tak percaya.

Dalam satu tarikan napas Suri melesakkan lututnya ke dada Gong Yoo hingga rasanya seluruh oksigen di sekitarnya terenggut paksa, matanya berkunang, dan seluruh tubuhnya kebas. Ia tak bisa merasakan apa pun bahkan berpikir saja sulit. Tubuhnya ambuk ke lantai dengan mulut mengaga lebar berusaha meraup oksigen yang entah bagaimana terasa seperti air.

Suri kembali melanjutkan ucapannya, kata demi kata disebutkan hingga Ryu-Shin menyadari hal tersebut. Ia baru tersadar sekarang mengapa lampu hijau terakhir tak kunjung terbuka, Suri menyebutkannya menggunakan bahasa Norwegia, bukan bahasa Jerman, meski terdengar sama namun benar-benar berbeda.

“Lee Suri,” ia berdiri mengeluarkan lagi pistol dari balik tubuhnya dan berjalan cepat menempelkan moncong pistol tersebut pada pelipis Suri kuat-kuat hingga kepala wanita dengan mata datar tersebut terteleng. “Apa kau mempermainkanku? Kau berani mempermainkanku? Kau sungguh berani?!” desaknya dengan nada tinggi. “Kembali ke awal, ucapkan dari awal kata kunci bagian terakhir!”

Namun mata yang biasanya hanya menatap lurus kali ini melirik Ryu-Shin yang berdiri di sampingnya. “Di dalam sana bukanlah pengacak sinyal yang mampu melumpuhkan seluruh dunia, di dalam sana adalah awal kehancuran dunia, apa yang terjadi pada dunia jika seluruh energi listrik mati untuk 10 detik?” tanya Suri dengan napas tenang dan mata yang luar biasa datar. “Kau benci seluruh manusia yang hidup lebih baik darimu, dilahirkan dari keluarga baik-baik, memiliki pekerjaan baik, memiliki keluarga yang normal, dan …” Suri berhenti ketika rahang Ryu-Shin semakin mengatup keras, mata pria itu hampir keluar dari tempatnya, dan ia bisa melihat urat-urat di leher pria itu, “orang yang memiliki kesehatan lebih baik darimu.”

Apa ia cari mati?! Kyu-Hyun berteriak dalam hati. Wanita itu memberikan jeda pada semua orang, mungkin pada seluruh dunia untuk mengalihkan perhatian Ryu-Shin padanya, untuk melampiaskan kebencian pria sekarat itu padanya seorang diri.

“Kau tak tahu apa pun tentangku dan jangan pernah mengatakan layaknya kau tahu sesuatu!” sahutnya geram kemudian membuka pengaman pistol dengan tangan gemetar. “Selesaikan kataku! Selesaikan atau aku akan menghancurkan kepalamu?”

“Semua orang berhak memiliki kesempatan kedua, Ryu-Shin,” sahut Suri tanpa mengubah sikap berdirinya seolah tak ada adegan di mana ia membuat Gong Yoo gelagapan mencari udara.

“Persetan dengan kesempatan kedua!” pria itu berbalik marah sambil menjambak rambutnya. Ia menjauhi Suri setengah frustasi setengah tertawa tak terkontrol. “Kalian menghancurkannya semenjak awal! Kalian semua! Pemerintah keparat!” ia berputar dengan marah. “Ke mana kalian ketika Ibuku mati karena tak punya cukup biaya untuk berobat? Ke mana kalian ketika ayahku yang sialan menghukumku? Dan keparat itu!” ia menunjuk Kyu-Hyun yang masih berusaha menumbangkan Zi Feng yang tubuhnya dua kali lipat dari tubuh Kyu-Hyun, “ia memisahkan aku dengan Ah-Young-ku tersayang!”

“Kau sudah diberikan kesempatan kedua untuk mengabdi pada negara, Ryu-Shin dan kau justru mengacaukannya. Kau—“

“Hentikan! Hentikan kubilang!” ia berteriak, mengokang pistolnya sambil berjalan cepat-cepat mendekati Suri.

Kyu-Hyun mengumpat habis-habisan dan tak tanggung-tanggung langsung membelokkan pisau Zi Feng ke perut pria itu sendiri dan meninju wajahnya hingga pingsan sementara Eun-Ah dengan lebih berperasaan ia mengambil jarum suntik yang Suri gunakan tadi, menyuntikan sisa cairannya ke dalam darah Eun-Ah hingga wanita itu jatuh terkulai di lantai dengan mata melotot dan gerakan memberontak.

Dengan cepat Kyu-Hyun berlari menuju Suri yang berada di tengah ruangan tak terlindungi, Gong Yoo terkapar tak berdaya dengan kemungkinan rusuknya patah dan sedikit masalah pada ginjal. Tak ada yang lebih mengerikan selain melihat wanitanya ditodongkan pistol tanpa aling-aling sedikitpun.

Sepertinya seluruh darah terkuras dari tubuhnya begitu peluru yang meletus dalam gambar tayang pelan dari pistol Ryu-Shin melesat membelah udara menuju Suri sebagai sasaran tunggal.

Ia tak akan kehilangan Suri, ia sudah memberitahu dirinya berkali-kali bahwa ia takkan rela kehilangan Suri demi apa pun dan demi Tuhan ia akan kembali pada Suri ketika statusnya lebih aman. Namun sepertinya benar apa yang Kapten Seo ucapkan, ia sudah terlalu lama di lapangan, sudah terlalu lama menjadi wajah paling dihapal oleh orang-orang tak bermoral di luar sana.

Dalam sekelebat ia melihat Kapten Seo yang kedua tangannya masih terikat di kursi berlari cepat menuju celah di antara Ryu-Shin dan Suri yang tak sampai 10 meter. Kemudian Kyu-Hyun tak tahu lagi kelanjutannya, akal sehatnya terenggut begitu melihat tubuh Kapten Seo limbung dan jatuh menimpa Suri di hadapannya.

Ia tak sadar, tak ingat apa yang terjadi. Dengan bermodal tangan terkepal Kyu-Hyun melaju menghantamkan bogem keras ke wajah Ryu-Shin dan entah berapa kali ia menghantamkannya namun wajah pria itu tetap tertawa meski darah memenuhi mulut dan kulit yang robak di atas pipi.

“Bajingan!” itu yang terakhir Kyu-Hyun ingat teriakan ketika AJ datang dan menarik tubuhnya dari atas tubuh Ryu-Shin yang terkulai lemas.

***

Kyu-Hyun duduk di mobil ambulans dengan kepala di telapak tangannya yang berlumuran darah sementara Suri dengan tangan gemetar membersihkan luka di perutnya. Ia menolak untuk dibawa ke rumah sakit lantaran masih harus membereskan kekacauan di lokasi sementara Kapten Seo sudah dibawa secepatnya dengan ambulans menuju rumah sakit khusus anggota.

“Bicaralah,” pinta Kyu-Hyun sambil meletakkan perekam video pada rak di hadapan mereka, berpura-pura agen yang lalu lalang di hadapan mereka tak terlihat, “aku perlu menulis laporan secepatnya, bicaralah.”

Meski tangan itu gemetar dan jemarinya mendingin, Suri tetap menjawab dengan suara stabil. “Ryu-Shin bertemu dengan seorang programer cerdas ketika ia menjalani terapi kanker paru-parunya, namanya Um Ye-Yeol, pria itu menawarkan ide kejahatan yang bisa saja membunuh setengah dari penduduk Bumi lantaran mereka merasa di asingkan di gunung terpencil jauh dari mana pun. Ye-Yeol merancang semua program tersebut seperti seorang penyihir yang membuat ramuan beracun, projek itu selesai satu minggu sebelum kematian Ye-Yeol.

“Ia menjelaskan seluruh sistem alat tersebut pada Ryu-Shin dan membawanya ke sini, ke tempat yang saat itu hanyalah kelab kumuh tempat pelacur murahan. Dongeng yang kami bacakan berjudul ‘Blue Flame’ dongeng asal Jerman yang ceritanya—“

“Aku paham ceritanya, lewatkan itu, aku bisa mencarinya sendiri.”

“Ya, tentu.” Suri menekan pundak Kyu-Hyun hingga pria itu terbaring di ranjang dan menutup pintu ambulans. Lukanya mengenai tepat luka dua bulan lalu yang ia jahit ketika pria itu datang dengan berdarah-darah ke rumah sakit sambil berteriak seperti orang gila. “Kami diberikan lembar berisi huruf yang setiap tahunnya berubah, kami diwajibkan menghapal dan mempraktikannya untuk mengonfirmasi kata kunci pada benda itu dan ketika aku diculik kali pertama dua bulan lalu, aku diberikan lembaran itu lagi dan diwajibkan menghapal.

“Tidak ada hitungan, ia hanya menuliskan nama siapa selanjutnya sesuka hatinya,” jelas Suri ketika mulut Kyu-Hyun terbuka untuk bertanya. “Konfirmasi suara terdapat di mesin itu dan disetel setiap tahun hingga kami dewasa dan tak lagi berubah.

“Aku tahu bahwa Ryu-Shin menderita kanker paru-paru karena ia bercerita pada kami cerita tentang kesedihannya dan tentu saja anak kecil seperti kami saat itu tak peduli dengan kesedihan orang lain, yang kami butuhkan hanya ibu kami. Ada lagi yang ingin kau tanyakan?” Suri selesai menjahit luka tusuk di perut Kyu-Hyun, menutupnya dengan perban dan plester.

“Bagaimana mereka melatihmu?”

Sekilas pupil itu goyah dan Suri menarik napasnya berat. “Seperti serangkaian anak-anak yang dipaksa menghapal, biasa saja hingga salah satu dari kami mulai mengeluh atau salah. Mereka akan menenggelamkan kepala kami ke dalam bak selama lima detik. Jika salah kami lebih dari 5 kali, maka hukuman akan terus bertambah. Jika memang tak diandalkan … ia menembak kepala kami.”

Ketika itulah pertahanan Suri runtuh. Tubuhnya gemetar hebat, ia memeluk tubuhnya sendiri dengan kepala yang terbenam di antara lututnya, persis seperti anak kecil yang ketakutan.

“Ya Tuhan, ya Tuhan,” ucapnya gemetar sambil terus mengguncang tubuhnya sendiri mengatakan bahwa ia takkan apa-apa, semuanya pasti baik-baik saja, Ryu-Shin sudah tak ada, dan ia akan baik-baik saja.

Perlahan Kyu-Hyun menyelipkan lengannya di tubuh Suri dan mengangkat tubuh wanita itu ke pangkuannya dan memeluknya erat. Ia meletakkan kepala Suri di pundaknya, membiarkan wanita itu menangis histeris beberapa saat.

“Aku mencoba berteriak, aku meminta tolong, aku tak bisa mengatakannya terang-terangan,” jelas Suri di tengah tangisannya. “Ia selalu tahu, ia tahu jika aku berusaha membuka mulutku tentang apa yang terjadi padaku dan 6 anak lain. Ia selalu tahu caranya menyusup ke sekolahku ketika Gong Yoo lengah. Ia selalu ada di sana, memerhatikanku dan mengancam akan membunuh semua orang yang aku kenal bahkan kau.

“Ya, Tuhan! Aku meminta tolong padamu sejak lama, aku selalu berteriak dalam diam tapi tak ada yang memerhatikanku!” cengekraman Suri di lengan Kyu-Hyun semakin erat dan tangisannya kembali hebat dengan suara yang serak. “Tak ada yang memerhatikan jeritanku.”

Mereka terdiam hingga Kyu-Hyun berkata, “Maafkan aku,” dengan suara lirih. “Aku memang tolol dalam hubungan, kupikir setiap kau terlihat ingin mengatakan sesuatu lantaran kau tertekan. Ya, Tuhan, Lee Suri maafkan aku.” Ia mempererat pelukannya pada Suri.

Kyu-Hyun menarik wajah Suri, mengusap air mata di pipi Suri dengan ibu jarinya. “Aku berjanji akan mengurungnya, menjauhkanmu dari Ryu-Shin, kau bisa hidup dengan tenang setelah ini, Lee Suri, aku berjanji takkan melepaskannya untuk apa pun.” Ia mencium bibir basah Suri berkali-kali hingga isakan itu mereda dan Suri merebahkan sendiri kepalanya di pundak Kyu-Hyun.

Setengah jam kemudian mereka keluar dari mobil ambulans dan melihat setiap orang ditanyai, diperiksa, dan dimasukkan paksa ke dalam mobil tanahan untuk pendataan resmi. Ia melihat lagi kelab malam elit yang akan menjadi titik utama kerusakan dunia. Bukan hanya soal ekonomi yang akan terguncang, namun bagaimana jika benar yang Suri katakan jika listrik akan padam selama 10 detik di seluruh dunia? Bagaimana dengan negara-negara yang mengandalkan reaktor nuklir? Mungkin separuh dari Bumi akan tersapu bersih oleh ledakan dahsyat.

Pandangannya beralih pada Suri, “Bagaimana kau melepaskan perintah Ryu-Shin di kepalamu?”

Ia melingkarkan tangannya di lengan Kyu-Hyun, mengikuti pria itu ke tempat yang membuat Kyu-Hyun kalap tadi, gudang. Noda darah Kapten Seo membekas di lantai sedikit gelap dan bau anyir samar masih tercium. Beberapa saat lalu ia melihat Kyu-Hyun yang kesetanan menghajar Ryu-Shin hingga pria itu tersungkur tak berdaya meski dengan senyuman sialan di wajahnya yang berlumuran darah.

“Ryu-Shin sadar kecenderungan pemberontakku, maka itu ia memecah kepribadianku, dia tak bisa menghipnotisku dengan lagu keparatnya itu, makanya dia membuatku menjadi dua kepribadian. Dia selalu mengaktifkan kepribadianku yang kedua melalu perintah telepon atau surel. Hanya semudah memanggilku ‘Letnan Lee’ maka seluruh kepribadian utamaku habis. Dia mengendalikanku habis-habisan.

“Tapi malam itu aku tak sepenuhnya membiarkan diriku terperosok, aku terus mengatakan untuk memancing keluar Letnan Lee tanpa harus kehilangan diriku dan aku bisa mengendalikannya. Menjadi sulit ketika lagu itu diperdengarkan, aku bahkan tidak mengenali Gong Yoo hingga ia terkapar di lantai. Ah … dia pasti merajuk habis ini.”

Kyu-Hyun menyengir. “Kau menendang wajahnya, sesuatu yang ingin sekali kulakukan setiap kali ia muncul tiba-tiba ketika kita sedang berkencan dulu.”

“Apa …” Suri terdiam di tempatnya, “apa kau masih mau denganku? Aku yang menyebabkan Kapten Seo tertembak.”

Senyum Kyu-Hyun terlihat enteng meski tangan pria itu membiru, mungkin belum pernah menghajar seseorang begitu kuatnya. Suri tahu Kyu-Hyun punya kontrol tersendiri dan AJ memberitahu bahwa Kyu-Hyun tak pernah lepas kendali dan menghabisi nyawa penjahat dengan tangannya sendiri. Ia begitu patuh pada peraturan ‘tangkap hidup-hidup’.

Ia membalik tubuh Suri agar menghadapnya dan perlahan membelai pipi Suri dengan telunjuknya dan berhenti tepat di dagu wanita itu.

“Kau mengulur waktu dan membahayakan nyawamu juga untuk menyelamatkan dunia, kurasa jika Kapten Seo pulih dari pingsannya ia akan sangat berterima kasih atas tindakan tolol kuadratmu itu.”

Ia mengingat lagi bagaimana Suri berdiri di sana tak gentar menghadapi peluru yang ditujukan untuknya. “Aku rasa jantungku berhenti berdegup melihatmu berdiri di sana, diam tanpa menunjukan tanda-tanda akan menyingkir dari jalur peluru. Sungguh, aku ingin sekali membentakmu dan menguncimu di kamar agar kejadian tersebut tak pernah terulang lagi.” Omel Kyu-Hyun pelan tepat di depan telinga Suri, tak ingin didengar oleh agen lain yang masih menyisir lokasi.

Tak lama terdengar suara berlari-lari dengan nama Suri yang tersebut berkali-kali. Mereka menoleh dan mendapati Kyung-Sook juga Chun-Hwa berlari dengan wajah pucat dan panik, bahkan Kyung-Sook yang dikenal dengan penampilan modisnya malam ini terlihat mengenakan piyamanya saja yang dilapis mantel panjang.

“Ya, Tuhan! Lee Suri!” ibunya langsung menarik Suri ke dalam pelukannya dan menangis terseduh terduduk di lantai tak kuat lagi menopang tubuhnya setelah tegang hampir setengah hari. “Maafkan aku! Aku sungguh lalai menjagamu!” ucapnya histeris di tengah tangisannya.

Kyu-Hyun berjalan menjauh, membiarkan Kyung-Sook mengungkapkan seluruh kegelisahannya. Setiap orang berhak, bahkan seorang istri menteri yang begitu tegar.

Perlu 45 menit penuh untuk membujuk Kyung-Sook melepaskan putrinya sebentar sebelum masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke Seoul, menjauh dari tempat, yang menurut Kyung-Sook, memuakan ini.

Kyu-Hyun tersenyum pada Kyung-Sook, mengangguk dan menuntun Suri untuk menjauh sebentar dari keramaian. “Dengarkan aku,”

“Tidak,” Suri menjawab cepat, ia tahu apa yang akan Kyu-Hyun katakan. “Aku sudah menunggu 7 tahun, Cho, kau mau memintaku menunggu lagi?”

“Aku tahu ini keterlaluan, tapi aku perlu memastikan tempatku aman untuk tinggal denganmu,” Kyu-Hyun mengenggam tangan Suri kuat-kuat. “Bisakah kau menunggu lagi? Ini takkan lama, hanya 8 bulan atau mungkin kurang. Aku sungguh harus membereskan ini terlebih dahulu dan melihat perkembangan Kapten Seo hingga ia kembali ke markas.”

Ia ingin berargumen, membantah, berteriak, mengatakan pria itu egois, namun ia sungguh sadar bahwa yang Kyu-Hyun ambil adalah keputusan berat. Ia bisa melihat bahwa mata gelap pria itu terluka lebih dari Suri, tangannya kuat mencengkeram tidak menginginkan Suri pergi, namun kepalanya mengatakan bahwa ia harus menyelesaikan semuanya sebelum bisa bersama kembali.

“Aku sungguh tak sanggup melihatmu seperti tadi. Berdiri untuk menyelamatkanku, menyalamatkan dunia yang seharusnya menjadi tugasku. Aku tahu memang ini tentangmu, tapi jika kau bukan istriku ia takkan sedendam itu padamu. Aku … tidak bisa membiarkanmu terluka lagi, Cho Suri.”

Ah, keparatlah pria itu. Dia selalu tahu di mana letak kelemahan Suri. Nama panggilan. Belum pernah ada yang memanggilnya Cho Suri dengan nada memabukan seperti cara Kyu-Hyun mengucapkannya.

“Yah, apa boleh buat.” Ungkap Suri menyisir rambutnya ke belakang. “Hanya pastikan kali ini tidak terlambat.”

Kyu-Hyun memberi ucapan selamat tinggal tepat di garis rahang Suri sebelum mengantar wanita itu menuju mobil orangtuanya dan menunggu hingga mobil tersebut hilang dari pandangan sebelum berbalik untuk melihat berangkas Ryu-Shin.

***

Tiga hari kemudian Kyu-Hyun mengunjungi rumah sakit tempat Kapten Seo dirawat intensif. Dokter mengatakan bahwa tak ada yang berbahaya dari luka tembak Kapten, hanya membutuhkan sedikit istirahat. Namun ketika Kyu-Hyun memasuki ruangan tempat Kapten Seo dirawat, ternyata pria itu sudah duduk di ranjang berhadapan dengan putri semata wayangnya yang berpikir keras menatap papan catur di hadapan mereka.

Enteng saja Kapten Seo menoleh dan melemparkan cengiram lebar tanpa dosa padahal tiga hari lalu ia hampir saja membunuh Ryu-Shin karena ia pikir tembakan itu mengenai jantung Kapten Seo.

“Hai, Kyu-Hyun~ah,” ia mengangkat tangan yang tak terasa sakit, “kupikir kau takkan datang.”

“Yang benar saja,” Kyu-Hyun menggerutu sambil meletakkan buah titipan Tim 3 mereka.

Seo Dae-Na berdiri dan memberi hormat pada Kyu-Hyun sebelum berpamitan keluar, memberikan dua pria itu kesempatan bicara secara pribadi.

“Bagaimana keadaan Anda, Kapten?”

“Yah, begini saja, tak buruk sebenarnya. Bagaimana dengan Suri dan yang lain?”

“Untuk sementara waktu Suri akan tinggal dengan orangtuanya dan yang lain akan menjalani program pemulihan secara intensif. Tak ada yang mengingat detail selain Suri.” Jelas Kyu-Hyun yang sekarang duduk di pinggir ranjang. Dengan perasaan ragu-ragu Kyu-Hyun menambahkan, “Terima kasih karena Anda melindungi Suri, aku tak tahu apa yang akan kulakukan pada Ryu-Shin jika yang tertembak Suri saat itu.”

“Suri mempertaruhkan nyawanya untuk melindungimu, di kursi itu aku baru kali pertama melihat ia berusaha mati-matian mematahkan kepribadian yang Ryu-Shin buat. Ia berusaha untuk keluar dan ketika suara Gong Yoo menggema kesakitan, aku tahu bahwa ia mengingat semua yang Ryu-Shin lakukan pada anak-anak tersebut.

“Sedemikian kuat ia berjuang melepaskan dirinya dari cengkeraman Ryu-Shin, aku harus melindunginya, bukan?” ia tersenyum pada Kyu-Hyun dan merebahkan badannya ke ranjang perlahan. “Lagi pula dia anak dari sahabat baikku, tak mungkin aku membiarkannya terluka lebih jauh lagi dari sekedar korban cuci otak.”

Namun bukan itu yang sebenarnya membawa Kyu-Hyun ke tempat ini. Ada hal lain yang jauh lebih serius daripada mengucapkan terima kasih untuk melindungi Suri. Ia mengeluarkan sepucuk surat dari balik jas miliknya dan meletakkan di tengah papan catur.

“Surat itu sampai ke Meeting Point pagi ini,” ucapnya tenang. “Anda mengundurkan diri, Kapten? Mengapa?”

Ia menyuruh putrinya mengirimkan surat pengunduran diri tersebut ke dua alamat. Yang satu untuk Headquarter ICD di Finlandia dan lainnya ditujukan untuk Tim 3 sebagai ucapan perpisahan resmi.

“Kemarin, saat Suri menyanderaku di mobil, aku mengatakan bahwa aku menyayanginya seperti anakku dan memintanya untuk kembali, ia tak bergeming hingga aku mengatakan bahwa aku mengetahuinya lebih dari yang ia tahu dan ia bisa memercayakan rahasia apa pun padaku, dan dia menjawab sesuatu yang selalu kutakutkan.

“”Kau bahkan selalu melewatkan acara penting putrimu, bagaimana mungkin kau mengenalku?” katanya dengan wajah datar. Suri dan Dae-Na bersahabat meski tak selalu bertemu. Dae-Na sering mengeluhkan ayahnya yang tak kunjung pulang, melewatkan segala momen penting hingga akhirnya ia tak lagi memasalahkan ada atau tidaknya aku di dekatnya.

“Aku benar-benar terpukul mendengar hal tersebut. Aku sudah mengabdi lebih dari 30 tahun, waktunya aku menyerahkan jabatan ketua tim padamu, Kyu-Hyun~ah.”

“Tapi belum ada kandidat di tim yang bisa menggantikan posisi ketua lapangan, Kapten.”

Senyuman Kapten Seo adalah jawaban bahwa pria itu percaya bahwa kemampuan Kyu-Hyun lebih dari itu dan keputusannya takkan bisa diubah lagi. Tak ada yang menyalahkan, kehidupan sebagai satuan khusus memang terlalu banyak menuntut resiko, mungkin, meski rasanya mustahil, nanti ketika ia memiliki keluarga ia akan mulai berpikir menentukan prioritas.

Kyu-Hyun kembali dengan perasaan gundah luar biasa. Kepalanya berdenyut-denyut dan matanya terasa lelah. Ia sudah terjaga selama 3 hari berturut dan menguras kepalanya hingga rasanya ingin meledak ditambah nyeri di perutnya yang selalu kambuh setiap 6 jam satu kali.

Berhari-hari, berminggu-minggu Kyu-Hyun memikirkan apa yang harus ia lakukan pada timnya yang timpang? Petinggi memberikan Kyu-Hyun keleluasaan untuk mengubah tim mereka tanpa campur tangan dan justru itu yang memberatkannya. Ada banyak pekerjaan birokrasi dan penyelidikan lapangan yang harus diurusnya dan ia hanya seorang diri.

Tanpa ia sadari dirinya mengemudi menjauhi kota Seoul menuju Gyeonggi dan berhenti tepat di bawah bukit yang sungguh ia kenali di masa-masa awalnya menjadi manusia. Ia memarkir mobilnya di antara semak yang berjarak hampir 50 meter dari rumah di atas bukit tersebut dan mengambil jalan memutar, kebiasaan.

Sudah hampir 3 tahun semenjak dirinya kembali ke rumah ini dan menghilang tanpa kabar. Mungkin mereka akan berpikir bahwa dirinya mati dalam tugas jika sampai tahun depan tak kunjung kembali, tapi … sambil melewati semak yang menuju bagian belakang rumah, ia mulai berpikir mengapa hatinya yang gundah justru membawanya ke tempat ini? Bukan ke tempat Suri.

Tepat di pintu belakang yang terhubung dengan dapur, ia berdiri, menatap pintu itu lekat-lekat. Apakah semua ada di rumah atau justru ia datang di waktu yang salah. Kyu-Hyun memberanikan mengetuk pintu tersebut sebanyak tiga kali sesuai kode yang disepakati.

Terdengar langkah kaki samar-samar mendekati pintu dan terbuka.

Ibunya berdiri di sana dengan rambut santai yang disisir rapi, kacamata yang menyangkut di wajahnya, piyama yang dirangkap cardigan kelabu, serta senyum khawatir begitu melihat putra satu-satunya berdiri di ambang pintu dengan wajah kacau.

“Kau pulang?” tanyanya masih tak percaya bahwa yang ia lihat sekarang adalah Kyu-Hyun putranya.

“Ya, aku pulang.”

Ayahnya belum kembali, kakak perempuannya sedang bertugas di Incheon dan meski Kyu-Hyun menolak, Han-Na tetap membuatkan makan malam untuk Kyu-Hyun. Memerhatikan putra yang selalu ada di setiap doanya sebelum tidur, berharap suatu hari akan melihat Kyu-Hyun kembali menjadi bagian masyarakat lagi.

Mereka duduk di ruang tengah dengan secangkir teh hangat dan tangan Han-Na tak lepas dari tangan Kyu-Hyun. Ia begitu gembira melihat putranya di sini.

“Aku takut sekali jika yang mengetuk adalah salah satu anggota timmu dan menyerahkan surat wasiatmu.”

Kyu-Hyun hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya.

“Jadi,” meski Han-Na menahannya sedaritadi, ia tahu bahwa ada masalah yang membuat pria itu sampai pulang ke rumah di tengah misi. Pasti ada hal yang memberatkan pikirkannya. “Menagapa kau pulang tiba-tiba di tengah misi? Kudengar kau sedang mencoba melacak alat Ryu-Shin, benar? Kakakmu sedang mengusahan perlindungan korban-korbannya.”

“Aku menikah dengan seorang perempuan 7 tahun lalu,” ungkap Kyu-Hyun yang tentu saja mendapat reaksi berupa mata melebar dan mulut terbuka dari ibunya. “Namanya Lee Suri, anak dari Menteri Luar Negeri untuk Jerman, Lee Chun-Hwa.”

“Kau … sungguhan?”

“Ya, aku jatuh cinta padanya, dia begitu … manusiawi. Dia terlihat keras kepala dan lembut dalam waktu bersamaan, ia adalah kontradiksi yang paling indah yang pernah kutemui. Dan aku menghancurkannya.” Kyu-Hyun hampir bergumam di kalimat terakhir.

“Oh, apa dia …?” Han-Na memegangi erat lengan putranya.

“Tidak, ia masih hidup.” Kyu-Hyun sedikit tersenyum sesaat. “Aku melukainya tepat setelah 3 bulan kami menikah. Kami berpisah. Dan di sana aku menghancurkannya. Ia membuat dinding tinggi, bekerja terlalu keras sampai melupakanku.”

“Kau bimbang apa harus kembali atau tetap seperti ini demi kebaikannya?”

Kyu-Hyun menatap ibunya lekat-lekat. “Dia adalah korban di kasus ini, namun tak ada hubungannya denganku, ia wanita dengan ingatan luar biasa yang hilang tahun rentang waktu 1997-2002.”

“Ya, aku ingat kasus itu.” ia melihat putranya yang kelihatan lelah. “Ia wanita yang baik, bukan? Kudengar dia seorang dokter saraf, aku pernah sekali bertemu dengannya di malam Chuseok dan tanpa ragu ia langsung pergi begitu seseorang meminta bantuannya di Rumah Sakit.”

“Aku seharusnya ke tempatnya sekarang, meyakinkan diriku bahwa aku bisa menjaganya meski sekarang aku memegang dua peranan di tim. Aku seharusnya meyakinkan diriku sekarang.” Ucap Kyu-Hyun frustrasi dan menangkup wajahnya.

Lengan Han-Na memeluk pundak putranya yang lebar dan mengusapnya perlahan. “Kata orang, anak laki-laki akan dekat dengan ibunya ketika sedang patah hati.” Ucapnya lirih. “Keputusan apa pun yang kau ambil, aku pasti mendukungmu, tapi kumohon, kembalilah pada Suri, aku ingin kau bahagia. Sudah waktunya kau mengendurkan jam kerjamu di lapanga.”

“Dia hampir mati sebanyak 3 kali karena terlibat denganku.” Sanggah Kyu-Hyun marah. Ia membayangkan wajah Suri lagi, mata terkatup itu, tubuh mengigil itu, darah itu, hingga peluru yang melesat itu. “Aku hampir membunuhnya sebanyak 3 kali!”

“Kata pepatah, ‘Kau baru akan sadar apa yang kau miliki begitu kehilangannya’, pikirkan baik-baik semuanya.” Han-Na berdiri. “Menginaplah sampai fajar, kau butuh istirahat dan berpikir jernih. Ini bukan hanya tentang hatimu, Kyu-Hyun~ah, tapi ini juga tentang hatinya.”

“Garis ego dan protektif begitu tipis hingga aku tak tahu di mana keputusanku berada.”

***

Suri langsung kembali ke mobilnya, menjalankannya dalam batas normal meninggalkan kafe yang seharusnya tempat Kyu-Hyun menjemputnya hari ini. Ia melirik sekilas tas besar di kursi sampingnya sebelum menyeret dan melemparnya ke kursi belakang. Jadi selama 6 bulan ia menunggu hasilnya sia-sia?

Anehnya ini bukanlah keputusan yang membuatnya syok apalagi membuat kaki-kakinya lemas, mungkin jauh di dalam dirinya ia sudah bisa memperkirkan apa yang akan Kyu-Hyun putuskan untuk kelanjutan hubungan mereka ketika kali terakhir Kyu-Hyun melepaskan tangannya.

Perlahan rintik hujan berbondong-bondong jatuh ke kota Seoul, membubarkan pejalan kaki yang sibuk menikmati musim panas mereka. Hujan yang tak diperkirakan berhasil membuat suasana hati Suri bertambah buruk. Ia hampir saja menginjak gasnya kuat-kuat, menyusul ke meeting point ICD kemudian menonjok wajah Kyu-Hyun hingga gigi-gigi rapi pria itu rontok.

Untuk menghindari harga dirinya yang jatuh untuk kedua kali, Suri menghentikan mobilnya tepat di atas jembatan layang dan menyalakan pemutar musiknya. Selalu ada yang bisa mewakili perasaannya. Mungkin secara tidak sadar ia sudah menyisipkan lagu ini sebelum berangkat tadi? Entahlah, ia ingin menangis, marah, dan juga lega dalam waktu yang bersamaan.

Sore itu seharusnya Kyu-Hyun datang dan mengajaknya pergi bersama, seperti janjinya, bersatu kembali setelah seluruh penyidikan selesai. 6 bulannya menunggu sia-sia ketika yang datang sore itu adalah AJ membawa surat putih polos tanpa kata-kata di amplopmya. Ia tahu begitu melihat AJ bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, bahkan jauh sebelum memutuskan untuk datang ia tahu bahwa hal ini akan terjadi.

Dibacanya surat itu baik-baik, setiap kata, setiap tanda baca tanpa emosi, berusaha tanpa emosi.

Teruntuk Lee Suriku tersayang,

Kau sudah pasti tahu apa yang terjadi jika surat ini datang padamu, bukan? Surat ini tidak memberitakan padamu bahwa aku meninggal dalam tugas atau terluka parah, hanya saja… isinya akan sama menyakitkannya dengan hal tersebut.

Aku mencintaimu, tak perlu kau ragukan, seberapa besar sayangku pun tak perlu ditanyakan, aku rela menukar semua kecerdasanku agar aku terlahir kembali dan bisa hidup denganmu kelak, aku sungguh mencintaimu tanpa batas.

Hanya saja, di antara sekian banyak cinta yang kuakui hanya untukmu, aku tetap harus memilih sesuatu yang tidak bisa dibedakan antara melukaimu atau melindungimu.

Enam bulan ini aku memikirkannya pelan-pelan, mempertimbangkan baik dan buruknya untuk kita berdua, dan percayalah, keputusan yang kubuat bukan semata-mata kenaifanku yang memilih jalan paling mudah dari segala opsi yang ditawarkan hidup pada kita.

Aku tidak bisa meninggalkannya, ada banyak nyawa yang menunggu untuk diselamatkan, ribuan teriakan yang tidak terdengar, ratusan wanita seumurmu yang hampir mengakhiri hidupnya malam ini, dan puluhan ribu anak-anak yang seharusnya berada dalam pelukan orangtua mereka justru berada di kotak bersama anak-anak lain, siap untuk masuk pasar asing.

Hidupmu tentu lebih penting, maka itu kuputuskan untuk meninggalkanmu di Seoul, menitipkanmu pada Gong Yoo, aku percaya ia bisa menjagamu dengan baik, Lee Suri. Aku tidak ingin suatu hari mereka datang ke tempatmu, menyekapmu berbulan-bulan, hingga satu malam aku menemukanmu berdesakan bersama ratusan wanita di dalam boks di pelabuhan, siap di kirim untuk melayani pria hidung belang di luar sana.

Aku tidak bisa melepas tanggung jawabku begitu saja.

Ada banyak yang harus kulakukan di sini, aku harus mempersiapkan salah satu anggotaku untuk menggantikan posisiku sebelum bebas dari tugas lapangan. Aku memiliki dua tanggung jawab yang benar-benar mengerikan saat ini, letnan merangkap kapten adalah hal terburuk dalam skenario pekerjaanku. Aku bisa saja memilih salah satu letnan yang sudah siap untuk memimpin timku, tapi tidakkah itu sangat menyakiti anggota yang lain?

Aku tahu keputusanku akan menyakitimu, tapi aku tak sanggup jika suatu hari aku pulang dengan tubuh yang tak lengkap dan kau harus menguburkannya dan beranggapan bahwa aku yang kau pendam sudah lengkap. Aku tak siap menyaksikanmu menangis setiap malam. Ditinggal mati dalam misi akan jauh lebih menyakitkan ketimbang ditinggal seperti ini.

Surat ini akan terdengar egois saat kau membacanya, tapi aku bukanlah pria dengan tanggung jawab kecil yang kelalaianku hanya merugikan satu dua orang, kelalaianku bisa merugikan 320 orang profesional dan ribuan korban yang terlambat diselamatkan. Termasuk kau.

Aku ingin kau melupakanku, hiduplah bahagia dengan pria yang kau cintai dan berada di sisimu setiap malam, bekerjalah sebagai dokter bedah terbaik di dunia, makan yang benar, tidur yang benar, istirahat yang cukup, dan berkumpul lagi dengan teman-temanmu, buka hatimu untuk hal besar yang menunggumu di luar sana, aku tahu kau sangat merindukan ketidakdinamisan hidupmu yang dahulu, cari dan dapatkan, Lee Suri.

Jika memungkinkan, aku akan kembali untukmu, tapi itu masih lama, mungkin 10 tahun lagi. Hingga saat itu tiba, jika ada pria yang benar-benar mencintaimu dan kau mencintainya melebihi kau mencintaiku, menikahlah dengannya, punya dua anak yang supercerdas dan paling bawel sedunia.

Dan jika hal itu terjadi, maka aku akan kembali sebagai paman jauh yang siap untuk membela mereka setiap kali kau mengomel soal kedisiplinan meletakkan sepatu di pintu depan atau soal kudapan manis.

Aku mencintaimu melebihi apa pun, bahkan diriku sendiri. Aku akan memikirkanmu setiap malam, menuliskan wasiat untukmu sebelum aku memulai misi, tapi tolong… jangan melakukan hal sama untukku, aku rindu senyummu, meski kelak senyum itu bukan kau tujukan untukku, tak masalah, asalkan aku bisa melihat senyummu yang dahulu.

Sampai jumpa lagi, Lee Suriku.

Batman Korea, CKH.

Alunan musik jazz mengalun memenuhi mobilnya, Gorge Michael dengan Kissing a Fool berhasil mewakili kegundahannya. Sambil membuka sedikit jendela mobil membiarkan aroma hujan sore itu, Suri mulai bergumam mengikuti lagu.

Sore ini, bersembunyi di balik suara hujan yang jatuh menghantam mobilnya, Suri menempelkan dahinya ke kemudi dan mulai menangis. Ia berjanji ini adalah hari terakhir ia menangisi pria yang bahkan tak punya nyali untuk mengambil resiko. Takkan ia sia-siakan energinya untuk menangisi Kyu-Hyun lagi, tak akan.

You’re far, when I could have been your star. You listened to people who scared you to death and from my heart…. Strange that you were strong enough to even make a start but you’ll never find a peace of mind ‘til listen to your heart.

….

But remember this, every other kiss that you ever give long as we both live when you need the hand of another men one you really can surrender with, I will wait for you, like I always do. There’s something there that can’t compare with any other….

You are far, when I could have been your star. You listen to people who scared to death and from my heart. Strange that i was wrong enough to think that you love me too, I guess you were kissing a fool, you must have been kissing a fool.

***

AJ yang sore itu diperintahkan untuk mengirimkan surat pada Suri sampai di bandara tepat pada waktunya dengan mantel hitamnya yang basah di bagian depan. Ia mengibaskannya pelan sambil berjalan mendekati Kyu-Hyun yang sudah siap akan berangkat, mereka harus secepatnya kembali ke Wina dan melaporkan kasus mereka untuk menutup Cobra Effect dari Busan Psycho.

Kesalahan ini tidak ditanggung pada tim Kyu-Hyun—Kapten Seo—saja, namun seluruh jajaran ICD yang ikut dalam mengambil keputusan pada nasib Ryu-Shin juga ikut bertanggung jawab.

AJ tidak tersenyum, maupun Kyu-Hyun yang berdiri memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia langsung memalingkan wajahnya begitu melihat selintas kemarahan di mata cokelat AJ.

“Dia benar-benar patah, Lt.” Gumam AJ begitu melewati Kyu-Hyun dan langsung menuju meja imigrasi.

Ia benci melihat ekspresi Suri yang datar ketika membaca surat Kyu-Hyun tadi, ia ingin melihat Suri menangis, mengamuk, kalau perlu mengancam akan mencekik Kyu-Hyun, akan jauh lebih baik jika Suri melampiaskannya, bukan justru menuliskan sebuah pesan singkat di secarik kertas dan menyerahkan padanya tanpa ada kata-kata.

Efeknya pasti begitu dahsyat hingga wanita yang di matanya nampak begitu gagah dalam balutan baju dokter sampai-sampai tak tahu harus seperti apa mengekspresikan patah hatinya.

Kyu-Hyun melihat punggung AJ yang berjalan terburu di lorong, sengaja tak ingin disusul Kyu-Hyun.

Mereka memandangnya seolah ia adalah pria paling buruk di dunia ini karena membiarkan Suri terperosok di lubang yang sama untuk kali kedua, tapi apa yang mereka tahu soal kengerian? Keluarga mereka terlindungi 100%, tak memiliki kekasih, tidak punya beban jika suatu hari harus mati dalam misi.

Jabatannya memaksa dirinya harus berkorban apa pun untuk tim, termasuk mati untuk melindungi yang lain. Tapi jika ia memiliki Suri di sampingnya, apakah ia akan tetap mau berkorban untuk yang lain jika harus melukai Suri lebih dalam lagi? Membiarkan wanita itu menangis bertahun-tahun atas kematiannya yang mungkin akan terlihat terlalu mengerikan, pulang dengan badan utuh sebagai mayat saja sudah sangat untung, satu lubang di dada adalah hal terindah untuk kematian di pekerjaannya, bagaimana nanti jika suatu hari yang tersisa dari dirinya hanya ibu jari kanan saja?

Kyu-Hyun mengabaikan kegelisahannya akan tindakan yang akan Suri ambil saat ini. Ia duduk di bagian tengah, sendirian. Perjalanan jauh yang berpotensi mengkhayalkan Suri ada di sampingnya, duduk bersandar pada pundaknya sambil menautkan jemari wanita itu yang lentik di antara jemarinya, ia bahkan bisa mencium aroma vanila khas wanita itu.

“Ini,” ucap AJ yang berdiri di sampingnya sambil menyerahkan secarik kertas dari dalam case ponselnya saat sudah separuh jalan dan sebagian dari anggota tim tertidur. “Dia hanya menyerahkan ini tanpa kata-kata, jadi kupikir ini untukmu, Lt.”

“Ya, terima kasih.” Kyu-Hyun mengambilnya dan meletakkan kertas itu di mejanya.

“Dia hanya diam ketika membaca suratmu, tidak ada tanda-tanda akan menangis.”

“Dia wanita yang kuat—“

“Justru dia wanita paling rapuh yang pernah kulihat, pernah kau sadari kelemahannya dalam mengekspresikan sikap merupakan ketidakmampuannya percaya akan ada respon positif dari orang sekitar? Kau membuat wanita paling penurut hancur, Lt, kau membuatnya hidup dalam Benteng Maria, apa kau bahagia sekarang?”

“Tidak, tentu saja.” Kyu-Hyun melihat ke luar jendela, melihat langit malam tanpa bintang dengan kerlip cahaya kota yang terlihat jauh di bawah sana. “Aku harus memilih mati untuk kalian atau mati untuknya. Jika aku mati untuk kalian, efeknya akan seperti aku yang ditinggal Kapten Seo, tapi jika aku harus mati untuk Suri… akan jadi apa wanita itu jika kutinggalkan sendirian?”

“Bagaimana dengan konsep ‘tidak ada yang mati’?”

“Kegunaan menuliskan surat wasiat setiap menjalani misi adalah menyiapkan diri kita untuk mati kapan saja. Konsep ‘tidak ada yang mati’ hanya fiktif.”

“Kembalilah padanya ketika kau siap, Lt.” Ucap AJ dan memutuskan meninggalkan Kyu-Hyun sendirian untuk membaca surat barusan.

Kyu-Hyun menunggu sekitar 30 menit setelah AJ meninggalkan kursinya, memutar-mutar kertas tersebut di tangannya, menimbang apakah akan ia buka atau simpan saja? Bagaimana kalau isinya adalah ungkapan perasaan Suri yang ingin ia kembali? Bisakah ia mempertahankan keputusannya?

Tapi setelah menimbang dengan tebakan bahwa kertas tersebut hanya tertulis beberapa kata dan salah satunya adalah umpatan untuknya pergi ke Neraka, Kyu-Hyun memutuskan untuk membuka surat tersebut.

Isinya sangat singkat namun berhasil membuat Kyu-Hyun mematikan lampu kursinya dan memegangi kepalanya yang berat hingga berjam-jam. Seandainya permintaan Suri bisa ia lakukan, tentu ia akan melakukannya dengan senang hati, biarkan dirinya yang mengalami semua hal sedih yang akan Suri alami kelak asalkan Suri bisa bahagia menjalani hidupnya yang akan kembali normal dalam hitungan bulan.

“Aku berharap aku bisa mengambilnya lagi.” Gumam Kyu-Hyun dan menyimpan surat tersebut baik-baik di dalam dompetnya, tepat di belakang foto pernikahannya dengan Suri bertahun-tahun lalu.

Jika memang harus pergi, bisakah kau mengabulkan satu permintaan terakhirku?
Tolong bawa juga kenangan tentangmu, yang manis atau yang pahit, aku tidak membutuhkannya, terima kasih.

—-END—-

Mohon dimaafkan atas ketidak nyamanan pemisahan tanda (***) dan italic yang tabrak terus, saya sedikit snewen karena 50 lembar dan meriksain (posting di hape selalu bablas italic-nya).

Advertisements

140 thoughts on “#4 Metanoia – Agony (END)

  1. aku tau ini tdi di post jam 10, soalnya ada notif masuk ke email. tau tau udh dihapus, setelah ditunggu keluar lagih ternyata.
    tapi, ini ff yg paling sad banget ending nyahh (karena LBDSM udh ada sequel yg aku hrus ngumpulin uang buat bacanyah)… asa nggk rido mereka dipisah gini TT. kayanya ini butuh sequel untuk menghilangkan patah hati readers mu.
    ps. sebenernya aku blm baca semua, pas liat endingnyah. cukup, nggk akan kuat. apalagih gaya dari surat Cho Kyuhyun yg bikin meleleh air mata.

  2. endingnyaaa 😢😢😢😢 bakal kepikiran 7 hari 7 malem kek pas baca lbdsm ini kakak 😭😭😭😭 ayolah kapan mereka bahagianyaa? 😭😭😭😭

  3. ko ngg bersatu sich..suri hamil ngg ya pngen liat suri hamil trus kyu kembali..selalu keren tulisan ny cingu emang its the best lach..heee semangatt

  4. kak okky 😢😢 sumpah ending nya kak…
    tidak bisa berkata apa2.. emang susah kalo udah berhubungan sama agen rahasia. apalagi ini kyuhyun kontrak seumur hidup..
    haaah, telat sadar kalo ff ini susah happy end nya. apalagi authornya kakak yg beda dari author lain yg mungkin bagaimana caranya bikin ff nya happy ending.

    rasional bgt sih endingnya,tp menyebalkan 😈

  5. ishhhh surat kyuhyun bikin ilfeel eonni tapi balesan dari suri sepadan yaa haha
    emg dilema sih kalo urusannya nyelametin orang banyak atau orang yg dicintai. tapi pikiran kyuhyun emg rasional sihhh tapi tetep aja patah hati kedua kali bikin suri jadi trauma pasti.
    kirain mereka bakal bareng di ending ternyata akhirnya selalu ga ketebak wkwk btw ceritanya aku sukaaaaa

  6. Ya ampun ending yg bnr2 sedih banget 😭😭😭😭😭😭😭 kyu tdk berani mengambil resiko hanya demi bersama suri, padahal q berharap mereka bisa bersatu lagi dg kyi yg menjalankan tugasnya sebaik mungkin. D tinggalkan krn mati membela negara lbh baik dr pd d tinggalkan krn takut pasangannya lbh menderita itu lbh menyakitkan.
    Cinggu sequel donggggg q pengen lihat mereka bersatu n menghadapi masalah k depannya dg bersama.

  7. penonton kecewa bungg ternyata ini sad ending 😭😭😭😭😭

    jadi aku bingung suri itu punya sindrom stockholm atau DID????
    kalo ngeliat kasus suri berasa liat winter soldier di kapten amerika hihihihi

    banyak yg ngarep ada sequel biar happy ending kak. termasuk saya huhu

    kyuhyun itu kamfrettt sekaliii. tapi memang ketika ada 2 pilihan untuk mengorbankan salah satu. apalagi dia seorang pemimpin. gimana lagi dong? maruk bisa. tapi terlalu beresiko.

    btw kak. tak bergeming : bergerak. kalo bergeminng : diam. mau nulis paragrafnya tapi lupa sebelah mana dan ga bisa cpypst tulisannya.

    1. oh iya ya. aku baru sadar kalo ternyata si belle di beauty and the beast bisa dikatakan sindrom stockholm. kan dia tawanan tapi malah jatuh cinta sama majikannya.

      1. Iya, ciri-cirinya pas sebenernya, cuma kemarin ada bantahan kalo Belle nggak kena itu sindrom, lupa aku bantahannya apa.

  8. Andwae ,😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

  9. Sad ending ya 😢
    Berasa de javu gitu, kyuhyun yg ini dan yg asli sama2 pergi menjalankan misi/tugas. Dan tinggallah suri dan fans2 lain sedih berkepanjangan. Buka kenangan pahit tanggal 25 kemaren 😢
    Ahh… Jadi mellow gini kan aku…
    Kak, ini nanti ada sequel nya gak? Mudah-mudahan sih ada

    1. Cuma 4 minggu doang Kyuhyun nggak berkabar, habis itu janji (kalo dia inget) bakal upload satu foto tiap bulan kan.
      Sequel tuh apa sih? 😂

  10. Sangat d sayangkn knpa kyuhyun lbih mmilih berpisah dgn suri, wlo mungkn ini utk kebaikkan suri juga.
    Padahal kyuhyun sgt mncintai suri bgitu pun sblik.y. tp krna pkrjaan, kyuhyun dengan brat hati mlepaskn suri.
    Akhir yg mnyedihkn, surat.y bkin nangis.

  11. Berat bgt buat kyu maupun suri
    Tolong bw semua kenangn ttgmu baik yg manis atau pahit…uhhh perih rasany
    Setelh pnantian yg pnjng suri kyu tak juga kmbli di sisinya…

  12. #don’tcry #don’tcry #don’tcry
    Knp sad ending sh? Sama2 menderita mereka, balesan surat suri nyelekit banget…
    Kak okky tega bgt dirimu buat readers mewek, ga baik loh, ini bln puasa tauuu…
    Pokoknya ada sequel yak #teror1

  13. Saya tau Pasti ending nya bakalan kayak gini, belajar Dari LBDSM yg punya ending Sejenis. Ya ampun kakk, FF nya Tuh bagus, bagus banget malah trus juga Kakak ngerjainnya ikhlas Buat para readers buktinya sampe 250 halaman Tanpa dibayar. Tapi apa Gak pernah sekalipun kepikiran sebagai penulis takdir kyuhyun Suri Buat bikin FF yg happy ending, hatiku tergilas Saat lagi puasa baca FF ini.
    Mau Minta sequel Tapi takut kelewatan batas, Apalagi Saya baca cuma-cuma, gratis. Tapi Jujur Dari hati Terdalam Mau baca FF kyuhyun Suri dengan happy ending.
    Maaf ya Kak Saya sedikit berlebihan, Efek kepergian kyuhyun 25 mei kemarin Masih segar diingatan. Berasa jadi Suri aja Saya, tapi Bedanya kyuhyun gak kenal Saya. Yang Pasti, keep writing, stay cool, stay entertaining. #waiting, still

    1. Halo, Ivraz, sebenernya page ini awalnya selalu happy end sampai negara api menyerang.

      Kalau mau baca yang happy end, aku sarain baca novelku yang judulnya The Gentleman Secret dan Casual Vengeance Book 1 & 2.

  14. Akhirnya sad ending kakaaa 😭😭😭 ya ampuun suratnya bikin mewek, rasanya ikut patah hati kaya suri 😭😭
    Kenapa kyuhyun harus pisah lg sm suri?? Aarrgh pengin happy ending kaa tp ya apa boleh buat memang ini sudah jalann ceritanya
    Kok ceritanya kaya kejadian asli yaa bedanya kyuhyun yg asli pergi wamil eh yg ini pergi menjalankan tugas hehe
    Keep writing ya ka okky 😀

  15. Astaga, dunia sangat mengerikan.

    Aku mau nanya, untuk kasus memecah kepribadian itu benar-benar mungkin terjadi di kehidupan nyata atau enggak? Ada contoh kasusnya mungkin?

    Oh ya, ada typo cuma lupa di paragraf berapa.

    1. Sangat memungkinkan, contoh gampangnya ya, kalau kamu ngomong bahasa Indonesia dan ngomong bahasa Inggris, pasti beda pembawaanmu. Entah lebih cepet atau lebih lama, entah lebih tenang atau justru arogan.

      Biasanya pemecahan kepribadian gitu dilatih lewat motorik awal. Kayak biasanya nulis pakai tangan kanan, jadi tangan kiri.

  16. Ada apa dgn endingnya???? Kok jdi gini???sumpah y kesel bgt ma kyuhyun di sini, g mo ambil resiko aja walopun tw dan paham akan maksud kyuhyun. Tapi hei cho kyuhyun tidakkah kau ingat siapa itu lee suri??? Dia jelas beda dgn smua perempuan yg ada. Kau bahkan tau seberapa tangguh’a dya. Au ah kesel sendiri jadinya😯😯😯
    Need sequel pliisss g rela mereka pisah gitu 😭😭😭😭 surat’a kyu itu ykin kyuhyun hanya akan jadi ‘paman’ klo msal suri nikah ma yg laen??? Lucunya kau cho kyuhyun hahaha
    Mau sequel boleh g??? G ikhlas sumpah klo gini ending’a😂😂😂😂

  17. ko gitu si endingnya? rasanya ga mauuuu percaya mereka pisah di cerita ini.. ah sebell si inimah.. lo tuh ya ka jago banget si bikin ending kaya gini bikin orang kesel puasa2 huhuhu… please butuh yg manis2 lagi dari mereka kaaa
    mereka berdua ga bisa di pisahkan gtu aja kaa. huhu sedih beneran ini kaa

  18. Huhhhh….
    Endingnya kak okky masyaallah…. Meleleh ini air mata, ini ff yg bneran nyesekkin yg bkin nangis bombay kyak wktu baca CBE.. Hiks hiks hiks

    Jadi kapan kyuhyun dan suri bahagianya kalau gini? Bkalan kepikiran sama sequel ini pastinya, kalau egak bkalan berimajinasi sendiri soal kebahagiaan mereka berdua. Mungkin ada mukzizat supaya kyuhyun balik ke suri, kemungkinan suri hamil gitu… Wkwk
    Moment paling nyesekk itu wktu baca suratnya kyuhyun buat suri, rasanya campur aduk tapi lebih dominan mangkel sama kyuhyun. Kenapa harus minta suri nunggu kalau akhirnya gak ada yg pantes dari menunggu itu sendiri. Pada akhirnya suri juga hancur kedua kalinya. 😭😭
    Tapi kalau ada diposisinya kyuhyun, jadi ikutan juga ngerasain takutnya dia bkin suri dalam posisi yg bahaya.
    Jadi mikir, kyuhyun sok”an ikhlas suri menikah sama pria lain faktanya emang bneran bisa ikhlas?? Hahaha

    Seriuss masih berharap banget kyuhyun nurutin nasehat ibunya buat balik ke suri demi kebahagiaannya, tapi nyatanya??? Behhh miriss coy. Kalau gini jadi inget sama DOTS tapi drama ini kan happy ending lha ini??

    Kak okky selain drama soal percintaan kyuhyun suri, suksess juga dibikin tercengang soal kasus ryu shin.. Prokk prokk prokk. Gak nyangka kalau sampek bgitu rumitnya kasus mereka.. Hoho udah macem nnton film action ini mah.. Wkwk
    Kak Okky, berharap sequel ya… 😊😊
    Fighting!!!

  19. Hwaaa..kisah cinta yang entah mau di tuliskan seperti apa.
    Saat 2 hati bersatu tapi takdir berkata lain. Emm apa yang harus dilakukan.
    Hwaaa ambil lagi kenangan yanh sudah ditinggalkan. Hwaaa nyesek sumpah.
    Mbayangin pasti ada di dunia ini kisah cinta yang seperti ini. Saat dimana ingin memiliki tapi keadaan tak memungkinkan 😭😭😔😔

  20. Ilah endingnyaaaa😭😭😭pas banget ama kyuhyun yang pergi wamil, milih ngejalanin tugasnya. Sedih lah, tapi aku ngerti sama perasaan kyuhyun yang gak boleh milih egois saat ada di organisasi. Keren lah ka okky. Mewek inih, lagi puasa jugaa T^T ceritanya ngena banget. Setiap baca cerita ka okky pasti ada aja pembelajaran yang aku dapet. Bikin otak ikut mikir juga. Ka okky the best laahh. Kusuka karya karyamuuu. Loveee youuu

  21. Sumpaah kak ini endingnya mengiris” hati banget 😭😭😭😭😭
    Gak tega sma mereka berdua yng harus pisah
    Butuh sequel kakkkkkk😳😳😳
    Hancur hancur hancur hatikuuuu

  22. Ini nih yang namanya author ter-kampret sejagad blog, bikin orang panas dingin baca di awal, demam tinggi pas nyampe ending! Hah, yaudahlah ngerasa jadi suri aja yang nyeseknya minta ampun.

  23. ff disini endingnya selalu sad atau gantung :'(, bikin greget jadinya haha.
    tapiii ini cerita bener” keren banget kak, jalan ceritanya ga ketebak dan suka bikin bingung juga haha.
    ini beneran udah end? ga ada sequel gitu kak? 😦
    ditunggu lanjutan ffnyaaaa dan ff” barunyaaa dengan cerita yang selalu bikin penasaran haha

  24. astaga tahan nafas saya baca pesan dari suri
    udah end ternyata dan itu cerita digantung 😦
    gimana nasib suri tanpa kyuhyun coba, tapi keren banget ini cerita bisa menguras emosi pembaca. makasih udah bikin cerita greget ini kak 🙂 ditunggu cerita lainya

  25. Aaaaaaa sedih sekaleeee😭😭😭😭😭
    Aku sedih mereka tidak bersama tp apa boleh buat HIKZZZ

  26. SUSAH MOVE ON KALO TIDAK HAPPY ENDING 😭😭😭

    1 kata untuk ryu shin, daebak 😉😉
    Gk nyangka dia bisa menawan anak2 sejak lama demi misi menguasai pasar gelap. Tp salut sama kepribadian suri yg kuat, dia mampu melawan kepribadiannya yg terbelah.

    dan kyu, niat mu memang baik tetap menjaga tim untuk memberantas jaringan2 seperti busan psycho serta melindungi suri dari bahaya. Tp dia gk mikirin perasaan suri yg tersakiti lebih parah untuk k2x nya.
    Tubuh bisa diobati, tp hati sulit. Seperti paku yg ditancap ke kayu lalu dicabut lagi, pasti bakalan meninggalkan bekas. Selamanya….

    Dan, ff mu emang T O P. Q suka banget, ceritanya seperti kita menonton langsung kejadiannya dengan semua detail terpampang jelas.

    P.s: need happy ending 😢😢😢😢
    (Bingung sebenarnya mau komen apa, terlalu syok, menegangkan, dan bingung 😞😞)

  27. Omaigattt apa ini ?!?! Honestly sangat sangat jauh dari ekspektasiku yg bakal happy ending. But selalu suka sama tulisanmu ka. Cara pemilihan kata,penggambaran settingnya. Asli ini masi nyesek. But overall oke !!!
    Ditunggu ff selanjutnya

  28. berat amat hidup kyuhyun tanggung jawabnya gak bisa ditawar ibunya aja sampai disembunyiin ditempat yg jauh dr kota ,kasian kyuhyun gak bisa hidup sama suri .
    part end seru deg degan takut klo suri bener² ngehianati kyu tp untung gak dy beneran cinta ma kyu dan mereka selamat dr ryu shin,berharap kyu mw ngerubah keputusannya buat balik lagi ma suri …..,dan moga ada squelnya…..hehehehee#V

  29. Apa ini apa ini?😱😱
    Mencoba untuk terima2 aja tapi sulit banget. Hiyya kak okky tega banget😭😭 puasa nih kak😭😭

  30. Aslii mewek parah nyampe beringus ingus #abaikaningusnya.
    Sebafai penggemar happy ending saya tentu dan pasti kecewa dengan endingnya,itu jelas,hehe soalnya keinget aja perjuangan mereka beeuh panjang banget hampir 7 tahun lebih melakukan segala usaha biar bisa bersatu,eh akhirnya gk ada hasil positif juga,kan syediih 😥 . Tapi sebagai penikmat karya sastra jelaaas karyanya kak Okky tak pernah mengecewakan top markotop lah pokoke,haha. Kalo ditanya 99,99% pembaca pasti setuju kalo ada sequel kisah ini,ah harapanku sungguh tinggi akhir kisah mereka bakalan bahagia,jadi semoga ada sequel..(part2).
    Last,terimakasih kak Okky udah nyempetin nulis ini,pasti banyak pengorbanan dan perjuangan #eaa# yg dilakuin kak Okky demi menghibur pembaca yang rata2 bawel kaya saya,hoho,
    Terakhir yg benar2 terakhir 😀 tentu sajaaaa, berharap ada sequel..(part3),hahahahha,#maafkansayayangmintasequelnyampetigakali 😀

  31. Di tgh smpt ahock waktu nava kapten lee.. Tp lama lama makin ending aku patah hatiii :’)
    Gimana mungkin seseorang punya beban di pilihan yg berat begitu hiksss….. Kalau boleh di kasih sequel.. Kalau boleh.. Ga maksa kog.. Ini aja udh kereenn bgt.. Perjuangan pasti.. Thankyouu kaakk!!

  32. Nggak bisa dibiarkan ini..hi..hi..sungguh diluar prediksi…bikin baper ..kpn mereka bisa bahagia….Aku lbh baper..sudah 36 thn tapi msh terharu baca cerita ini……..

  33. ini cerita paling komleks yg menyentuh ke hati yg pling dasar😂😂
    Terimakasih kak udah buat crita yg indah banget bikin mewek melulu

  34. Ff nya daebak kak endingnya ga ketebak aku jadi keinget lagi pas kyuhyun pake baju militer nangis bombang aku kak aku berharap ada sequelnya kak tpi klo ga ada ga papa ah ya fighting ditunggu karya selanjutnya

  35. I’ ve prepared my heart for 2 scenarios, still, it broke into pieces when the sad ending wrapped this story 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

    Suri… As i predicted, like Salt (more or less)

    What broke my heart the most, was the letter Suri sent to Kyu : take it all back with u… Precisely, 7 years ago… I said it to someone. I know exactly, how it feel (u rock, thor)

    But, hey! 10 years… Kyu mention something like waiting for another 10 years. Would it be possible??
    *Mulaihalusinasi
    *Starveforhappyending 👻😸

    Terima kasih utk ceritanya yg indah & dalam, Thor… U’re so talented *betthousandpeoplesaythistoyou

    1. Srsly? Must be hurt like a bitch. I did the same thing recently and it hurt me like a hell.
      Terima kasih kembali udah nyempetin review dan komen, ya, hehe.

  36. Keren ka memang hidup seperti itu selalu ada pilihan dan tidak selalu berakhir bahagia…saya suka ending nya lebih masuk akal…dan saking masuk akal nya saya sampe baper sendiri… ide cerita kaka selalu menarik selalu ada ilmu dan istilah baru yang saya dapat…terima kasih untuk karyanya ka…semoga tidak lelah untuk terus berkarya

  37. Mmm… katakanlah mereka memang tak berjodoh begitu, ya.
    Ide ceritanya bagus, Ky, lebih dewasa dari IKA beberapa tahun lalu… mungkin juga lebih terasa pahit di beberapa bagian, atau itu karena bahasa penulisan yg semakin berkembang sajah ㅋㅋ

    P.S.
    Ngomong-ngomong soal IKA, ada yg pernah post bocoran IKA “season 3” dulu sekali. Ada 3 judul yg dipreview, tapi saya cuma ingat IKA 히히히

  38. annyeong haseyo *bow
    laili imnida, member baru disini..
    ehhh,,bukan riders baru
    overall saya suka sekali karya eonni..^^

    endingnya agak diluar ekspektasi, ku pikir suri bakal meninggal seperti di lbdsm memiliki dua kepribadian yg tidak bisa dikendalikan dan bla bla bla tapi ternyata,, oh ,, ternyata..
    but, makasih kak okky sudah menyempatkan nulis ini^^ semoga berkah

    akhirnya saya nangis tak terbendung pas udah sampe baca surat nya si LT , ga tau apa kebetulan atau gimana kakak juga lagi play lagu goodbyefornow kyuhyun keceng” di kamarnya duh… terasa nyata buatku 😦 kok bisa kebetulan lagu itu, ahh mewek lagi 😦

    makasih uda bikin karya bagus kak 🙂

    1. Halo, Laili, selamat datang di Kyu-Ri Invasion.
      Kayaknya secara nggak langsung emang dipengaruhi kenyataan tahun ini bakal ditinggal Kyuhyun pas nulis.

  39. dear kak leah.
    tolong tulisannya dikondisikan.
    kalo emg harus sad, tolong jangan buat baper duluan. nyesek kak…😭😭
    pas part Kyu ngomong sama emaknya, assek jadi keliatannya. eh pas ending kan kamvret 😭😭
    tolong kan manis2nya tuh diilangin, biar diriku sebagai victims ga kebaperan dulu😭
    heran deh kenapa ff kesukaan diriku ga ada yg happy ending😭😭 btw. endingnya cem mv Goodbye for now bedanya ga ada kyuhyun yg terlalu baper😂😂

  40. Andweeee, sad ending…😭😭😭
    Gak rela banget…
    Plisss sequel…
    Buat kyuhyun kembali ke suri….
    Harus …
    Setelah perjuangan panjang, kenapa sad endingnya…
    Gak rela pokoknya gak rela…
    Kyuhyun!!!!! Cepet pulang wamil…
    Marahin kak okky, cepet!!! Suruh kak okky buat sequel dengan happy ending…

  41. andai kapten seo enggak mengundurkan diri apa mungkin kyuhyun akan datengin suri? Surat dari kyuhyun rasanya lebih menyakitkan ketimbang ryu-shin dan kawanannya sedang ber-aksi. Bahkan suri berusaha sebisa mungkin buat lepas dari perintah di otaknya tp gini balesan yang dia dapet. Keputusan kyuhyun mungkin tepat karena dengan itu dia ngejauhin suri dari bahaya, tapi gimana hatinya suri? Suri mungkin aman dari bahaya tapi hatinya dia hancur kali bang > <

    1. Yes, you’ve got the point there. Kalau seandainya Kapten Seo mutusin buat tetep jalanin, mungkin dia bakal tetep kembali ke Suri karena jabatannya cuma bakal 1 yang dipegangnya.

  42. Kenapa selalu beurai air mata sih liat tulisan mu eon😭😭😭😭😭 plis ada epilog nya aku mohon ada extra nya ih;((
    Tp aku memang acungi jempol sama eon sih tulisan nya keren semangat!!!!!

  43. Dalem bgt ini…
    kyuhyun diharuskan memilih antara suri ataukah timx…
    meski kedua hal itu sangat berat, namun kyuhyun tetap memilih demi suri dan tuk timx. Walau berat kyuhyun harus tetap kuat menjalankan tugasx…
    suatu saat nanti pasti akan tiba waktux kyuhyun hanya akan memikirkan kehidupanx bersama orang2 tercintax tanpa harus merasakan was2 lg…

  44. IGE MWOYA? IGE MWOYAAAA??? EONNIII :-O ;-( ;-(
    SAD END ?
    tapi2… Huh
    itu kya bukan kyu bgt deh..
    Seorang kyuhyun bisa melepas sesosok suri?
    OH.MY.GOD
    GAK.PERCAYA.
    kemana sifat super protektifmu kyyuuuu..hikksssss huuaaaaahhh gk tau dah harus bilang apa lagi…
    Tapi ini sudah memuaskan walupun end bikin galau 😐 😦 hhuuaaaaaahhhhh

  45. Ey ini sad ending ceritanya? Ah waeyo??? Dikira bakalan happy karena suri maupun kyuhyun selamat tapi ujung2nya kyuhyun egois -_- nge phpin suri banget ih >_< kenapa minta waktu selama itu tp pada akhirnya kyuhyun meninggalkan suri??? Emang kyuhyun selamanya tidak akan menikah??? Semoga aja ada sequelnya ya saeng 😉 hee dibikin Happy Ending jebal :-* ❤

  46. lho ini sad end ?
    ah , kalo gitu gak jadi baca mak
    takut baper berkepanjangan T,T
    ini sisa2 ditinggal kyuhyun wamil aja belon kelar bapernya
    udah ditambahin ff sad end
    paling sebel sama sad end aslinya tapi kalo liat kenyataan gak semua kisah berakhir bahagia ya cuma bisa nrimo ffmu mak
    tapi beneran gue gak brani baca ff lu yg sad end mak
    karna gue tau lu tuh sadis sama suri gak tau kenapa nyiksa itu OC mulu
    kalo kita ketemu gue cuma pengen bilang ” gile lu mak , lu bikin ff apa bikin orang tekanan batin ? ratusan orang lu bikin nangis ” 😀

  47. eh lho kug komen gue nunggu moderasi ya ?
    kemarin2 gue komen pake akun apa ?
    duh lupa mak
    maapin yak 😀

  48. Entah ini perasaan nyesek sad ending atau seneng karena ini memang akhir yang terbaik untuk cerita ini, banyak emosi naik turun tiap baca ceritamu wahai kakak okky, dari mulai tiba2 dahi mengkerut diawal baca cerita karena mulai nebak2 gimana arah cerita bahkan endingnya, terus senyum2 sendiri pas baca pertengahan cerita karena adanya moment pemanis, dan mulai galau alay ketika moment sedih di bagian ending menghinggapi otak yang efektifitas pemakaiannya hanya secuil bahkan tak sampai hingga ujung jari dari sekian milyaran sel dalam otak, dan entah karena terbiasa atau kesel sama kyuhyun, pas dibagian ryu-shin itu aku malah berharap bahwa suri memang wanita yang berkhianat saja pada kyuhyun agar endingnya lebih ironis atau bahkan pas dibagian paling terakhir ada epilog setelah beberapa taun berlalu dan ketika kyuhyun berjumpa kembali suri menjadi lebih dingin namun tetap menjalani kehidupannya sebaik mungkin tanpa mengaharapkan kembalinya kyuhyun, dan di saat yang tepat suri udah punya anak yang bener2 manggil kyuhyun dengan sebutan “paman”
    ~oke ini hanya sebagian imajinasiku setelah cerita ini berakhir agar terhindar dari galau yang dapat menyebabkan delusi antara kenyataan dan alur cerita ff, mata berkunang2, air mata tak tertahankan, kesedihan tak terkendali karna cerita ini memiliki ending semacam ini, atau bahkan menurunnya nafsu makan dan meningkatkan kemampuan otak untuk lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas kuliah *oke yg 2 terakhir ini gamungkin* ~

    Aku memang mengharapkan sequel untuk cerita ini meski aku tau itu permintaan yang tidak tahu diri, tapi aku lebih berharap agar wahai authorku yang paling ter-…..
    …..ter-ngarep biar jadi kekasih nyata untuk kyuhyun walau hanya sebuah ilusi *nyengir unyu* bisakah engkau menurunkan sedikit kadar kesedihan dalam tiap sad ending dari cerita ff yang engkau buat?? Hanya gantilah sad ending itu dengan secuil harapan moment yg manis dimasa mendatangnya please? *mohon2 dengan mata berbinar2*
    Hidup memang dikatakan tidak selalu happy ending, tapi percayalah dari berbagai kajian yg saya dengar selama bulan puasa ini yang walaupun kadang membuat kantuk tak tertahankan, hidup pasti akan selalu berakhir pada happy ending, entah masih saat didunia atau bahkan setelah di dunia yang abadi nanti, *oke ini tidak ada hubungannya dengan ff, ini hanya sebagai tameng alasan untuk ka okky bikin cerita baru yg tidak sad ending parah*
    Dan cerita in imengingatkan saya akan quotes satu film indonesia yaitu “bahagia dan sedih itu satu paket” dan itu nyata dalam cerita ini.

    Oke sekian comment tidak bermutu ini, tetap semangat kak okky dan ku harap semakin banyak cerita2 dengan ide bermutu dan penyampaian alur yang aduhai lainnya dari kak okky^^
    See you^^ (*walaupun kak okky ga ngarep ketemu aku lagi dalam comment alayku ini :’))
    Daaaaannn… satu lagi peace, love and gauuul =))

  49. Well, gak semuanya harus happy endingkan? I think, ini bakalan panjang dan berakhir happy. Alurnya beneran gak ketebak, hampir aja benci Lee Suri kirain dia beneran manfaatin Kyuhyun. Dan gak habis fikir sama semua rencana Ryu-Jin. Atau emang fikiran aku gak sampe sana. Ku tunggu fanfiction selanjutnya.

  50. gak bisa bayangin kyu nya garang gitu cuz keinget kyuhyun di foto baru di militer pake baju seragam nya yaampun cuuutee banget gemessss ><

  51. woahhh, di hari pyasa inii, ceritanyaa menyedihkann hatii kak okyy, yahhhh akuuu tak tahan kak, kokk sad endingg sihh kakkk, tapi over all, thats really great ti know this strory from youu, semangatt for your another project, we will always support youu, yeayy

  52. Huwaa kok sad ending sih 😭😭😭😭 campur aduk banget rasanya. Yang di awal tegang sama aksinya Ryu-Shin. Udah nebak sih yang pas Suri di mobil sama Kapten Seo itu Suri sendiri yang ngancem atau nyerang Kapten Seo sampe mereka keluar jalur. Trus padahal di tengah bisa bikin senyum sama romantis scenenya mereka, tapi nyesek banget ih baca yang akhir2, apalagi surat yang dari Suri. Pas bagian Suri nangis di mobil, sampe kerasa nyeseknya 😭😭😭
    Kirain bakal happy ending gitu, tapi jadi ragu pas Kyu cerita kegundahannya ke ibunya huhu.

    Emang pilihan yang sulit sih buat Kyuhyun, tapi kenapa dia gak nyoba sih. Itu Kapten Seo aja punya anak, berarti dia nikah kan? Si Kyuhyunnya masih ragu bisa ngelindungin Suri lagi atau nggak 😦 si Kyu gak usah janji bakal ketemu deh kalo ujungnya ragu gitu, bikin kesel 😦

  53. hiks hiks hiks. ikutan nangis pas surinya nangis di mobil untuk melampiaskan kesedihannya. kenapa kyuhyun harus memilih melepaskan suri dan menghancurkan perasaan mereka? bukan kah akan lebih baik jika mereka bersama dan berusaha saling menjaga?
    kak, boleh minta sequel kan?

  54. OH noooooooo!!!!!! apa ini!!!!
    Ka kenapa begini endingnya??? Sequel please 😭😭😭
    kalo gini bisa kepikiran terus ama cerita ini …
    please Kyu comeback ke Suri

  55. Satu kata dulu, Astaga!
    So…. endingnya tuh lho. Menohok ulu hati banget. Pengorbanannya tu—huhuhu. Aku baca sambil membuat ekspetasi dan akhirnya…
    Ya sudah. Intinya aku selalu suka dengan karya kamu, wahai author. Ditunggu cerita-cerita selanjutnya. Semangat!

  56. Endingnya……… mereka akhirnya pisah? What the……….
    Kupikir mereka bakal balikan setelah semua ini selesai, tapi ternyata, you really can’t be predicted, Kak Okky😂😂
    Dan, itu, surat dari Suri, singkat, padat, jelas. Jutek gitu, uh. Kasian si Batman Korea-nya, wkwk😂
    Semoga ada sequel-nya deh😛

  57. Endingnya 😭😭😭
    Padahal aku mikirnya kyuhyun akan jemput suri trus siri hamil gitu. Tapi khayalan hanya sekedar khayalan semua tergantung dgn author.

  58. Hi,
    Seneng deh akhirnya posting juga. dan seperti biasa, selalu terobati. puas banget sama cerita nya. dan sedih karena kyuhyun lebih pilih pekerjaannya dan gk mau bikin suri terlibat lebih jauh lagi. jadi, mereka sama-sama sakit kan?

    Selalu takjub sama cerita disini. amazing banget! keren! awesome! alur nya mantap! Dan semoga ini ada sekuel nya Hahahaa.. XD

  59. Berasa seneng yg ini cuma 4 chapter lol. Jalan cerita rasional tapi sad ending… though so menurutku sedih jg gpp lah biar ga happy ending melulu~ I would love to see how Suri will be doing years from the letter, sebelumnya aja dicaci maki apalagi nanti ya

  60. Kenapa harus sad ending sih,,kyu kamu trllu pengecut aku fikir kamu bkal jmput suri dan hidup bhgia setelahnya, apa slama ini penantian suri buat nunggu kamu gk ada harganya sama sekali,,.kecewa sumpah sama keputusan kyu disini,,suri oh suri gk bisa byngin dehh patah hati kaya apa lagi yg suri rasain skrng..

  61. kak sumpah aku baru baca sampai part 2 blm baca part 3 / 4, td mampir di fanpage kakak di Fb liat postingan ff kakak ini, langsung cusss aku buka, trs karena aku sadar blm baca part 3, aku coba cari kebawah, siapa tahu ada linknya dbwh, tp malah gk sengaja liat komentar readers lain klo sad eding, jd takut sendiri baca ff ini, takut klo terbawa suasana di part 3 yg mungkin romansanya memikat hati ku, trus baca part 4 yg sad ending jd hrs nyesek sampai beberapa hari, sumpah aku takut kyk gt, tp dilain sisi, kakak salah satu penulis yang aku kagumi, aku selalu tunggu dgn semangat semua ff karya kakak, sumpah semua kak, mungkin ada ff kakak yg gk ada komentar ku, krn entah knp kadang komentar ku bs msk kadang enggak, aku jg seneng beli novel2 kakak, tp sumpah sekarang aku dilema dan sedikit kecewa, dilema karena separu hati ku pengen baca ff ini separunya tahut klo gk kuat bacanya, kecewa karena knp ff kakak yg aku tunggu2 hrs sad ending, munafik ya aku ini, tp mau gmn lg, jd tolong dong kak kasih sequel walau cuman Dikitttt gpp, cm 2 paragraf gpp biar ff ini gk sad ending, endingnya gantung jg gpo, setidaknya lebih baik gantung dr pd hrs sad ending

    permintaan dari pengagummu kak, maaf klo buat kakak risih

  62. Aduh kak ini cerita terinspirasi darimanasih😪bagus banget deh ini seriusannn…
    Kirain bakal happy endinggggg ternyata enggaaaaa huhuhu😩

  63. Apa iyya harus pisah,berasa dongkok aja ke kyuhyun…
    Sedih bareng suri,beneran sesak ni dada yg baca ni ff,selesai baca gondok leher nggak iklas sama endingnya…pengen jeriiiittt…
    Ada yaa author yg buat pembacanya nangis jamaah,sukses la buat dek okky…
    Dtggu karya” nya yg lain ,semangat dek okky n makasih…

  64. kak… kuingun teriak ♥♥♥♥ jalan ceritanya nggak mainstream ddaebak ♡♡♡♡♡ ☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆ rate nya 10 bintang dari 10 hehehehee

  65. Aiigooo teganyaaaaa…….
    Saat liat d blog metanoia end lgsg penasaran baca tp akhir nya kx gtu sich kak…… ….
    Klau tau akhir nya ninggalin buat apa kyuhyun nyuruh suri nunggu…….
    Daebak eonni terima kasih udah bikin readers patah hati hohihi

  66. Jujur selama baca FF ini aku ga oernah nangis atau sedih. Ya aku tahu FF ini terlalu menegangkan dan selalu buat shock. Setiap kejafian dan keputusannya selalu buat mulut terkatup. Tapi kali ini di ending aku juga ga bisa nangis malah sebaliknya marah rasanya pengen tonjok kyuhyun. Lukanya terlalu banyak untuk suri.

  67. ga tau mau bilang apa
    selalu campur aduk kalo baca ffnya kakak ini
    perjuangan yang ga main-main
    hampir benci waktu Suri ngancam Kapten Seo dan ternyata dia juga ada di kelompok Ryu-Shin
    tapi betapa hebatnya Suri, walaupun dia sedang dalam mode ‘Letnan Lee’nya Ryu-Shin, dia bisa berusaha keras ngendaliin dirinya, berusaha dirinya sendiri yang sebenarnya masih sadar demi nyelametin Kyuhyun dan bahkan mempertaruhkan nyawanya
    yang bikin kaget ya kenapa Kyuhyun malah milih pisah sama Suri? sebelum dia pergi dia ga bilang begitu! mana janjinya dia?? T.T

  68. Kemaren aku baru namatin lbdsm sad ending, sekarang namatin ini sad juga huhuhu…
    Sumpah ya, surat menyuratnya kyu ngefeel bgt. Tp balesannya suri emg de best. Semoga kyu sadar kek n balik ke suri lagi.
    Kuharap sequel nya happy end dong kak 😣

  69. Nyesek. Parah nyesek bgt. Sampe leherku sakit sendiri.
    Sumpah keren bgt tapi aku enggak tau gimana cara menjabarkannya di kolom komen ini. Walaupun akhirnya sedih tapi ada epilogue yeaayyy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s