#5 Metanoia – (Un)Broken Wings (EPILOGUE)

metanoia-new-ok

Love is a serious mental illness.
-Plato

Berjam-jam ia menghadap kertas kosong di mejanya dengan pulpen yang diputar di antara jemari kanan. Bagian tersulit dari seluruh prosedur sebelum penyerangan adalah membuat surat wasiat. Sebenarnya ia memang tidak perlu membuatnya, keluarganya sudah tentu tahu apa akibat membiarkan putra mereka bergabung dengan ICD, kematian sudah pasti takkan terhindarkan di setiap kasus yang mereka tangani.

Meski begitu, Kyu-Hyun selalu kembali dalam keadaan bernapas meski tubuhnya tidak begitu setuju dengan definisi hidup berarti bernapas. Bahu kanannya masih merasakan sakit setiap kali mengangkat beban lebih dari 20 kilo selama setengah jam dan berkali-kali ia diperingatkan untuk berhenti mengambil garis depan dalam penyarangan jika masih sayang dengan bahunya.

Cideranya belum pulih benar, tapi Kyu-Hyun tidak bisa membiarkan AJ, letnan di Tim 3, bergerak sendirian. Meski AJ memiliki pengamatan yang akurat, geraknya terlalu lamban. Maka, selama 2 tahun belakangan Kyu-Hyun selalu mendampingi AJ dalam setiap penyerangan, mengawasi dari jarak dekat.

Setelah dua jam berpikir, Kyu-Hyun tak bisa menuliskan apa pun di lembar wasiat untuk keluarganya dan ia beralih pada lembar kedua untuk orang di luar keluarga. Selalu, saat membalik lembar tersebut hanya Suri yang ada di pikirannya.

Piano mengalun pelan diiringi gemerisik khas rekaman lama yang sudah semakin menua dan tak terurus. Suara pria mengalun merdu dari piringan hitam yang ia pasang, lagu yang selalu mengingatkannya tentang Lee Suri. Elvis Costello menyanyikan lagu interpretasi milik Charles Aznavour berjudul She.

Ia kembali mengingat wajah itu, wajah dengan iris kelabu yang dingin di seberang jalan mencuri pandang dengannya, rambut cokelat terangnya yang bergelombang, cara asalnya menyampirkan tas di pundak, caranya mengalihkan pandangan ketika Kyu-Hyun menatapnya balik, warna lipstick merah bata, hingga aroma manisnya yang masih bisa ia khayalkan hirup setiap kali ia membuka mata di pagi hari.

Memang bukan tipe wajah yang membuat pria langsung jatuh cinta di pandangan pertama, namun Kyu-Hyun amat yakin ketika di detik pertama mereka berpandangan, wajahnya takkan pernah hilang di ingatan Kyu-Hyun, entah itu adalah keberentungan ataukah malapetaka baginya.

Rambutnya mengingatkan Kyu-Hyun hari-hari musim panasnya di pantai perawan yang ia habiskan sendirian memandangi matahari semenjak terbit hingga petang. Senyumnya mengingatkan ia pada musim gugur yang hangat dengan sisa-sisa matahari musim panas, dedaunan sekarat yang terlihat indah, serta hujan di pagi hari yang membuatnya ingin berlama-lama di ranjang. Mata kelabunya seperti malam-malam musim dingin di bagian Utara Eropa, menyajikan aurora yang menari sepanjang malam cerah tanpa malu. Aromanya mengingatkan musim semi di Spello, Italia, klasik dan penuh dengan pot-pot kecil berisi bunga mekar, manis dan elegan dalam waktu yang bersamaan.

Takkan ada perempuan seperti Lee Suri lagi di dalam hidupnya.

Matanya yang menghangat ketika menyangkut pekerjaannya melayani publik, keringatnya di ruang operasi, rambut cokelat bergelombangnya yang disanggul rapi menyisakan anak rambut di pelipis, dan tangannya yang terampil, tak pernah Kyu-Hyun melihat Suri goyah di hadapan banyak orang. Dan ketika kegagalan datang menghampiri meja operasi, ia akan menahannya hingga sendirian dan terpojok menangisi kebodohan dan segala kemungkinan yang seharusnya ia bisa lakukan untuk menyelamatkan nyawa yang terbaring di mejanya, Kyu-Hyun pernah melihatnya satu kali, hanya satu kali.

Lee Suri, sumber kekuatannya dan kelemahan terbesarnya. Mungkin akan menjadi tempat berteduh paling nyaman di hari tua jika kelak umurnya sampai, mungkin juga akan menjadi hari-hari neraka ketika ia harus dihadapkan dengan kematian.

Ia tidak siap menjadi pria seperti itu. Tak terima memikul segala kelemahan tentang ketakutannya suatu hari menemukan Suri-nya bersimbah darah di gang gelap dengan pesan terakhir yang membuatnya semakin hancur atau dirinya yang terkapar sekarat dengan memori berputar perlahan tentang keindahan Suri dan kesedihan wanita itu jika dirinya benar-benar pergi untuk selamanya.

Ini adalah jalan terbaik, meski yang terbaik takarannya tetap relatif di mata manusia, penjelasan yang takkan pernah jelas biar didukung dengan teori segunung pun. Dari mana terbaiknya kalau membuat wanita yang paling ingin ia lindungi membangun tembok yang bahkan jauh lebih tinggi dari sebelumnya? Dari mana terbaiknya jika ia dengan sadar membiarkan dirinya merindu setengah mati sampai-sampai sakit hatinya setiap kali melihat sweater yang Suri kenakan tempo hari?

Cinta itu sangat rumit, garis antara menjaga keselamatan Lee Suri dan menyelamatkan egonya sangatlah tipis, saking tipisnya ia tak sadar berapa kali dirinya tergores hingga berdarah-darah sekarat.

Ia berhenti menatap kertas kosong di hadapannya, beralih pada cincin kawin yang ia pakai di jari telunjuk, tanda kegagalan pernikahan yang tak bisa ia lupakan atau lebih tepatnya belum ia relakan, mungkin karena Suri jugalah ia masih bisa bertahan hingga detik ini, menjabat dua tugas sebagai Letnan dan Kapten, mempertaruhkan nyawa di barisan paling depan. Tahun-tahun yang melelahkan dan menguras banyak energinya, ia sadar hanya satu yang ia harapkan, kelonggaran setelah semua berakhir dengan cepat dan tentu saja, kembali pada Lee Suri, jika memang semua sudah terlambat untuk memilikinya kembali, setidaknya ia ingin menjadi paman yang bisa diandalkan oleh anak-anak Suri kelak, paman yang akan membela apa pun yang mereka lakukan, atau apa pun yang bisa ia lakukan selama itu menyangkut Lee Suri, akan ia lakukan.

Setiap suka dan setiap duka akan ia simpan di kotak paling berharga yang akan selalu ia putar setiap malam sebelum tidur hanya untuk membuat lukanya semakin terbuka, tak apa, yang terpenting rindunya terobati meski hasilnya hanya akan membuat boroknya semakin busuk.

Kyu-Hyun menutup berkasnya, beranjak dari kursi kerja dan menatap ke luar jendela tempat labirin terhampar bermeter-meter di bawahnya, ia membayangkan Suri berlarian di dalam labirin dengan senyum lebar dan sesekali menertawai Kyu-Hyun yang kalah cepat dengannya… ia masih bisa mengingatnya dengan jelas.

Ia tak berharap surat ini akan mampir pada Suri.

Benar saja, setelah semalaman, surat wasiat Kyu-Hyun berakhir polos. Ia mengumpulkan amplop wasiatnya bersama amplop lain sebelum mendengarkan strategi yang AJ susun baik-baik.

“Usahakan untuk tidak menembak sembarangan. Ada banyak anak di bawah 10 tahun.”

***

A Week Before

Hari yang melelahkan, selalu melelahkan sebenarnya. Suri memejamkan matanya di mobil, membiarkan Gong Yoo yang masih asyik mengikuti suara Percy Sledge yang merdu menyanyikan lagu When A Man Loves A Woman, lagu yang tadinya sangat romantis tiba-tiba terdengar seperti nyanyian iblis di telinga Suri, mana bisalah ia tidur kalau lagu pengiringnya seperti ini meski di luar hujan dan perjalan mereka ke rumah masih 20 menit lagi.

“Berapa sih umurmu tahun ini?” tanya Gong Yoo sambil menginjak remnya pelan ketika lampu jalan berubah merah. Ia melihat jam digital di dasbor, satu minggu lagi menuju ulang tahun Suri. “Empat puluh, ya?” ledeknya dan langsung disambut dengan tatapan bengis Suri.

Gong Yoo tertawa canggung mengingat bahwa kemampuan bertarung wanita itu sebenarnya boleh juga, dibuat patah tulangnya hanya dengan pertarungan bersama Suri 3 tahun lalu. “Melotot itu tidak diperlukan kalau hanya bercanda, Suri.” Tambahnya masih tertawa.

“Tiga puluh dua tahun.” Suri menjawab sambil membuka notifikasi surel di ponselnya. “Kau itu harusnya yang berkaca, kau sudah 50 tahun ini, kan? Tua.”

Gong Yoo mengangguk, “apa yang biasanya pria berumur 50 tahun lakukan selain menjaga anak remaja yang hobinya ngambek dan main petak umpet sepertimu?”

“Menikah mungkin?”

Ia menimbang sesaat dan kembali mengangguk. “Bukan ide buruk sebenarnya,” ia menginjak gas kembali, menjalankan mobilnya lebih santai kali ini. Seiring lagu yang berganti menjadi Singing In The Rain, Gong Yoo mulai bersiul mengikuti irama. “Kau bosan tidak dengan nama Lee Suri?”

Suri yang masih membaca surel berbahasa Cina tersebut mengernyitkan dahinya. “Apa itu sebuah lamaran?”

“Berniat mengganti namamu tidak?”

Kali ini karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Suri menoleh dengan wajah superdatarnya, menatap Gong Yoo lama. Rambut hitam yang sudah ditumbuhi uban, kemungkinan hidup yang hanya mencapai 20 tahun lagi, tidak segesit sepuluh tahun lalu, keriput yang mulai terlihat di garis mata, kepribadian yang menyebalkan seperti bapak-bapak, hingga kebiasaan tidur mendengkur yang amat parah, apa yang mau ia harapkan dari menikahi Gong Yoo?

Tapi kalau dipikir ulang, ia tidak pernah dekat dengan pria lain selama 3 tahun belakangan, hanya ada Gong Yoo yang tanpa banyak protes mau-mau saja dipaksa untuk menjadi pasangannya dalam malam-malam penggalangan dana sosial kalangan dokter, tidak buruk juga sebenarnya.

“Menjadi Gong Suri?” tanyanya dan kembali membaca laporan seorang dokter muda di Cina yang berkonsultasi masalah pasien mereka. “Tidak buruk.”

Gong Yoo tersenyum. “Gong Suri memang tidak buruk,” ia berucap, “tapi bukan Gong yang kumaksudkan.”

“Lalu?”

“Cho Suri sepertinya lebih cocok.”

“Ah, mati saja sana.” Ia takkan sudi membahas Kyu-Hyun lagi dengan siapa pun, takkan. Kali ini Suri menekan tombol berikutnya di pemutar musik, entah tiba-tiba nyanyian riang menjadi sangat menyebalkan di kepalanya.

Ketukan khas tahun 80-an terdengar dan Gong Yoo menatap Suri tak percaya dengan selera musiknya yang mirip om-om.

I want to break free, I want to break free, I want to break free from your lies you’re so self-satisfied I don’t need you….

“Jadi, bagian mana yang membuatnya menjadi pengalaman terburuk dalam hidupmu?”

Ia melihat Suri mengernyitkan dahi lagi. “Tentang?”

“Patah hati,” jawabnya sambil berhenti di belakang mobil van hitam, lampu merah berikutnya. “Aku tak pernah jatuh cinta sungguhan, tak sempat berpikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu tampan dan setiap wanita bisa kudapatkan dengan mudah jadi kemungkinan bosan akan lebih tinggi ketimbang aku adalah pria jelek.”

Seperti lelucon Gong Yoo lainnya, Suri hanya tersenyum miris mendengar kebanggan diri Gong Yoo. Tapi ia mengabaikan keinginannya berkomentar Gong Yoo harus diperiksa psikologisnya untuk memastikan pria itu tak terjangkit penyakit jiwa narisme.

Well, selain merasakan jantungmu seperti diremas setiap kali melihat adegan atau tempat yang pernah kalian lewati selagi masih sepasang kekasih hingga membuat kelenjar air matamu menjadi sangat produktif,” buka Suri sambil meletakkan ponselnya ke dalam saku mantel, “kupikir bagian terburuknya adalah kau tahu bahwa dirimu takkan pernah menjadi pribadi yang sama ketika berhasil melewati badai.”

Mobil sedan hitam itu memasuki pekarangan besar dengan bangunan berwarna putih di tengahnya, rumah pribadi keluarga Lee, Chun-Hwa memutuskan untuk mengajar di salah satu universitas hukum terbesar di Jerman, sementara Kyung-Sook membuka sekolah musik, dan Suri tetap bekerja di rumah sakit sebagai ahli syaraf yang paling diandalkan se-Eropa.

“Aku sangat menyayangimu, Suri,” ucapnya begitu menghentikan mobil di depan pintu utama. “Tapi kau tidak bisa terus menerus bermain dengan iblis kemudian masih bertanya mengapa kau tidak pernah beranjak dari neraka.”

Suri tahu betul apa yang Gong Yoo maksud barusan, dirinya tentu saja bisa hidup tanpa Kyu-Hyun, ia akan sangat mandiri hidup tanpa Kyu-Hyun, permasalahannya adalah hatinya tak pernah berhenti mengharapkan pria itu mengubah pikirannya untuk membiarkan Suri masuk di kehidupan pria itu dan bertarung untuk nyawanya sendiri. Ia berhasil melewati badai pertama 8 tahun lalu, ia berubah menjadi wanita yang keras kepala dan menolak bantuan apa pun dari pria lantaran lukanya masih bernanah, tapi ketika melewati badai kedua, ia menyerah berpura-pura keras kepala, ia masuk semakin ke dalam dan membentuk tembok yang lebih tinggi untuk menghalau siapa pun masuk, menentukan batas terlarang yang sangat sempit.

Tidak akan ada yang bisa keluar dari neraka masing-masing jika ego mereka masih sebesar saat ini.

“Tidak ada yang mengalahkan kesengsaraan paling buruk selain dipaksa untuk menghadapi hal yang kepalamu paling hindari karena tahu seperti apa rasanya terjatuh.”

“Tapi hati tak sekaku logika, Suri,” ia menggengam tangan Suri, “hatimu tahu cara menyembuhkannya, hanya kau saja yang belum memercayai hatimu untuk bertindak.”

Suri menolak hatinya mengambil alih kendali, ia tahu seberapa tolol dirinya soal urusan cinta. Ukuran yang amat mengerikan, idiot yang tidak tanggung-tanggung.

“Siapa itu yang pernah bilang, “Jika kau ingin melihat bulan, jangan bersembunyi saat malam tiba. Jika kau menginginkan mawar, jangan terbirit ketika menyentuh durinya. Dan jika kau menginginkan cinta, jangan bersembunyi dari dirimu sendiri.” Ia mengelus kepala Suri yang rebah di sandaran. “Kau sudah terlalu lama bersembunyi dari dirimu, Suri, aku merindukanmu yang tukang ngomel-ngomel, menyumpah karena kusembunyikan kaus kakinya, makan seperti orang kesurupan, sampai menendangku karena bangun kesiangan, aku merindukanmu 8 tahun ini, sangat merindukanmu hingga rasanya melihatmu kelelahan setengah mati seperti ini hampir membuatku menangis dan mencekik Cho Kyu-Hyun.”

But he lock me out, how can I seek myself? I left myself inside his heart.

“Ketika seseorang menyayangimu, mereka tidak akan melakukan hal yang memungkinkan menyakitimu dan jika mereka melakukannya…,” ia menatap mata lelah Suri yang dihiasi lingkar hitam di bawah matanya, “kau bisa melihatnya kalau hal tersebut menyakiti mereka lebih dari apa yang kau rasakan, dua kali lipat.”

“Jika dia memang mencintaiku, dia takkan pergi.” Sesaat Suri terdiam sebelum tertawa pelan dan menggeleng. “Orangtuaku saja tidak pernah membicarakan ini denganku.” Ia membuka pintu mobil, mengambil tas kerjanya di bawah.

“Itu karena mereka tidak ingin menyakitimu dengan mengungkit Kyu-Hyun lagi, tapi keadaan jadi serba salah untuk mereka, diam akan membuat mereka tersiksa melihatmu bekerja seperti kuli, pergi pagi pulang pagi, seminar keliling dunia, hingga dengan senang hati membantu dokter UGD dan bicara hanya akan membuatmu tambah murung.”

“Aku sudah mendatangi banyak rumah sakit, rumah terapi, praktik dokter hebat, dan institusi kanker hampir di 5 benua. Semuanya selalu berisi peringatan yang sama, berulang-ulang. Jangan mabuk-mabukan, livermu sangat penting. Jangan merokok, paru-parumu sangat penting, tapi dari sekian banyak peringatan, tak satupun kutemui peringatan berbunyi, jangan mencinta, hati abstrakmu sangat penting.”

“Itu kenapa kau tak berusaha membuka pintu yang Kyu-Hyun kunci untukmu? Kau takut sisa-sisa hatimu hancur untuk ketiga kalinya?”

Suri tak menjawab.

“Aku punya kabar gembira untukmu,” Gong Yoo merogoh kantung bagian dalam jasnya dan menyerahkan selembar amplop tersebut ke Suri. “Ayahmu memberikan itu sebelum perjalanannya ke Swiss, pertimbangkan baik-baik.”

Tangannya sigap mengambil amplop dari tangan Gong Yoo dan keluar dari mobil. Ia berdiri di sana dan melongok ke dalam mobil kembali sebelum pergi. “Rumi.”

“Rumi? Kenapa dengan Rumi?”

“Yang mengatakan untuk tidak bersembunyi dari hal yang diinginkan, Rumi.”

Gong Yoo tertawa sambil mengangguk, “ya, senang mengetahuinya.”

***

Seharusnya ia tak kembali ke rumah, sesalnya sambil melempar tas kerja ke atas ranjang kemudian merebahkan tubuhnya. Rumah ini, bahkan kamarnya sendiri terlalu besar untuk ditinggali di akhir pekan. Seharusnya ia kembali ke apartemennya di pusat kota atau mungkin jika benar-benar ingin menyibukkan diri ia bisa tetap tinggal di Rumah Sakit, toh tak ada yang mempermasalahkan jika ia membantu di UGD.

Di tangan kanan ia masih memegang amplop yang dititipkan orangtuanya pada Gong Yoo, sedikit banyak ia bisa menebak apa isi surat tersebut, pastilah permintaan maaf orangtuanya karena tidak bisa hadir di hari perayaan ulang tahun putrinya. Ah, sudah biasa.

Suri melemparkan amplop tersebut serampangan kemudian berguling ke sisi kanan, membelakangi amplopnya tadi. Ia benci sendirian, sepi selalu membuatnya berpikir ke belakang, ke masa lalu yang seharusnya sudah ia buang jauh-jauh.

Mendekati tanggal ulang tahunnya adalah masa-masa kritis di mana hatinya selalu berkhianat pada usaha otak selama ini yang mencoba mematikan lampu ruangan tempat Kyu-Hyun tinggal meski sudah  bertahun-tahun lamanya.

10 tahun. Ya, Tuhan! 10 tahun terjebak pada hati yang sama! Apa Kau tak lelah mempermainkanku seperti ini?! Gerutunya dalam hati, membuatnya semakin kelam.

Sambil merobek amplop yang orangtuanya titipkan, Suri bergumam, “Hiduplah dengan baik kepalamu! Bagaimana aku bisa hidup dengan baik kalau yang kau bawa pergi itu hidupku?!”

Ia melihat ada amplop lain di dalam amplop utama. Ia mengesampingkan amplop kedua tersebut dan mulai membaca isi surat yang ayahnya tulis dengan huruf latin yang berasambung dan sangat indah.

Lee Suri, aku menamaimu seperti itu karena kakak-kakakmu yang lain tak sekuat dirimu. Kau selalu menjadi kebanggaanku. Orang-orang selalu memujiku dengan, “Putrimu bisa membanggakan sebaik seorang anak lelaki” ah, omong kosong, kau membanggakan untukku sebagai seorang putri yang seharusnya, sebagai manusia utuh tak peduli kau lelaki atau perempuan.

Ternyata kau sudah berumur 32 tahun, aku tak menyadarinya, di mataku kau selalu putriku yang masih terlalu kecil untuk mengenal cinta. Hingga pria sialan itu datang dan merebut seluruh hatimu yang tersisa, aku benci padanya. semenjak ia datang ke hidupmu, aku tak pernah suka, sedikitpun.

Tapi kulihat kau mulai memperhatikan kesehatanmu, kau terlihat bahagia, kau memutuskan untuk pulang dan menghubungiku dua kali dalam satu hari, aku melihat banyak perubahan positif di dirimu, kau menjadi lebih peduli pada tubuhmu sendiri dan aku sangat senang dengan hal tersebut, hingga dia mematahkanmu untuk kali kedua.

Aku bersumpah akan menguburnya hidup-hidup jika ia berani kembali padamu setelah kejadian dua tahun lalu. Aku sungguh bersumpah. Aku dan ibumu selalu meyakinkan bahwa kepergian Kyu-Hyun demi kebaikanmu, kami tak berusaha mengungkitnya denganmu hingga satu hari kau pingsan karena kelelahan.

Di sana aku sadar bahwa yang kau butuhkan bukanlah aku atau ibumu. Sejauh apa pun kau pergi bahkan dengan pria brengsek sekalipun, aku yakin kau akan kembali pada kami dan akan selalu menganggap kami adalah orang yang paling berharga di hidupmu. Namun umurmu sudah 32 tahun, kau butuh seseorang selain aku dan ibumu, aku mengerti betul.

Aku tahu ini mungkin akan menghancurkan kerja kerasmu untuk melupakan Cho Kyu-Hyun selama dua tahun ini, namun, Sayang, pernahkan kau berpikir bahwa yang kau butuhkan sebenarnya adalah kejelasan ada atau tidaknya kesempatan kalian lagi? Kau bimbang apakah harus menerima hati orang lain yang jelas-jelas akan memberikan pengalaman berbeda dengan Kyu-Hyun atau menunggu pria itu dengan  janjinya lagi.

Bertindaklah.

Wanita yang bertindak lebih dahulu bukanlah murahan, percaya padaku.

Itu tulisan tangan ayahnya, ditulis mungkin setelah berpikir selama berminggu-minggu, ayahnya persis seperti dirinya yang selalu kesulitan mengungkapkan kata-kata, mana mungkin surat sepanjang ini, untuk ukuran ayahnya, bisa ditulis dalam satu hari?

Sambil mengesampingkan surat dari ayahnya, ia membuka amplop kedua, membacanya cepat dengan sebuah catatan tangan kecil yang lebih lugas serta menggelikan. Ia tersenyum dan menertawai kebodohannya. Ah, usahaku sia-sia rupanya.

***

Dari sudut matanya Kyu-Hyun melihat kilatan cahaya tersebut, anak yang seharusnya mereka lindungi masih bersembunyi di sudut ruangan dengan tubuh gemetar. Ia melihat 8 anggota lainnya yang ikut masuk, mereka sibuk melindungi nyawa mereka dan beberapa anak yang berteriak, ia tak bisa mengandalkan siapa pun.

Kyu-Hyun meninju leher lawannya sebelum mendorong pria itu dari atas tubuhnya dan berlari secepat yang ia mampu untuk melindungi anak tersebut yang berada dalam bahaya, salah seorang anggota geng mengangkat pisau bedah mereka tinggi-tinggi ke arah anak tersebut.

Ia sampai tepat pada waktunya, menjadi penghalang antara anak tersebut dan pria tadi hingga pisau bedah yang tajamnya bukan main langsung merobek perut Kyu-Hyun dalam satu kali serangan.

Tak mengindahkan sakit di perutnya yang terasa menyesakkan, Kyu-Hyun meraih pistol yang terjatuh di lantai dan menembakkannya ke bahu pria tadi hingga tumbang sambil mengerang kesakitan.
Acuh, Kyu-Hyun membopong anak tadi dalam pelukannya dan berlari di tengah kesadarannya yang mulai menurun menuju mobil ambulans terdekat. Ia menyodorkan anak itu lebih dahulu sebelum melihat lukanya. Kemeja hitamnya bersimbah darah dan pandangannya mulai kabur.

“Kapten …” seorang paramedis mendakati Kyu-Hyun dan memeganginya. “Anda terluka.”

Mata Kyu-Hyun melirik paramedis tersebut dan membayangkan alangkah lebih baik jika di hadapannya adalah Lee Suri, kemudian matanya beralih pada rumah mewah empat lantai tersebut, melihat AJ dan yang lain keluar dengan para tawanan terborgol.

“Ya, aku terluka,” ucapnya sebelum roboh.

Samar-samar ia mendengar paramedis yang meributkan soal luka di dadanya yang cukup dalam hingga merobek liver Kyu-Hyun, rusuknya patah, dan beberapa memar ringan di pundaknya yang cidera. Mobil bergerak cepat membelah jalanan Ibu Kota yang ramai.

Dalam kesadarannya yang timbul tenggelam Kyu-Hyun mengingat lagi paragraf yang ia baca malam tadi sambil menikmati perjalanan menuju Seoul dari Helsinki.

Dalam setiap kehidupan pemuda ada seorang “Selma” yang tiba-tiba muncul baginya dalam musim semi kehidupannya dan mengubah kesendirian pemuda itu menjadi saat-saat bahagia dan mengisi keheningan malam-malamnya dengan musik.

Aku begitu asyik dengan pikiran dan perenungan dan mencoba memahami makna alam dan wahyu dari buku-buku dan kitab suci ketika aku mendengar CINTA dibisikkan di telingaku melalui bibir Selma. Hidupku dalam keadaan koma, kosong seperti hidup Adam di Surga, ketika aku melihat Selma berdiri di hadapanku seperti berkas cahaya.

Sayap-Sayap Patah, Khalil Gibran.

Ia membayangkan Suri yang harus menerima kabar ini dari AJ dengan amplop wasiat bertuliskan namanya namun tanpa pesan di dalamnya. Ia membayangkan seperti apa Selma-nya nanti. Buku itu adalah wasiatnya untuk Suri, AJ mengetahui itu, namun tidak dengan Suri.

Kyu-Hyun yang tak pernah memahami arti kepergian dirinya begitu gamang setiap kali mendapat pesan berupa kekhawatiran orangtuanya, ia kehilangan jiwanya bertahun-tahun lalu ketika melihat sahabatnya mati dengan cara mengenaskan, dan ketika Suri datang … wanita itu seperti membawakan padanya jiwa yang hilang tersebut, memaksanya menerima beban berat akan bagaimana jika Suri kehilangan dirinya.

Gibran begitu hancur ketika Selma meninggal, bagaimana Suri-nya nanti? Seberapa jauh lagi ia harus menghancurkan wanita itu?

Hari ini, setelah bertahun-tahun berlalu, tidak tersisa apa pun bagiku tentang mimpi indah itu kecuali kenangan pedih yang mengepak bagai sayap-sayap tak terlihat di sekitarku ….

Sekali lagi Kyu-Hyun merasakan dirinya bergoyang, suara dorongan menggema di sepanjang trotoar, suara ribut dokter, hingga suara yang paling ia kenal memanggilnya sekali sebelum mengusir orang lain hingga keadaan hening berganti dengan lampu terang yang menyala tepat mengenai wajahnya sebelum perlahan memudar sedikit.

***

Suri tahu ketika menginjakkan kakinya ke Seoul, dia berada dalam masalah besar. Berkali-kali ia meyakini dirinya bahwa semua akan baik-baik saja, kedatangannya ke Korea hanya untuk meluruskan hubungannya dengan Kyu-Hyun agar bisa meninggalkan pria itu dan kenangannya di belakang.

Tanpa disadari memang janji 10 tahun Kyu-Hyun masih memberikan harapan untuknya. Sialnya logikanya selalu mengatakan bahwa bersama pria itu adalah keputusan terburuk yang pernah ia ambil kelak, namun hatinya berkata lain, jika bukan pria itu, maka tidak ada pria lain.

Terkutuklah ia dan segala jenis teori psikologi itu. Adakah istilah yang pantas untuk menyebut kondisinya sekarang?

Para petinggi agama mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu sederhana, tidak rumit, hanya kita yang membuatnya rumit. Mungkin benar, mungkin juga tidak, tapi untuk Suri, pernyataan itu sudah pasti bisa ia sanggah, hanya orang yang sudah mati yang mau berpikir praktis, hanya orang-orang yang jantungnya tak berdetak yang mengabaikan emosi. Dan tipe manusia seperti inilah yang harusnya dijauhi karena mereka menggunakan orang lain untuk merasakan bagaimana jantung berdetak, milik mereka … sudah lama tak berfungsi.

Apakah Kyu-Hyun tipe pria yang seperti itu? … tidak, rasanya.  Jika memang Kyu-Hyun kehilangan simpati dan empatinya sejak lama, pria itu tak mungkin mengorbankan dirinya demi ratusan anak yang malamnya dilalui dengan teror.

Apakah ia tidak berharga di mata Kyu-Hyun hingga ia terpinggirkan? … tidak juga. Tentu Kyu-Hyun ingin menjauhkannya dari segala ancaman yang mungkin akan membahayakan nyawa serta kebebasannya meskipun Kyu-Hyun tahu dengan pasti bahwa ia tak pernah mempermasalahkan kebebasannya asalkan dengan Kyu-Hyun. Ah, sialan pria itu, sejak kapan Kyu-Hyun membuat dirinya menjadi submissive begini?

Suri memutuskan untuk fokus pada jalanan dan lagu yang diputar dari radio mobilnya ketimbang meracau tentang Kyu-Hyun yang tidak-tidak, bisa gila dirinya.

Kemudian serangan kepanikan itu menggulungnya saat enam mobil ambulans melintas dengan kecepatan tinggi melewati mobilnya menuju gerbang Meeting Point ICD Seoul yang berjarak kurang dari satu kilo meter lagi. Ia mencoba berpikir positif, mungkin ambulans tersebut tidak menuju Meeting Point. Namun, keyakinan itu gagal ketika mobil van hitam dengan tulisan ICD sebagai pengganti tipenya mengekor di belakang dengan kecepatan yang sama.

Tanpa pikir panjang, Suri menginjak gasnya, menyusul mobil tersebut. Ia mengambil ID yang AJ selipkan dalam surat yang diberikannya melalui ayahnya tempo hari. Ia butuh ini. Tak sembarangan orang bisa memasuki komplek Meeting Point meski mungkin wajahnya masih dikenali oleh salah seorang anggota.

Benar saja dugaan Suri, mobilnya tertahan begitu mencapai gerbang. Sambil berteriak, Suri menyodorkan ID tamu yang sudah diverifikasi oleh AJ dan tanda pengenalnya sebelum menyumpah dan menginjak gasnya lagi.

Suri merasa tubuhnya lemas begitu mendapati yang keluar dari dua van hitam tidak terdapat Kyu-Hyun di dalamnya. Dengan jalan yang gontai ia melihat sekeliling, mencari orang yang ia kenal dan bisa diancam sebelum akhirnya melihat AJ yang pucat mendekap seorang anak perempuan berambut panjang, wajah yang datar, dan tubuh gemetar.

“Kyu-Hyun …” Suri menarik rompi AJ, “di mana Kyu-Hyun?”

Tentu saja situasi seperti ini tidak diharapkan siapa pun. Yang AJ harapkan adalah Suri yang muncul tepat tanggal 6 Mei setelah mereka menyelesaikan misi dan Kapten bisa bertemu dengan Suri, membicarakan masa lalu mereka dan kemungkinan adanya masa depan bersama.

Ia sudah melihat, berkali-kali, Kyu-Hyun melamun sambil memutar cincin kawin yang digunakannya di telunjuk. Pria itu luar biasa membunuh dirinya hanya untuk pekerjaan yang bahkan takkan mencatat namanya di buku sejarah nasional. Mengapa ada pria seperti Kaptennya? Mengapa pria yang berdarah-darah itu membiarkan lukanya terus terbuka, membusuk, dan berbelatung? Padahal sudah tahu nyerinya bukan main. Kaptennya terlihat seperti seorang masokis yang mencintai kekerasan untuk mencapai kenikmatan seolah Suri adalah dosa paling indah dan takkan pernah disesalinya.

“Kuantar.” Sambil menggedong anak tersebut, tangan kiri AJ menyeret Suri menuju ruang operasi di sayap kiri gedung.

“Apa yang terjadi?” Suri melangkah lebar-lebar, tak sabar untuk melihat Kyu-Hyun.

“Kapten memberikan rompinya pada seorang anak, menyuruh anak tersebut kabur menuju mobil putih dengan logo tambah berwarna merah. Kemudian, tanpa pelindung ia mencari anak dalam gendonganku, Na Mi-Ran—“

“Kemudian Paman itu melindungiku dari Ketua. Ia ingin membunuhku, pisaunya tajam dan kecil, tertusuk ke perut Paman. Ketua marah dan ketakutan kemudian Paman membuatnya jatuh sambil menjerit. Aku dan Paman keluar. Aku masuk ambulans bersama yang lain sementara Paman juga jatuh di depan mobil ambulans dengan kemeja yang basah.” Lanjut Na Mi-Ran.

Suri menarik napasnya pendek-pendek ketika mendengar penjelasan tersebut. Ia melepas genggaman tangan AJ dan berlari menuju sayap kiri. Ia memeriksa lorong tersebut yang dipenuhi anak-anak dengan ekspresi yang sama dengan Mi-Ran.

Dan di sanalah ia melihat Kyu-Hyun terbaring dengan wajah pucat dan darah di telapak tangannya, rambut hitam pria itu nampak berantakan, matanya terpejam dan terbuka dengan susah payah. Ia berlari menerjang ranjang tersebut, memanggil nama Kyu-Hyun sekali dan mendapatkan respon.

Mata pria itu terbuka perlahan, memandanginya meski tanpa suara sebelum masuk ke dalam ruang operasi. Tak ada yang tak mengenal Suri, mereka mengijinkan Suri sendiri yang mengoperasi Kyu-Hyun dibantu asisten dari paramedis ICD.

Ini luka tusuk yang diakibatkan pisau bedah, sesuai penuturan Na Mi-Ran, pisau kecil dan tajam. Tangannya gemetar ketika melihat dalamnya luka. Mungkin akan terkena organ dalamnya, mungkin juga ia tak tertolong. Jika Kyu-Hyun mati di tangannya … apa yang akan ia lakukan kelak?

Kemudian suara itu memanggilnya samar-samar di bawah pengaruh obat bius yang terus menyedot kesadarannya.

“Lee Suri ….” panggilnya dengan suara lirih. “Kau di sana?”

“Ya, ya,” Suri mendekat, “aku di sini. Aku akan menolongmu, berjuanglah.”

“Kemari sebentar.”

Suri hampir saja mengumpat dan benar-benar mencekik Kyu-Hyun di meja operasi, seperti yang selama ini ia fantasikan. “Ada apa?”

“Mendekat, aku tak bisa melihat wajahmu dengan jelas.” Dengan mata yang terbuka sebelah, Kyu-Hyun berkata, “Selamat ulang tahun.” Ucapnya dan tangan berlumuran darah itu menggapai  tengkuk Suri, menariknya hingga bibir mereka bersentuhan sebelum perlahan kesadaran Kyu-Hyun benar-benar menghilang.

“Tidak, tidak!”

***

Dalam bayang itu ia teringat kalimat terakhir Gibran,

Lalu, aku berkata, “Di lubang ini Anda juga sudah menguburkan hatiku.”

Tidak, Suri tidak akan berada di posisi Gibran, meratapi pusara Selma dan menghabiskan sisa-sisa masa mudanya dengan hidup dari kenangan-kenangan mereka yang jumlahnya bahkan tidak cukup banyak untuk dibanggakan.

Tapi ia teringat lagi surat ibunya yang datang dua minggu lalu. Ibunya menuliskan sederet hal yang membuatnya ingin tersenyum. Wanita awal 60-an tersebut ingin menemui Suri, ia penasaran dengan wanita yang berhasil membuat warna pada hidup putranya yang selama ini bahkan tak pernah berpikir soal pendamping ataupun pelepasan seksual.

Ketika aku berusaha menemuinya, ia sedang berdiri di ruang baca tepat di depan jendela besar. Ia memutar piringan hitam, musik baru kurasa, saat angin masuk melalui celah jendela yang dibiarkan terbuka olehnya, ia menoleh padaku. Kurasa di sana aku mengetahui mengapa kau memilih wanita itu.

Ia memiliki mata kelabu yang cerdas, kepribadiannya hangat meski ia menjaga jarak, suara yang … membuatmu berkhayal, benar? Haha. Dia memang wanita yang cocok untuk mendampingimu. Ia punya kesabaran yang tak terhingga menghadapi kekeraskepalaanmu dan kedinginan sikapmu. Namun sayang, aku bertemu Lee Suri yang sudah patah. Ia tak seceria yang kau ceritakan tempo hari, aku jarang melihat senyuman itu menyentuh matanya meski ia terlihat bahagia di permukaan.

Sebagian dirinya tertinggal di dirimu dan kau … dengan bodohnya menguncinya di luar hingga ia tak bisa mengambil dirinya yang tertinggal itu, atau kau memang sengaja menyimpan sebagian dirinya untukmu sendiri?

Ya, mungkin ia memang sengaja mengunci Suri di luar agar ia bisa menikmati sebagian Suri untuk dirinya sendiri. Surinya yang ceria, Surinya yang hangat, dan Surinya yang luar biasa menawan. Tak boleh orang lain memilikinya.

Kyu-Hyun~ah, orangtuanya sangat marah padamu karena menghancurkan putrinya untuk kali kedua namun di saat bersamaan mereka juga bahagia karena Suri jauh dari bahaya menjadi istrimu. Mereka bimbang, mana yang lebih putrinya butuhkan, apakah aman bersama mereka atau bahaya namun dengan psikis yang lebih baik denganmu. Tak ada satupun orangtua yang ingin anaknya menderita di dunia ini, aku pun berharap sama padamu, pikirkan dirimu, kau berhak bahagia.

Ah, mungkin jika ia diberikan kesempatan kedua, ia akan memikirkan ulang keputusannya yang semberono itu. Mungkin. Jika Suri masih ingin bersamanya. Jika tidak … maka itu hak Suri.

Biarpun niatnya untuk menjauhkan Suri dari bahaya, justru setelah dua tahun berlalu ia baru sadar bahwa tidak menerima kabar dari Suri setiap hari justru membuatnya gusar setengah mati. Ia baru sadar bahwa ia perlu mengetahui ke mana Suri pergi, bersama siapa, berapa lama, hingga bertemu siapa saja dalam satu hari. Ia justru tak tenang meninggalkan Suri dalam kebutaan siapa saja yang harus wanita itu hindari.

Kyu-Hyun sadar ia sudah membuat sebuah kesalahan besar. Sangat besar.

***

Saat Kyu-Hyun membuka matanya, ia melihat mata kelabu Suri terbuka lebar tepat di atas wajahnya. Sebenarnya ia ingin menyumpah karena wajah Suri begitu dekat dan matanya terbuka lebar mengerikan, tapi harga dirinya mengatakan tidak.

Jadi, ia hanya tersenyum dan berkata, “Pantas saja aku seperti diperhatikan.”

Suri berdiri tegak, menjauhkan wajahnya dari wajah Kyu-Hyun. “Sejak dua jam lalu kau berkedip tapi tak kunjung membuka matamu,” saat tubuh Suri menyingkir, Kyu-Hyun melihat gadis kecil itu berdiri dengan kedua tangan di balik tubuhnya dan menunduk dalam-dalam. “Mi-Ran bilang ia ingin melihatmu siuman.”

Wajah Mi-Ran sudah lebih layak dikatakan sebagai anak kecil normal, tidak lagi dipenuhi dengan debu, rambut hitamnya dikepang dua, bajunya nampak hangat di tubuh kurus Mi-Ran, dan yang terpenting … anak pemberani yang mengirimkan surat ke Presiden tersebut tanpa sepengetahuan ‘Majikannya’ sudah bisa tersenyum dengan pupil yang stabil, artinya psikologis Mi-Ran sudah jauh lebih tenang ketimbang saat penyergapan kemarin lalu.

“Kapten Marcus,” panggilnya dan berjalan dengan langkah pelan mendekati ranjang.

“Hai, Mi-Ran, apa kabar? Apa adik-adikmu baik-baik saja?”

Mi-Ran menganggukan kepalanya pelan. “Berkat Kapten dan yang lain, adik-adikku bisa makan dengan baik tanpa harus bekerja, Kapten,” tangan Mi-Ran menggapai tangan Kyu-Hyun dengan kepala semakin menunduk. “Kapten, maafkan aku, karena aku Kapten jadi terluka.”

Kyu-Hyun mengusap rambut anak tersebut. “Kau anak pemberani, jika malam itu kau tidak mengeposkan kartu pada Presidan, mungkin aku dan yang lain tidak akan menemukan keberadaanmu secepat itu, terima kasih sudah mengabari kami, Mi-Ran~ah.”

“Kalau, Kapten tidak datang malam itu …” ia mengingat lagi memori kesulitan bernapas ketika kepalanya ditenggelamkan ke dalam tangki air karena ketahuan keluar dari rumah mereka.

“Mi-Ran, itu bukan rumahmu, sama sekali bukan rumahmu.” Potong Kyu-Hyun cepat ketika melihat kepanikan melanda wajah Mi-Ran, “bahkan tidak cocok untuk sekedar tempat berlindung dari hujan, tempat itu penjara dan aku berjanji, kau dan adik-adikmu takkan kembali ke sana lagi atau ke tempat yang seperti itu lagi, tidak akan pernah.” Ungkap Kyu-Hyun sambil mengenggam tangan Mi-Ran. “Akan kubuatkan rumah yang nyaman untukmu dan adik-adikmu, tak perlu khawatir.”

Dengan senyum yang kembali cerah Mi-Ran mengangguk kemudian memberikan setangkai bunga cosmos yang ia petik di pekarangan tadi. “Semoga lekas sembuh, Kapten.” Kemudian berbalik dan berlari dengan cengiran lebar di wajahnya.

“Dan Anda, Dokter,” Kyu-Hyun melirik Suri yang masih berdiri agak jauh dari sisi ranjang. “Ada perlu apa Anda sampai ke Korea?”

Suri menyeret kursi mendekati ranjang Kyu-Hyun, melipat kakinya dan terdiam. Di mata Kyu-Hyun, Suri yang mengenakan sweater turtle neck, celana jin hitam ketat, juga chelsea boots hitam terlihat begitu menggoda meski tak ada dibuka kulit bagian sensitif wanita itu. Bahkan saat melihat kelabu irisnya, Kyu-Hyun yakin jika Suri memakai cadar pun, ia akan memandang wanita itu menggoda, ah … itu atau memang pikirannya saja yang kotor?

“AJ bilang kau belum juga pandai mengurus dirimu meski sudah hampir 9 tahun berpisah denganku, jadi kupikir …” Suri melihat mata Kyu-Hyun tanpa gentar, tak ada satu kegugupan pun di wajah wanita itu, “bagaimana jika aku melamar kerja sebagai dokter di sini, kulihat jika sedang ramai paramedis tetap kerepotan menanganinya. Satu tenaga tambahan akan sangat berguna, kurasa.”

Ia bangkit dari tidurnya dan memutuskan untuk bersandar agak merosok di dashbor ranjangnya. “AJ bilang begitu?”

“Ya, sayang saja AJ itu pria, kalau dia perempuan mungkin ia akan memaksamu menikah dengannya lantaran khawatir melihat jadwal makanmu yang berantakan apalagi tidurmu yang langka.”

Kyu-Hyun mengangguk. “Kau melamar jadi dokter ICD atau dokter pribadiku?”

“Dokter ICD.”

“Tidak diterima kalau begitu.”

“Mengapa?”

“Karena Tim 3 sudah punya banyak dokter, kemarin hanya sebagian yang datang karena sebagian lagi sedang membantu tim lain, jadi tidak.” Kyu-Hyun tersenyum licik, jika kau mengajukan diri untuk dokter pribadiku, maka, akan kuminta AJ untuk membawa berkasnya ke sini.”

Suri diam cukup lama, ia menatap wajah Kyu-Hyun penuh kebencian. Mungkin kesal karena melihat wajah pucat Kyu-Hyun yang tetap tersenyum, atau mungkin kesal karena bisa-bisanya setelah menuliskan surat perpisahan paling kurang ajar dua tahun lalu, pria itu tetap merayunya hari ini.

“Baiklah, dokter pribadimu.” Jawab Suri akhirnya.

Sesuai janji awal Kyu-Hyun, ia memanggil AJ untuk ke ruangannya dengan berkas untuk dr. Lee Suri di dalam amplop hitam polos tanpa logo ICD. Di tengah kesempatan AJ menyodorkan berkas tersebut, Kyu-Hyun buru-buru merebut amplopnya dan mendaratkan pukulan di kepala AJ dengan amplop tersebut.

“Anak kurang ajar, kau perlu dihukum nanti.” Ancam Kyu-Hyun dengan senyuman marah yang dibuat-buat. “Keluar sana!”

“Baik, Sir.” Tak lupa AJ mengerling pada Suri sebelum menutup kembali pintu ruangan Kyu-Hyun.

“Isi formulirnya, yang lengkap, jangan sampai salah.”

Saat Suri membuka amplop tersebut, ia memang tidak menyangka, tapi tidak begitu heran akan hal yang Kyu-Hyun lakukan sekarang. Di dalam amplop yang katanya kontrak sebagai dokter pribadi Kyu-Hyun terdapat formulir pendaftaran pernikahan yang belum diisi lengkap dengan identitas Kyu-Hyun yang sepenuhnya benar.

“Jangan menatapku seperti itu,” ucap Kyu-Hyun tajam ketika Suri melihatnya penuh curiga. “Kau bilang AJ akan memaksaku menikahinya kalau ia perempuan, benar? Itu tandanya ia sudah menyiapkan jika aku melamarmu hari di mana kau datang ke sini karena semua kontrak untuk dokter dipegang oleh letnan, yah … begitulah.” Wajah Kyu-Hyun tiba-tiba memanas melihat wajah Suri yang tak berubah air mukanya.  “Sudah, cepat isi formulirnya.”

***

Awal musim panas memang selalu menjadi primadona bagi sepasang kekasih yang memutuskan untuk menggelar pesta pernikahan mereka di luar ruangan, selain matahari yang sudah lebih banyak bersinar, intensitas hujan pada bulan-bulan Juni memang jauh lebih rendah jumlahnya.

Hari ini pun sama, tanggal 11 Juni tahun ini dipilih sebagai hari istimewa di mana keduanya mengikat janji pagi ini dan dilanjut dengan garden party yang lebih mirip piknik, tamu undangan berbaur dengan margarita di tangan kanan mereka dan kudapan kecil yang dihidangkan di meja panjang, aroma musim panas sudah tercium dan musim semi masih belum mau mengalah menebarkan aroma manis.

Pelaminan itu membentuk lengkung gerbang yang dihias dengan bunga yang menutupi kerangkanya, membingkai dua pengantin yang sedaritadi tak hentinya tersenyum melepas tekanan mempersiapkan hari bahagianya.

Suri berdiri di antara ratusan tamu, mengangkat gelas margarita miliknya, “Untuk pengantin kita hari ini, selamat berbahagia!” ucap seorang pembawa acara dan disambut dengan sorak gembira.

Tapi hari ini, Suri hadir bukan hadir sebagai si pemilik acara, melainkan sebagai tamu undangan, ya hari ini adalah pernikahan putri semata wayang Kapten Seo, Dae-Na.

“Terima kasih sudah membantuku, ya,” ucap Woo Mi-Yeon, ibu dari Dae-Na. “Kalau kau tidak membantu, aku tak tahu akan jadi apa malam ini.”

Semenjak kemarin malam memang Suri bergadang untuk membantu menyelesaikan dekorasi lantaran vendor dekorasi yang sudah ditunjuk Dae-Na tiba-tiba mengalami kecelakaan tepat 1 hari sebelum hari pernikahan. Hal tersebut membuat Dae-Na dan calon suaminya stres setengah mati tentu saja, mereka tak bisa berganti vendor dalam satu hari, beruntung saat insiden tersebut ada Suri di sana dan dengan senang hati ia membantu mendekorasi tempat acara yang baru setengah jadi.

“Senang bisa membantu, saat aku menikah dulu, Bibi juga membantu banyak.” Balasnya.

Mi-Yeon tersenyum dan mengusap punggung Suri, “Bagaimana denganmu? Kapan kau menikah dengan Kyu-Hyun?” selalu ada kata yang tak diucapkan jika menyangkut tentang hubungan Kyu-Hyun dan Suri dari orang terdekat mereka yaitu kata ‘lagi’ yang justru membuat pertanyaan tersebut terdengar janggal.

“Kami sudah menikah,” jawab Suri dan buru-buru dikoreksi, “lagi tentu saja.”

“Oh, ya? Mengapa aku tidak tahu?” Mi-Yeon tidak merasa ada undangan pernikahan mampir ke rumah mereka awal tahun ini ataupun tahun lalu. Apa ia melewatkan sesuatu?

“Kalian benar kembali bersama awal tahun ini, kan?”

Suri mengangguk. “Kami memang tidak merayakannya.”

“Ah, pantas.” Mi-Yeon bisa memperkirakan mengapa Suri dan Kyu-Hyun memilih untuk tidak mengadakan perayaan pernikahan mereka, mungkin karena ini yang kedua kalinya, jadi sudah tak perlu. Tapi dipikir ulang, pernikahan pertama mereka pun tidak dirayakan sebesar pesta pernikahan putrinya. “Mengapa tidak diadakan pesta?”

Dengan dagunya, Suri menunjuk Kyu-Hyun yang tengah berbincang dengan Kapten Seo di seberang. “Pria itu membangun penampungan korban penjualan manusia yang ia selamatkan tepat dua bulan sebelum pernikahan kami dengan uang pesta pernikahan. Dia bahkan tak memikirkan pesta kurasa.”

Mi-Yeon terkikik geli. “Dan kau tak mempermasalahkan hal tersebut?”

Setengah tersenyum ketika melihat kerutan di dahi Kyu-Hyun, ia menjawab, “Aku bisa apa dengan obsesinya membuat dunia lebih baik?” perempuan mana yang tidak ingin mengadakan pesta besar untuk pernikahannya, jika dipikirkan ulang? Tapi bagi Suri, ia tak butuh pengakuan dari orang banyak bahwa pria dengan wajah tampan dan namanya di kependudukan lagi adalah suaminya, ia hanya butuh Kyu-Hyun.

Tapi ada yang Suri ingin tanyakan, ia belum pernah menghabiskan waktu lebih dari setahun dengan Kyu-Hyun. Di pernikahan pertamanya hanya mencapai setengah tahun, sementara sekarang ini baru mencapai satu tahun. Ia penasaran bagaimana rasanya menjadi seorang istri agen rahasia sesungguhnya, bertahun-tahun menghadapi kegiatan mereka yang terkadang lupa untuk pulang ke rumah.

Maka, ia bertanya, “Bagaimana rasanya, Bibi?”

“Rasanya menikahkan anak perempuan?” Mi-Yeon menoleh dengan senyum mengejek. “Ibumu lebih tahu dariku, Suri~ya.

“Bukan, bagaimana rasanya menjadi seorang istri agen rahasia selama bertahun-tahun? Masihkah kau khawatir dengan di mana keberadaannya meski sudah bertahun-tahun mengalaminya? Atau bagaimana perasaanmu ketika melihat Kapten Seo pulang dengan tubuh penuh luka? Apakah seiring waktu semua memudar?”

Kali ini senyum Mi-Yeon berbeda. Wanita yang dinikahi Kapten Seo 30 tahun lalu tersebut nampak melembut, matanya sekilas melirik suaminya yang tertawa berbicang dengan Kyu-Hyun. Suri mengerti arti senyum itu, persis seperti pandangan ibunya pada ayahnya diam-diam, atau pandangan ibu Kyu-Hyun pada suaminya yang juga bergelut di bidang yang sama dengan Kyu-Hyun.

“Tentu saja tidak,” jawabnya pasti. “Tidak ada yang menjadi lebih mudah meski seiring berjalannya waktu, bahkan setelah ia pensiun dan memutuskan untuk menjadi konsultan saja, tidak ada yang membuat semua yang berhubungan dengan pekerjaannya menjadi lebih mudah. Bahkan terkadang aku sering ketakutan ketika ia lupa menghubungiku, aku takut dengan ketukan pintu dan dering telepon di tengah malam, takut jika kabar tersebut tentang dirinya yang gugur. Terakhir kali ia terluka, aku tetap merasakan kedua kakiku lemas meski dokter menyatakan bahwa peluru tidak mengenai bagian vitalnya dan tidak membahayakan nyawanya,” ia menatap Suri, menangkup kedua tangan Suri di antara tangannya. “Tidak akan ada yang lebih mudah seiring berjalannya waktu, namun jika menurutmu cintamu bukanlah sebuah kesalahan, akan lebih mudah menghadapinya. Orang-orang yang hidup dalam zona aman akan sangat iri pada kita, Suri~ya, sebab tak ada yang lebih mencintai mereka seperti pria-pria kita mencintai diri kita selama ini, tahun-tahun akan menjadi lebih berharga untuk dilewati bersama karena kau tahu kapan saja bisa jadi saat yang terakhir”

Suri mengangguk dan tertawa pelan. “Apa orangtua Anda mengijinkan Anda menikah dengan Kapten Seo?”

“Tentu saja!” jawabnya semangat. “Setelah lima belas pukulan untuk Kapten Seo.” Mereka tertawa. “Berapa pukulan yang ayahmu berikan pada Kyu-Hyun?”

“Hanya tiga.”

“Ayahmu tahu mana yang terbaik untuk putrinya meski tidak baik untuk batin mereka. Aku yakin setiap malam mereka akan merasa tidak tenang.” Saat Suri hanya menjawabnya dengan anggunakan dan senyum simpul sambil melirik kedua orangtuanya yang mengobrol dengan teman lama mereka di sisi lain taman, Mi-Yeon menambahkan. “Orangtua kita hanya tidak bisa menolaknya, apa boleh buat, cinta memang buta, bukan?”

Suri tidak mengiyakan pernyataan tersebut, pandangannya tertuju pada Kyu-Hyun yang sekarang terlihat sedikit senyuman di wajahnya. Sambil menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jari, sebuah tanda bahwa pria itu kehabisan ide, pria itu menyadari bahwa Suri sedang melihat ke arahnya.

Tidak ada yang lebih membuat Suri berdebar ketimbang saat Kyu-Hyun meliriknya diam-diam di tengah obrolan penting soal pekerjaan. Matanya yang tegas nampak mengintimidasi dan melembut dalam waktu bersamaan, senyum samarnya terasa begitu cerah, dan Suri selalu menemukan sisi kekanakan Kyu-Hyun saat mata pria itu nampak salah tingkah.

Mereka diam-diam bertukar senyum. Benarkah cinta itu buta? Mungkin. Mungkin juga tidak.

Tepat pukul 2 siang Kyu-Hyun memutuskan untuk kembali, ia tak pernah bisa terlalu lama berada di pesta, apalagi melihat istrinya mengenakan dres biru gelap selutut yang mempertontonkan bahu telanjangnya, mana tahan ia melihat Suri seperti itu dan dipandangi pria-pria lain meski tak ada yang berniat menggaet Suri lantaran tatapan Kyu-Hyun yang mengerikan, tetap saja ia cemburu tak karuan.

“Kurasa tidak.” Ucap Suri tiba-tiba membuat Kyu-Hyun menoleh. “Kurasa dia salah.”

“Tentang?”

“Bibi Mi-Yeon bilang kalau cinta itu buta karena menanggung resiko besar untuk menjadi seorang istri dari agen rahasia yang mungkin akan kehilangan nyawanya kapan saja, dia bilang itu tak masuk akal, tak sepadan dengan pengorbanannya.” Suri menatap Kyu-Hyun yang kembali fokus pada jalanan akhir pekan tersebut yang sedikit ramai. “Tapi setelah melihatmu, kurasa itu salah.”

“Mengapa begitu?”

“Mungkin itu bagian dari menerima kekurangan pasangannya? Bukan buta, karena kurasa kalau buta maka kau juga tak bisa melihat kebaikan atau alasan mengapa hatimu memilihnya.” Suri berceloteh dan merebahkan kepalanya. “Kita ini tetap tak utuh meski sudah bersama, namun rasanya ketidakutuhan denganmu selalu terasa benar karena kalau sudah utuh, tidak ada lagi yang bisa dilengkapi.”

Mobilnya berhenti tepat di bawah lampu merah, Kyu-Hyun menoleh, menatap Suri yang cuek memerhatikan lalu lalang penyeberang jalan di hadapannya. Perlahan ia menyelipkan jemarinya di antara jemari Suri, membuat wanita itu menoleh.

“Aku punya kejutan untukmu,” ungkap Suri ketika Kyu-Hyun membawa jamarinya ke bibir Kyu-Hyun dan mengecup buku jari.

“Seolah filosofimu barusan bukan kejutan untukku.” Ledek Kyu-Hyun dan menjalankan kembali mobilnya menuju rumah di atas bukit yang berdekatan dengan rumah kakak dan orangtuanya.

Kyu-Hyun langsung menuju dapur, membuatkan Suri secangkir teh kamomil dan mengambil sepotong cake yang pagi tadi Suri sisakan sedikit dan membawanya ke ruang tengah tempat Suri melepas high heels miliknya.

“Kulihat tadi kau tidak minum margarita atau makan banyak, perutmu tidak enak?” Kyu-Hyun menyerahkan teh ke tangan Suri sebelum duduk di ujung sofa dan memijat kaki Suri perlahan.

“Bukan,” ia menyesap sebentar teh kamomil yang Kyu-Hyun buatkan. “Aku hamil.” Lanjutnya santai.

Sementara pria yang tengah asyik memijit kakinya tiba-tiba berhenti memijat, ia menoleh perlahan menatap Suri dengan wajah bingung. “Kau tidak bercanda?”

“Kau senang?”

Kyu-Hyun tertawa, merebahkan kepalanya ke sandaran sofa dan menutup matanya dengan lengan. “Aku tak tahu harus bagaimana mengungkapkannya padamu.”

Ya, rasanya pertemuan mereka di Italia tempo hari memang bukan sebuah kebetulan takdir ataupun permainan kejam Ryu-Shin, mereka memang dipertemukan untuk mengubah hidup masing-masing. Suri untuk memberi warna dan malam-malam penuh musik ke hidup Kyu-Hyun dan Kyu-Hyun untuk memberi rasa aman yang Suri butuhkan.

“Metanoia,” sebut Suri di tengah lamunan Kyu-Hyun dengan cengiran di bibirnya.

“Apa itu?”

“Kata yang menggambarkan perjalanan untuk mengubah hidup seseorang. Metanoia.”

“Kupikir kau akan menamai anak kita dengan itu tadi.” Tahu bahwa ibu hamil tidak diperbolehkan untuk dipijat kakinya, Kyu-Hyun mengubahnya menjadi usapan di sepanjang tulang kering dan telapak kaki Suri.

“Kau sudah gila.”

Ia persis seperti Gibran, burung bulbul yang kehausan dan terbang mengitari mata air di tengah gurun, bedanya, ia mampu membunuh dua ekor ulang yang menjaga sumber air tersebut hingga tak harus mati kehausan akibat terlalu lama mengitari mata air. Sayangpnya tak patah, justru berkembang semakin lebar, dan menyongsong bulan di ujung Shangri La.

•••END•••

Author, makasih ya udah dibuatin epilog.”

“Iya, sama-sama.”

Dah, percakapan itu sudah dijawab sebelum ditanyakan, jadi skip bagian tersebut dan langsung ke inti komentar.

p.s. saya nggak buat ini karena banyak permintaan epilog kok, part ini memang udah dibuat sejak awal, cuma butuh syok dulu buat ending. Iya, ini emang lagi alesan.

JANGAN LUPA, PO LBDSM DAN KATABASIS MASIH DIBUKA.

                                                                               

Advertisements

54 thoughts on “#5 Metanoia – (Un)Broken Wings (EPILOGUE)

  1. Kak, tdi emang sengaja nggak dimunculin kolom komentarnya? Pantes nggak bisa koment tadi😂😂

    Ugh, endingnya asolele banget ya. Suri-nya hamil. Finally. Pasangan ini punya keturunan juga, hehe, walaupun masih calon sih. Sempet ngerasa cemas tadi pas si Kyuhyun kena pisau itu. Khawatir nggak ketolong aja. Ntar kalo ketolong, Suri-nya gimana? Melajang seumur hidup?😂
    Semog si Suri selalu diberi kekuatan nunggu Kyuhyun balik tugas, ya. Biar anaknya bisa liat wujud Batman Korea itu kayak gimana, haghag.

    1. Thank you epilog nya. Terobati walaupun sedikit…😉😉

      Akhirnya kyuri bersatu, happy ending. tapi ‘scene’ mereka dikit apalagi di romance nya…

  2. Aaahhhh manisnya lamarannya. Jd kangen kyuhyun. #ups. Kkkeke
    awalnya ngiranya bakalan mati kyuhyun nya jd tdi udah rada kebayang suri nangis sambil baca surat nya kyuhyun yg biasanya kosong akhirnya terisi, macam drama song2 couple. Hahaha syukur lah enggak. Ditambah nya lg aku dengerin lagunya maroon5 – lost stars #gara2 nonton NJTTW. Tambah mellow tp bebunga2 deh bacanya. Hhaha
    Btw kali ini banyak banget kata2 kiasannya. Boleh lah, seger jdinya bacanya setelah banyak persilatan sebelumnya. Hhahaha

    Oh iya tinggalin aku 1 paket ya ka LDSM nya, nunggu gajian dlu baru deh cuss langsung order. Wkwkwk

  3. hahhaa ternyata yg dulu twist “ending”. yg ini bneran ending. ntabsss soul

    “Mungkin itu bagian dari menerima kekurangan pasangannya? Bukan buta, karena kurasa kalau buta maka kau juga tak bisa melihat kebaikan atau alasan mengapa hatimu memilihnya.”
    akhirrnyaaa aku menemukan persepsi lain tentang cinta itu buta. muahahaha

    pas banget rilis di sela2 uas. jadi bisa buat refreshing otak

  4. Ya ampun akhirnya update dengan epilog 😊😊 makasih ya😉 sempet khawatir takut kyuhyun gak selamat dan berakhir sad ending
    eh ternyata happy ending dengan cara mereka sendiri(KyuRi couple)

  5. Jalan cerita, ide cerita atau apapun itu Di FF ini menurut Saya udah pas, sempurna. Tapi Saya cuma Penasaran aja ama author, pernah Gak sih ngerasain gimana rasanya harus ngerasain Galau cuma Karena baca FF? Karena itu yang selalu Saya rasain tiap baca FF suri-kyuhyun, saya berterima kasih banget Karena finally FF ini happy ending, tapi Tuh sebelum happy ending Tuh ff Ini meremas-remas hati Saya Karena ketidakpastian hubungan suri-kyuhyun.
    Tapi Saya suka banget Cara author membuat suri-kyuhyun menderita diawal Tapi Manis diakhir.

    Aigoo, pengen banget Beli katabasis, semoga akhir bulan Jodoh ama buku Ini. Aamiin.

  6. Dibikin bedebar terus setiap bc nie ff,menebak-nebak bakl sprt apa endingnya…
    Dan berasa lega akhirnya happy end,tp jg masih berasa nggak rela pisah dr nie cerita,sellu dibuat penasaran dsetiap ff…
    Dtggu karya2 slnjt nya semangat mangat n makasih👏

  7. Ya ampun mereka akhirnya bisa bersama setelah melewati berbagai macam cobaan utk bisa kembali bersama lagi.
    Q masih gak rela ini sdh end, pengennya bisa terus lihat cerita ini n lihat perkembangan kehidupan mereka n babynya.

  8. Eh kirain kapten cho matii, trnyata ada dr. Suri yg nyelamatiin….

    Ciee hepi ending ga jd nangis bombay deh hha #pengenliatanaknyamereka #ngarep
    Makasih loh eonni dah dibuatin epilognya #tplamadipostnya #peace hhee

  9. Aku kira kyuhyun akn mninggal dn brakhir sad ending, tp syukurlah kyuhyun slmat trus bsa kmbli lg sma suri dn bahagia deh, d tmbah suri yg lg hamil lengkap sudah kebahahiaan mreka.

  10. Ah kok perasaan plong banget ya liat ending yang ini, setidaknya ada sesuatu yang memberatkan mereka sehingga perpisahan atau hal semacam itu adalah bagian yang paling harus digeserkan dari mereka. Anak. ‘beban hidup’, yang menjadi alasan paling kuat bagi kebersamaan mereka.
    Uh, keren bangeet. Semangat nulis ff2 kerennya ya Ka Okky.

  11. Akhirnya Happy Ending ❤ KyuRi bahagia pada akhirnya 🙂
    Meskipun di awal2 agak deg2n sama kyuhyun yang ditusuk dan sempat tidak sadarkan diri 😦 huwaa dikira kyu bakal meninggal terus meninggalkan suri 😥 pengennya sih ada sequelnya saeng hhi pengen ada moment KyuRinya 🙂 makasih udah dibuatin Epilog dan ditunggu sama kisah2nya KyuRi di ff lainnya saeng semangat ❤

  12. Aduhhhh
    Sneng bngettt
    Udh lama bner penantian mereka
    Akhirny bersama2

    Udh ad baby lagi nantinyaaaa
    Duhhhh snengny

  13. Jadi ehh jadi, ini baru yg dinamain ending yg sebenernya. Setelah kemaren sukses bengkak ini mata, hari ini sukses kram ini bibir karna banyak senyum… Wkwk

    Kali ini banyak banget kata kata yang bkin baper jadi berasa lebih ngena gimana gitu.dan aku paling suka sama ini “kita ini tetap tak utuh meskipun sudah bersama, namun rasanya ketidakutuhan denganmu selalu terasa benar, karena kalau sudah utuh tak ada lagi yang bisa dilengkapi”
    Arghhh suri kapan sih kamu gak bikin kyuhyun terpesona?
    Mbok kamu awut”an gak genah, mbok kamu pake baju ketutup semua gak ada seksi”nya blass, ttep aja kyuhyun klepek klepek kalo sama suri. Suri itu seksi dengan caranya sendiri, dan tentu aja itu dimata kyuhyun udah pasti number one.. 😂😂😂
    Matanoia, aku pikir tadinya ini bakalan cadi nama calon anaknya mereka.. Wkwk ternyta ini punya arti sendiri.
    Yupss.. Akhirnya setelah pasangan fenomenal abad ini rujuk lagi pluss bkalan jadi calon orang tua. Ternyta butuh waktu yang lama sampek akhirnya mereka memutuskan tetap bersama.. 😘😘

    Satu lagi moment yg bkin muka kyuhyun memanas, astagaaa itu lamaran sebenernya blass sama sekali gak ada kata” so sweet nya.cuman kertas berisi formulir pendaftaran pernikahan dengan identitas lengkap kyuhyun lalu dengan kata “sudah, cepat iai formulirnya! ” ckckck
    Ini namanya lamaran ala kapten marcus… Daebakkkk

    Selanjutnya moga bisa beli LBDSM sama Katabasis.😊☺
    Love you kak… Fighting!!!

  14. ya ampunnnn comen gue ngg msuk2 dari kmrin..akhirr nya mreka hidup bhagia seneng ny..kata2 ny bgus bngett..ditunggu ff bruny hee

  15. Thank u…
    For the sweet ending.
    Appreciate alot, beyond words can say
    Thank u for the beautiful work, for writting it with heart.

    *As a melancholy creature im literally crying now for my wish of happy ending come true.

  16. iyalahh.. kayanya ka Okky nggk akan bikin cerita yg sad ending. tapi buat rencana nyah bikin readers rungsing baper karena si Suri sama si Cho nggk bersatu, padahal mah terusannya ditunda.
    LBDSM pun sama. wkwk. sukses lahh jahilin kita, kkk~
    ngomong ngomong kata kata tentang cintanyah mantep tuhh.. bisa dijadiin caption di Instagram.hhahahaha

  17. Wow wooww..
    Jadi pengen lagi lanjutanya.. Hihihiii
    luar biasa kisah mereka tuh.. Bikin iri tau..wjwkwkwkk

  18. Akhirnya Suri hamil.. dan mereka bahagia.
    *aku ngga bisa koment panjang2 kayak yg diatas2nya ini.. maapin😭😭*
    Tapi sumpah.. “kakak author kok bisa begitu luas pengetahuannya.. ttg lagu2 lama, ttg quotes, ttg sastra, dll”
    Aku pengen kyk gitu😭😭
    Makasih kakak author udah beri aku pengetahuan. You the best😘😘

  19. marenan pas abis baca pengen langsung komen *soalnya jarang bet komen* 😜😜 tpi gak tau knp kok kolom komen gak ada, jadilah bru buka lagi hr ini dan baca lagi trus bru komen, maapin eon ✌✌ , buat epilog ini entahlah, sebenernya seneng bgt, tpi pas baca yg part ending kmren udah nguat2in “gpp din, skali kali cuyun gak bahagia sama suri gpp, dilain ff pasti bisa bahagia, tenang gak usah alay gitu” udah ditahap itu dan epiloge muncul tuh rasanya seneng tpi jg mikir “haish ngapain kmren galau seharian, baper alay, haishh 😑😑” but, apapun itu seriously thanks so muchhhhhhhh eon, buat epiloge ini yg bikin bahagia 7 turunan 😂😂😂, salam kecup buat kak oki muahh

  20. kmren padahal melem pas baca sebenernya udh banyak kata2 yg mau di komenin tapi pas mau komen kaga ada kolom komentarnya.. pas buka sekarang ada, cuss komen dah

    epilog paling emosional bacanya bener2 bikin plonggg banget sumpehh dah
    makanya om tante kalo kalian ga bisa hidup satu sama lain ga usah so soan deh saling menjauh akibatnyaaa sakit sendirikan nahannya hahaha
    langsung nyengir kegirangan pas suri yg nolong kyuhyun di meja operasi HEHE
    dan loveee banget pas baca 2 kata “Aku
    hamil” asekk aselole bener2 terbayarkan sudah seg segan di chapter kmaren.

  21. gak pernah aku merasa kecewa setelah baca dari kakak,
    tp #4 Metanoia – Agony
    #3 Metanoia – Enigmatic Feeling 2 ff itu adalah ff yg bikin aku sedikit merasa kecewa, jd dgn terpaksa aku gk baca 2 part itu, tp tetep komentart sih, hehehe buat menghargai kerja keras kakak
    dan pagi ini iseng buka blog kakak liat ff ini kukira aku slh liat klo ini kelanjutan dr Metanoia aku baca komentar di bawah ternyata ini sequel nya, dan yuhuuuuu memang ff kak semua bagus
    good luck kak !!!

  22. Yah akhirnya endingnya mereka sama2. Dan bonusnya suri hamil yeyyy…..😘🤗
    Dan skrg ngebayangin gimana anak mereka entar. Sifatnya bakal niru siapa ya????🤔🤔

  23. Part kemaren bacanya pas lagi suasana yang berseberangan. Padahal sedih bgt mereka pisah lagi tapi mau gimana kehidupan nyata lagi bahagia 😄
    Gak berharap mereka Bersatu karena kayaknya gak ke tolong lagi gitu pisah lagi -lagi tapi well siapa tau apa yg akan terjadi selanjutnya. Setelah kesulitan pasti ada kemudahan, ini misalnya. I am happy cz finally, mereka bersama.

  24. Wohooooo akhirnya ada epilog. Gatau mau komen apa bingung. Yang jelas tulisan kaka ngena banget. Fighting buat karya selanjunya!!! 🙌🙌🙌

  25. Sengaja gamau baca part ending karna katanya sad terus pas epilog ini keluar jadi baca part sebelumnya dulu deh hahahaha jam 3 pagi emosi di aduk2, geregetan sama kyuhyun like ya gue tau lo pengen bikin dunia lebih baik tapi ya sekaligus jadi pria paling brengsek yg ngehancurin hati perempuan untuk ke sekian kalinya. Surinya jg batu sih masih aja nungguin kyuhyun huhu tapi readers ga mau dia move on juga /plak/ Intinya makasih udah mau menyelesaikan metanoia kak okky setelah kayaknya udah hampir seabad aku ga baca ff kyuhyun lol tinggal blogmu doang yg aku ikutin 😂 Duh jadi ga sabar nunggu katabasis! 😄

  26. Akhirnyaaaaaa…
    So sweet..

    Saran yah utk okky klo mw bkin novel baru mending ksh sinopsis nya aja dsini. Soalx wkt aq bli the gentleman secret udh ga penasaran lg krn sebagian critax dah baca d blog. Itu cma saran aja yah.. heheehe

  27. Itu lamaran atau isi akta kepemilikkan tanah hahahha ga ada romantisnya. Tapi tapi Happy Ending buat hati lega. Akhirnya bisa nikah di usia 32 tahun. Aku bahagiaaaa jadi ga ke bawa mimpi ntar.

  28. Auuh,lagi-lagi ending yang bikin sesak napas. Cuma sesak napas kemaren pas Agony itu sesak napas yg bikin nyut nyutan hati dan gak keruan, sesak napas yg (un)broken wings ini jenis sesak napas karena saking bahagianya, lope lope lah pokokee 😀 ada cuplikan karya Khalil Gibran pula,bikin feelnya tambah nyampe,mantaps.

    Pas liat postingan muncul di beranda fb langsung stuck in the moment, kaya krik krik moment gituh,langsung yg muncul pertama di pikirn : Happy Ending maybe? Daaaan ketika baca komentar2 di wp (nyepoiler ending 😀 ) yg isinya mengisyaratkan positif HappEnd semua baru deh lanjut baca,haha soalnya kalo sad ending LAGI, aku gak bakal baca, gak kuat akuh menanggung kesedihan kedua kalinya gegara couple inih,hahhaha. Syukurlah happy yg beneran happy mengingat Suri dibuat hamil ama Cho Kyuhyun (atau oleh authornya?) hahahahaha. Sebagian besar reader pasti berharap bakalan ada sequel LAGI, cerita tentang keseharian mereka sama anaknya,hal2 sederhana family time semacam itu,hayoo ngakuu? Iyakan? Tapi takut diungkapkan,takut ntar diterkam authornya gegara minta sequel mulu :v *piiiss. Maklumi ya eon author-nim. Manusia emang sifatnya serakah,selalu mengharap lebih,hehehe. Dan terakhir tentu saja : terimakasih 🙂

  29. Iyaa kalo lagi hamil jangan dipijit kakinya…
    dikira tadi pesta pernikahan mereka ternyata bukan, pokoknya the Best-lah kak Okky.. novelnya sisain buat q sampe tanggal 5.. baru sempet baca q..

  30. Astaga. Cara mengungkap kalau Suri hamil ke Kyu-Hyun tu sangat sederhana dan blushhhh… Bener-bener simpel tapi bikin momen itu so sweet❤️ *sampai senyum-senyum sendiri dan aku ulang-ulang baca bagian itu*
    Dan suka bagian Kyu-Hyun ngelamar, to the point tapi tetep manis, hahaha. Ini cerita bener-bener mengaduk-ngaduk perasaan. Suka sekali!

  31. Kok ngakak ya pas dikira Gong Yoo mau ngelamar suri. 😂😂😂😂😂
    Kocak ni cewe atu.
    Tp kok suri bs tau kl kyu mau nolongin para bocah??? Kyu aja gak tau suri lg ngapain. Duch… jgn2 AJ mata2 suri lg 🤔🤔🤔🤔
    Hmmmm…. data asli kyu.. berarti yg nikah sebelumnya gak pake data asli donk… wach… gak beres ini… 😬😬😬
    Idem.. kirain mo kasih nama anaknua Metanoia 😂😂😂😂 dasar emak2 hamil.. emang gak bs ketebak.
    Tks ya… dh lasih extra part nya…
    Pengen ikut PO tp sayang baru msk kerja. Otomatis msh gak ada penasukan 😭😭😭😭😭 semoga ada PO lagi di lain kesempatan.

  32. Aahh legaaa ploong daan akhirnya the end..
    Happy ending Lee Suri-Kyuhyun. Ceritanya bener bener ngena di hati dan tadi sempet mau nangis gitu. Sukaaaaa 💕 huhu baper 😂
    Ditunggu karya selanjutnya kak, semangaaat 😊😊

  33. Ga ngira klau bakalan ada epilognya. Bagus. Makasih buat author udh bikin.
    Cara Kyu ngelamar lagi, keren. Tak terduga. Aku jdi pgn dilamar dgn tak terduga juga jadinya. Hahahhahahha

  34. waaahhh gak nyangka,, untung gak seratus persen berhianat ya suri,,
    Aku rapel dari chap 4 kak,, hehehe
    wihh keren,, aku bingung mau ngomong apa,,
    Karna gak sesuai ama tbakan q,, wkwkw kirain kapten seo yg sekongkol.. Lah,, gak taunya malah suri…

    dan epilouge nya,, bikin greget,,
    Kirain suri hamil,, wkwkwkw
    Soalnya surat balesan buat kyu gitu si.. Ambigu gmna gitu,, wkwkwkw
    Jadi menghayal sendiri seandainya suri punya anak,, terus identitasnya disembunyiin dari publik hahaha
    #abaikan kak,, 😀

    Fighting!!!

  35. Aiissshh.. Happy ending nya bikin baper haha. Kata” sweet nya bisa bikin mabuk kak. Aaahh seneng lah pokoknya baca part ini.
    Yg selalu aku suka dari baca adalah pemilihan katanya yg ‘ngena’. Gak sad, gak romantis, kata” yg kakak tulis itu keren abis. Bikin aku ikt ngerasain perasaan nya si tokoh.
    You’re success as a writer kak, and you got me as your fans haha. Bakal nunggu karya” selanjutnya deh, n beli novel yg lain ntar klo udah gajian hehe..

    P. S
    Kak, kalo bisa nerbitin novel kakak yg versi ebook dong, gak tau knp aku emang lebih nyaman baca lwt hp hehe.. Klo ntar ada rencana nerbitin novel versi ebook nya, kabar” ya kak.
    Thanks anyway, for great story 👏

  36. Sebenernya sebelum baca part 1 aku udah buka ini dulu. Apakah berakhir bahagia atau enggak. Setelah baca komen yg pada bilang kalo bahagia, baru aku berani baca.
    Enggak ada yg lebih membahagiakan buat suri dan kyuhyun selain bisa selalu bersama. Semoga bahagia selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s